"Aku bisa saja melanjutkan penyelidikan pada Nadif Hargiansyah jika bisa mendapatkan satu atau dua barang pribadinya, tapi Kevin tampaknya sudah cukup kelelahan." Zidan mengakhiri laporannya sambil menatap Kevin yang langsung mengerutkan tubuh di kursinya.
"Tidak apa-apa, Kevin," hibur Fais, "kamu sudah bekerja keras. Setidaknya kamu sudah tidak berakhir di Rumah Sakit lagi setiap kali selesai menjalankan misi. Itu berarti kamu sudah banyak kemajuan."
Semua yang ada di ruangan itu tahu bahwa Fais tidak hanya sedang menghibur, tapi juga sedang melancarkan sarkasme terhadap salah satu anak buahnya itu.
"Nda?" Fais beralih pada remaja berambut pendek yang duduk di antara Ai dan Niya.
Seolah sudah mengerti pertanyaan apa yang selanjutnya akan keluar dari mulut Fais, Nda langsung menjelaskan. "Aku mengalihkan perhatian di pintu masuk agar mereka tetap membiarkan pintu terbuka. Agar tidak ada yang curiga saat Kevin keluar masuk membawakan barang untuk Zidan," sambungnya lagi.
“OK. Kerja bagus, berarti kita hanya perlu menyelidiki Nadif Hargiansyah," gumam Fais. "Mengenai misi kami di Eyja…" Ia akan mulai menerangkan hasil operasinya dengan Ariel dan Ai.
"Gagal total," sela Luen tiba-tiba. Suasana mendadak hening setelah Luen membuka suara. Fais bahkan tak berani mengangkat wajahnya. Luen berdiri sambil menatap wajah para Armour di hadapannya. "Ini untuk pertama kalinya Avalon dibuat sadar bahwa selama ini kita sudah terlalu bergantung pada pasokan pangan dari Eyja. Sampai sekarang, walaupun kita sudah berhasil mengembangkan teknologi penangkap dan pembiakan ikan, ternak, penanam padi, bibit unggul dan semacamnya. Mau tak mau kita tetap harus mengakui, kita butuh orang Eyja untuk mengerjakannya."
"Bukannya tahun lalu ada sekelompok mahasiswa yang berhasil mengembangkan teknologi untuk bertani dan berkebun?" tanya Nda. Remaja aktif itu memang selalu blak-blakan kalau bertanya.
"Memang," jawab Luen, "tapi masih jauh dari memuaskan. Hasil panen yang kualitas dan kuantitasnya rendah, maintenance yang mahal dan sebagainya. Secanggih apapun teknologi, hasilnya selalu lebih baik jika apa yang masuk ke perut kita diproses dengan menggunakan jasa seorang manusia. Tidak bisa kita hindari bahwa memang kita masih sangat membutuhkan orang-orang Eyja," lanjutnya lagi.
"Tapi kita juga tidak bisa membiarkan mereka meremehkan kita," Fais kembali angkat bicara. "Bagaimanapun juga, permintaan mereka untuk merdeka atau kesetaraan dengan masyarakat Avalon tidak bisa diterima. Mereka adalah orang-orang yang dibuang. Bagaimana mungkin seorang narapidana berharap bisa diperlakukan setara dengan orang yang tak bersalah? Itu sama saja seperti ingin mencampur sampah dengan makanan."
Perlahan Kevin meletakkan tangannya di atas tangan Ariel yang terkepal dan gemetar menahan amarah, ia kemudian menepuk-nepuk pelan kepalan tangan itu untuk menenangkan.
"Kesetaraan dengan masyarakat Avalon nggak bisa diterima katamu?" Tapi Ariel tak bisa menahan diri lagi. Napasnya terdengar berat sebelum akhirnya ia mengangkat wajah dan memberi tatapan marah pada Fais. "Kalimatmu seolah mengatakan bahwa Eyja bukan bagian dari Avalon. Padahal semua yang ada di Eyja itu juga orang Avalon. Sebenarnya apa salah orang Eyja padamu?" Kini ia sudah memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan Fais. "Kenapa kamu sangat membenci kami?"
"Apakah aku butuh alasan untuk membenci serangga yang mendiami sudut rumahku?"
Jawaban Fais itu langsung membuat Ariel berdiri dan berada dalam mode siap bertarung. Kevin mengerahkan seluruh tenaganya untuk menahan Ariel meski usahanya tak berpengaruh banyak. Ariel bergerak cepat untuk mendaratkan pukulan di wajah Fais, tapi Zidan menangkap tangan pemuda Eyja itu, tepat ketika tinjunya hanya berjarak beberapa inci dari hidung Fais.
"Jaga sikapmu!" hardik Zidan. Suara tegas tanpa perlu berteriak itu cukup untuk membuat Ariel menurunkan kembali tangannya. Sementara Fais terlihat tak begitu peduli, ia masih duduk dengan tenang di kursinya, seolah sudah menduga Zidan akan menghentikan serangan Ariel tadi.
"Semua yang kau makan sejak lahir sampai sekarang adalah hasil kerja keras orang Eyja!" Ariel tak punya pilihan selain menyerang Fais melalui kata-kata. Sambil masih berusaha melepaskan diri dari Kevin yang melingkarkan tangan sekuat tenaga di pinggangnya, ia kembali meluapkan amarah. "Kalau nggak ada mereka, kau mau makan produk gagal hasil pekerjaan para robot?"
"Aku tak peduli dengan apa yang kumakan. Produk gagal atau bukan, rasanya tak pernah berbeda bagiku," suara Fais masih terdengar datar tanpa ekspresi. "Lagipula, aku membeli makananku, bukan menerima gratis dari orang Eyja. Kenapa aku harus berterimakasih? Itu adalah tugas mereka. Sudah lama aku merasa bahwa diasingkan ke Eyja bukanlah sebuah hukuman berat. Mereka hidup nyaman di bawah lindungan pemerintah. Seharusnya mereka bersyukur. Tapi orang-orang tak tahu berterimakasih itu malah sekarang berani memelihara teroris. Mereka semua seperti sampah."
"Keterlaluan!"
Ariel berhasil lepas dari Kevin. Ia langsung melompat menerjang Fais. Tapi yang dia lawan adalah First, Kapten Divisi 7-Armour. Ia bahkan tak berhasil menyentuh ujung rambut Fais. Lelaki itu sangat gesit, ia sudah menduga Ariel akan menyerangnya, itu sebabnya ia beranjak sambil menyelamatkan cangkir kopinya dari atas meja, lalu tanpa perlu banyak bergerak, hanya sedikit kopi yang tertumpah dari cangkir di tangannya saat ia menghantamkan tapak sepatunya ke perut Ariel.
Ariel terbatuk beberapa kali, perlahan ia mengangkat wajahnya hanya untuk menemukan lelaki di hadapannya itu menjulang angkuh, seperti menara kokoh yang tak akan pernah bisa ia jatuhkan. Fais menyeruput kopinya dengan santai, namun mata yang menatap Ariel dari balik cangkir kopi itu tampak begitu merendahkan. Ariel benar-benar diperlakukan seperti serangga tak berharga.
"Kau seharusnya dendam pada WoLf! Bukan pada orang Eyja!" teriak Ariel tak berdaya.
"Eyja bekerja sama dengan WoLf!" tukas Fais tak kalah keras. Lalu seolah baru teringat bahwa Luen ada di ruangan itu, ia meletakkan kembali cangkir kopinya ke atas meja, lalu sedikit membungkukkan badannya ke arah Luen. "Maaf atas ketidaknyamanan yang barusan, Mr. Luen," katanya pelan.
Luen mendengus sinis sambil mengibas-ngibaskan tangannya sebagai isyarat agar Fais melanjutkan apapun yang ingin ia katakan tanpa perlu mempedulikkan kehadiran Luen di situ.
"Dengar Third," Fais menurunkan intonasi suara sambil kembali duduk di kursinya. "Orang-orangmu itu melindungi Kiriyan yang sudah jelas adalah anggota WoLf. Walaupun misi kita di Eyja hari ini gagal, tapi paling tidak kita sudah memastikan bahwa WoLf berada di Eyja, dan penduduk Eyja melindungi mereka. Ada koreksi?" katanya berusaha kembali menjadi dirinya yang biasa, karena ia tahu Luen sangat tidak suka melihatnya kehilangan ketenangan.
Kevin menarik tangan Ariel agar ia juga kembali duduk di tempatnya. "Ariel, tenanglah," bisiknya pelan. Dan kali ini Ariel menurut, ia duduk di kursinya semula tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Ruangan itu kembali hening selama beberapa saat, sampai akhirnya Luen berdehem dan menyita perhatian orang-orang di sekeliling meja. "Third Armour, sudah berapa kali kubilang. Jangan pernah membiarkan latar belakangmu mempengaruhi pekerjaanmu di Armour," katanya kemudian.
Ariel tidak menjawab sepatah katapun, ia bergeming menatap permukaan meja.
"Kalau kamu bekerja dengan baik – paling tidak – sampai WoLf disingkirkan, kamu boleh meminta apapun kepada Zoire. Bukankah itu kesepakatan kita?" tambah Luen lagi.
"Kami selalu mengawasimu, Third. Sedikit saja kami melihat tanda-tanda kamu akan berkhianat. Kamu pasti tahu apa akibatnya." Kali ini suara lelaki itu terdengar mengancam.
"Maaf, saya tidak akan mengulanginya lagi," gumam Ariel dengan bahasa formal yang kaku.
Luen mengangkat dagunya dan memberi tatapan menghina pada sosok yang masih tertunduk itu. Ia lalu mengalihkan perhatiannya kepada Fais. "Lalu? Apa saranmu?" tanya Luen pada Fais.
"Aku ingin meminta bantuan militer Avalon. Divisi 3, 4 dan 5 untuk menyerang Eyja," tegas Fais. Kalimatnya itu lagi-lagi membuat jantung Ariel berdetak kencang seperti akan meledak.
"Jika bisa menghindari pertumbahan darah, aku berharap kita dapat membersihkan Eyja dari WoLf tanpa harus m*erusak tanah itu," tukas Luen tak kalah tegas.
"Maaf, Mr. Luen," sela Fais pelan, "tapi aku masih tak mengerti kenapa kita harus mempertahankan orang Eyja. Mereka sudah jelas-jelas memberontak, kita bisa meratakan..."
"Kamu masih belum juga mendinginkan kepalamu," ketus Luen tanpa ampun. "Saat menjalankan misi tadi kamu hilang kendali dan bersikap seperti orang i***t. Yang ada di kepalamu hanya bagaimana kamu bisa mendapatkan Kiriyan dan kamu mengabaikan segala konsekuensinya."
Fais menghela napas sambil berusaha menerima kritik dari Luen. Ia sama sekali tak membantah, karena itu semua benar. Sejak bertatap muka dengan Kiriyan, pikiran Fais jadi seperti kaset rusak yang terus memutar kalimat yang sama: Jika bisa mendapatkan Kiriyan, maka WoLf akan selesai!
"Aku sudah bilang, kita membutuhkan mereka untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil," sambung Luen lagi. "Secanggih dan semodern apapun Pulau Utama, kita tak akan pernah bisa menemukan orang yang mau mengerjakan pekerjaan orang Eyja."
"Tapi ada banyak pekerja yang bisa kita datangkan dari luar," Fais mencoba membantah, "untuk apa kita menyimpan duri dalam daging dengan mempertahankan pemberontak di dalam Eyja?"
Luen tak langsung menjawab setelah kalimat Fais tersebut, ia terlihat marah meski wajahnya masih minim ekspresi. "Kamu kira bisa dengan mudah membawa pasukan ke Eyja dan membunuh semua orang yang ada di sana? Apa pertemuanmu dengan salah satu anggota WoLf di Eyja membuat semua isi kepalamu menguap? Di dunia ini Avalon tidak berdiri sendiri, First. Apa menurutmu negara lain tidak menyoroti perlakuan kita terhadap orang Eyja? Jika sedikit saja mereka menemukan bukti bahwa kita sudah membantai orang Eyja dan melanggar HAM, menurutmu apa yang akan terjadi pada Zoire?"
Lagi-lagi Fais hanya bisa menghempas napas menghilangkan frustasi. Sebenarnya ia sadar betul akan hal itu, banyak yang sudah mengkritik perlakuan pemerintah Avalon terhadap orang Eyja. P*erbudakan adalah hal yang sangat dikecam oleh seluruh negara di dunia. Itu sebabnya Zoire tetap membeli bahan pangan dari Eyja meski dengan harga yang sangat murah, memfasilitasi pendidikan di Eyja meski hanya sebatas membaca dan berhitung, juga menyediakan dokter yang standby di Blue Gate jika sewaktu-waktu rakyat Eyja dalam kondisi darurat. Itu semua untuk membuat pemerintah tetap tampak baik di mata dunia. Hal itu sangat perlu. Karena meskipun makmur, Avalon bukan negara besar. Jika ada yang menyerang dari luar, Avalon tak akan mampu bertahan.
"Ada lagi hal bodoh yang ingin kamu katakan?" Dari seberang meja, Luen melempar tatapan sinis pada Fais.