Chapter III.3

1582 Kata
"Ada lagi hal bodoh yang ingin kamu katakan?" Dari seberang meja, Luen melempar tatapan sinis pada Fais. "Maaf, saya yang salah." Fais merasa ia tak mampu lagi mempertahankan pendapat. Meski sebenarnya ia memiliki banyak ide di kepalanya, untuk tetap menggempur Eyja tanpa harus menjadi penjahat perang di mata dunia. Namun entah kenapa ia merasa Luen tak ingin memerangi Eyja, Panglima Avalon itu terlihat sangat enggan dan terkesan mencari-cari alasan. "Tapi..." Kalimat Fais yang menggantung membuat semua mata menatapnya dengan antisipasi. "Tapi Mr. Luen, bukankah sebenarnya ini semua sangat mudah," tambahnya lagi. "Mudah?" Luen memberi kesempatan pada Fais untuk melanjutkan. "Kita bisa saja melakukan klarifikasi bahwa ada teroris yang bersembunyi di Eyja dan menggunakan masyarakat Eyja sebagai sandera. Jadi kita tak punya pilihan selain menggempur mereka sambil berusaha meminimalkan jatuhnya korban tak bersalah. Kita hanya perlu menggunakan beberapa media yang berada di bawah kendali pemerintah. Tak ada yang akan tahu apa yang sebenarnya terjadi di Eyja." "Kau mau mengarang cerita bohong?" geram Ariel lagi. "Mengerikan. Kau sudah berubah menjadi monster yang haus darah. Kau hanya ingin melakukan p*embantaian di Eyja." Fais menarik napas panjang sebelum menjawab. "Aku sudah cukup baik memikirkan cara agar orang Eyja terlihat tak bersalah. Apa kamu lebih memilih cerita lain? Misalnya, mengatakan kepada pers bahwa orang-orang Eyja adalah pemberontak yang sudah menyembunyikan senjata pemusnah massal." Lelaki itu tidak sedang bercanda, ia bisa memikirkan cerita apapun untuk dibeberkan kepada pers sebagai alasan menggempur Eyja. Propaganda adalah hal yang sangat mudah dilakukan jika media sudah dikuasai, bagaimanapun juga, tak ada yang mengetahui kondisi asli di Eyja selain para petinggi negara. Tak ada yang bisa membantah apapun yang dikatakan pemerintah mengenai Eyja. Sebulir keringat mengalir di kening Zidan, Fais yang berada di hadapannya saat ini adalah sosok yang akan menghalalkan segala cara demi menghancurkan Eyja. Rasanya sudah lama sekali ia tak melihat Fais yang seperti ini, lelaki itu tidak berubah, ia hanya menunjukkan pribadi aslinya. Bahwa sebenarnya di balik senyum malaikat itu, Fais adalah orang yang tak akan gentar hatinya, meski melihat mayat-mayat bergelimpangan. Ia adalah lelaki yang terbiasa melumuri tangannya dengan darah. Zidan sangat tidak ingin melihat sahabat baiknya itu kehilangan rasa kemanusiaannya. Untuk itu, ia akan menolong Fais. Sebisa mungkin ia akan mencegah lelaki itu melakukan kejahatan sadis yang akan ia sesali di kemudian hari. "Bagaimana kalau kita gunakan Nda untuk memanipulasi memori Suyi?" saran Zidan kemudian. "Fais bisa saja melakukan itu, tapi pengaruh authority command akan hilang dalam 14 hari. Jika kita mengubah memori Suyi, kita bisa membuatnya melupakan revolusi atau membuatnya membenci Kiriyan. Jika Suyi sudah dikendalikan, Eyja juga akan bergerak sesuai keinginan kita." Luen menatap Nda kali ini. "Sixth, bagaimana menurutmu?" "Anda tahu sendiri, Mr. Luen. Kemampuanku tidak pernah bisa diukur dengan pasti. Semuanya tergantung pada objek, semakin stabil emosi seseorang akan semakin sulit untuk dimanipulasi." "Aku tidak suka jawaban abstrak. Jadi, kamu bisa menangani Suyi atau tidak?" Alis Nda berkerut bingung, ia tampak ragu-ragu sebelum menjawab. "Aku akan mencoba membuatnya melupakan rencana untuk melakukan revolusi Eyja." "Cuma itu?" desak Luen. "Kalau memungkinkan, aku akan menanamkan memori yang akan membuatnya takut untuk melakukan perlawanan. Seperti trauma dan sejenisnya." "Kamu masih saja menggunakan kalimat 'akan mencoba' dan 'jika memungkinkan'." "Aku akan menggunakan kemampuan terbaikku." "Bisa atau tidak?" “Bisa! Pasti Bisa!" Nda sampai harus setengah berteriak untuk meyakinkan Luen dan dirinya sendiri. "Bagus." Luen menyeringai tipis lalu beralih pada Ai. "Kamu anaknya Kiriyan?" tanyanya kemudian. "Iya, saya anak kandung Keilan Kiriyan," jawab Ai tanpa ragu. "Apa kamu tidak keberatan kalau dalam misi ini Kiriyan terbunuh?" Mulut Ai terkunci rapat setelah pertanyaan Luen itu ditujukan padanya. Tujuannya bertahan di Armour adalah untuk membawa ayahnya kembali. Tapi kalau pada akhirnya ia harus melihat lelaki itu mati, lalu apa sebenarnya yang sedang ia lakukan di sini? "Sepertinya Kiriyan menduduki posisi cukup penting di WoLf," sambung Luen lagi. "Buktinya, Suyi dan orang-orang Eyja sampai rela melakukan perlawanan demi mempertahankan Kiriyan. Aku takut kita tidak punya pilihan lain selain melenyapkan Kiriyan. Bagaimana menurutmu?" Bibir Ai merenggang untuk mengatakan sesuatu, tapi ia ragu apakah ia harus mengatakan itu. "Dalam proses interogasi..." Beberapa kata berhasil meluncur keluar dari mulutnya. Ia lalu menelan ludah dan memantapkan hati. "Dalam proses interogasi, kami menemukan kejanggalan pada kasus WoLf ini," ujarnya kemudian. Ia mengerling Fais dan sepertinya tak ada tanda-tanda Fais akan mencegahnya bicara. "Kiriyan menyatakan bahwa ada dua WoLf di Avalon, WoLf yang melakukan teror..." "Kita tidak bisa bergantung pada informasi semacam itu, Ai." Fais menyela malas. "Tapi dia mengatakan yang sebenarnya. Saya yakin dia berkata jujur. Kalau tidak percaya, kita pakai Zidan untuk membuktikan." Intonasi suara Ai mulai meninggi. "Berapa kali aku harus mengulangi bahwa kita tidak bisa menjalankan misi ini dengan melibatkan emosi." Luen menatap Ai melalui ekor matanya. Wajahnya terlihat kesal. "Seventh, kamu ditarik dari misi di Eyja. Tugasmu sekarang adalah menyelidiki Nadif Hargiansyah, kudengar kamu berteman baik dengannya. Jika melalui dia kita bisa semakin dekat dengan WoLf, kita tidak perlu lagi mengusik Eyja. Bukankah itu yang kamu mau, Third?" Ia beralih pada lelaki yang duduk di antara Kevin dan Zidan. "Bantu Seventh. Gali informasi tanpa membuat orang lain curiga," perintahnya tegas. "Seminggu ini, kalian akan diberi waktu istirahat. Kecuali Seventh yang harus tetap menyelidiki Hargiansyah. Fifth, kamu sudah melaksanakan tugas dengan baik, kamu boleh berlibur. First dan Fourth, kalian menggunakan kemampuan beberapa kali selama misi ini. Untuk berjaga-jaga, temui dokter Yama di Ring II [13] besok. Aku akan menyiapkan helikopter untuk kalian. Third, apapun yang terjadi, kamu dilarang keluar dari lingkungan SSU tanpa izin. Second dan Sixth, kalian bebas melakukan apa saja. Dan First..." Kali ini ia menatap tajam pada Fais. "...Aku tidak ingin melihatmu bersikap gegabah lagi. Jangan kecewakan aku," sambungnya sambil beranjak. "Selamat malam." Tanpa basa-basi ia lalu melangkah menuju pintu keluar. Beberapa menit setelah rapat selesai, Niya berpamitan kepada Armour yang lain untuk pulang ke rumahnya. Meski memiliki kamar sendiri di Quarter, tapi bisa dibilang, Niya jarang sekali berada di kamar itu. Biasanya ia hanya akan menggunakannya untuk beristirahat sebentar, atau menginap sesekali ketika ada misi khusus yang cukup penting dan mengharuskannya standby di Quarter. Satu per satu Armour mulai meninggalkan ruang rapat dan masuk ke kamar mereka masing-masing. Fais baru saja akan menempelkan telapak tangannya di panel pintu kamar, saat ia menemukan Ai berjalan ke arahnya dari pintu ruang rapat – Ai memang harus melalui beberapa kamar, termasuk kamar Fais, untuk menuju ke pintu kamarnya yang berada di bagian ujung koridor. "Kamu baik-baik saja?" Ai memutuskan untuk menyapa saat berpapasan dengan lelaki itu. Alis Fais berkerut bingung, namun ia masih bisa mengumbar senyum ramahnya yang biasa. "Kenapa kamu bertanya begitu?" tanyanya kemudian. "Bukankah seharusnya kamu lebih mengkhawatirkan Ariel? Kejadian barusan pasti cukup membuatnya terguncang, dan kupikir kalian cukup dekat." "Dia tidak apa-apa. Aku lebih mengkhawatirkanmu," sahut Ai kemudian. "Aku?" Kali ini Fais tertawa pelan sebelum menjawab. "Aku juga tidak apa-apa, Ai." "Apa kamu lupa kalau aku bisa membaca pikiran?" sela Ai tanpa bermaksud kasar, "meski tampak tenang, tapi di mataku, kamu terlihat lebih rapuh dibandingkan Ariel." Fais tertawa sedikit lebih keras kali ini, ia lalu mengusap rambutnya sambil menghela napas panjang. "Ai... kamu menggunakan kemampuanmu padaku," gumamnya sambil perlahan meletakkan tangannya di pundak Ai, ia harus sedikit membungkuk karena Ai tidak lebih tinggi darinya. "Bagaimana jika sekarang aku menggunakan command untuk menyuruhmu mengambil pisau dan membunuh dirimu sendiri?" sambungnya kemudian, masih dengan senyum yang belum luntur dari wajahnya. Ai menelan ludah dengan susah payah, karena saat ini rasanya ia seperti sedang tercekik. Meski ekspresi lelaki di hadapannya ini terlihat ramah, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya sangat bertolak belakang. Fais berhasil membuat sekujur tubuh Ai merinding, bahkan tangan Fais yang masih menyentuh pundaknya itu kini terasa begitu dingin. "Kamu tidak mau, kan?" tanya Fais lagi, "aku juga tidak mau kamu menggunakan kemampuanmu padaku, lebih tepatnya, aku tidak suka. Kamu mengerti?" Ai mengangguk pelan, ia tak berani mengangkat wajahnya dan menatap Fais. Meski ia tahu lelaki itu pasti sedang tersenyum, tapi senyumnya saat ini sangat mengerikan. "Maaf," gumamnya kemudian. "Tidak apa-apa." Fais mengusap tangannya di pundak Ai sebelum akhirnya ia memberi tepukan pelan untuk menenangkan. "Mungkin aku lupa memberitahumu, tapi di Armour, kita punya kode etik sendiri. Karena kita sudah mengetahui kemampuan masing-masing, untuk norma kesopanan, sebaiknya kita meminta izin dulu sebelum menggunakan kemampuan satu sama lain." Ai menelan ludah sambil kembali mengangguk pelan. Suara Fais sudah terdengar jauh lebih ringan, tapi yang barusan itu cukup membuat Ai trauma. Itu sebabnya ia masih agak bergidik saat Fais menjulurkan tangannya, padahal lelaki itu hanya ingin memberi sentuhan lembut di kepala Ai dan mengusap rambut gadis itu. "Sekarang istirahatlah. Kamu pasti lelah," ujarnya pelan. "Baik, selamat malam," jawab Ai canggung, tanpa sadar ia berusaha menghindari tatapan Fais. "Selamat malam, Ai," sahut Fais bersamaan dengan berlalunya gadis itu dari hadapannya. Ia sebenarnya tak bermaksud menakut-nakuti Ai, tapi belakangan ini Fais juga sadar bahwa ia semakin mudah kehilangan kesabaran dalam setiap tindakannya. Koridor Quarter itu terasa hening setelah Fais menjadi satu-satunya yang masih berdiri di sana. Ia pun akhirnya berbalik dan menempelkan tangannya di panel. Saat pintu menggeser terbuka, Fais melangkah masuk sambil menyalakan lampu melalui alltech di tangannya, menghempaskan tubuh di atas kasur bahkan tanpa melepas sepatu atau mengganti pakaian. Seharian tadi ia lupa merasa lelah, selalu seperti itu, sampai ketika ia berada di kamarnya, seorang diri. Saat-saat seperti inilah yang membuat ia merasa seolah tak ingin bangun lagi. . _______________ [13] Ivory Palace memiliki tiga lapis wilayah, Ring I adalah istana tempat tinggal Zoire, Ring II adalah zona tempat tinggal para pejabat penting negara termasuk di dalamnya dokter pribadi Zoire, dan Ring III adalah area dimana di dalamnya terdapat berbagai kantor pusat pemerintahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN