Chapter III.4

1561 Kata
Baru saja Fais bermaksud untuk memejamkan matanya sejenak, sebuah video call muncul di layar alltechnya. Saat melihat nama Luen tertera di sana, ia tahu ia tak mungkin menerima video call dari boss-nya itu sambil tiduran seperti ini. Maka Fais beranjak malas untuk menyalakan komputer di meja kerjanya. Wajah Luen muncul di layar komputer, dan Fais terpaksa mengambil posisi duduk di depannya. "Aku tidak bisa membicarakan ini di hadapan Armour yang lain," kata Luen tanpa basa-basi. "Di misi berikutnya, sebaiknya kamu tidak membawa Seventh dan Third ke Eyja lagi." Perlahan Fais merebahkan punggungnya di sandaran kursi sebelum menjawab. "Saya juga berpikir begitu, Mr. Luen. Saya akan meninggalkan Seventh dan Third di Quarter, lagipula saya rasa mereka tak akan banyak membantu di misi selanjutnya," jawabnya dengan suara yang tak bersemangat. "Kelihatannya Third mulai menunjukkan tanda-tanda berbahaya. Dia harus diberi pelajaran." "Tidak... Jangan. Itu tidak perlu," Fais menggeleng letih, "dia masih bisa ditangani. Dia tidak akan berkhianat. Cuma sedikit enggan karena harus melawan orangnya sendiri," sambungnya lagi, kali ini sambil sedikit memijat pelipis kanannya. Luen mengamati pemuda di hadapannya itu sebelum akhirnya bertanya. "Kamu baik-baik saja?" Fais meninggalkan sandaran kursi dan menegakkan pundakknya. "Tidak apa-apa," jawabnya sambil lalu menghempas napas mengusir lelah. Pertanyaan ini sudah biasa dilayangkan Luen padanya, hanya saja, beberapa saat yang lalu ia juga mendengar pertanyaan yang sama dari mulut Ai. Fais jadi merasa harus memperbaiki performanya, tak ada lagi yang boleh melihatnya sebagai sosok yang rapuh. "Tapi, Mr. Luen," ia mengalihkan pembicaraan, "bagaimana pendapat Anda tentang pengakuan Kiriyan? Saya rasa, itu cukup masuk akal. Bagaimana kalau ternyata kita mengejar WoLf yang salah?" "Apa maksudmu dengan 'WoLf yang salah'? WoLf yang manapun, mereka tetap membahayakan Avalon. Bedanya hanya yang satu cuma kumpulan hacker sementara yang satunya lagi teroris. Tapi keduanya adalah musuh negara, dan aku yakin keduanya berada di Eyja. WoLf manapun yang berhasil kamu habisi, kita tidak akan rugi sama sekali. Kamu tetap menjalankan tugas negara dengan baik." "Tapi..." "Tapi kamu sebenarnya bukan ingin membantu negaramu, kan?" sela Luen dengan intonasi yang mulai terdengar ketus. "Kamu cuma ingin menghancurkan WoLf yang membunuh keluargamu." Fais merasa tertampar oleh tiap kata yang dikeluarkan Luen. Ia hanya bisa tertunduk dan diam. "Aku tidak akan menyalahkanmu," sambung Luen lagi. "Apapun motifmu, asalkan tujuan kita sama, tak ada salahnya. Jangan terlalu dekat dengan Armour yang lain, kamu berbeda, Fais. Terutama Third dan Seventh, kamu tidak boleh terpengaruh dengan cara berpikir mereka." Luen bergerak sedikit mencondongkan tubuhnya mendekati monitor. "Fais, kamu sudah jauh sampai di sini. Apa kamu mau semua usahamu selama ini sia-sia? Seandainya memang WoLf Kiriyan bukan teroris, mungkin saja mereka bisa membuka jalanmu menuju WoLf yang kamu cari. Meski sebenarnya aku juga ingin agar Kiriyan dihabisi, tapi kita harus tetap melindungi Eyja. Aku yakin kamu sudah lebih tenang kali ini, kamu pasti bisa memikirkan misi selanjutnya dengan kepala dingin. Kita bisa menghindari revolusi Eyja, menemukan WoLf di sana juga akan menjadi hal yang mudah jika Suyi berhasil dibujuk dan berada di pihak kita." Luen mengambil jeda sebelum kembali melanjutkan. "Aku tahu kamu juga sudah lelah melihat pertumpahan darah, dan sebenarnya kamu tak ingin lagi melihat siapapun mati. Itu sebabnya, kamu harus mengakhiri ini tanpa menghancurkan. Kita hanya perlu menyeret WoLf keluar, lalu Eyja akan kembali hidup damai dan semua akan senang. Ada apa, Fais? Kenapa tiba-tiba kamu jadi ragu begini, hm?" Fais membisu, ia hanya memandangi telunjuknya yang sejak tadi bergerak mengusap-usap goresan tipis di atas permukaan meja kerjanya. Ada yang mengganggu pikirannya. Keberadaan Kiriyan di Eyja terlalu aneh. Seolah ia dilindungi oleh kedua pihak, Eyja maupun pemerintah. "Mr Luen...," Fais membuka suara lagi, "siapa sebenarnya Keilan Kiriyan?" tanyanya kemudian. “Bukankah itu yang sedang kita cari tahu saat ini?" "Kenapa dia bisa membentuk 4 in 1 di Avalon jika ia masih terdaftar sebagai penghuni Eyja?" Luen tampak berpikir sejenak sebelum menjawab. "Dia adalah hacker jenius. Memanipulasi data pemerintah adalah hal mudah baginya." "Benarkah?" Fais mulai menatap Luen curiga. Lelaki itu jelas sedang menyembunyikan sesuatu. "Apa bisa semudah itu mengacaukan data pemerintah? Kecuali, ada orang dalam yang melindunginya." "Kamu curiga padaku?" Luen mulai tampak terganggu dengan pertanyaan Fais. "Untuk apa aku melakukan itu? Tidak ada untungnya bagiku." "Siapa tahu? Mungkin sebenarnya Anda yang telah menyembunyikan Kiriyan di sana." "Sudah kubilang, apa gunanya aku melakukan itu?" "Entahlah, mungkin untuk menyembunyikan dan melindungi WoLf." "Jaga bicaramu, First!" tukas Luen setengah membentak. Fais memang tak mengatakan apapun lagi, tapi matanya tetap menatap Luen dengan tatapan menginterogasi. Menganalisa segala kemungkinan dan mencoba menyusun kepingan puzzle yang mulai ia temukan satu per satu. "Maaf," gumam Fais akhirnya, "pikiran saya sedang sangat kacau. Saya harap Anda memakluminya." Ia menunduk dalam di depan monitor. Untuk saat ini, Fais memutuskan mengambil langkah mundur. Tak ada gunanya memancing amarah Luen. Beberapa potongan puzzle sudah ada di tangannya. Sebaiknya ia bergerak perlahan tanpa menyulut pertengkaran yang tidak perlu. "Misi di Eyja nanti, kita akan coba gunakan Nda," Luen kembali membuka suara. "Tapi jika gagal, apa boleh buat, kita terpaksa menggunakan cara keras. Jika Suyi tidak bisa bekerja sama, kamu diperbolehkan menangkap Kiriyan dengan cara apapun. Dan jika rakyat Eyja melawan, habisi saja." Luen menatap mata Fais lekat-lekat. "Informasi yang diberikan UKI sudah dibenarkan oleh Kapten Divisi-4 yang selama ini menjaga Eyja. Ada pergerakan mencurigakan di pulau itu, aku ingin kamu menemukan dalangnya. Baik itu Kiriyan maupun pihak lain, tidak ada yang boleh menjatuhkan Zoire." "Baik, Mr. Luen. Tapi saya punya permintaan." Fais mencoba melakukan tawar menawar. "Katakan." "Saya butuh reinforcement, salah satu dari militer Avalon. Jika memang ada yang bergerak di Eyja, saya khawatir kita tidak tahu apa yang sedang kita hadapi. Saya tidak mau membahayakan anggota saya." Luen kembali menjauh dari monitor dan bersandar di kursinya, ia tampak sedang berpikir keras sebelum akhirnya menjawab. "Baik, aku akan memerintahkan Sir Gio, Kapten Divisi 3-Angkatan Udara, untuk menyiagakan armadanya sebagai reinforcement," putusnya akhirnya. "Tapi mereka hanya akan bergerak jika keadaan memang sudah tak terkendali lagi, kamu mengerti?" "Baik, saya mengerti. Terima kasih," jawab Fais terdengar puas. "Kamu tidak melakukan ini hanya sebagai alasan untuk membantai orang-orang Eyja, kan?" Fais mendengus tertawa mendengar pertanyaan Luen yang penuh kecurigaan itu. "Tentu saja tidak. Anda tidak perlu cemas, saya masih sangat fokus dengan tujuan yang ingin saya capai," ujarnya kemudian. Selama beberapa saat, Luen tak lagi mengatakan apa-apa, tapi ia juga tak mengakhiri pembicaraan. Lelaki itu hanya melempar tatapan datar pada anak muda di hadapannya. “Berhenti memikirkan hal-hal bodoh yang tidak ada hubungannya dengan tugasmu," katanya kemudian. "Kamu punya cukup banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, jangan menambah beban yang tidak perlu," tambahnya lagi. "Baik, saya mengerti." Fais terdengar seperti robot yang sudah terprogram untuk menjawab itu. Luen menghempas napas sebelum kembali bertanya. "Kamu sudah makan?" "Sebentar lagi," jawab Fais pelan. "Akhir-akhir ini kamu kelihatan pucat dan kurus. Jangan terlalu lelah, pikirkan kesehatanmu." "Baik. Terima kasih, Mr. Luen." Fais kembali menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat. "Ya sudah, sekarang kamu makan dan langsung istirahat. Besok ada konferensi pers yang harus kamu hadiri. Kamu harus bisa bekerja sama dengan kapten Divisi lainnya untuk menenangkan keadaan." Ah... iya. Fais baru ingat. Besok ia harus bicara di depan wartawan bersama Kapten Divisi-2 dan Divisi-6, mengenai isu yang belakangan ini semakin marak beredar di Avalon. Entah siapa yang memulai, tapi masyarakat semakin resah dengan adanya kabar bahwa Avalon akan berperang dengan Eyja. Lalu, mengenai status Divisi 7-Armour dalam Departemen Pertahanan Negara yang kembali dipertanyakan. Kepala Fais terasa semakin berdenyut-denyut menyakitkan. "Satu per satu masalah baru timbul tak ada hentinya," batinnya dalam hati. "Saya mengerti, Mr. Luen. Selamat malam," sahutnya kemudian. "Selamat malam," balas Luen sambil lalu memutuskan panggilan videonya. *** Ai dan Tiara sedang berjalan menyusuri koridor dari perpustakaan menuju kantin. Tiara tak berhenti mengoceh tentang teori politik yang baru ia pelajari, Ai malas mendengarkannya, makanya sejak tadi ia hanya manggut-manggut sambil sesekali bergumam "Oh...," atau "benarkah?" Tapi saat melihat VR1, alias Fais, bersama sekretarisnya sedang melangkah ke arah mereka beberapa meter di depan, Tiara langsung sibuk merapikan pakaian dan rambutnya. Ai mengingatkan dirinya sendiri, bahwa Fais adalah VR1 di kampus. Jadi dia tak bisa mengobrol sebagaimana biasa ketika mereka sedang di Quarter. Jarak mereka semakin dekat, Fais sempat mengerlingnya sekilas, tapi kemudian kembali menyibukkan diri bicara dengan sekretarisnya. Saat mereka berpapasan, tanpa sadar Ai mempercepat langkahnya, dan membuatnya tak sengaja menjatuhkan sesuatu tak jauh dari Fais. "Ai," panggilan Fais langsung membuat jantung Ai berdegup kencang. Ia berbalik dan menjawab dengan tergagap. "Sa-saya?" "Kamu menjatuhkan ID-mu." Wajah Fais yang tersenyum tertimpa sinar mentari dari jendela di sebelah kanannya, membuat siapa saja akan mengira bahwa malaikat sedang turun ke bumi. Ai yang sudah cukup sering melihat pesona itu pun sampai sekarang masih sulit membiasakan diri, dengan kikuk ia buru-buru memungut ID di lantai koridor. "Lain kali hati-hati, ya," katanya lagi. Masih dengan suara lembutnya yang khas. "Te-terima kasih," balas Ai gugup. Fais menutup pembicaraan itu dengan senyumnya yang menyilaukan, sebelum akhirnya berbalik dan melanjutkan langkah sambil menyambung obrolan dengan sekretarisnya. "Jumpa pers...?" Ai tak bisa mencegah dirinya untuk bertanya soal itu, meski ia merasa sangat canggung dan tak tahu harus menggunakan sapaan apa untuk memanggil Fais di depan umum. Fais kembali menoleh dan masih menjawab ramah. "Akan dimulai sebentar lagi. Mereka akan menyiarkannya secara langsung di TV, kamu bisa menonton di kantin," terangnya. "Oh... Okay. Baiklah, semoga semuanya berjalan lancar," tambah Ai lagi. Fais kembali membalas dengan senyum yang sama sekali berbeda dengan senyum mengerikannya tadi malam. Ia menyempatkan diri mengatakan terima kasih sebelum kemudian benar-benar berlalu pergi bersama sekretarisnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN