“Terima kasih,” Fais kembali mengumbar senyum sebelum akhirnya ia benar-benar berlalu pergi bersama sekretarisnya.
"Aiiiii...!" Tiara histeris dan menarik-narik lengan baju Ai dengan membabi buta. "Dia panggil nama kecilmu, loh! Dia panggil nama kecilmu! Apa-apaan itu? Kalian akrab? Bagaimana bisa?!" Ia berusaha menahan suaranya karena Fais masih belum jauh meninggalkan mereka.
"Aku belum bilang, ya? Dia keluarga jauh. Bisa dibilang sepupu." Ai memutuskan untuk mengarang cerita bohong, nanti ia hanya perlu meminta Fais untuk menyesuaikan.
"Kenapa kamu tidak pernah bilang?"
"Kupikir akan lebih baik kalau tak ada yang tahu. Kamu juga jangan bilang siapa-siapa, ya."
"Tapi... tapi VR1 loh, itu tadi VR1 loh, Ai!"
"Iya, iya... kamu bisa tenang sedikit tidak? Ayo cepat, kita tidak punya banyak waktu untuk makan siang." Ai sengaja menyudahi pembicaraan dan mempercepat langkahnya menuju kantin.
Ada dua kantin di kampus SSU ini, yang satu di bagian Barat gedung, dan satunya lagi di bagian Timur. Ai dan yang lainnya lebih sering makan ke kantin Barat, karena lebih dekat dengan fakultas mereka. Kantin di kampus ini juga menggunakan sistem all you can eat. Jadi saat memasuki pintu hall, mahasiswa hanya perlu menggesek Dining Card [14] mereka, lalu vouchernya akan dikurangi sebesar 7 Chrim [15]. Setelahnya, mereka bisa memakan apa saja yang ada di dalam hall.
"Apa kamu cukup akrab dengan VR1?"
Tiara masih memberondongi Ai dengan pertanyaan bahkan saat mereka sudah melewati mulut pintu kantin dan melangkah menuju salah satu meja kosong di dekat jendela. Tiara mencoba bertanya dengan intonasi sewajar mungkin, tapi ia tak bisa menyembunyikan pikiran sebenarnya dari Ai. Bahwa Tiara menyimpan rasa iri dan tak henti-hentinya bertanya. "Kenapa selalu Ai yang beruntung? Dia selalu istimewa tanpa perlu berusaha keras."
"Tidak juga, kami hanya pernah mengobrol beberapa kali," jawab Ai cuek sambil mengutak-atik tab screen yang ada di masing-masing meja kantin untuk memesan makanan.
Lalu sambil menunggu pesanan mereka datang, kedua gadis itu mencurahkan perhatian ke layar lebar di salah satu sudut kantin yang sedang menayangkan persiapan jumpa pers di aula utama kampus SSU. Mereka sengaja mengadakan konferensi itu di sini, karena ruangannya memadai dan cukup aman, sekaligus untuk menyesuaikan dengan jadwal Fais yang cukup padat.
Tampak lelaki dengan postur proposional yang sedang dibicarakan Tiara itu memasuki aula kampus, didampingi seorang lelaki berkumis yang dikenal sebagai Kapten Wira, pimpinan Divisi 2-UKI dan seorang lelaki lain yang mirip Hagi, Kapten Divisi 6-Polisi, Tama Hargiansyah.
Konferensi pers itu dilangsungkan karena saat ini sedang beredar isu bahwa Eyja sudah siap memerangi Avalon, dan Divisi 7-Armour yang selalu menjadi misteri dicurigai sebagai Divisi yang dipersiapkan khusus untuk mengumpulkan data dan mempersiapkan perang melawan Eyja.
Tiara tak bisa mengalihkan perhatiannya dari layar besar itu, ia kemudian menghela napas panjang sambil lalu mengeluh. "Masih semuda itu sudah menjadi VR1 dan juga Kapten Divisi-7, dia terlalu berlebihan. Menjadi terlalu sempurna seperti itu harusnya ilegal."
"Rasanya sulit dipercaya itu diucapkan oleh kamu yang sangat menyukai nilai 100%," Ai menimpali.
"Tapi aku memperolehnya dengan susah payah, bukan bakat dari lahir seperti prodigy begitu."
"Memangnya kamu tahu kesulitan apa yang harus dilalui Fais sampai jadi sehebat itu?"
Tiara diam sejenak sambil menatap Ai jengkel, ia baru saja memaki Ai di dalam hati karena berani memamerkan keakraban dengan VR1 dengan cara menyebutkan nama kecil lelaki itu. "Iya deh iya... kamu mengenalnya dengan baik," omelnya kemudian.
"Ah... lihat warna kulitnya itu." Tiara tetap tak berhenti mengeluh sambil mengamati Fais.
"Bagaimana mungkin seorang lelaki memiliki kulit putih pucat begitu...? Apa dia tidak pernah ke pantai? Bagaimana caranya dia bisa putih bersih begitu?"
"Kalau saja kamu tahu, kulit putihnya itu karena dulu dia pernah cukup lama dikurung pemerintah di dalam kamar yang nyaris tanpa sinar matahari," batin Ai menggerutu jengkel.
"Tak ada yang perlu dibanggakan dari Divisi-7, Armour itu hanya divisi kacangan." Tiba-tiba Hagi muncul sambil meletakkan minumannya di atas meja dan duduk di antara kedua wanita itu.
"Apa?" Ai tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Hagi mungkin tak tahu, tapi dengan menghina Armour, sama saja ia sedang menghina Ai sebagai anggotanya.
"Armour dibentuk hanya karena Luen menginginkan Faisal mendapat kedudukan di pemerintahan. Coba pikir, sampai sekarang kita tak tahu apa yang dikerjakan Divisi itu. Organisasi rahasia apa?" gumam Hagi setengah menggerutu di akhir kalimatnya.
"Divisi 7-Armour itu termasuk dalam Departemen Pertahanan, apa kamu tidak mengerti arti kata 'Armour'?" Ai berusaha menghilangkan nada jengkel di suaranya.
"Memang benar," sahut Tiara. "Semua orang tahu bahwa ada Divisi terakhir di Avalon yang dinamakan Armour. Anggotanya hanya tujuh orang dan sampai sekarang tak ada yang pernah tahu sepak terjang Divisi rahasia itu, tidak juga para Kapten enam Divisi yang lain. Sejauh ini, yang diketahui dari Armour adalah Faisal Fandika sebagai kaptennya dan ia bertanggung-jawab langsung kepada Luen dan Zoire. Selain itu, semuanya serba rahasia." Tiara seolah mengaktifkan mode buku manual dalam dirinya.
"Lagipula, isu perang ini berlebihan," tambah Tiara lagi. "Aku tak mengerti kenapa Netizen harus takut jika perang dengan Eyja pecah. Maksudku, mereka itu kaum primitif, kita bisa menang dengan mudah. Tidak ada alasan untuk panik. Jika Eyja berani menantang, kenapa kita harus mundur? Ini saatnya kita menunjukkan siapa bos-nya. Serang saja dengan kekuatan penuh."
"Kita tidak bisa sembarangan menggempur Eyja, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan." Ai berusaha menanggapi dengan sikap tenang, meski sebenarnya ia lumayan kesal.
"Ada isu yang beredar bahwa Armour menjalankan misi-misi rahasia yang bahkan tidak diketahui Kapten lain." Suara seorang wartawan yang sedang diberikan kesempatan untuk melontarkan pertanyaan membuat obrolan Ai dan yang lainnya terpotong. Mereka pun kembali memfokuskan perhatian ke layar TV di sudut kantin itu. Tampak wartawan yang sama masih melanjutkan prolognya.
"Kabar yang beredar, 7 anggota Armour adalah assasin yang bertugas menyapu bersih semua yang dianggap mengancam keberadaan Lord Zoire. Tapi Perdana Menteri berkeras bahwa Armour hanyalah berisi ilmuwan dan ahli strategi, jika memang begitu, kenapa Armour dimasukkan ke Departemen Pertahanan Negara? Masyarakat bertanya-tanya, apakah pemerintah sedang menyembunyikan sesuatu?"
"Pemerintah tidak perlu menyembunyikan apapun dari rakyatnya." Fais langsung menjawab tanpa membutuhkan waktu jeda. "Maaf, Anda tidak paham kenapa Armour dikategorikan sebagai Divisi Pertahanan? Apa tidak ada yang mengajarkan Anda bahwa Ilmu Pengetahuan dan Strategi juga merupakan bentuk pertahanan negara?"
Pertanyaan Fais terdengar cukup menohok, ia memang sengaja membungkam wartawan yang mulai berani melempar pertanyaan terlalu kritis dan tajam. "Seperti yang sudah saya jelaskan berkali-kali, kami bergerak di bidang ilmu pengetahuan dan strategi, semua riset yang kami lakukan adalah untuk kepentingan Avalon."
Meski Fais berhasil menjawab dengan baik, tapi persoalan Armour ini terlalu sensitif, satu pertanyaan terlanjur memicu ketidaksabaran yang lainnya. Armour sudah terlalu lama dibiarkan menjadi misteri, karena itu, para wartawan menganggap ini kesempatan bagus untuk mengorek informasi lebih mengenai Divisi itu. Mereka pun mulai bersahut-sahutan memberi pertanyaan tanpa aturan.
"Jika memang begitu, seharusnya semua hasil penelitian Armour dibuka untuk publik, dan tidak ada salahnya masyarakat tahu siapa enam anggota Armour lainnya. Tapi sejauh ini, semuanya terkesan dirahasiakan. Masyarakat juga tidak pernah merasakan manfaat keberadaan Armour."
"Apa Armour dibentuk untuk kepentingan Lord Zoire saja, bukan untuk Avalon?"
"Bagaimana Armour terlibat dalam perang dengan Eyja ini? Apa benar selama ini Armour bertugas menangani pemberontak yang bersembunyi di Eyja?"
"Bagaimana persiapan kita menghadapi pemberontak Eyja? Kami dengar mereka menyembunyikan senjata canggih yang dapat melawan Ketujuh Divisi kebanggaan Avalon. Apakah rakyat sedang dalam ancaman besar? Jika Armour bertanggung jawab dalam hal ini, sebaiknya tugas-tugas Armour bisa dibuat lebih transparan agar masyarakat tidak merasa seperti tertipu."
"Pemerintah seharusnya tidak menyembunyikan apapun dari rakyat, rakyat selalu melaksanakan kewajiban dengan baik, jadi kami semua berhak tahu apa yang terjadi."
BRAK!
Mendadak Kapten Tama menggebrak meja hingga membuat ruangan mendadak hening, wajahnya tampak marah memandang ke seluruh wajah di hadapannya. "Berani-beraninya kalian mengkritisi pemerintah. Kalian yang merasa tidak puas dengan kepemimpinan Lord Zoire, lebih baik keluar dari sini dan segera kosongkan rumah kalian. Avalon tidak butuh orang yang tidak loyal kepada pemimpinnya."
Beberapa detik suasana masih hening setelah kalimat ancaman tersebut, tapi kemudian perlahan terdengar suara gemetar yang tergagap di antara kerumunan wartawan. "Lo-loyal? Kenapa harus rakyat yang loyal pada pemerintah?" ujarnya bernada protes.
Orang-orang di ruangan itu berusaha menemukan sumber suara hingga akhirnya seluruh mata terarah pada seorang pemuda yang tampak sedang mengerahkan seluruh keberaniannya, untuk menyampaikan apa yang harus ia sampaikan. "Rakyat akan loyal kepada pemimpin yang baik, tanpa perlu dipaksa. Lagipula, dulu Lord Zoire dipilih oleh rakyat, jadi bukan rakyat yang seharusnya melayani, tapi sebaliknya," sambungnya lagi, kali ini dengan suara yang sudah mulai terdengar stabil dan lebih berani.
Sekeliling ruangan seolah menahan napas menyaksikan aksi nekat anak muda itu, beberapa dari mereka merasa ngeri membayangkan apa yang akan terjadi pada pemuda itu selanjutnya, namun tak sedikit juga yang mulai berpikir bahwa apa yang ia katakan ada benarnya.
Kapten Tama mengangkat dagunya dan menatap pemuda itu penuh kebencian, lalu tanpa menghilangkan wibawa dalam suaranya, ia memerintahkan anak buahnya untuk segera bertindak. "Pemberontak. Tangkap dia sekarang juga," tegasnya tanpa perlu berteriak.
Beberapa orang berseragam pun segera muncul dan mengamankan anak muda itu. Tanpa perlawanan, ia dikawal keluar aula dan meninggalkan kasak-kusuk kegelisahan di dalam ruangan.
"Saya tidak tahu kabar apa saja yang sudah kalian dengar dari internet." Fais kembali menyambung konferensi pers seolah barusan tadi tidak terjadi apa-apa. "Tapi saya harap masyarakat bisa lebih bijak memilih berita yang kalian percayai. Tugas-tugas Armour cukup sensitif dan bisa terancam gagal jika ada sedikit saja informasi yang bocor ke tangan pihak yang tidak diinginkan. Penelitan yang kami lakukan berhubungan langsung dengan strategi yang kami susun untuk kepentingan Avalon. Jadi jika tugas kami dilakukan secara transparan, itu sama saja dengan membocorkan strategi kita kepada pihak luar."
"Oh... jawaban yang cerdas sekali, Kapten," pikir Ai dalam hati.
Sebagai salah satu anggota Armour, tentu saja Ai tahu bahwa setiap kata yang diucapkan Fais itu sebagian besarnya hanyalah bohong belaka. Tapi, tetap saja patut untuk dipuji karena Fais cukup berhasil meyakinkan wartawan.
.
_______________
[14] Kartu berisi voucher yang digunakan untuk membeli makanan di kampus SSU.
[15] Mata uang Avalon