"Itu sebabnya, untuk saat ini saya tidak bisa memberitahukan apapun kepada kalian," sambung Fais lagi. “Tapi, pada waktunya, kami akan mempublikasikan apa yang dianggap perlu. Saya harap semuanya dapat dipahami.”
Bersamaan dengan akhir kalimatnya, tak ada tanda-tanda wartawan akan membantah lagi. Entah karena menganggap jawaban Fais masuk akal, atau karena terlalu takut ditangkap atas tuduhan pemberontak, seperti yang sudah terjadi pada salah satu rekan mereka tadi.
"Apa masih ada pertanyaan?" Kapten Wira mengambil alih untuk memastikan mereka bisa mengakhiri konferensi kali ini.
"Lalu bagaimana dengan isu perang yang akan pecah antara Avalon dan Eyja?" Seorang wanita berkacamata mengajukan pertanyaan dengan topik yang satu lagi. "Saya dengar kemarin Kapten Faisal berkunjung ke Eyja bersama dua mahasiswanya. Menurut kabar yang beredar, Anda juga akan kembali ke Eyja dalam beberapa hari ke depan, bisakah Anda jelaskan untuk kepentingan apa kunjungan ini?"
"Nona, darimana Anda mendapatkan informasi yang bahkan tidak diketahui oleh orang terdekat saya?" Fais setengah tertawa menanggapi pertanyaan itu. Dalam hati ia sedikit panik, isu-isu yang beredar belakangan ini terlalu liar, dan beberapa di antaranya bahkan nyaris tepat sasaran.
Meski memang benar kondisi negara sedang tidak aman karena rakyat Eyja mengancam untuk melakukan revolusi dan mungkin saja nantinya bentrokan dengan Eyja tak bisa dihindari, tapi masyarakat Avalon di Pulau Utama sebaiknya tidak mengetahui hal itu. Tak ada gunanya menimbulkan kepanikan di dalam masyarakat.
"Memang benar saya berkunjung ke sana dengan mahasiswa, itu hanya untuk kepentingan riset," Fais menjelaskan dengan sabar dan perlahan. "Dan kami memang akan berangkat kembali ke Eyja dalam waktu dekat untuk kepentingan yang sama. Jadi keberangkatan saya kesana bukan sebagai Kapten Divisi-7, melainkan sebagai salah satu pengajar di SSU." Kata-katanya dipilih dengan sangat hati-hati. Ia tak boleh lengah, kesalahan kecil saja bisa berdampak besar terhadap misi mereka nanti.
"Apa boleh buat, jumlah penduduk negara kita sangat pas-pasan, bukan hanya Perdana Menteri yang harus merangkap jabatan sebagai Panglima, saya juga harus merangkap jabatan sebagai Kapten Divisi-7, dosen dan VR1 sekaligus. Jadi saya harap Anda dapat memaklumi jika saya punya terlalu banyak aktivitas." Fais mengakhiri penjelasannya tanpa memberi kesan tertekan sedikitpun.
"Jika memang apa yang Anda katakan benar," seorang wartawan kembali mengangkat tangannya dan bicara bahkan sebelum dipersilakan, "tidak ada salahnya memberitahu publik nama-nama orang yang akan ikut riset di Eyja kali ini."
Selama beberapa saat, senyum di wajah Fais sempat memudar, hingga kemudian ia kembali menguasai diri dan menjawab dengan ringan.
"Tentu saja. Tidak masalah," katanya ramah. "Kali ini saya akan didampingi 4 orang, dua mahasiswa SSU yang saya ajak sebelumnya, Andriko Maliki dari Fakultas Perikanan dan Kelautan, Nirmala Prima dari Fakultas Pertanian. Lalu ada dua orang siswa dari Sion School, Yuanda Sari dan Kevin Taylor dari jurusan Science, mereka semua adalah pelajar yang sangat cerdas." Fais menyebutkan dua orang yang pernah ia baca namanya di daftar buku mahasiswa.
Tampak sekelompok wartawan sedang mencatat dengan seksama, mereka pasti akan mencari keempat nama itu dan menanyai mereka macam-macam. Tapi tidak apa-apa, ini adalah cara terbaik daripada terus berputar-putar mencari alasan untuk tak membeberkan satu namapun. Setelah ini Fais hanya perlu memerintahkan Nda untuk mencari kedua mahasiswa itu dan mengubah memori mereka.
"Ini terlalu mencurigakan," bisik Kapten Wira di dekat telinga Fais. "Dari mana mereka mendapatkan informasi yang seharusnya hanya beredar di Ring I dan II. Sepertinya ada yang sengaja membocorkan misi-misi kita ke publik untuk menimbulkan kerusuhan."
Fais mengangguk dan bergumam pelan. "Saya juga berpikir begitu." Ia berusaha tak menggerakkan bibirnya sambil menatap lurus ke arah kumpulan wartawan di depan. Jika kedua Kapten itu kelihatan berbisik secara terang-terangan, Fais khawatir publik semakin curiga bahwa ada sesuatu yang memang sedang terjadi. "Kita harus menyelidikinya nanti," tambahnya lagi.
"Lalu bagaimana pendapat Anda tentang isu peperangan yang beredar?" tanya seorang wartawan yang lain lagi, ia bahkan nyaris berteriak untuk memastikan pertanyaannya didengar.
"Tidak ada perang yang akan pecah antara Avalon dan Eyja," sela Kapten Wira yang terdengar mulai tak sabar. "Saya tidak tahu dari mana Anda mendapat kabar itu, tapi sebaiknya Anda tidak melakukan pembodohan publik. Jika terbukti Anda sengaja mengangkat isu bohong hanya untuk membuat berita Anda laku, kami tidak akan tinggal diam." Lagi-lagi ada ancaman yang dikeluarkan di ruangan itu.
Suasana mendadak hening kembali.
"Jangan terlalu mudah mempercayai isu yang tidak jelas kebenarannya," Kapten Tama menambahkan. "Itu semua hanya hoax yang disebar untuk membuat masyarakat panik. Tidak akan ada perang, sampai saat ini kondisi negara kita sangat stabil. Tak ada yang perlu dikhawatirkan."
Fais sadar konferensi itu sudah akan mencapai akhir, maka ia mengambil inisiatif untuk menutupnya dengan kesan yang baik. "Avalon sudah berkali-kali mendapat penghargaan sebagai negara termakmur di dunia, jika terjadi keributan, penyebabnya tak lain hanyalah karena kecemasan yang tak beralasan dari kita sendiri. Jadi jangan mudah terprovokasi. Sebagai wartawan, lebih bijaklah dalam mengangkat berita untuk dipublikasikan dan jangan lagi menyebar berita meresahkan yang tidak jelas sumbernya." Fais mengumbar senyum andalannya di akhir kalimat.
"Saya rasa kami sudah cukup memberi penjelasan mengenai masalah ini," putus Kapten Tama tegas. "Ada banyak hal penting lain yang harus kami kerjakan dibandingkan membahas berita konyol yang disebarkan orang tak dikenal. Kapten Faisal benar, jika bukan kita sendiri yang menjaga kedamaian di negeri ini, maka siapa lagi? Masyarakat tidak perlu cemas, selama Lord Zoire masih bersama kita, Avalon akan terus aman sejahtera. Terimakasih atas kehadiran Anda semua hari ini. Viva Avalon!"
Lelaki itu mengakhiri konferensi pers dengan mengepalkan tinjunya ke langit-langit ruangan dan hampir separuh ruangan membalas salamnya dengan semangat yang sama.
"VIVA AVALON!" menggema di ruangan itu.
Namun, setelahnya tetap saja para wartawan menghujani Fais dan yang lainnya dengan pertanyaan-pertanyaan mereka, meski ketiga Kapten Divisi itu sudah turun dari panggung.
“Apa benar di Eyja ada pemberontak yang bersembunyi?"
"Kapten Faisal... satu lagi...!"
"Satu pertanyaan lagi, Kapten Wira!"
"Jika memang ada pemberontak, apakah kita akan melancarkan serangan besar-besaran ke sana?"
“Bagaimana dengan berita soal..."
"Tunggu sebentar, Kapten! Satu pertanyaan lagi..."
Ai menyeruput teh dinginnya sambil mengamati layar TV yang menampilkan sosok tiga orang penting Avalon itu sedang meninggalkan lokasi jumpa pers. Kemudian yang muncul setelahnya adalah seorang reporter dengan mic-nya yang melaporkan langsung dari lokasi konferensi di SSU.
Perhatian orang-orang yang ada di kantin pun terlepas dari satu titik di sudut kantin itu, kini mereka kembali sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Fais sudah melaksanakan tugasnya meyakinkan masyarakat bahwa Avalon dan Eyja baik-baik saja. Walau bagaimanapun, berita peperangan hanya akan menimbulkan kepanikan dan kontroversi. Hal itu sama sekali tidak dibutuhkan saat ini.
"Aku duluan, ya."
Tiara beranjak dan melambai singkat sambil melirik jam di alltechnya. Ia memang harus segera pergi karena ada undangan sebagai pembicara dalam seminar yang diadakan salah satu organisasi kampus. Menjadi pemateri memang merupakan kegiatan paling cocok untuk si mesin ilmu itu. Siapa lagi yang mau menghabiskan waktu untuk mendengarkan muntahan isi ilmu pengetahuan dari kepala Tiara kalau bukan peserta seminar yang hadir memang untuk mendengarkannya.
Tinggal Ai dan Hagi yang membisu di meja itu. Saat Ai baru saja ingin meneguk habis minumannya, ia menangkap sosok Ariel di sudut kantin. Lelaki jangkung itu juga sedang meneguk air minum sambil menatap Ai. Mereka hanya bertatapan mata sesaat, tapi seolah baru saja menerima informasi, Ai menghela napas dan beranjak menuju meja lelaki itu.
"Ai mau kemana?" tanya Hagi saat Ai baru saja ingin meninggalkan kursinya.
"Ada yang ingin kutanyakan pada Ariel, soal tugas kuliah." Ai berbohong lagi. Dan dia masih merupakan pembohong yang buruk, ia terang-terangan menghindari tatapan teman masa kecilnya itu.
Mendengar nama Ariel disebut, Hagi langsung menancapkan matanya pada sosok lelaki berkulit gelap di meja yang berada tak jauh dari mereka.
"Baiklah, aku ikut. Mungkin aku juga bisa membantu menjawab pertanyaanmu." Hagi ikut beranjak.
Tapi Ai malah mengurungkan niatnya dan kembali duduk di kursi. "Ya sudah, tidak jadi saja."
"Ha? Kenapa?"
"Tidak ada apa-apa." Ai yang kini sedang menopang dagunya itu jelas kelihatan agak kesal.
Tadi ia sempat membaca pikiran Ariel dan menyadari bahwa ada hal yang ingin disampaikan pemuda itu. Tapi mana mungkin mereka bisa bicara bebas kalau Hagi mengikuti.
Ai kembali mengerling Ariel di mejanya dan menemukan lelaki itu sedang tersenyum usil sambil bicara kepada Ai melalui pikirannya; "Sepertinya aku dibenci." Suara itu bisa terdengar oleh Ai hanya melalui tatapan mata, seolah mereka sedang melakukan telepati, walaupun ini sebenarnya hanya komunikasi satu arah. "Kalian pacaran, kan?" kata Ariel lagi.
"Siapa yang pacaran?!" Tanpa sadar Ai membantah perkataan Ariel dan tentu saja Hagi yang sedang berada di sebelahnya jadi heran.
"Siapa?" tanya Hagi bingung. "Kamu sedang bicara dengan siapa, Ai?"
"Ah... ng... tidak, tidak dengan siapa-siapa," jawab Ai tergagap. Sudut matanya menangkap Ariel yang sedang menahan tawa di mejanya sana. Ai tak habis pikir, kemampuan Ariel dalam memulihkan kondisi mentalnya sangat luar biasa. Seolah tadi malam bukan dia yang bertengkar dengan Fais, hari ini dia sudah kelihatan ceria lagi seperti biasa.
"Jangan melihat ke sana terus, saat ini yang sedang berada di sampingmu kan aku." Akhirnya Hagi tak bisa menahan diri lagi. Ia tampak jengkel karena meskipun Ai sedang duduk bersamanya, tapi sepertinya pikiran gadis itu tidak sedang berada dengannya.
"Oh... sorry, aku tidak bermaksud mengabaikanmu." Ai tersenyum meringis dan salah tingkah.
"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Hagi lagi.
"Kita semua memang punya rahasia, kan?"
"Please, jangan pergi lebih jauh lagi."
Ai sempat terhenyak mendengar permintaan Hagi itu, tapi ia berusaha bersikap biasa. Akhir-akhir ini, memang sejak bergabung dengan Armour, Ai hampir tak punya waktu untuk memikirkan hal lain. Ia bahkan mulai jarang menelpon ibunya, apalagi pergi hang out bersama teman-temannya. Ia tak pernah lagi menghabiskan waktu dan berbagi cerita dengan Tiara dan Hagi, tak begitu sering lagi memikirkan tentang Nova dan ibunya sendiri. Ia seolah hidup di dunia yang berbeda.
"Aku selalu berusaha mendekatimu sedikit demi sedikit. Tapi belakangan ini kurasa aku semakin ditinggalkan," keluh Hagi lagi. "Ai, aku yakin aku tak perlu memperjelas ini lagi. Karena kurasa kamu juga sudah lama tahu."
Kali ini suaranya terdengar memelas. Ia tak melanjutkan ucapannya sampai Ai mengangkat wajah dan menatapnya.
"Aku suka sama kamu."
Kalimat itu meluncur dari mulut Hagi. Kalimat yang sudah lama dinantikan Ai, akhirnya diucapkan juga oleh Hagi. Tapi Ai tak tahu bagaimana harus menjawabnya.
"Bagaimana kalau kita menikah saja?" Dan pertanyaan Hagi yang ini pun nyaris membuat rahang Ai terjatuh, matanya melebar tak percaya menatap Hagi. Pembicaraan ini berkembang terlalu cepat. "Kalau tidak sekarang juga tidak apa-apa. Mungkin setelah kita lulus kuliah. Aku bisa memastikan bahwa hatiku cuma untuk kamu, tapi setidaknya aku juga ingin tahu, apakah hatimu juga untukku."
"Aku..." Ai benar-benar bingung mau menjawab apa. Ia merasa tak punya lelaki spesial dalam hidupnya selain Hagi. Tak ada yang lebih dekat dengannya selain Hagi. Tapi ia juga tak mengerti apakah perasaan yang ia miliki terhadap Hagi ini adalah rasa cinta yang sama seperti yang dimiliki Hagi. "Aku tidak tahu, Hagi," gumam Ai akhirnya. "Aku tidak membencimu. Tapi aku juga tak tahu apakah aku mampu membalas perasaanmu. Entahlah, aku takut," sambungnya pelan.
"Takut? Takut apa?"
"Memberikan hatimu kepada seseorang. Mempercayakan hatimu untuk dipegang seseorang. Bukankah itu sangat menakutkan?" Ai tak tau apa yang ia katakan. Tapi memang sudah lama ia merasakan rasa takut itu.
Jatuh cinta adalah hal yang sangat mengerikan baginya. Ia bersumpah tak akan pernah mencintai seorang lelaki lebih dari rasa cinta lelaki itu padanya. Ia tak ingin dikecewakan, maka ia tak akan pernah berharap. Ia tak ingin dikhianati, maka ia tak akan pernah mempercayai. Ia tak ingin disakiti, maka ia tak akan membiarkan siapapun untuk menggenggam hatinya, Ai sangat takut terluka. Itu sebabnya, walau bagaimanapun ia tak pernah berani berpikir bahwa ia sedang jatuh cinta.