Chapter III.7

1710 Kata
"Kamu tak perlu takut. Aku akan menjagamu dan hatimu dengan baik," seru Hagi penuh keyakinan. Tapi Ai membalasnya dengan gelengan tanpa semangat. Ia mulai berpikir bahwa ini bukan saatnya membahas soal perasaan mereka, ada misi penting yang harus ia lakukan. Ia harus menyelidiki keterlibatan Hagi dengan WoLf. Tapi bagaimana ia memulai pembicaraan yang mengarah ke sana? Apa ia harus pura-pura menerima Hagi agar mereka bisa lebih dekat, dan agar ia bisa lebih leluasa menyelidiki Hagi? Deg! Jantung Ai seperti terhantam sesuatu. Ia terkejut ketika menyadari bahwa ia mampu berpikir seperti itu. Bagaimana mungkin, ia tega memata-matai Hagi yang selama ini begitu baik padanya. Lelaki yang sama sekali tak memiliki niat buruk apapun di balik matanya yang penuh ketulusan itu. Hagi benar, mungkin Ai memang sudah berjalan terlalu jauh. Sejak bergabung dengan Armour rasanya dunia Ai berubah 180 derajat. Ia mulai jauh dari kehidupannya dulu. "Ai..." Hagi memanggilnya pelan ketika menyadari perubahan ekspresi di wajah Ai. "Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Ceritakan padaku," bujuknya. Ai berpikir keras, apakah langkah yang ia ambil ini sudah benar? Ia masuk ke Armour dan berseberangan dengan ayahnya sendiri. Lalu sekarang ia juga sudah mulai berseberangan dengan Hagi. Rasanya ini sudah tidak benar lagi. "Pemerintah yang sekarang tidak bisa melindungi apapun, jika kamu ikut denganku, aku pasti akan melindungimu saat terjadi perang nanti." Suara itu bergema di kepala Ai tepat saat matanya bertemu dengan tatapan Hagi. Mereka berdua mendadak mematung. Kening Ai berkerut bingung, ia harus berpura-pura tak mendengar apa-apa. Perlahan tangan Hagi bergerak meraih jemari Ai di atas meja, ia lalu menggenggamnya seerat mungkin. "Ai... sebenarnya aku tak ingin melibatkanmu, itu sebabnya selama ini aku merahasiakannya darimu," bisiknya kemudian. Ia lalu semakin mendekatkan wajahnya ke telinga Ai. "Mereka akan menghabisi ketujuh Divisi Pertahanan Avalon. Tak ada gunanya melawan, kita akan kalah. Sebaiknya kamu ikut saja denganku, aku akan melindungimu," katanya lagi. "Apa maksudmu?" Ai hanya bisa bertanya sambil menatap mata Hagi lekat-lekat, mencoba menggali informasi lebih. "Mereka siapa?" "Percayalah, aku ingin menyelamatkanmu," kata lelaki itu lagi. "Menyelamatkanku dari apa?" "Ai, jangan berpura-pura lagi. Kamu dekat dengan Ariel dan Faisal, kamu pasti tahu bahwa mereka adalah anggota Armour kan?" Ai nyaris tersedak saking kagetnya, soal Faisal memang bukan rahasia lagi, tapi Ariel? Bagaimana ia bisa tahu? Jangan-jangan Hagi juga tahu bahwa Ai adalah anggota Armour. "Hagi, dari mana kamu mendapat informasi seperti itu? Jangan bicara sembarangan." "Kamu tidak perlu tahu, Ai. Aku tidak ingin melibatkanmu. Pokoknya keadaannya saat ini sudah gawat. Exorcist sudah diturunkan, mereka diperintahkan untuk mengacaukan Avalon. Akan terjadi perang dalam waktu dekat, aku ingin mengajakmu keluar dari sini sebelum keadaan menjadi semakin tak terkendali. Aku tak bisa melindungimu, jika kamu tetap berada di pihak yang salah." "Hagi, aku benar-benar tidak mengerti. Apa itu Exorcist? Apa yang sebenarnya..." "Aku tidak bisa bicara banyak saat ini," sela Hagi cepat. "Pokoknya kamu jangan terlalu mudah mempercayai orang lain. Penyusup ada di mana-mana. Kamu tahu, Armour itu sebenarnya terdiri dari orang-orang berkemampuan khusus, tapi mereka tidak akan bisa menyelamatkan siapapun. Level Exorcist jauh di atas Armour, mereka spesialis petarung. Lagipula, Armour dibentuk bukan untuk melindungi masyarakat, sejak awal mereka bukan bagian dari Pertahanan Negara, Armour ada hanya untuk kepentingan Zoire." "Hentikan! Jangan mengatakan hal yang tidak kamu ketahui." Ai mulai bingung bagaimana ia harus bereaksi. Hagi bicara terlalu cepat, Ai tak punya waktu untuk mencerna informasi yang diberikannya. "Kamu membela Armour karena kamu menyukai Ariel, kan?" "Jangan mengada-ada! Aku sama sekali tidak punya perasaan apapun terhadapnya." "Kalau begitu, apa karena kamu sebenarnya menyukai si VR1 itu?" "Dia itu sepupuku." "Omong kosong!" tukas Hagi nyaris membentak. "Sepupumu yang mana yang tidak kuketahui?" "Dia sepupuku dari keluarga Titan." Ai terpaksa menyebutkan nama joki yang sekarang berperan sebagai ayahnya, dan sepertinya Hagi percaya pada kebohongannya kali ini. "Ok. Tapi Ai... jangan mau terpedaya oleh Faisal. Dia bukan orang baik. Dia itu pembunuh." Ai ingin menyela dengan mengatakan: Dia bukan pembunuh! Tapi bahkan Ai sendiri tahu bahwa itu hanyalah pembelaan kosong. Walau bagaimanapun, Hagi tidak salah jika menyebut Fais sebagai pembunuh. Lelaki itu memang tidak sebaik yang terlihat di permukaannya. "Aku tidak bisa mempercayaimu kalau kamu tidak mau menjelaskan siapa kamu sebenarnya." Ai memutuskan untuk kembali menggali informasi sebanyak mungkin dari Hagi. Ini kesempatannya, Hagi sudah menunjukkan bahwa ia memang terlibat dalam kemelut negeri ini, mungkin dia memang WoLf. "Aku Hagi. Temanmu sejak kecil. Bagaimana mungkin kamu menanyakan siapa aku sebenarnya?" Ai menggeleng pelan seolah mengatakan bahwa bukan itu jawaban yang ingin ia dengar. Ia kemudian menghela napas, berusaha menenangkan diri. "Tidak. Kamu bukan Hagi yang kukenal. Kamu bicara persis seperti lelaki itu, seperti Kiriyan. Kalian tidak mempercayai pemerintah. Kamu juga sama." "Ai, apa kamu membenci ayahmu?" "Tidak... aku hanya..." Ai tak melanjutkan kalimatnya karena saat ini isi pikiran Hagi sedang bersuara sangat keras. "Kiriyan tidak bersalah ia hanya difitnah oleh WoLf buatan pemerintah yang didalangi oleh Sanctuary. Aku ingin sekali mengatakan ini padamu." "Dari mana kamu tahu?" "Apa?" "Dari mana kamu tahu bahwa Kiriyan difitnah?" Hagi terperangah heran. Ia merasa tak mengatakan apapun kepada Ai, tetapi kenapa gadis itu bisa mengambil kesimpulan seperti itu. "Kamu adalah bagian dari mereka. Kamu baru bergabung setahun terakhir ini karena rekomendasi ayahmu. Berarti benar Kapten Tama terlibat dengan WoLf. Kalianlah yang sebenarnya berada dibalik segala pergerakan WoLf beberapa tahun terakhir ini." Ai terus bergumam karena gelombang pikiran Hagi terus mengalir seperti siaran radio yang sinyalnya tertangkap kuat oleh Ai. "Ai... bagaimana kamu bisa tahu?" "WoLf palsu itu dibentuk oleh Sanctuary, dengan persetujuan pemerintah, untuk mengacaukan Avalon. Agar masyarakat mulai membenci WoLf buatan ayahku, agar pemerintah punya alasan untuk mengejarnya. Kamu bergabung dengan mereka, Hagi, dengan Sanctuary yang ingin menguasai Avalon." "Kamu membaca pikiranku?" Hagi menarik napas seperti orang tercekik ketika ia menyadari suatu hal yang sangat penting. Ai dekat dengan Ariel dan Fais, ia juga menghilang beberapa hari lalu ketika Fais melakukan penelitian ke Eyja. Ai juga sepertinya bisa membaca pikiran. "Armour adalah organisasi khusus yang terdiri dari orang-orang berkemampuan khusus... bodohnya aku. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang. Ternyata selama ini kamu adalah bagian dari mereka." Hagi menatap Ai dengan wajah memelas, ia tak percaya gadis yang dicintainya selama ini ternyata menyimpan rahasia sebesar itu. Tapi hal yang sama juga ada di pikiran Ai. Ia baru saja menemukan kebenaran dari mata Hagi. Lelaki itu, teman baiknya itu adalah bagian dari Sanctuary. Ai tak paham apa yang dimaksud Hagi dengan Exorcist, tapi ia sangat mengerti soal Sanctuary. "Ternyata kamu terlibat dengan mereka yang sudah menjebak ayahku hingga ia harus menjadi buronan dan meninggalkan keluarganya." Ai mulai menghakimi. "Tapi kamu adalah Armour, tanpa pernah mengatakan apapun padaku. Kamu juga sudah menipuku selama ini, Ai..." "Kamu yang lebih dulu menipuku." "Please... percayalah aku akan menjelaskan semuanya asalkan kamu berjanji untuk ikut denganku." "Aku tidak akan pergi kemana pun denganmu." Suara Ai mulai terdengar dingin karena ia telah berhasil mencerna apa yang terjadi. Kiriyan, ayahnya itu diburu pemerintah karena WoLf palsu menebar teror dengan menggunakan namanya, dan Hagi adalah bagian dari mereka. Meski sulit dipercaya, tapi itulah kenyataannya. "Kamu berada di pihak yang salah." Hagi masih berusaha meyakinkan Ai. "Aku berada di pihak yang salah?!" Ai tak habis pikir bagaimana Hagi bisa mengatakan itu padanya. "Maksudku... posisi kalian saat ini sangat tidak aman." "Aku tidak sedang mencari aman, Mr. Nadif Hargiansyah, aku sedang mencari kebenaran. Tak peduli bahaya sebesar apa yang menantiku, aku akan menemukan kebenaran untuk ayahku." "Ai kumohon, dengarkan aku dulu... biar aku jelaskan pelan-pelan." "Kamu tak perlu menjelaskan apapun padaku, aku sudah mendengar semuanya dengan jelas, langsung dari pikiranmu." "Tapi saat ini keadaan sedang sangat kacau. Ivory Palace juga tidak aman. Jika kamu terus berada bersama Armour...," Hagi menghaluskan suaranya, "... kamu juga akan menjadi target mereka." "Aku tidak peduli." "Tapi aku peduli..." bantah Hagi cepat. "Aku peduli, Ai...," ia menatap mata Ai lekat-lekat, "Armour tidak berada di pihak Avalon, Armour hanya akan digerakkan untuk Zoire. Percayalah padaku, Luen tak pernah mencintai Avalon melebihi rasa cintanya pada Zoire. Ia akan menggunakan kalian untuk kepentingannya, bukan untuk negara." "Lalu? Kamu ingin bilang kalau saat ini organisasimu, Sanctuary, adalah yang paling baik?" "Sanctuary memiliki tujuan yang baik, mereka ingin memperbaiki Avalon. Negeri ini sudah sangat rusak akibat pemerintahan Zoire. Jika Sanctuary mengambil alih..." "Kamu pikir Avalon akan tetap ada jika Sanctuary mengambil alih? Kamu pikir mereka masuk ke sini, dan menjatuhkan pemerintahan yang sah, hanya untuk memperbaiki negeri ini lalu mengembalikannya ke tangan kita begitu saja?!" "Tapi... jika kita bisa menjatuhkan Zoire dengan bantuan mereka, selanjutnya kita hanya perlu mengusir mereka dari Avalon..." “Lalu berikutnya dengan bantuan siapa kita akan mengusir Sanctuary dari Avalon?” sambar Ai cepat. Ia lalu beranjak dan menimbulkan suara gesekan kaki kursi di lantai kantin yang cukup keras, membuat beberapa pasang mata mulai menatap mereka. "Aku tidak menyangka kamu senaif ini," gumamnya kemudian. Hagi bertahan di kursinya, menengadahkan wajah menatap Ai yang tampaknya ingin menyudahi perdebatan ini. "Ai... aku tetap merasa bahwa berada di dalam Armour tidak akan membuat keadaanmu lebih baik," katanya lagi. Ia tetap bertahan pada pendapatnya bahwa Ai harus meninggalkan Armour. "Berada bersama Sanctuary juga tak akan membuat keadaanmu lebih baik," balas Ai dingin. "Nanti, pada waktunya, kamu akan sadar bahwa kamu sudah berada di pihak yang salah." "Mengenai benar dan salah..." Ai menggerakkan tab screen di atas meja kantin dari posisi vertikal menjadi horizontal, agar ia bisa memperlihatkan kepada Hagi apa yang ingin ditulisnya di atas tab screen itu. "Enam?" gumam Hagi saat melihat Ai baru saja menuliskan angka 6 menggunakan jarinya. "Tidak, itu sembilan," tukas Ai tanpa ragu. "Itu angka 9 bagiku dan angka 6 bagimu. Tapi akulah yang menulisnya, jadi di mataku, kamu berada di posisi yang salah." Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Ai berbalik dan melangkah cepat meninggalkan Hagi. Entah kenapa ia merasa bahwa mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya ia melihat teman baiknya itu. Semuanya tidak akan kembali lagi menjadi seperti semula. Padahal Hagi adalah satu-satunya lelaki yang pernah ia bayangkan akan menemani masa depannya, meski masih sedikit ragu, tapi Hagi sebenarnya telah menempati posisi yang cukup spesial di hati Ai. Lelaki bernama Hagi itu... yang kini memilih untuk menempuh jalan yang berseberangan dengannya. Ai bersumpah tak akan berbalik untuk melihatnya, karena ia ingin menunjukkan kepada Hagi, pundak tegar yang memunggunginya ini, akan terus menjauh dan tak akan menyesali keputusannya. Namun, selain itu... karena Ai juga tak ingin Hagi melihat wajahnya yang telah basah oleh air mata. - End of Chapter III -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN