Chapter IV - Authority Command

1566 Kata
"Sejak kapan tepatnya Hagi bergabung dengan mereka? Apa selama ini dia juga diberi tugas untuk menyelidiki aku? Tidak... sepertinya dia baru tahu kalau aku adalah Armour. Tapi mungkin saja dia mendekatiku agar bisa menggali informasi tentang Ariel dan Fais. Tunggu... kenapa aku tak pernah mendengar hal mencurigakan apapun dari pikiran Hagi? Kenapa selama ini dia bisa menyembunyikannya dariku?" Pikiran Ai terus disibukkan dengan berbagai pertanyaan mengenai informasi yang baru saja ia terima. Gadis itu menyusuri koridor panjang dan penuh belokan seperti labirin menuju Quarter dengan langkah cepat sambil berusaha menyeka air matanya. Ia masih tak bisa memutuskan, apakah ia akan mendiskusikan semua yang baru ia dengar ini dengan Fais dan yang lainnya. "Disaat aku ragu begini, mungkin saja Hagi saat ini sedang membocorkan identitasku kepada atasannya. Tapi... bukankah dia mencintaiku? Bukankah kami sudah sangat dekat sejak kecil? Bagaimana mungkin dia tega untuk langsung melaporkanku?” Ai masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Di satu sisi, ia ingin bergantung pada keyakinan tipis bahwa Hagi akan melindungi identitasnya sebagai Armour. Tapi di sisi lain, ia tak yakin Hagi masih mau melakukan itu. Lalu bagaimana dengan dirinya? Bagaimana dengan Ai? Apakah Ai akan mengatakan kepada Fais tentang identitas Hagi? Apakah ia akan mengkhianati Hagi lebih dulu? "Kamu nggak apa-apa?" Sebuah suara tiba-tiba menarik Ai dari kemelut hatinya. Ia mendongak dan menemukan Ariel sudah berdiri di hadapannya. Ternyata sejak tadi, Ariel melihat Ai dan sengaja berjalan lambat untuk menunggunya. Saat Ai sudah mendekat, ia pun langsung menyapanya. Ai buru-buru mengusap pipi dengan lengan bajunya, seolah sedang menyeka keringat. "Sorry soal tadi, apa yang ingin kamu bicarakan padaku?" tanyanya, berusaha bicara dengan suara stabil. Mereka lalu menyamakan langkah menuju Quarter. Satu belokan lagi mereka akan tiba di depan sebuah lift yang bertuliskan "lift rusak". Satu-satunya jalan menuju Quarter Divisi 7-Armour. "Semalam aku ngeliat kamu ngobrol sama Hagi dan kamu ninggalin dia sambil nangis," terang Ariel. Yang ia maksud dengan "melihat" itu adalah bermimpi. Ia sudah melihat kejadian yang tadi di dalam mimpinya, itulah sebabnya ia memanggil Ai untuk memperingatkan. "Ah... terlambat, sudah terjadi," keluh Ai sambil lalu. "Habis, aku nggak bisa ngomong sama kamu. Lagian kalau di kampus, kamu kayak ngindarin aku." "Bukan begitu. Kita memang tidak boleh terlihat terlalu akrab di kampus, nanti ada yang curiga." "Hhhh... aku kira kamu membenciku." Ai menatapnya heran, "Benci? Kenapa aku harus membencimu?" tanyanya balik. "Entahlah, mungkin karena aku orang Eyja." "Kamu ini bicara apa? Aku tidak peduli soal itu." "Syukurlah kalau begitu." Ariel tersenyum sambil menggaruk-garuk tengkuknya. "Jadi? Apa yang terjadi? Apa dia menyatakan cintanya padamu? Kenapa kamu menangis?" "Aku tidak ingat kalau kita begitu akrab sehingga aku harus menceritakan masalah pribadiku padamu." Ai berlagak jengkel, meski sebenarnya ia sedang mengulur waktu untuk memantapkan hati tentang bagaimana ia harus menyikapi masalah Hagi. "Hei... jangan ngomong gitu dong. Sebagai sesama Armour, bisa dibilang kita ini rekan senasib sepenanggungan." Ai tak terlalu ambil pusing untuk menanggapinya, mereka sudah tiba di depan lift rusak itu. Sebenarnya, dalam hati Ai cemas jika Fais atau Armour yang lain tiba-tiba muncul. Bagaimana jika mereka salah paham? Ai yang ayahnya seorang WoLf, dan Ariel yang berasal dari Eyja, berdua saja bicara di koridor sebelum menjalankan misi yang sangat penting. Bukankah itu terdengar sangat mencurigakan? "Aku rasa, lebih baik misi di Eyja dibatalkan." Suara Ariel tiba-tiba terdengar serius. "Kamu masih juga mau melawan perintah. Luen sudah memutuskan untuk menggunakan Nda kali ini, lagipula Fais sepertinya tidak bisa dihentikan. Kalau kamu bicara begini, cuma akan menambah buruk keadaan." "Bukan begitu," lagi-lagi Ariel tampak ragu melanjutkan kalimatnya, "aku melihat mereka pulang dari misi di Eyja dalam keadaan minus satu orang," ujarnya akhirnya. Ai terperangah mendengar lanjutan kalimat Ariel. Seketika mata mereka bertemu, ia langsung menemukan kalimat-kalimat berikutnya yang ingin diucapkan lelaki itu. Bahwa ternyata sudah sebulan ini kemampuan Ariel mengalami kemajuan, ia sudah bisa memilah mana kejadian yang memang akan terjadi dan mana yang hanya mimpi atau bunga tidur. Ia juga sudah bisa menyatukan potongan-potongan mimpi untuk memperkirakan kapan kejadian itu akan terjadi dengan menganalisa situasi dan kondisi yang ia lihat dalam tidurnya. Ia bahkan mulai bisa mengantisipasi hal-hal kecil yang terjadi sehari-hari. Kali ini, Ariel melihat dalam mimpinya, empat orang Armour pulang dari misi di Eyja. Muram dan lelah. Tapi ia tak bisa mengingat dengan jelas, siapa yang kurang di antara mereka. Yang tampak jelas hanyalah Niya yang sedang menangis sambil mengatakan; "aku tidak berguna." Alasan Ariel mengatakan itu kepada Ai adalah karena Ai dapat memastikan bahwa ia tidak sedang berbohong. Ariel tidak bisa langsung mengungkapkan soal ini pada Fais, ia khawatir akan dianggap memihak Eyja lagi. Makanya ia meminta Ai untuk menggantikannya menyampaikan mimpi itu pada Fais. Ai dan Ariel muncul dari balik pintu lift dan menemukan sudah ada Nda di sana, di ruang rapat Quarter itu – karena memang ruangan pertama yang mereka dapati saat memasuki Quarter adalah ruang rapat. Dua mahasiswa SSU itu pun melangkah keluar dari lift dan langsung duduk di tempatnya masing-masing tanpa bicara sepatah kata pun. "Kalian seharusnya tidak boleh terlihat bersama-sama di kampus. Kenapa kalian malah datang bersamaan? Bagaimana kalau ada yang curiga dan mengikuti kalian sampai kesini?" omel Nda tanpa mengalihkan perhatian dari game yang sedang ia mainkan di androidnya. Jarang sekali ia menjadi Armour pertama yang tiba di ruang rapat. Hari ini memang agak berbeda, mungkin karena ia baru saja selesai menjalankan tugas tambahan dari Fais, mencari dua mahasiswa bernama Andriko Maliki dan Nirmala Prima yang disebutkan Fais tadi, lalu mengubah memori mereka. "Kami tidak berkeliaran berdua. Tadi cuma kebetulan ketemu Ariel di koridor," sahut Ai cuek. Sejak awal bergabung di Armour, dia memang tak terlalu akrab dengan Nda. Bocah cerewet, suka ngomong sembarangan, manja, dan menyebalkan. Ai paling tidak bisa berhadapan dengan anak-anak seperti itu. Pintu lift terbuka bersamaan dengan terciumnya wangi semerbak parfum seorang wanita, Niya baru saja tiba di Quater. Ia langsung meletakkan tas kerjanya di atas meja dan duduk menghempas di salah satu kursi ruang rapat. "Ah... semua orang jadi panik gara-gara kabar tentang Avalon akan berperang dengan pemberontak Eyja," keluh wanita itu bernada jengkel. Nda yang sejak tadi sedang asyik bermain game akhirnya mengalihkan perhatian dari layar android-nya. "Aku juga tidak mengerti dari mana mereka dapat berita itu. Hari ini entah sudah berapa wartawan yang menghubungiku gara-gara konferensi pers tadi, situasi ini sangat menyebalkan." Pintu di belakang kursi Fais baru saja tertutup dan Ai menemukan Kevin sudah berada di seberang meja, seperti biasa, manusia super cepat itu selalu muncul entah dari mana. Tapi Ai sudah semakin terbiasa dengan deru angin yang ditimbulkan pergerakan cepat anak itu, ia sudah tidak kaget lagi. "Aku terpaksa memblok semua panggilan hari ini, aku tahu Fais tak punya pilihan selain menyebut nama kita. Tapi ini memang sangat merepotkan, aku tidak pintar mengarang cerita." Kevin menyambung omelan Nda sambil mengeluarkan belasan cokelat dari dalam tasnya. "Ditambah lagi, teman-teman sekolahku tak peduli apa yang kukatakan. Waktu tahu kalau aku akan ikut Fais ke Eyja, mereka menyuruhku memberikan ini padanya," katanya sambil meletakkan berbagai macam cokelat ke atas meja, membuat mata Nda tampak berbinar melihat tumpukan makanan manis itu. "Kalian beruntung karena Fais sudah memberikan kalian alasan untuk pergi ke Eyja, aku dan Zidan terpaksa berbohong dan menyamar lagi demi misi kali ini." Niya kembali mengeluh. Tapi sepertinya Kevin tak mendengarnya, karena ia sedang sibuk memukul tangan Nda yang dengan liar mengutip cokelat-cokelat di atas meja itu. "Nda, jangan diambil. Ini punya Fais." "Fais tak akan memakannya. Lebih baik untukku saja." Nda lalu membungkuk menyebrangi meja dan mencubit kedua pipi Kevin. "Jangan pasang muka cemas dan imut-imut tak berdosa begitu, kamu membuatku kesal. Di sini 'kan aku yang paling muda, harusnya aku yang paling imut." "Nda, jangan bully Kevin." Zidan yang baru datang langsung berkomentar demikian ketika melihat Kevin yang meringis gara-gara Nda mencubit pipinya. Mereka terlihat sangat akrab dan menikmati kebersamaan di Quarter, sementara Ai dan Ariel hanya bisa bengong di depan meja rapat itu. Ariel tak bisa menemukan ritme-nya kembali, ia tahu Nda tak peduli padanya dan Zidan pasti kesal karena semalam ia berani menantang sahabat baiknya, Fais. Niya dan Kevin sebenarnya sangat baik, tapi kali ini Ariel merasa agak sulit menatap wajah mereka. Sedangkan Ai, ia memang masih belum bisa berbaur sepert itu di Armour. Ia masih sering merasa canggung, karena belum begitu terbiasa. Meski belakangan ini dia nyaris hanya melakukan hal yang berhubungan dengan Armour, tapi tetap saja Ai datang paling akhir dan sejauh ini orang yang bisa didekatinya hanya Ariel, Kevin dan Niya. Yang semakin memperburuk keadaan adalah, sesekali masih muncul keraguan di dalam diri Ai, apakah saat ini ia ada di pihak protagonis. Kenyataannya memang Armour tidak dibentuk untuk rakyat ataupun negara. Armour dibentuk untuk Zoire, semata-mata untuk kepentingan Zoire. Semua yang dikatakan mengenai ilmuwan dan ahli strategi itu hanya bohong belaka, jutaan rakyat Avalon telah ditipu oleh Ivory Palace. Jadi, apakah Ai sudah mengambil langkah yang benar dengan berada di Quarter ini, bersama dengan orang-orang ini? Sementara ia semakin jauh dari mereka yang ia sayangi. Ditambah lagi, ayahnya terancam akan dibunuh, oleh orang-orang ini juga. Jadi kenapa Ai masih bergabung dengan mereka? "Oh, kalian semua sudah berkumpul rupanya." Suara ceria Fais memenuhi ruangan saat ia muncul dari balik pintu lift yang bergeser terbuka. Lelaki yang masih berpakaian rapi dengan stelan jas berwarna keabuan itu kini melangkah cepat menuju kursinya di paling ujung. Fais membuka jasnya sambil lalu menggulung kedua lengan kemeja putihnya. "Baiklah, aku tak ingin menyita waktu kalian terlalu lama." Ia lalu bicara melalui alltech untuk memanggil Honey yang dalam mode standby di pantry. "Honey, tolong bawakan kami minuman."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN