Fais menggulung kedua lengan kemeja putihnya sambil lalu bicara melalui alltech untuk memanggil Honey yang sedang dalam mode standby di pantry.
"Honey, tolong bawakan kami minuman."
Tak butuh waktu lama, robot-maid bernama Honey itu sudah tiba di ruang rapat dan siap menerima pesanan masing-masing Armour. Seperti biasa, hal ini menjadi rutinitas sebelum rapat dimulai, karena kadang meminta minuman saat rapat sedang berlangsung terasa cukup mengganggu.
Setelah mendengarkan setiap pesanan minuman di sekeliling meja rapat, Honey pun meninggalkan ruangan menuju pantry untuk menyiapkan minuman yang telah dipesan tadi.
"Ok, mari kita mulai." Fais meletakkan proyektor tepat di tengah meja dan mengontrolnya melalui alltech di pegelangan tangan kirinya. "Tapi sebelumnya," Fais menatap Ai sebelum melanjutkan, "Ai ada perkembangan soal penyelidikanmu tentang Nadif Hargiansyah?" tanyanya kemudian.
Bibir Ai merenggang, namun tak ada suara yang keluar. Jika ia mengatakan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Hagi, apakah Fais akan langsung bergerak untuk menghabisinya? Hagi tahu tentang Ai dan Ariel, Hagi adalah bagian dari Sanctuary yang sepertinya ingin mengambil alih kekuasaan dari Zoire. Jika Fais tahu... Jika Luen tahu... Apa yang akan terjadi pada Hagi?
"Ai...?" Fais memanggilnya lagi, menunggu jawaban. Tapi melihat Ai membisu seribu bahasa, Fais menghela napas sambil mengusap rambutnya ke belakang.
“Oh tidak, gesture itu lagi," batin Ai panik. Ia mengingatnya dengan jelas, tadi malam Fais mengeluarkan aura gelap yang luar biasa setelah melakukan gerakan itu.
"Ini adalah tugas yang diberikan khusus padamu. Apa kamu tidak merasa kalau kamu terlalu santai? Armour yang lain selalu bisa memberi informasi yang dibutuhkan setiap kali kita mengadakan rapat. Dan saat ini, kurasa sudah tidak pantas lagi jika kamu menggunakan alasan bahwa kamu masih baru di Armour," ujar Fais akhirnya.
Lelaki itu memang selalu tanpa ampun. Ai merasa seolah dadanya baru saja ditusuk sembilu. Sikap ragu-ragunya ini pada akhirnya membuat Ai tak pantas berada di pihak manapun.
Fais segera menyadari bahwa ia harus sedikit menahan diri. Mengingat Ai masih belum terbiasa dengan ucapan-ucapannya yang tajam, ia memoles kembali kalimatnya.
"Memang ada beban berat saat kamu harus memata-matai sahabatmu sendiri. Tapi kamu tidak melakukan hal yang salah. Aku tak tahu kenapa satu per satu orang terdekatmu terlibat dengan WoLf. Tapi kuharap kamu bisa bersikap lebih profesional. Kamu harus berjiwa besar untuk mengakui mana yang salah dan mana yang benar," sambungnya lagi.
Ai masih tak mampu berkata-kata, jangankan mengangguk atau menggeleng, ia bahkan tak punya nyali menatap wajah bos-nya itu. Bicara soal membedakan yang salah dan yang benar, dalam kasus ini, bagaimana jika hal ini hanya soal angka 6 atau 9 yang dilihat dari dua arah berlawanan? Pihak yang satunya akan melihat angka 6 dan selalu merasa benar, sementara pihak lain juga hanya melihat angka 9 dan juga merasa benar. Jadi bagaimana menentukan siapa yang sebenarnya benar?
"Ada kemungkinan Hagi... Nadif Hargiansyah tahu sesuatu," ujar Ai akhirnya. Ia memutuskan untuk terus melangkah maju, meski belum bisa menentukan pihak mana yang benar. Setidaknya, Ai sudah mengetahui satu hal, bahwa Hagi terlibat. Jadi tak ada gunanya berbohong. "Saya belum bisa memastikan sejauh mana ia terlibat, tapi saya akan terus melanjutkan penyelidikan. Saya mohon untuk diberi waktu beberapa hari lagi." Ai berusaha memberi intonasi tegas pada suaranya untuk menepis keraguannya.
"Apa tidak sebaiknya ia ditangkap saja, supaya bisa diinterogasi langsung?" Zidan menyela memberi saran dan Fais tampak sedang mempertimbangkannya.
Hanya beberapa detik setelahnya, Fais kembali menoleh pada Ai. "Kamu tahu, mudah saja bagi pemerintah untuk menangkap temanmu itu dan memasukkannya ke ruangan interogasi," katanya kemudian. "Tapi aku ingin mempercayaimu, Seventh."
Napas Ai tertahan sejenak setelah mendengar akhir kalimat Fais, ia sedang di-test.
"Jika menurutmu kamu bisa mendapat lebih banyak informasi dengan tetap menjadi temannya, aku akan membiarkanmu menyelidiki dengan cara itu. Tapi, jika kamu pikir kamu tidak mampu, aku akan langsung meminta Kapten Wira menangani masalah ini."
"Fais, kamu yakin?" Zidan setengah berbisik di sebelahnya.
"Tentu saja, Ai adalah Seventh kita, 'kan?" sahut Fais tanpa mengalihkan matanya dari Ai.
"Tiga hari," jawab Ai tegas. "Dalam tiga hari ini, aku pastikan kita akan mengetahui identitas Nadif Hargiansyah yang sebenarnya," Ai memantapkan hatinya.
"Baik, tiga hari, kita akan mengambil tindakan setelah itu," putus Fais sambil – akhirnya – melepas tatapannya dari Ai dan membiarkan gadis itu kembali menemukan udara untuk bernapas.
"Aku merasa informasi yang diberikan Kiriyan saat di Eyja semakin masuk akal, mungkin memang ada dua WoLf." Fais bicara pada seluruh peserta rapat kali ini. "Ada kemungkinan, WoLf yang baru dibentuk untuk memfitnah WoLf yang lama. Sementara Kiriyan, ia hanya memimpin WoLf lama yang terdiri dari sejumlah hacker. Lalu sejak Zoire memerintahkan perburuan besar-besaran seluruh hacker WoLf, mereka vakum selama kurang lebih satu tahun karena sedang dalam persembunyian. Lalu tiba-tiba saja aksi teror muncul di berbagai tempat, bom di pusat kota, p*enculikan dan pembunuhan beberapa pejabat Avalon, dan sebagainya. Semua aksi teror itu mengatasnamakan WoLf."
Fais mengambil jeda sejenak sebelum kembali menoleh pada Ai. "Ai, bagaimana menurutmu?" tanyanya kemudian.
"Jangan tanya aku, aku tak mau terdengar memberikan pendapat yang bias," sahut Ai.
"Kurasa tak ada salahnya juga menggunakan praduga tak bersalah. Bersikap optimis boleh, tapi mengantisipasi kemungkinan terburuk juga perlu. Intinya hanya bagaimana kita menangani ini tanpa melibatkan perasaan. Karena Kiriyan juga bisa saja berbohong."
"Tunggu dulu," sela Niya yang sepertinya kesulitan mengikuti arah pembicaraan rapat ini. "Jadi maksudnya, WoLf yang lama itu cuma dijadikan kambing hitam saja?" Ia berusaha menyimpulkan.
"Kemungkinan itu cukup besar," jawab Fais. "Tapi WoLf manapun yang kita tangkap, tidak masalah. Keduanya tetap pemberontak. Meski aku tak melihat ada yang salah dengan meretas data untuk menyadarkan masyarakat mengenai kecurangan pemerintah, tapi di rezim yang sekarang itu dikategorikan salah. Jadi, mau tidak mau, Kiriyan harus tetap diadili."
Kalimat Fais barusan membuat mata Ai melebar penuh harap. Fais mungkin tak menyadarinya, tapi ia baru saja mengatakan hal yang berarti besar bagi Ai, sampai rasanya ia ingin melompat dan memeluk kaptennya itu. Ternyata Fais juga percaya bahwa Kiriyan tidak sepatutnya dipersalahkan. Jadi, ada harapan bagi Ai untuk membawa ayahnya pulang hidup-hidup.
"Ya ampun! Ai, jadi ayahmu benar-benar anggota WoLf?" tanya Nda dengan suaranya yang melengking, ia menatap Ai tak percaya. Tapi Ai memutuskan untuk pura-pura tidak dengar.
"Nda, apa kamu tidak membaca laporan hasil misi di Eyja yang kukirimkan via Email? ...ah, thank you, Honey." Akhir kalimat Fais ditujukan pada Honey yang baru saja meletakkan kopi hangat pesanannya di atas meja.
"You're welcome," sahut Honey sambil bergerak ke sisi meja lain untuk membagikan minuman.
"Nda sudah membaca laporannya, tapi sepertinya dia lupa kalau sudah membaca." Niya menimpali.
"Hmm... kehilangan memori lagi?" Fais langsung paham maksud dari kalimat Niya.
"Kurasa begitu," sahut Nda sambil lalu.
"Nanti baca sekali lagi," perintah Fais tanpa kompromi. "Kalau kamu tidak mengetahui detail misi yang sebelumnya, kamu akan kebingungan menjalankan misi selanjutnya," sambungnya lagi.
"Sekarang fokus ke sini." Fais mulai membuat semua orang memusatkan perhatian pada tampilan hologram peta Eyja yang dihasilkan proyektor di tengah meja. "Misi berikutnya akan dilaksanakan dalam waktu 48 jam ke depan. Nda dan Niya akan menangani Suyi, kita pastikan memorinya sudah diperbarui. Wanita itu tidak akan bicara soal revolusi lagi dan dia akan mengizinkan kita membawa Kiriyan ke Pulau Utama tanpa menimbulkan kecurigaan rakyat Eyja," terangnya sambil menunjuk lokasi rumah Suyi.
"Lebih mudah menghapus ingatan daripada mengubah dan menambahkan." Nda menanggapi setengah merengek. "Apa tidak bisa kita buat saja Suyi lupa soal kedatangan kalian ke Eyja beberapa hari yang lalu? Aku hanya perlu menghapus ingatan di hari itu. Dengan begitu, Suyi juga akan lupa bahwa ia pernah mendengungkan isu revolusi."
"Hanya menghapus ingatannya saja akan sangat berisiko. Jika rakyat Eyja mendesak Suyi, kejadian yang sama akan terulang kembali. Makanya kita harus mengunci Suyi lebih dulu. Mereka sudah bertekad untuk mempertaruhkan segalanya demi revolusi. Artinya, kalau Suyi memberi dukungan terhadap gerakan perlawanan ini, api akan berkobar semakin besar. Hanya ini satu-satunya cara untuk menghindari terjadinya bentrokan di Eyja," jelas Fais kemudian.
Setelah mendengar bantahan Fais tersebut, Nda cemberut dan mengkerut di kursinya. Tapi dia juga tak bisa disalahkan, tugas kali ini memang cukup berat bagi gadis kecil itu. Sementara Ariel, ia tampak menyembunyikan senyum di wajahnya. Dalam hati ia merasa lega, ternyata Fais juga memikirkan cara agar tak ada korban yang jatuh di tanah Eyja.
"Ok, Nda?" Kapten Divisi 7-Armour itu ingin mendengar jawaban.
"Iya... baiklah, aku mengerti," sahut Nda akhirnya.
"Bagus." Fais mengalihkan pandangannya pada Zidan kali ini. "Aku dan Zidan akan sedikit berkeliling desa. Zidan, aku menyesal harus memintamu untuk banyak melakukan psychomerty lagi kali ini. Sepertinya memang ada yang sedang bergerak di Eyja, mungkin saja itu Kiriyan, atau ada pihak lain yang sedang bersembunyi di sana, mengendalikan situasi sambil menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Kita akan mencari tahu, siapa dan apa yang berada di balik pergerakan Eyja. Kevin, cari Kiriyan dan bawa dia ke Blue Gate, pastikan tak ada yang tahu. Akan lebih bagus jika ia muncul dengan sendirinya, tapi entah kenapa aku merasa dia akan bersembunyi kali ini."
"Untuk sementara, itu dulu." Ujar Fais sambil mengubah tampilan peta di tengah meja menjadi sebuah laman jurnal. "Baca ini, aku sudah mengirimnya ke email kalian."
Ia lalu berhenti sejenak untuk memberi waktu anggotanya membuka email melalui alltech di tangan mereka masing-masing.
"Jurnal ini ditulis oleh NN, isinya merupakan analisa mengenai semua hal mencurigakan yang terjadi di Avalon. Aku menduga, penulisnya adalah orang yang telah menyebar isu meresahkan belakangan ini," lanjut Fais sambil lalu menyeruput kopi di cangkirnya, menunggu tanggapan dari sekeliling meja setelah mereka selesai membaca jurnal tersebut.
"Si NN ini menyebar tulisan-tulisannya di sebuah website tertutup yang hanya bisa dibuka oleh mereka yang sudah di-approve, dia bergerak dengan sangat hati-hati," kata Kevin tanpa mengalihkan pandangan dari VS alltech-nya. "Informasi yang disebarkannya nyaris 100% akurat."
"Luar biasa. Dia tahu terlalu banyak, bahkan misi yang tergolong rahasia." Ariel akhirnya bersuara.
"Tapi ada beberapa dugaannya yang meleset," tambah Zidan. "Sepertinya dia hanya tahu sedikit, tapi kemampuan analisanya sangat baik. Ia hanya menduga-duga, dan kebetulan dugaannya tepat."
"Jika dikatakan kebetulan, itu terlalu berlebihan. Aku rasa dia memang mendapat bocoran informasi dari seseorang. Jadi, sementara kita berempat menjalankan misi di Eyja, aku ingin Ai dan Ariel mencari tahu siapa si NN ini sebenarnya." Fais melempar tatapan tajam kepada dua nama Armour yang disebutkannya tadi.
"Dan aku ingin kalian memulai penyelidikan dari Nadif, aku curiga dia adalah NN."