Fais melempar tatapan tajam kepada Ai dan Ariel. "Aku ingin kalian memulai penyelidikan dari Nadif, aku curiga dia adalah NN," katanya lagi.
Ruangan rapat mendadak hening setelah instruksi Fais tersebut. Fais menatap berkeliling, menunggu ada yang berkomentar. Namun karena tak ada tanda-tanda mereka akan bersuara, ia pun mulai mengalihkan perhatian ke layar alltech di tangannya. "Jika ada yang ingin bertanya, aku beri waktu 5 menit sebelum kita masuk ke point berikutnya," katanya sambil mengutak-atik benda itu dan sesekali meminum kopinya yang sudah mulai dingin. "Nda, gunakan waktu ini untuk membaca dan memahami kembali misi di Eyja yang sebelumnya," sambungnya lagi tanpa perlu menatap Armour termuda itu.
"Aaahhh... laporan ini terlalu panjang, kepalaku pusing membacanya..."
Nda menempelkan dagunya di atas meja sambil mulai meraih jus jeruk yang ia pesan tadi. Tapi yang terjadi selanjutnya ia malah menyemburkan kembali minuman yang baru ia teguk itu. "Phuah! Apa ini?!" teriaknya histeris.
Di saat yang bersamaan, Kevin juga melakukan hal yang sama. "Asin..." Kevin memelas pada Zidan yang menatapnya heran. Dan saat Zidan juga mencoba meneguk minuman di gelasnya. Wajahnya langsung membuat ekspresi aneh.
Segera saja Ai, Ariel dan Nda mencoba minuman mereka masing-masing. Ternyata memang semua terasa asin luar biasa, meski jenis minuman yang mereka pesan berbeda.
"Honey?! Kamu pakai air laut ya? Atau jangan-jangan gulanya tertukar sama garam? Siapa yang kemarin tugas belanja? Apa semua diletakkan di tempat yang benar? Robot-maid kan tidak terprogram untuk meracik minuman sendiri." Nda ngomel sambil menunjuk-nunjuk robot-maid yang tampak tanpa dosa dalam mode standby di sudut ruangan itu.
Tapi berbeda dengan Nda, Zidan malah memfokuskan perhatiannya pada lelaki di ujung meja yang masih tampak asyik mengetik sesuatu menggunakan pensil alltech sambil sesekali menyeruput kopinya.
Fais...," panggil Zidan agak ragu.
"Hm?" gumam Fais tanpa mengalihkan perhatian dari VS.
"Minumanmu tidak terasa asin?" tanya Zidan kemudian.
"Kenapa cuma minuman Fais yang normal? Honey, kamu nggak boleh gitu dong," protes Ariel.
"Ada apa ini, Honey?"
"Kamu ngusilin kami?"
"Ah... robot ini sudah tua. Kita ganti saja yang baru."
"Hei, tenang dulu," sela Fais sambil tertawa kecil. "Mungkin ada yang salah dengan mesin pembuat minumannya. Kurasa ada beberapa programnya yang sudah tak berfungsi karena sudah lama Honey tidak di-service. Memang salahku juga, aku lupa karena dua-tiga bulan ini Armour sangat sibuk."
"Tapi kenapa cuma minumanmu yang rasanya nggak asin?" Ariel kembali protes.
"Honey pilih kasih karena selama ini cuma Fais yang merawat dia," tambah Nda.
"Kalian juga salah. Selalu menyerahkan semua pekerjaan pada Fais," timpal Niya.
"Hey, kamu juga, kan?!"
Sekeliling meja kembali berisik, sebagian suara berasal dari Nda dan Ariel. Tapi di saat yang bersamaan, Zidan menjulurkan tangannya untuk meraih cangkir kopi Fais, lalu meminumnya sedikit.
Wajahnya tampak kaget seketika. Ia meletakkan kembali cangkir itu sambil menatap Fais nanar. "Apa kamu selama ini tak pernah tahu rasa makanan dan minuman yang masuk ke mulutmu?" tanyanya.
Ruangan itu mendadak hening, senyum di wajah Fais pun mulai tampak dipaksakan. Ia menghela napas sambil membenarkan posisi duduknya. "Efek samping Authority Command," balasnya kemudian.
Ai menelan ludah membayangkan bagaimana rasanya selama ini Fais makan dan minum. Jika ia tak dapat membedakan apapun yang masuk ke mulutnya, bagaimana rasanya?
"Jangan berwajah seperti itu." Fais lalu tertawa sambil mengibas-ngibaskan tangannya dengan ringan. "Aku baru ingat kalau ternyata aku belum pernah cerita soal ini," tambahnya lagi.
"Authority Command adalah kemampuan yang luar biasa. Makanya wajar saja kalau konsekuensi yang harus ditanggung juga berat. Belum diketahui bagaimana urutannya, tapi sudah dapat dipastikan bahwa efek samping penggunaan kemampuanku adalah hilangnya fungsi indra dan anggota tubuh satu persatu. Yang pertama kali hilang adalah fungsi pendengaran telinga kiriku. Telingaku sudah lama t*uli sebelah."
Walaupun Fais menceritakan itu dengan ekspresi ramahnya yang biasa, tapi wajah-wajah di sekelilingnya jelas tampak sangat prihatin. Semua tak tahu harus bicara apa, mereka yakin bahwa kalimat menghibur semacam apapun tak akan berguna saat ini.
"Fungsi kedua yang hilang adalah indra penciuman. Aku juga sudah cukup lama tidak bisa mencium wangi atau bau apapun. Jadi kalau kalian tidak mandi satu bulan dan duduk di dekatku, tenang saja, aku tidak akan mencium bau apapun." Fais menopang dagunya sambil tertawa ringan.
"Untungnya, Luen langsung mengurangi pekerjaan untukku setelah tahu tubuhku rusak satu persatu. Kalau tidak, kurasa sekarang aku sudah buta, t*uli dan bisu. Tapi tetap saja, sedikit demi sedikit badan ini semakin digerogoti. Sekitar 3 tahun yang lalu indra pengecapku sudah tak berfungsi lagi, sejak itu aku kehilangan deria rasa. Makanya, tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan rasa pasir."
"Setelah itu apalagi?" desak Zidan. "Fungsi apa yang berikutnya akan hilang?" Lelaki itu biasanya tak pernah bicara banyak. Tapi kali ini ia tampak gelisah dan tak bisa menahan diri.
Di sisi lain, orang yang membuat Zidan gelisah itu malah menjawab santai. "Tangan kiriku mulai terasa agak lemah," Ia bicara seolah sedang menceritakan hal yang tidak penting. "Setelah fungsi tangan kiri hilang total, yang berikutnya mungkin mata kiri – soalnya biasanya selalu dimulai dari bagian tubuh sebelah kiri – atau bisa jadi tangan kanan yang menyusul lumpuh. Entahlah, memang tak ada yang tahu urutannya, fungsi mereka cuma memudar sedikit demi sedikit dan hilang begitu..."
Kalimat Fais terhenti saat Zidan berdiri mendadak dan mencengkram kerah bajunya. "Kamu sudah tahu risikonya..." Zidan menggeram marah. Tapi meskipun ia tampak marah, di saat yang bersamaan ia juga terlihat sedih. "Tapi kenapa kamu kelihatan tidak peduli? Ini semua tidak benar, Fais. Lebih baik kita hentikan saja. Aku tidak mau melihatmu membunuh dirimu sendiri!" sergahnya.
"Bicara apa kamu, Fourth? Bukankah kamu juga sedang melakukan hal yang sama?" Kali ini nada bicara Fais mulai terdengar berat. Wajahnya tampak serius membalas tatapan Zidan. Ia lalu melepaskan cengkraman tangan Zidan dan merapikan kerah bajunya. "Kalian semua berada di sini karena memiliki tujuan masing-masing, kan? Hidup seperti ini adalah pilihan kita, ada yang ingin melindungi keluarganya, ada yang ingin mengangkat derajat tanah kelahirannya, ada juga yang memang sadar bahwa Armour adalah satu-satunya tempat yang bisa ia datangi." Fais menatap wajah-wajah yang ada di hadapannya.
"Orang berkemampuan khusus seperti kita tak akan pernah nyaman hidup bersama orang normal. Makanya ketika menyadari ada yang seperti kita, rasa senasib itu muncul tanpa disadari. Lalu dengan sendirinya kita semua berkumpul di sini. Merasa itu memang sudah seharusnya, benar?"
Tak ada yang menjawab pertanyaan Fais. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Menyadari bahwa tak ada yang akan bicara di antara mereka, Fais kembali melanjutkan.
"Kalian boleh punya alasan masing-masing untuk berada di sini. Begitu juga denganku. Aku tahu konsekuensi apa yang menungguku nanti. Aku sudah siap kehilangan segalanya. Asalkan WoLf disingkirkan untuk selamanya, aku tak keberatan meskipun harus hancur bersama mereka."
Fais mengambil jeda sejenak untuk menunggu reaksi dari Armour yang lain. Ia lalu meluruskan tempat duduknya menghadap ke tengah meja. "Ayo kita lanjutkan lagi rapatnya," katanya kemudian.
Ai sama dengan Armour yang lainnya, hanya bisa membisu dengan pikiran yang berkecamuk di kepala mereka. Ketika Ai masih meragukan tempat yang benar untuk berdiri, Fais sedang mempertaruhkan segalanya dan merelakan semua yang ia miliki demi mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Tadinya kupikir aku tak perlu menyampaikan ini." Fais memfokuskan kembali pembicaraan kepada inti dari pertemuan mereka hari ini. "Tapi mungkin ada baiknya kalian juga tahu. Aku sudah meminta reinforcement pada Luen, dan dia akan memerintahkan Militer Angkatan Udara, Divisi-3, untuk membantu kita," tegas Fais. "Keadaan di sana bisa menjadi sangat tidak terduga, untuk itu tak ada salahnya kita mengantisipasi segala bentuk kerugian."
"Kalau angkatan udara disiagakan, sudah pasti mereka akan membombardir Eyja," sela Ariel panik. Wajahnya setengah memelas menatap Fais, memohon agar ia mempertimbangkan keputusannya.
"Jika orang-orangmu itu mau bekerja sama dan tidak menghalangi misi kita, Divisi-3 tidak akan bergerak...," Fais memenuhi udara di paru-parunya sebelum melanjutkan, "tapi jika mereka melawan, siapapun orangnya, aku tidak peduli. Tembak mati di tempat akan diperbolehkan untuk membela diri."
"Kau nggak bisa berbuat seenaknya seperti itu!" hardik Ariel yang mulai kembali dikuasai emosi.
"Oh... tentu saja aku bisa." Fais menyandar di kursinya sambil tertawa pelan. "Tapi kamu bisa tenang, seandainya terjadi kerusuhan, kami akan meninggalkan anak-anak di bawah 14 tahun tetap hidup. Mereka akan menjadi generasi pekerja berikutnya. Selama menunggu Eyja diperbaiki, Avalon akan mengimpor pangan dari luar. Mungkin akan terjadi krisis, tapi apa boleh buat, kita ambil risiko itu. Jika mereka menginginkan revolusi, kita berikan mereka revolusi."
Tangan Ariel mengepal di atas meja, tapi reaksinya tak seperti yang dibayangkan Fais dan yang lain.
"Apa ini perintah Luen? Atau hanya perintah darimu?" tanyanya dengan suara yang cukup stabil, padahal biasanya ia akan langsung meledak marah.
"Luen membebaskanku untuk menjalankan misi ini dengan caraku sendiri, asalkan hasil yang didapat sama," balas Fais ringan. "Kita hanya perlu memastikan orang Eyja tidak melawan. Jika mereka mau bekerja sama menemukan WoLf di sana, maka mereka tidak perlu mati. Atau..." Fais menarik punggungnya dari sandaran kursi. "Kamu melihat sesuatu di tidurmu tadi malam?" tanyanya kemudian.
Ariel agak tersentak dengan pertanyaan itu, ia seharusnya mengangguk dan meceritakan apa yang ia lihat dalam mimpinya. Tapi Ariel khawatir Fais akan menuduhnya berbohong.
"Aku tidak melihat mimpi yang cukup penting semalam." Ia memutuskan tak mengatakan apa-apa saat ini. Mungkin nanti Ariel akan bicara pada Zidan untuk menggantikannya bicara pada Fais.
Fais menghela napas kecewa mendengar jawaban Ariel. "Dengar Ariel, kalau bukan karena SaO yang mengatakan bahwa 7 Armour harus dipertahankan demi keseimbangan, jujur saja 5 atau 6 Armour sudah lebih dari cukup. Armour hanya butuh mimpimu. Kalau ternyata kamu tak bisa menjalankan fungsimu dengan baik, untuk apa kamu berada di sini? Aku juga takut Luen tidak akan memaklumi sikapmu lagi."
Fais memang mengatakan itu dengan suara halus dan ramah, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya mengandung aura yang sangat bengis, itu juga dirasakan oleh Ai dan yang lainnya.