Chapter IV.4

2031 Kata
Suara Fais memang masih terdengar ramah, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya mengandung aura yang sangat bengis, itu juga dirasakan oleh Ai dan yang lainnya. "Kita sudah sampai sejauh ini," sambung Fais lagi. "Kesabaranku mulai habis. Tujuanku hanya ingin segera melihat para pemimpin WoLf mati, dan selama kamu dan orang-orangmu tidak menghalangiku, aku juga tidak ingin menjadi pembunuh. Kamu ingin segera mengakhiri penderitaan orang Eyja, 'kan? Zidan dan yang lainnya juga ingin ini segera berakhir, semua hal tentang Armour yang menyusahkan ini. Setelah misi ini selesai, Luen bilang ia akan mempertimbangkan untuk membebaskan kita. Kita tidak perlu terkurung di basement ini lagi. Jadi, sebaiknya kamu jalani peranmu di Armour dengan baik. Kurasa aku tak perlu mengingatkanmu lagi, Luen bisa melakukan apa saja terhadapmu dan keluargamu di Eyja." Kalimat itu menghujam keras batin Ariel. Ya, tak salah lagi. Fais sedang mengancam Ariel. Lelaki itu sedang sangat kesal hingga wajah ramah dan tampan itu sudah tak sesuai lagi dengan semua perkataan yang terlontar dari mulutnya. "Sebenarnya," akhirnya Ariel memutuskan untuk membuka mulut, "aku melihat salah satu dari kalian nggak ikut balik lagi ke Quarter setelah misi di Eyja." Pernyataan pemuda Eyja itu langsung membuat wajah para Armour di sekeliling meja berubah menjadi tegang. Ruang rapat itu pun kembali diselimuti keheningan. "Bagaimana jika misi ini kita undur dulu," saran Ariel kemudian. "Kita masih belum mengetahui dengan jelas, apa yang sebenarnya menunggu kita di Eyja. Sebaiknya..." "Kamu sengaja berbohong untuk membuat Armour yang lainnya ragu, 'kan?" Fais menuding Ariel tanpa ampun. Sesuai dugaan Ariel, ia akan dituduh berbohong. "Aku berkata yang sebenarnya," bantah Ariel tegas. "Kalau kau nggak percaya, minta Zidan atau Ai untuk membuktikan ucapanku." "Fais... kurasa ada baiknya kita..." "Tidak!" bentak Fais keras. Ia baru saja berteriak dan membuat Zidan menghentikan kalimatnya seketika. "Aku akan tetap ke Eyja, misi ini akan tetap berjalan. Kamu ikut atau tidak?" tanyanya kepada Zidan yang saat ini hanya bisa menatapnya sambil menyembunyikan rasa prihatin. "Kamu harus tenang dulu... kita bisa..." "Ikut atau tidak?! Putuskan sekarang!" perintah Fais lagi. "Tentu saja aku akan ikut denganmu," jawab Zidan akhirnya. Dalam hati ia menambahkan, "...apalagi melihat emosimu yang tidak stabil seperti ini. Membiarkanmu pergi sendirian sama saja dengan mengantarkanmu pada kematian," batinnya. "Nda?" Kali ini Fais menatap gadis muda yang tampak tak terguncang dengan pernyataan Ariel tadi. "Aku ikut," serunya riang. "Misi kali ini akan jadi yang paling seru dibandingkan yang sudah-sudah." "Niya?" Giliran Niya yang harus menjawab Fais. Namun, wanita itu hanya membisu di kursinya. Wajahnya tampak cemas menimbang-nimbang. "Baik, kamu boleh tinggal untuk membantu Ai dan Ariel di sini," putus Fais tanpa menunggu jawaban Niya. Ia lalu mengalihkan perhatiannya pada Kevin. "Kevin, aku tak akan menyalahkanmu jika ingin mundur dari misi ini." Kevin meremas-remas jemari tangannya tanpa berani menatap Fais. "A-aku tetap akan ikut," gumamnya kemudian. "Tapi... tapi aku punya permintaan...," tambahnya lagi. "Katakan." "Aku tidak ingin kita membunuh siapapun." Suara Kevin terdengar sangat pelan nyaris seperti bisikan. Tapi karena ruangan itu begitu hening, semua bisa mendengarnya cukup jelas. Lagi-lagi Fais hanya bisa menghempas napas sambil menggeleng pelan. "Alangkah bahagianya jika kita semua bisa seperti Kevin. Muda dan naif." Ia berusaha menyembunyikan rasa jengkelnya yang sudah hampir mencapai puncak. "Tadi sudah kubilang kan... semua itu tergantung sikap orang Eyja nanti." "Tapi, selalu ada cara lain. Kita tidak harus..." "Cukup!" Fais berdiri dan menggebrak meja. "Kalau kamu tidak ingin ikut, kamu boleh tinggal," katanya pada Kevin. "Kita dikumpulkan di sini bukan untuk main-main atau membentuk kelompok pecinta lingkungan. Kalian harus mengerti kenapa kita dinamai Armour. Kalau kalian mau bersikap lemah, terserah! Tapi aku akan menghabisi siapapun yang menghalangi jalanku." Setelah mengeluarkan penyataan penuh emosi itu, pandangan Fais mendadak gelap. Ia terhuyung dan nyaris jatuh jika saja Zidan tak menopangnya. "Aku tidak apa-apa!" Fais langsung menepis tangan Zidan, seolah menerima bantuan dari temannya itu sangat memalukan. Ia kemudian kembali mengambil posisi duduk sambil menopang wajahnya. "Maaf...," gumamnya dengan intonasi suara yang sudah turun. "Terima kasih, tapi aku tidak apa-apa." Fais mencoba menenangkan diri selama beberapa saat, membiarkan seisi ruangan menjadi hening. Tak ada yang berani mengatakan apapun selama Fais masih duduk dan membenamkan wajah di telapak tangannya, sampai akhirnya ia mulai beranjak perlahan. "Aku agak lelah. Rapat akan dilanjutkan lagi besok," katanya pelan sambil mulai menyeret langkah meninggalkan ruang rapat. Zidan sebenarnya ingin mengantar Fais sampai ke ruangannya, tapi ia tahu sifat Fais, lelaki itu tidak suka dilihat dalam keadaan lemah seperti itu. Ia pun kemudian ikut beranjak setelah Fais hilang di balik pintu. Sebelum meninggalkan meja rapat, Zidan melempar pandangannya pada Ariel. "Ariel, jangan mempersulit keadaan." Suara bas yang berat itu jelas sedang memperingatkan Ariel untuk tak bertingkah macam-macam. Walau bagaimanapun, Zidan akan selalu berada di pihak Fais. "Aku bersumpah aku tidak berbohong, Zidan. Itu memang mimpi yang kulihat, kalau tidak percaya, silakan." Ariel menyodorkan tangannya agar Zidan bisa melakukan psychometry dan membuktikan bahwa ia memang sedang mengatakan hal yang benar. Zidan menghela napas berat, ia lalu menatap Ariel dengan alis yang berkerut prihatin. "Iya, aku tahu kamu tak akan main-main menyampaikan mimpimu. Hanya saja, saat ini Fais sedang dalam kondisi terburuknya. Baik fisik maupun mental, dia sudah sangat kelelahan. Aku harap kamu mau mengerti." Ariel hanya mengangguk lemah menanggapi perkatan Zidan. Tapi Zidan menganggap itu sudah cukup, ia lalu meminta izin undur diri dan melangkah ke arah pintu menuju koridor kamar-kamar mereka. Sementara Niya masih tampak gelisah memikirkan apakah ia sudah membuat keputusan yang tepat untuk tidak ikut menjalankan misi di Eyja, Nda sudah mengeluarkan androidnya untuk melanjutkan kembali bermain game. Gadis belia itu memang selalu begitu, ia tak peduli dengan sekitarnya, tak ingin bersusah payah mengingat atau terlibat dalam hal apapun, karena ia tahu pada akhirnya ia akan melupakan semua itu. Sifat cueknya memang disebabkan oleh ingatannya yang sering terhapus akibat menggunakan kemampuannya dalam misi-misi Armour. Nda jadi mudah melupakan sesuatu. Dia juga sering bingung mengenai banyak hal, dan sering tidak nyambung jika diajak bicara. "Aku permisi lebih dulu," kata Ai sambil lalu beranjak dan ikut meninggalkan meja rapat. Dalam perjalanan menuju kamarnya, ia tak bisa berhenti berpikir. Fais mengatakan bahwa ini semua adalah pilihannya sendiri, tapi Ai merasa sebaliknya. Berada di Armour bukanlah sesuatu yang mereka pilih sendiri, khususnya Fais. Ia dipaksa untuk mengambil pilihan ini, bukan karena keinginannya, tapi karena memang tak ada pilihan lain. Mungkin Fais menganggap bahwa jika ia tak berada di Armour, ia tak akan bertahan hidup sampai sekarang. Ibaratnya, saat Fais berusia 12 tahun, tanah yang menjadi pijakannya amblas. Jika ia tak berpegangan pada sesuatu, ia pasti akan ikut terjatuh ke dasar bumi. Dan saat itu, satu-satunya pegangan yang ada hanya tali berduri yang diulurkan Luen padanya. Fais memutuskan untuk menggantungkan hidupnya pada tali itu. Selama ini ia telah menggunakan seluruh kemampuannya bergelantungan dengan tangan yang berdarah dan perlahan mulai mati rasa. Sedikit demi sedikit tubuhnya digerogoti kelelahan. Tak ada yang bisa memastikan, sampai kapan ia akan sanggup tetap berpegangan pada tali berduri itu. Tapi Fais hanya mengejar satu hal yang menjadi tujuannya. Balas dendam. Meskipun harus mengorbankan semua yang ada pada dirinya dan jatuh ke lubang yang sudah menantinya, asalkan dendamnya terbalas... Meskipun nanti yang ada hanya kehampaan, meskipun tak ada yang bisa menjamin bahwa ia akan bahagia setelah membalas dendam. Fais tetap bertahan untuk mencapai tujuannya itu. Lalu Ai? Apa yang sebenarnya sedang ia lakukan di sini? Apakah ia juga akan berakhir seperti Fais? Ai menepis pikiran itu jauh-jauh. Ia kembali meyakinkan dirinya bahwa ia hanya ingin membawa ayahnya pulang. Setelah semua ini selesai, setelah semuanya jelas, akan tiba saatnya ketika semua orang tahu siapa sebenarnya yang paling bertanggung jawab atas semua kekacauan ini. Ai bertekad untuk membuktikan bahwa WoLf yang melibatkan ayahnya bukanlah WoLf yang bertindak sebagai teroris. Dan sekarang tujuannya bertambah satu lagi, mengembalikan Hagi menjadi Hagi yang ia kenal. --- Pukul 02.00 pagi, Fais sendirian berada di pantry. Tadi dia hanya meminum secangkir kopi, dan sekarang perutnya mulai terasa lapar. Ia mencari-cari sesuatu yang bisa dimakan di dalam kulkas. Sebenarnya ia tak pernah peduli dengan apa yang ia makan, bukankah semua tetap hambar di lidahnya? Tapi ia tetap harus memperhatikan kandungan gizi yang masuk ke perutnya. Jadi tak peduli apapun bentuk makanan itu, selama berguna untuk tubuh, ia akan memakannya. Makanya Fais hanya mengambil dua potong roti panggang, menyelipkan keju, tomat, dan selada di antara kedua roti tersebut, lalu meletakkannya di atas meja. Tepat disamping piring roti itu ada segelas penuh air putih. Kadang Fais memang butuh itu untuk mendorong masuk makanan yang tak bisa ia telan. Tak ada suara yang terdengar selain mesin kulkas dan pendingin ruangan di pantry itu. Honey sedang dalam mode standby di sudut ruangan. Robot di Avalon tidak diprogram untuk memasak. Sampai sekarang, pekerjaan yang membutuhkan keterampilan khusus itu masih dikerjakan manusia. Di berbagai tempat makan pun, robot hanya digunakan sebagai pelayan, tapi yang memasak tetaplah manusia. Makanya ia tak bisa mengharapkan Honey untuk menyiapkan makanan untuknya. Fais menggigit ujung rotinya dan mulai mengunyah perlahan, seolah sedang mengunyah sponge, tak ada rasa sama sekali. Ia lalu memaksakan diri untuk menelannya, lalu meneguk air minumnya. Ia selalu menghindari makan bersama orang lain. Kalaupun ia tak mampu menghindar, biasanya ia hanya akan makan sedikit dan berpura-pura ikut menikmati. Tapi kalau sedang makan sendiri, beginilah cara ia memasukkan makanan melewati tenggorokannya. Ia menghela napas panjang, pikirannya melayang pada pembicaraannya dengan Zidan beberapa jam yang lalu. Zidan berkunjung ke kamarnya hanya untuk menasehatinya. …………… "Ini bukan lagi soal menjalankan misi negara, 'kan? Ini sudah berubah menjadi misi pribadimu untuk membalas dendam kepada WoLf," kata Zidan sambil menyerahkan obat penambah darah pada Fais yang sedang duduk di bibir tempat tidurnya. "Luen mengizinkanku untuk memiliki motif dan tujuanku sendiri, selama itu masih sejalan dengan kepentingan negara. Aku tidak sedang melakukan kesalahan, dan dia mendukungku," balas Fais sebelum ia memasukkan obat ke mulutnya dan meminum air yang barusan disodorkan Zidan. "Aku sudah mulai kehabisan waktu, Zidan," tambah Fais lagi. "Sebentar lagi separuh tubuhku akan c*acat, aku hanya akan jadi rongsokan. Kamu pikir aku masih punya waktu menanggapi omong kosong tentang belas kasih dan semacamnya? Tidak. Aku tidak mau kehilangan fokus. Aku tidak mau mati sebelum dendamku terbalaskan. Kamu mengerti?" "Tapi kamu bukan robot," nasehat Zidan lagi. "Hampir," jawab Fais sambil tertawa pelan. "Tak ada lagi yang tersisa dariku. Aku sudah terprogram untuk satu hal yang menjadi tujuan akhirku. Aku terkurung di sini dan tak bisa melakukan apapun di luar keinginan pemerintah. Sejak awal aku memang bukan manusia, aku hanya alat yang akan rusak pada waktunya." Fais baru saja menaikkan kakinya ke atas tempat tidur untuk berbaring, tapi Zidan segera menangkap lengan Fais dan mencengkramnya erat. "Jika kamu bukan manusia, lalu aku ini apa?" Gigi Zidan menggeretak sambil menatap mata Fais tanpa berkedip. "Apa aku bukan temanmu? Apa selama ini aku sudah keliru menganggapmu seperti saudara kandungku sendiri?" Fais tersenyum sambil melepaskan tangan Zidan perlahan. "Terima kasih kamu selalu berada di dekatku dan melindungiku. Tapi aku hanya ingin ini semua cepat selesai," katanya sambil lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, menarik selimut dan berbalik membelakangi Zidan. "Aku hanya ingin ini cepat berakhir...," gumamnya lagi. …………… Terhanyut dalam lamunannya, Fais baru sadar kalau sejak tadi ia sudah mengunyah potongan roti yang ia gigit tanpa menelannya sedikit pun. Ia memejamkan matanya erat-erat saat memaksakan diri menelan roti yang mulai terasa menjijikkan di mulutnya itu. Setelah meneguk air minum, mata Fais tiba-tiba terpaku pada setoples garam di atas meja. Ia lalu meraihnya dan menuangkan nyaris setengah dari toples itu di antara dua rotinya, menggigitnya kembali, terbatuk, kemudian lagi-lagi meminum beberapa teguk air dari gelas yang sudah nyaris kosong. "Kamu berbeda, Fais." Ucapan Luen itu terus terngiang di telinganya. Entah kenapa ia jadi merasa sangat tidak puas dengan dirinya. Sudah 12 tahun berlalu sejak ia kehilangan kedua orang tua dan adiknya, selama ini ia tak pernah merasa sedang berdiri di jalan yang salah. Meski tak mampu merasakan apa-apa di mulutnya, meski tak mampu mencium bau apapun, meski telinga kirinya kini hanya mampu mendengar suara hening, ia tak pernah merasa ada yang salah dengan keadaannya. Ia sudah puas hanya dengan memiliki satu target yang akan ia kejar selama hidupnya. Tapi kenapa... "Kenapa tiba-tiba kamu jadi ragu?" Lagi-lagi suara Luen seolah sedang berputar-putar di kepalanya. Fais mulai merasa gelisah dan jantungnya berdegup kencang. Ia meraih setoples gula dan kembali menuangkan isinya ke atas roti hingga butir-butir gula itu berserakan ke bawah meja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN