Chapter IV.5

1974 Kata
"Kenapa tiba-tiba kamu jadi ragu?" Suara Luen bergema di telinga Fais, membuatnya mulai gelisah dan jantungnya berdegup kencang. Ia meraih setoples gula dan kembali menuangkan isinya ke atas roti hingga butir-butir gula itu berserakan ke bawah meja. "Ragu? Aku sama sekali tidak ragu!" Ia membulatkan tekad dan dengan cepat memasukkan roti yang sudah berlumuran gula dan garam itu ke dalam mulutnya. Ia lalu tersedak dan terbatuk sampai matanya berair. Rasa muak merasuk di setiap sendi tubuhnya, Fais memuntahkan kembali apa yang sudah nyaris masuk ke lambungnya itu. Bermaksud mengambil gelas air minum di hadapannya, tapi tangan kiri Fais mendadak kram dan tak bergerak sesuai perintah otaknya. “Apa-apaan ini?! Apa sudah saatnya tanganku juga c.a.c.a.t? Aku bahkan tak mampu meraih gelas yang ada di depan mataku. Jangan bercanda!” batinnya menjerit protes. Darahnya mendidih dan kemarahan merebak dari rongga d.a.d.a hingga memenuhi isi kepala. Seolah ada pisau-pisau tajam mengayun kesana-kemari dan mencabik-cabiknya dari dalam. Ia begitu kesal, sangat kesal hingga terasa sakit. Wajah yang biasanya ramah itu kini merah padam menahan emosi yang kian merajalela. Ia lalu menyapu bersih permukaan meja dengan tangan kanannya yang masih berfungsi normal, sehingga seluruh benda di atas meja berjatuhan dan pecah di lantai pantry. Honey terbangun dari mode standby dan langsung bergeser menghampiri Fais. "First, ada yang bisa dibantu?" tanyanya datar. Fais tak menjawab, tangan kirinya kini menggeletak kaku di atas meja. Perasaan tidak berdaya itu membuatnya semakin marah. Diambilnya pisau di dekat westafel lalu tanpa ragu ia menusukkannya ke telapak tangan yang mulai mati rasa itu. Seolah ada sesuatu yang menggeliat dari dalam tubuhnya dan hanya ini satu-satunya cara untuk melepaskannya. Akhirnya Fais hanya bisa terduduk lemas sambil merebahkan kepalanya di atas meja, memandangi cairan merah pekat yang mengalir deras dari telapak tangannya. Genangan darah itu bergerak ke sisi meja dan mulai menetes ke lantai. Alarm Honey berbunyi nyaring dengan lampu yang menyala merah dari lengkungan di bagian paling atas robot-maid itu, bersamaan dengan satu kata yang terus keluar dari speakernya; "Emergency! Emergency!" di sela bunyi alarm. Tapi Fais seolah sudah kehilangan seluruh tenaganya. Hingga kemudian senyum tipis muncul di wajah lelaki itu. Ketika perlahan ia mulai merasakan telapak tangannya yang masih tertancap pisau di atas meja itu berdenyut-denyut. Ia lega karena ternyata masih terasa sakit, ternyata tangan kirinya belum lumpuh total. Tapi Fais jadi ingin menertawakan dirinya, gara-gara tindakan bodoh barusan, mungkin ia malah mempercepat proses kelumpuhan tangan kirinya. "Ya ampun, Fais!" teriakan histeris Niya terdengar dari pintu masuk pantry. Ia langsung menghampiri Fais dengan panik dan Zidan mengikuti di belakangnya. "Apa yang kamu lakukan, bodoh?!" Zidan setengah membentak sambil mencabut pisau dari tangan Fais tanpa memberi peringatan. "Honey, tinggalkan itu. Ambil kotak obat, lalu tangkap satu tikus dari gudang," perintah Niya pada Honey yang sedang membereskan kekacauan yang disebabkan Fais di ruangan itu. Niya menggunakan kedua tangannya untuk menggenggam tangan Fais yang masih berdarah. Air matanya menetes satu per satu dan perlahan suara isakannya mulai terdengar, namun ia tak mengatakan apa-apa. Saat Honey datang membawa seekor tikus di dalam kurungan, Niya kemudian memejamkan mata sambil menutup luka Fais dengan tangannya. Beberapa detik kemudian, tikus dalam kurungan mencicit nyaring seperti sedang kesakitan. Meski luka di tangan Fais memang tidak hilang, tapi kekuatan Niya sudah memindahkan rasa sakit sekaligus melakukan disinfeksi, jadi sekarang ia hanya perlu menutup luka itu dengan perban. "Aku tidak tahu kalau kamu menginap di Quarter. Maaf, mengganggu malam-malam," kata Fais sambil mengumbar senyum pada Niya yang masih menangis sambil mendekap tangan Fais yang sudah diperban. "Kamu sebenarnya juga tak perlu menggunakan kemampuanmu. Lukanya sama sekali tidak sakit, aku sendiri yang menusuknya. Cuma ingin tahu, masih berfungsi atau tidak." Lelaki berambut hitam pekat itu sekarang tertawa ringan menanggapi Niya yang dianggapnya bereaksi berlebihan. Tapi sebenarnya Niya sama sekali tidak merasa bahwa ia bereaksi berlebihan. Meski Fais terlihat tenang dan biasa saja, meski yang wajahnya sudah basah karena air mata adalah Niya, tapi di mata ibu dua anak itu, saat ini Fais lah yang sedang menangis meraung-raung. "Fais... Oh... aku tak tahan lagi melihatmu seperti ini. Apa yang sebenarnya kamu kejar dengan membiarkan tubuhmu rusak seperti ini...?" Niya hanya mampu meratap dalam gumamnya. Wanita itu selalu ingin melakukan sesuatu untuk Fais. Tapi ia tak tahu apa yang bisa membuat lelaki itu bahagia, dan yang semakin membuat Niya sedih adalah kenyataan bahwa Fais juga sepertinya tak pernah tahu bagaimana cara membuat dirinya sendiri bahagia. "Aku akan ikut ke Eyja, aku akan memastikan kita semua kembali dengan selamat," putus Niya akhirnya. Ia masih terisak sambil mendekap tangan Fais di keningnya. Zidan mengambil posisi berdiri di hadapan Fais, tepat di sebelah Niya. Ia lalu meraih kedua tangan Niya yang memegangi tangan kiri Fais. "Aku tahu, percuma saja memintamu untuk berhenti sekarang," katanya. "Kamu sudah tak tahu lagi bagaimana cara menjalani hidup tanpa menjadikan WoLf sebagai targetmu. Kamu hanya tahu cara hidup yang seperti itu." Lelaki bertubuh tinggi besar itu menatap Fais lekat-lekat. Fais tertawa kecil mendengar perkataan Zidan, dalam hati ia meng-iya-kan. Dari dulu hingga sekarang, apa yang ada di hadapan Fais hanya sebuah jalan lurus yang sempit dan panjang dengan tembok tinggi di kiri-kanannya. Ia tak mampu melihat yang lain, ia tak bisa mencari jalan yang lain. Tak peduli apapun yang menantinya di depan sana, pokoknya ia hanya punya satu tujuan akhir. "Aku berhutang banyak padamu, Fais," kata Zidan sambil menambahkan sebelah tangannya lagi di atas tangan Niya. "Aku akan membantumu dan menjadi orang yang paling terakhir berdiri di sampingmu," dengan mantap Zidan bertekad, "karena itu, bertahanlah sedikit lagi." Senyum tipis muncul di wajah porselin yang mulai tampak pucat itu. "Terima kasih," balas Fais singkat. Ia lalu meletakkan tangan kanannya di atas tangan-tangan yang lain. Sepasang kaki baru saja melangkah menjauhi pintu masuk pantry. Diam-diam, tanpa suara, mendekati pintu yang bertuliskan nama "Ariel" di depannya. Lelaki berkulit gelap itu kembali ke kamarnya setelah menyaksikan kemarahan seorang Fais atas ketidakberdayaan dirinya sendiri. Sebenarnya ia sudah lebih dulu berada di balik dinding itu. Sejak Fais terbatuk dan memuntahkan roti yang dimakannya. Entah kebetulan apa yang membuat Ariel tak sengaja menemukan kondisi menyedihkan itu saat ia ingin mencari cemilan di pantry. Tapi tadi ia tak berani memunculkan diri, ia merasa bahwa mungkin saja Fais tak ingin dilihat dalam keadaan seperti itu. Sampai ketika alarm emergency Honey berbunyi, Ariel sempat berniat untuk menghambur masuk dan membantu Fais, saat itulah Niya dan Zidan keluar dari ruangan mereka, berlari kecil di koridor dan masuk ke pantry mendahului Ariel. Mereka tak menyuruh Ariel masuk melainkan hanya memberikan tatapan sekilas pada Ariel yang berdiri kaku di samping pintu. Sejak dulu tiga orang yang usianya berdekatan itu memang sangat akrab. Ariel masih ingat jelas saat pertama kali Zidan bergabung, Fais dengan ramah memperkenalkannya; "Ariel, ini Zidan. Walaupun dia Fourth, tapi usianya hanya beda dua tahun dariku. Kami berteman sejak kecil. Zidan ini cukup akrab dengan adikku. Aku sudah pernah bilang, kan? Kurasa kalau adikku masih hidup, sekarang pasti sudah sebesar kamu, Ariel. Adikku suka sekali main di pantai, kulitnya cokelat gelap sepertimu. Kalian mirip." Ya, saat Armour hanya beranggotakan 4 orang, Fais, Niya, dan Zidan seperti tiga sahabat yang tak dapat dipisahkan. Tapi posisi Ariel di antara mereka malah jauh lebih istimewa. Dia selalu diperlakukan sebagai adik kesayangan. Sampai sekarang pun jika Ariel memejamkan matanya, senyum Fais yang menyapanya dengan ramah masih dapat terbayang dengan jelas. Dan yang paling Ariel ingat adalah ketika Fais mencoba menghiburnya yang sedang merindukan Eyja, waktu itu ia pernah bilang; “Nanti kalau permintaanmu dikabulkan dan Eyja dibuka untuk dunia luar, kamu harus mengajakku jalan-jalan ke sana. Kita akan menjadikan Eyja sebagai tempat wisata yang tak terkalahkan." Ariel mendengus menahan tawa sinisnya. Ia lalu menghempaskan tubuh ke tempat tidur dan berbaring menatap langit-langit kamarnya. Sampai sekarang pun Ariel tak pernah menganggap Fais pembohong, ia tahu Fais sungguh-sungguh dengan ucapannya dulu, membantu Ariel menyelamatkan Eyja. Lelaki itu juga selalu membantunya setiap kali menjalankan misi yang diberikan Luen. Tapi semakin lama, Fais semakin berubah. Perubahan itu terasa menjadi-jadi sejak misi Armour semakin mendekati WoLf. Ia jadi sering tergesa-gesa dan selalu ingin cepat menyelesaikan semua hal yang tak berhubungan dengan WoLf. Layaknya seorang anak kecil yang melihat benda kesayangannya dibawa berkeliling oleh kendaraan berkecepatan tinggi di depan matanya. Fais mati-matian mengejar benda itu, marah pada siapa saja yang menghalangi. Tak peduli berkali-kali terjatuh dan berdarah, ia akan kembali berdiri mengejar benda itu. Tanpa mempedulikan sekelilingnya. Lelaki itu, yang sudah dianggap Ariel sebagai kakak kandungnya sendiri, seolah sedang dirasuki sesuatu. *** "Ingat. Jangan bicara hal yang tidak perlu, jangan sampai kalian dicurigai. Segera menghindar jika ada yang mulai banyak bertanya. Jika identitas kalian terbongkar, kita semua akan berada dalam masalah." Fais selalu memberikan peringatan ini setiap kali ada Armour yang akan mengadakan misi menyusup dan menyamar. Saat ini ia sedang bicara pada Niya dan Zidan melalui alltech di tangannya. Kedua Armour itu sedang dalam perjalanan menemui Syafira di Ring III. Syafira adalah bagian dari staff khusus Zoire, seorang ahli make over, satu dari sedikit orang yang tahu tentang identitas ketujuh Armour. Wanita itu bisa membuat seseorang terlihat lebih tua, lebih muda, lebih gendut, atau bahkan meniru wajah orang lain. Biasanya memang dia yang selalu membantu misi-misi Armour yang sebagian besarnya memerlukan penyamaran untuk menyusup. Fais mengakhiri panggilan dan menutup VS-nya, ia mulai menatap satu persatu wajah keempat Armour lain yang ada di depannya saat ini. Jam 9 pagi lewat beberapa menit, mereka dikumpulkan di sini untuk briefing sejenak sebelum menjalankan misi. Ai mengerling ke tangan Fais yang diperban, ia mendengar ceritanya dari Niya saat mereka sarapan bersama pagi tadi. Mungkin memang luka di tangan Fais sudah tak terasa sakit lagi, tapi Niya tak dapat menyembuhkan luka lain yang ada di balik d.a.d.a lelaki itu. Dan entah kenapa, belakangan ini setiap kali melihat punggung Fais dari belakang, Ai merasa ia tampak begitu kesepian. Hari ini juga ia terlihat lebih pucat dari biasanya, sepertinya kondisinya memang sedang tidak baik. Tapi itu tak bisa mencegahnya untuk berangkat ke Eyja. Dengan seksama ia menjelaskan garis besar misi mereka sekali lagi, meminta mereka untuk fokus dan berhati-hati. "...Ai, kamu mendengarkanku?" Suara Fais masuk ke ruang dengar Ai. Ternyata ia melamun dan melewatkan instruksi Fais barusan. "Ah... iya maaf, saya tidak sengaja memikirkan hal lain..." Wajah Ai memerah karena malu. "Kamu harus fokus. Jika ada yang tidak dimengerti, kamu boleh tanya Ariel." Fais jeda sejenak dan mengalihkan pandangan pada Ariel. Ia lalu melirik jam di alltech-nya sebelum akhirnya memberi instruksi pada Kevin dan Nda. “Keluar lebih dulu, aku akan menyusul," katanya. Kedua Armour muda itu pun menurut tanpa banyak komentar. "Good luck," kata Kevin saat ia melewati Ariel dan Ai. "Kalian juga," jawab Ai. "Jaga diri baik-baik," tambahnya lagi dibalas anggukan dan senyum Kevin. Tersisa Fais yang masih berdiri di hadapan Ai dan Ariel. "Apa rencana kalian hari ini?" tanyanya kemudian. Sementara Fais dan yang lainnya menjalankan misi di Eyja, sampai hari ini Fais belum mendapatkan detail rencana dari dua Armour yang akan tinggal di Quarter itu. "Kami akan ke Hangee Park, Ariel melihat sesuatu tadi malam," jawab Ai sesuai dengan apa yang dikatakan Ariel kepadanya. "Baiklah, saat kami kembali dari Eyja, aku ingin mendapatkan hasil penyelidikan kalian. Walaupun hanya sedikit, aku ingin melihat progress," kata Fais lagi. "Kami mengerti," tegas Ariel sambil menatap Fais tak gentar. Untuk beberapa saat, kedua lelaki itu tidak melepas pandangan mereka. Seolah sedang saling menantang siapa yang lebih dulu berpaling. Kemudian Fais lebih dulu memecah keheningan di antara mereka. "Ariel, kamu bimbing Ai dan jangan kecewakan aku," katanya. Ariel hanya mengangguk singkat sebagai jawaban. Fais pun mulai melangkah menuju lift untuk menyusul Kevin dan Nda. Tapi saat ia melewati Ariel, tangannya bergerak memberikan tepukan pelan di bahu Ariel. "Aku percaya padamu," bisiknya sambil lalu. Tangan Fais yang baru saja mendarat di bahu Ariel meninggalkan rasa hangat yang perlahan menjalar ke relung hati Ariel. Tak peduli semarah apa ia sebelumnya, dan tak peduli sehebat apa ia bertengkar dengan Fais, Ariel tetap tak akan pernah bisa membenci lelaki itu. - End of Chapter IV -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN