Chapter V - Kembali ke Eyja

1567 Kata
"Bagaimana? Ada petunjuk?" Fais bertanya sambil mengamati susunan buku-buku kumuh di dalam sebuah lemari reot yang nyaris habis dimakan rayap. "Belum. Terlalu banyak yang menyentuh benda-benda di sini. Aku butuh barang pribadinya agar psychometry-ku bisa lebih terfokus pada kegiatan orang itu," sahut Zidan juga tanpa menatap Fais yang berdiri tak jauh darinya. Saat ini mereka sedang berada di dalam salah satu pendopo yang biasa digunakan anak-anak Eyja sebagai ruangan kelas untuk belajar. Mereka berusaha mencari Kiriyan tapi tak berhasil, bertanya pada orang sekitar juga tak ada yang mau memberi tahu di mana rumah lelaki itu. Akhirnya Fais memutuskan untuk bergantung pada Kevin yang sedang berkeliling mencari Kiriyan, sementara ia dan Zidan mencari tahu melalui sekolah Eyja, tempat Kiriyan sering menghabiskan waktu. Beberapa saat kemudian, Kevin muncul begitu saja di hadapan Fais, wajahnya tampak cemas saat ia melaporkan hasil penyelidikannya. "Aku tak menemukan lelaki bernama Kiriyan itu di manapun. Fais, apa kamu yakin sudah memberiku foto orang yang benar?" "Ck!" Fais mendecak jengkel. "Ini tidak ada gunanya. Aku akan memaksa seseorang memberi tahu di mana lelaki itu," katanya sambil segera melangkah keluar. Zidan dan Kevin saling bertukar pandang sebelum akhirnya mereka juga mengikuti Fais meninggalkan tempat itu. Tapi baru saja beberapa langkah menuruni undakan, mereka dihadang oleh tiga orang mencurigakan. Satu di antara mereka seorang wanita berambut pirang dan bergelombang panjang sampai ke pinggulnya. Penampilannya tampak anggun. "Halo, Tuan-tuan... Anda semua mau kemana?" tanya wanita itu. Suaranya terdengar sangat halus seperti hembusan angin musim semi. "Apa kalian tidak tahu kalau kalian harus melepas alas kaki jika masuk ke dalam pendopo itu?" Salah seorang lelaki bertubuh ramping menimpali dengan suaranya yang centil. "Ckckck... sungguh sangat tidak sopan orang-orang Avalon Daratan ini," sambungnya lagi. Zidan mengambil posisi berdiri di depan Fais sebagai tameng. Tanpa perlu banyak pertimbangan, ia sudah menganggap ketiga orang itu sebagai ancaman. "Yang itu?" Si wanita bersuara merdu menunjuk Zidan dengan dagunya. "Bukan," sahut lelaki bersuara berat yang berdiri di tengah. "Bukan dia, tapi yang di belakangnya," sambungnya lagi. Ia lalu meletakkan kedua jari tangannya di mulut sebelum akhirnya bersiul melengking. Suara siulannya terdengar nyaring terbawa angin. Hingga kemudian mendadak muncul beberapa ekor kerbau jantan yang mengamuk, berlari kencang dari segala penjuru menuju halaman sekolah, menyeruduk apa saja yang ada dihadapannya, keadaan pun berubah menjadi kacau. Kevin langsung bergerak cepat untuk melumpuhkan ketiga orang itu dengan menjatuhkan mereka ke tanah dan mengikat tangan mereka dengan tali apapun yang bisa ia temukan di sekitar tempat itu. Namun meski mereka dilumpuhkan, kerbau-kerbau yang sudah terlanjur muncul tetap tak terkendali. "Sepertinya mereka bukan orang Eyja. Kita bawa mereka ke Blue Gate," kata Fais sambil mengutak-atik alltech-nya, bermaksud menghubungi Blue Gate agar mereka mengirim kendaraan dan beberapa orang untuk membawa ketiga orang mencurigakan itu. "Jika keadaan menjadi tidak terkendali, apa aku boleh melepas tembakan untuk memanggil reinforcement?" tanya Zidan lagi. Entah kenapa ia punya firasat buruk, lelaki yang bersiul itu jelas memiliki kemampuan yang tidak biasa, dan kedua orang lainnya pasti tidak jauh berbeda. "Sebaiknya kita coba atasi ini tanpa ribut-ribut," tegas Fais sambil memandang berkeliling. "Jika reinforcement datang, mereka akan menjatuhkan bom di beberapa tempat. Instruksinya begitu, untuk menakut-nakuti rakyat Eyja dan mengendalikan situasi," sambungnya lagi sambil memperhatikan Kevin yang sedang bergerak kesana-kemari dengan kecepatan kilat. Meski bisa bergerak dengan sangat cepat, tapi anak muda itu tidak memiliki tenaga super. Sesekali, ia tampak berusaha keras menarik seekor kerbau untuk diikat di pohon. Sejauh ini ada tiga kerbau yang sudah berhasil dihentikan, sementara sisanya masih mengamuk. Kevin rela bersusah payah begitu karena ia khawatir satu-satunya sekolah yang ada di pulau itu rusak akibat amukan mereka. Zidan tersenyum menahan tawa. "Kamu tidak mau ribut-ribut karena khawatir ada orang Eyja yang terbunuh dan membuat Ariel sedih, 'kan?" "Jangan mengatakan hal yang tidak perlu," balas Fais dengan ekspresi malu bercampur jengkel. "Apa kamu akan membiarkan Kevin bekerja sendirian?" "Sorry, Kapten," sahut Zidan setengah bercanda. Ia lalu berlari menghampiri Kevin dan memintanya untuk menyerahkan urusan tarik-menarik kerbau kepada Zidan. Di saat yang bersamaan, Niya dan Nda yang baru saja menyelesaikan misi mereka di rumah Suyi, muncul dari ujung jalan. Mendapatkan situasi kacau di halaman sekolah itu, mereka mempercepat langkah untuk membantu, namun berpapasan dengan gadis kecil yang pernah bertemu dengan Fais di misi Eyja yang pertama, Cindy. Gadis kecil itu berlari cepat untuk membuka ikatan tangan ketiga orang yang sudah berhasil dilumpuhkan Kevin tadi. Saat Niya dan Nda ingin mencegahnya, mereka terangkat dari permukaan tanah dan melayang di udara. "Telekinesis!” Hampir seluruh Armour yang ada di situ memiliki pemikiran yang sama. Sepertinya Cindy memang bisa melakukan hal istimewa itu. Dan detik berikutnya, dua wanita Armour itu pun terhempas jatuh ke atas tanah. Saat mereka berhasil berdiri kembali, ketiga orang tadi sudah lepas dari ikatan mereka. Si pirang bersuara merdu memutuskan untuk menghadapi Niya dan Nda sekaligus, mata wanita itu sayu dan dari bibirnya terdengar senandung yang hanya berupa gumaman. Meskipun begitu, Niya dan Nda tahu bahwa mereka tak bisa bertindak gegabah. Wanita itu memancarkan aura berbahaya. Seolah di sekitarnya ada pedang-pedang yang bergerak liar dan siap mencincang siapa saja yang berani mendekat. Sementara si lelaki feminin tampak berlari riang menuju Kevin yang sedang mengatur napas karena kelelahan. Zidan langsung mendahului Fais untuk menghadapi si pengendali hewan, dan Fais memutuskan untuk mengurus Cindy, gadis poltergeist[16] itu sudah dapat dipastikan sebagai bagian dari komplotan mereka. Jika berhasil mendapatkan Cindy saja, Armour akan dapat semua informasi yang dibutuhkan. "Woohoooo...!" Terdengar suara teriakan gembira bersamaan dengan sesuatu yang bergerak sangat cepat mengitari lapangan sekolah. "Ini luar biasa!" teriak suara itu lagi. Kemudian ia berhenti di belakang Zidan, menghilang, lalu muncul kembali di belakang Kevin, kemudian menghilang lagi. Sekilas Fais bisa melihat siapa orang yang bisa bergerak secepat Kevin itu, dia adalah lelaki bersuara centil yang tadi buru-buru menghampiri Kevin. "Han! Berhenti main-main! Zen menunggu kita di markas!" Si pengendali hewan bicara lantang dengan suara bas-nya sambil terus meladeni pertarungan dengan Zidan. Kemampuan bela dirinya tidak bisa dipandang sebelah mata. Meskipun ia bertarung sambil bicara pada temannya, tapi tetap saja Zidan kewalahan menghadapinya. Kevin muncul di samping Fais, berusaha menjelaskan. "Dia menggigit tanganku dan tiba-tiba saja..." namun belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Kevin menghilang dengan gerakan kilat karena lelaki bernama Han itu mengejarnya dengan kecepatan yang sama. Kini tak ada yang mampu melihat perkelahian dua orang berkecepatan kilat itu. Tapi Fais tak butuh penjelasan lebih lanjut untuk sekedar menyadari bahwa saat ini mereka dalam bahaya. Niya dan Nda sedang bekerja sama melayangkan pukulan dan tendangan kepada si wanita pirang, mereka hampir menang, jadi tampaknya tidak ada masalah. Kevin masih melakukan perlawanan, gerakannya tak secepat sebelumnya, dan sudah bisa dipastikan sebentar lagi ia akan kehabisan tenaga. Zidan dan si pawang hewan sedang dalam pertarungan yang cukup seimbang. Lalu terakhir, masih ada si gadis poltergeist. "Cindy," panggil Fais sambil melangkah menghampirinya, ia bermaksud memanfaatkan gadis itu untuk keluar dari situasi ini. "Hentikan semua teman-temanmu dan..." Fais tak sempat mengaktifkan command-nya, ia sudah terangkat dari atas tanah, melayang sekejap di udara lalu terlempar cukup keras menabrak tiang kayu salah satu pendopo. Melihat kejadian itu Zidan mengayunkan kakinya sekeras mungkin ke arah leher lawannya. Meski berhasil ditangkis, tapi Zidan sudah mendapatkan waktu sepersekian detik untuk meninggalkan pertarungan itu dan menghampiri Fais. "Aku akan melepas tembakan," katanya sambil merogoh senjata api di dalam holster yang tergantung di pinggangnya. Fais mencengkram erat tangan Zidan untuk mencegahnya. Jika reinforcement datang, Eyja akan hancur dan entah kenapa ia tak bisa mengabaikan bayangan wajah Ariel yang menangis dan menyalahkannya. Ditambah lagi, orang-orang aneh ini sudah dipastikan lebih unggul dari Armour dengan kemampuan yang mereka curi dari Kevin dan juga kemampuan Poltergeist Cindy. Dipikirkan seperti apapun, Armour tak akan menang, dan mereka juga sepertinya tak berniat untuk melepaskan Armour hidup-hidup. "Dengar," Fais menatap Zidan tak berkedip. "Kamu, Kevin, Niya dan Nda harus kembali ke Quarter dengan selamat." Instruksi Fais kali ini tidak biasa, ia baru saja menggunakan command kepada Zidan. Mata Zidan melebar, namun bibirnya tak bisa mengeluarkan kata untuk membantah. Lalu dalam sekejap, Han, lelaki yang sudah meng-copy kemampuan Kevin tiba-tiba muncul di hadapan Zidan. "Aku pinjam Kapten kalian," katanya sambil mengedipkan sebelah mata. Zidan tak sempat bereaksi saat sebuah pukulan keras mendarat di bagian belakang kepala Fais, lelaki itu langsung rubuh dan tak bergerak lagi. "Kita dapat ketuanya!" teriak Han sambil mengangkat Fais dengan mudah. Seolah sudah menunggu kalimat itu, si pawang hewan langsung memberi instruksi, "Mundur!" Lalu menyambar tubuh Cindy dan berlari kencang mengikuti arah perginya Han yang membawa Fais. Gadis berambut pirang yang berhadapan dengan Niya dan Nda kemudian bergerak tiba-tiba menerjang ke arah Nda yang tak sempat bertindak. "Awas!" Saat Niya menarik Nda untuk menghindari gadis itu, terdengar suara merdu yang terbawa oleh hembusan angin. "Welcome to my Black Hole." Gadis pirang itu bergumam di telinga Nda dan dalam sekejap Nda berteriak histeris. Lalu si gadis pirang pun ikut melarikan diri ke arah yang sudah ditempuh teman-temannya yang lain. "Jangan dikejar!" teriak Zidan tepat saat Kevin baru saja menghilang dari tempatnya bediri. Ketika mendengar teriakan Zidan, Kevin muncul kembali beberapa meter di depannya. Jika Zidan tidak mencegah, mungkin Kevin sudah berhasil menangkap gadis yang lari paling terakhir tadi. "Mereka membawa Fais!" Kevin berteriak protes. "Kita tidak tahu kemampuan seperti apa yang mereka punya. Bagaimana kalau nanti kamu juga diserang atau tertangkap? Fais bisa menjaga diri. Nda lebih membutuhkan bantuan saat ini," jelas Zidan. . _______________ [16] Dalam bahasa Jerman diterjemahkan sebagai "roh yang berisik". Sebuah fenomena supernatural terkait gangguan fisikal seperti suara yang keras atau benda-benda yang melayang dan bergerak sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN