Chapter V.2

1703 Kata
"Kita tidak tahu kemampuan seperti apa yang mereka punya. Bagaimana kalau nanti kamu juga diserang atau tertangkap? Fais bisa menjaga diri. Nda lebih membutuhkan bantuan saat ini," jelas Zidan lagi. Niya berusaha menenangkan Nda yang terus saja berteriak dan meronta. Dia seperti sedang berada dalam siksaan yang sangat hebat. Tapi Niya hanya bisa memeluk Nda dan berurai air mata. Ia lalu mengangkat wajahnya, menatap Zidan dengan tatapan minta tolong. Ia merasa tak berdaya dan tak tahu harus berbuat apa. "Aku tak tahu bagaimana menyembuhkannya," Niya mengadu sambil terisak. Zidan yang dimintai tolong juga hanya berdiri terpaku dengan wajah tegang, tangannya terkepal dan ia kehilangan kata-kata. Sementara Kevin terlihat bingung sambil sesekali memanggil nama Nda. "Bagaimana ini, Zidan?" tanya Kevin memelas. Alih-alih menjawab, kepalan tangan Zidan malah semakin mengerat karena hebatnya emosi yang sedang bergelut di kepalanya. Ia kembali teringat pembicaraannya dengan Fais sebelum mereka berangkat ke Eyja tadi pagi. Saat Zidan bertanya apakah misi ini harus tetap dilanjutkan mengingat Ariel sudah melihat sesuatu yang buruk akan menimpa mereka di Eyja. Fais hanya menjawab: "Bukankah setiap misi kita memang selalu berbahaya? Tak ada bedanya dengan misi kali ini. Kamu tak perlu khawatir, aku tak akan membiarkan hal buruk menimpa kalian. Tapi satu yang perlu kamu ingat. Jika terjadi sesuatu denganku, aku serahkan Armour padamu. Tetap fokus, dan jangan pernah berpikir untuk membuang misi ini. Aku percaya padamu." Tanpa sadar Zidan menggertakkan giginya, urat-urat di keningnya menonjol dan tinjunya seakan siap melayang kuat menghantam apapun yang ada di sekitarnya. "Misi apa? Misi apa yang harus dilakukan? Aku tidak mengerti lagi. Siapa orang-orang tadi? Dari mana? Apakah mereka WoLf? Bawahan Kiriyan? Apa aku harus memanggil bantuan?" Sementara Zidan masih sibuk mengurai benang kusut di kepalanya. Nda terus saja berteriak dan meronta dalam pelukan Niya, wajahnya sudah basah karena keringat bercampur air mata. Remaja yang biasanya selalu ceria itu seolah sedang melihat dan mengalami sesuatu yang sangat mengerikan. "Zidan!" Kevin juga mulai hilang kendali, ia berteriak memanggil Zidan karena tak sabar menunggu apa yang harus dilakukan selanjutnya. "Diam! Aku sedang berpikir!" Zidan balas membentak. "Kita harus segera melakukan sesuatu!" "Baik! Kamu saja yang beritahu aku apa yang harus dilakukan!" "Kalian tidak perlu panik." Sebuah suara tiba-tiba menyela Zidan dan Kevin. Saat mereka menoleh ke arah datangnya suara yang tidak asing itu, mereka menemukan Suyi sedang melangkah mendekat dengan Kenma yang mengikuti dari belakangnya, seorang lelaki bergelagat kaku yang selalu berada di samping Suyi, bak seorang pengawal pribadi. "Dia sedang berada dalam Black Hole, ilusi satu menit," sambung Suyi lagi. "Sebaiknya dibawa saja ke rumah saya. Kita bisa bicara panjang lebar di sana." Wanita itu mengedikkan dagunya ke arah Nda yang terlihat mulai tenang tapi sekaligus kelelahan, tampaknya ia sudah tak sadarkan diri. --- Hangee Park, ukurannya sedikit lebih besar dari Tomo Park, dan juga lebih ramai pengunjungnya. Berbagai kelompok komunitas sering berkumpul dan melakukan kegiatan di tempat ini, terutama pada akhir pekan, Hangee Park adalah tempat favorit penduduk South City. "Thanks," kata Ai sambil meraih minuman yang disodorkan Ariel ke depan wajahnya. Ariel hanya tersenyum sambil mengambil posisi duduk di samping Ai. "Sudah lama aku nggak keluar dari SSU dan bersantai di luar kayak gini," gumam Ariel sambil merebahkan punggungnya di sandaran kursi taman dan menghirup napas dalam-dalam. "Jangan bilang kamu berbohong soal mimpimu hanya supaya kita dibolehkan berkeliaran di Hangee Park hari ini," Ai mulai curiga melihat prilaku Ariel yang terlalu santai. "Jangan khawatir, aku nggak bohong," Ariel nyengir di samping Ai. "Mana berani aku berbohong, SaO pernah menyarankan agar aku nggak berbohong soal mimpiku, karena jika sekali saja aku melakukannya, dia bilang akan ada nyawa yang melayang, dan bisa saja itu aku." "Kamu pernah bertemu SaO?" "Nggak, dia mengatakan itu melalui Luen, seperti biasa, kan." Ai hanya balas mengangguk-angguk sambil berpikir bahwa orang yang disebut SaO ini agak aneh. Tak ada yang tahu siapa dia, tapi tampaknya Luen sangat mempercayainya. "Baguslah," cetus Ai sambil kembali meneguk minumannya. "Aku sedang berpikir, mungkin selama bertahun-tahun Fais juga hampir tidak pernah bersantai seperti ini." Ariel tertawa cukup keras mendengar perkataan Ai barusan. "Sorry," katanya cepat saat Ai melempar tatapan kesal padanya. "Aku beri tahu kamu, ya. Luen nggak akan pernah ngelepasin rantainya dari leher Fais. Dia dan Kevin adalah Armour yang paling dijaga ketat. Kamu tahu sendiri, kalau mereka lepas dari kendali pemerintah, mereka bisa ngancurin apa saja dalam waktu singkat. Sejak awal, yang namanya Faisal Fandika itu nggak pernah bebas. Sementara Kevin, dia masih lumayan diberi kelonggaran, karena semua orang percaya dia anak baik, berbeda dengan Fais yang licik." "Kamu sangat membenci Fais, ya?" Ai ingin memastikan kecurigaannya. "Siapa bilang?" sahut Ariel cuek. "Oh... kamu memang orang yang baik, sudah diperlakukan kasar, masih tak bisa membenci." "Hei, jangan sembarangan baca pikiran orang, ya!" "Aku tidak membaca pikiranmu, aku hanya menerjemahkan gelombang sinyal dari otakmu dan..." "Kamu nggak perlu menjelaskan prinsip telepati padaku," sela Ariel jengkel dan hanya ditanggapi tawa oleh Ai. Tapi kemudian Ariel menghempas napas sambil kembali menyandarkan punggungnya dan menerawang ke arah langit yang membentang di atasnya. "Dia sebenarnya bukan orang jahat. Tapi dia terlalu banyak melalui peristiwa yang memaksanya untuk menjadi orang jahat. Kalau kamu pernah melihat senyum asli-nya, kamu pasti tahu, dia itu orang yang sangat lembut," gumamnya kemudian. "Seperti siput?" "Siput?" "Iya, cangkangnya terlihat keras, padahal dalamnya sangat lembut." "Nggak ada contoh yang lebih baik dari siput?" "Kura-kura?" Ariel tertawa lepas mendengar alternatif yang diberikan Ai, dan Ai juga tak bisa menahan tawanya. "Ai...," panggil Ariel saat tawanya sudah mulai reda. "Aku mau ke sana sebentar, kamu tunggu di sini," sambungnya sambil beranjak dan menggunakan dagunya untuk menunjuk bagian lain taman kota. "Apa? Kenapa..." Ai tak meneruskan pertanyaannya karena pikiran Ariel sudah dengan sendirinya memberikan jawaban. Bahwa sebenarnya Ariel melihat hal lain dalam mimpinya, ada ledakan yang akan terjadi di Hangee Park. "Tunggu... aku ikut..." Baru saja Ai beranjak, Ariel langsung mencegahnya. "Nggak usah, kamu di sini saja." Ai menangkap lengan baju Ariel sambil lalu bicara dengan gigi rapat menahan geram. "Jangan coba-coba menipuku, aku tahu semua yang kamu pikirkan," gerutunya jengkel. "Kamu tahu? Ah...," Ariel menghela napas sambil menepuk keningnya. "Padahal sejak tadi aku sudah berusaha menghindari tatapan denganmu." "Aku juga bisa mendengar isi kepalamu tanpa harus bertatapan mata." "Serius?!" "Hanya orang-orang tertentu, terutama mereka yang cukup akrab denganku. Lagipula memangnya kamu pikir cuma kemampuanmu yang bisa di-upgrade?" "Hiiii... bahaya sekali berada di dekatmu. Kemampuanmu itu benar-benar menjengkelkan." "Bukan saatnya membahas itu!" hardik Ai akhirnya. Tapi Ariel hanya tersenyum menanggapi kepanikan Ai. "Aku tahu apa yang kulakukan, aku tahu tempatnya dan akan kucari sebelum meledak. Radiusnya nggak luas, cuma beberapa meter, jika kuletakkan di tengah lapangan atau di tengah danau, semua orang akan selamat." "Justru itu kamu perlu bantuanku." Ai mengeratkan cengkramannya pada lengan baju Ariel. "Kamu hanya peramal, apa saja masih bisa terjadi, bahkan mungkin sesuatu yang tak kamu lihat di mimpimu!" "Ai, kamu membuang-buang waktu," Ariel melepaskan tangan Ai dari bajunya. "Aku perlu berkonsentrasi untuk mengingat kembali detail mimpiku. Lagipula, nggak ada gunanya kita bergerak berdua untuk melakukan hal yang sama. Kamu tetap di sini, percaya saja padaku. Aku janji bomnya akan ditemukan sebelum meledak." Kali ini ia memegang kedua pundak Ai, lalu perlahan menyuruhnya duduk kembali. Lelaki itu kemudian melambai singkat sambil terburu-buru berlari menjauh. Ai masih bisa menangkap gelombang otak Ariel yang berhasil ia terjemahkan. Ariel sebenarnya tak yakin dengan posisi bom itu, ia harus sedikit mencari karena gambaran yang ia lihat dalam mimpinya tak terlalu jelas. Itulah sebabnya ia tak ingin Ai ikut, ia takut Ai akan terkena dampak ledakan jika – entah bagaimana – ia tak berhasil menemukan bom yang akan meledak itu. Selain itu, Ariel juga memikirkan tanggung jawabnya terhadap Fais, seandainya terjadi sesuatu pada Ai, apa yang harus ia katakan saat lelaki itu kembali nanti? "Kamu bertengkar dengan pacarmu?" seorang wanita tiba-tiba muncul entah dari mana dan duduk di samping Ai. Ai menoleh dan menatapnya bingung, tapi ia segera mengendalikan diri dan mengulum senyum. "Tidak, dia bukan pacar saya. Anda salah paham," sahutnya kemudian. "Benarkah? Sayang sekali, padahal dari tadi aku mengamati kalian, sepertinya kalian sangat cocok," ujar wanita berkacamata itu. Rambutnya pirang bergelombang sebahu, kulitnya terlalu putih bahkan terkesan pucat, dan pakaiannya rapi bak seorang istri direktur perusahaan besar. Ia lalu membalas senyum kaku Ai dengan senyum yang sangat cerah, seolah mereka sudah kenal lama. "Kamu tidak mau menyusulnya?" tanya wanita asing itu lagi. "Saya bermaksud menyusul jika dalam beberapa menit ia tidak kembali." Wanita itu kemudian mengangguk-angguk sambil lalu menatap lurus ke arah billboard dalam bentuk layar hologram di salah satu sudut taman. Layar itu kini sedang menayangkan sekilas berita tentang kejuaraan sepakbola nasional antar Secondary School yang dilaksanakan setiap tahun. "Ini hari pertama Kejurnas ya," ia memulai obrolan baru. "Ah... iya benar," balas Ai sedikit tergagap. Ia tak menyangka wanita itu masih ingin mengobrol. "Ada sekitar 50 sekolah yang mengikuti Kejurnas. Ini hari pertama, semuanya datang dengan membawa impian untuk menang. Berlatih selama setahun penuh untuk mengikuti kejuaraan ini. Tapi akan ada separuh dari mereka yang kalah dan pulang di hari pertama ini juga." Wanita itu kembali tersenyum dengan tatapan menerawang. "Nona, kamu tahu kenapa semua orang ingin mencapai puncak?" tanyanya lagi, tapi ia tak menunggu jawaban Ai. "Mereka saling berlomba, karena puncak itu tempat yang tinggi... dan sempit. Kamu mengerti? Tidak semua orang bisa berada di atas. Harus ada yang dikorbankan. Tidak ada kebahagiaan yang tak berdiri di atas penderitaan orang lain." Ai terhenyak mendengar akhir kalimat wanita misterius itu. Dia mengatakannya dengan tatapan mata yang kosong dan senyum yang terkesan putus asa. Dari samping, wajahnya seperti sedang memikirkan banyak hal. Ia kemudian menghela napas panjang sebelum kembali melanjutkan. "Dan dunia ini dipenuhi dengan ketidakadilan. Ada yang telah belajar mati-matian, tapi hasil akhirnya tak pernah istimewa. Ada yang hanya berusaha sedikit, tapi sudah mendapatkan hasil yang luar biasa. Ada yang sangat mencintai seseorang, tapi sampai akhir pun ia tak akan bisa mendapatkan orang tersebut. Ada juga yang sudah menjadi sepasang kekasih, namun di dalam hati masing-masing ada cinta di masa lalu yang tak pernah tersampaikan. Hidup ini tidak seperti cerita dongeng yang selalu berakhir indah. Hidup ini menyimpan banyak hal yang sering tak terungkap bahkan sampai akhir hayat seseorang." Ai terperangah dan hanya bisa diam seribu bahasa mendengar kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir wanita itu. Terasa begitu putus asa, sendu... seolah ia telah kehilangan semua harapannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN