Chapter V.3

2389 Kata
Ai terperangah dan hanya bisa diam seribu bahasa mendengar kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir wanita itu. Terasa begitu putus asa, sendu... seolah ia telah kehilangan semua harapannya. Wanita yang sudah berumur namun masih tampak cantik itu kini menghela napas panjang sambil tersenyum tipis. "Kamu pernah melihat pertandingan sepakbola?" tanyanya lagi. Ai mengangguk polos. "Tapi sebenarnya aku tidak terlalu suka," jawabnya kemudian. Wanita itu lalu tersenyum sambil kembali menatap luruh ke arah langit di hadapannya. "Meski sebuah tim memenangkan pertandingan, kamu pikir ada berapa orang yang duduk di bangku cadangan dan tak pernah mendapat kesempatan untuk bermain? Apa menurutmu orang-orang cadangan itu merasakan kebahagiaan yang sama dengan para pemain inti?" Suaranya terdengar seperti gumaman, seolah ia sedang bicara pada dirinya sendiri. "Setiap ada yang cemerlang, pasti ada yang akan tenggelam. Di dalam kontes ratu kecantikan misalnya, atau kontes menyanyi dan semacamnya. Bisakah para juara itu meraih kemenangan tanpa harus membuat yang lainnya kalah?" "Begitulah namanya kompetisi. Selalu ada yang menang dan yang kalah," sela Ai akhirnya. "Benar. Kamu tidak salah. Itulah namanya kompetisi. Dan seperti itulah sebenarnya kehidupan manusia. Selalu ada yang harus dikorbankan demi meraih kebahagiaan. Makanya, kesejahteraan bagi semua orang itu adalah suatu hal yang mustahil. Kita tak akan pernah bisa membahagiakan semua pihak." Aneh. Itulah kesan pertama yang didapat Ai dari wanita ini. Ia tiba-tiba saja datang dan duduk di sebelahnya, lalu mengoceh tentang banyak hal. Ini adalah obrolan berat yang jarang dibicarakan di hari Minggu yang cerah, di mana semua orang sedang memancarkan aura keceriaan. "Uhm... maaf, apa Anda sedang ada masalah?" tanya Ai yang akhirnya tak bisa menahan penasaran. "Iya," jawab wanita itu sambil tersenyum tipis. "Tapi sebenarnya ini bukan hanya masalah saya. Ini masalah semua orang. Dari dulu, saya selalu bertanya-tanya, adakah cara yang bisa membuat semua orang bahagia tanpa harus ada yang dibiarkan menderita. Bertahun-tahun saya memikirkannya. Tapi jawabannya selalu sama. Tidak ada." Semakin jauh ia berbicara, wajahnya tampak semakin murung. "Kenapa Anda bicara begitu?" "Ah... nona muda... bahagianya jika kamu bisa terus tidak tahu." Wanita itu kembali menghela napas panjang. "Saya juga ingin tidak tahu, saya tak ingin melihat kucing kurus yang terlantar di pinggir kota, korban perang yang tertimpa reruntuhan bangunan, ataupun orang miskin yang kelaparan, saya ingin menutup mata atas semua kejadian itu. Tapi walau bagaimanapun saya mencoba, semua hal menyedihkan itu tak akan pernah hilang, saat ini di suatu tempat di dunia, pasti ada yang sedang kesulitan bahkan untuk mencari sesuap makanan saja. Saya tahu, tragedi itu ada di mana-mana, dan tak ada yang bisa saya lakukan untuk membantu semuanya." Ai tak bisa mencegah kedua belah bibirnya yang mulai merenggang, membuat ekspresi bingung dan heran terlihat jelas di wajahnya. Bagaimana mungkin ada orang yang berpikir seperti itu? Memikirkan kesusahan semua orang di muka bumi, membantu semua orang yang sedang menderita? "Tentu saja Anda tidak akan bisa menolong semuanya sendirian," balas Ai akhirnya. "Minimal Anda bisa berbuat sesuatu untuk sekitar Anda saja, itu sudah lebih dari cukup." "Benar, itulah yang sedang saya lakukan," sahut si wanita asing lagi. "Saya hanya bisa merangkul apa yang bisa diraih oleh tangan saya, dan terpaksa menutup mata untuk tragedi lainnya yang tak bisa saya jangkau. Karena memang tak akan pernah ada cara untuk membahagiakan semua orang." Lagi-lagi mata wanita itu menatap kosong ke arah langit yang membentang di atas Hangee Park. "Kesedihan dan kebahagiaan akan selalu berdampingan, karena tak ada yang bisa naik tanpa harus menginjak sesuatu." Apa yang dikatakan wanita itu memang terkesan aneh, tapi tentu saja beberapa hal juga terdengar sangat masuk akal. Ia bicara begitu dalam mengenai permasalahan kemanusiaan, seolah ia memang telah memikirkan semua ini sejak bertahun-tahun lamanya. Ai jadi ingin tahu, siapa sebenarnya dia. "Nama saya Aisyah," ujar Ai kemudian. "Boleh saya tahu nama Anda?" Tepat setelah Ai menanyakan itu, seorang pria berpakaian olahraga menghampiri wanita itu dan berbisik di sebelahnya. Wanita itu pun kemudian mengangguk dan beranjak sambil sedikit membenahi bajunya. Ia lalu memberi tatapan ramah pada Ai. "Senang bisa mengobrol denganmu. Matamu bulat dan jernih seperti mata anak rusa," katanya lagi sambil tertawa pelan. "Sampai bertemu lagi." Ia melambai singkat dan berlalu pergi diikuti beberapa orang yang tampak seperti pengawalnya – meski mereka mengenakan pakaian santai untuk berbaur. Untuk beberapa saat Ai masih terpaku di tempatnya berdiri sambil mengamati kepergian sekelompok orang tadi. "Shura..." gumamnya pelan. Meski wanita itu tak pernah menyebutkan namanya, namun bukan hal yang sulit bagi Ai untuk mengetahuinya. Nama wanita itu adalah Shura. Nama yang tidak asing, terdengar familiar bagi orang Avalon. Jika memang ia adalah Shura yang ada di pikiran Ai, tak heran ia mendapat pengawalan seperti itu. Sekilas tadi, Ai sempat mendengar isi hatinya. Sepertinya ia sedang kesulitan untuk memutuskan sesuatu, ada kesedihan yang begitu dalam, ada beban yang begitu berat. Dan entah kenapa, setelah bicara dengan wanita itu, perasaan Ai jadi tidak enak, seolah ada badai besar yang akan terjadi di negeri ini. "Ai..." Tiba-tiba seseorang menepuk pelan pundak Ai. Gadis itu menoleh dan menemukan Ariel tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. "Kamu berhasil menemukan bom-nya?" tanya Ai. "Hehe... tentu saja, aku bahkan berhasil menjinakkannya," jawabnya bangga. "Aku juga sudah menghubungi Divisi-6 dengan menyamar sebagai warga awam. Detail lokasi bom-nya juga sudah kuberitahu, sebentar lagi mereka pasti datang. Sebaiknya kita segera pergi dari sini." "Bom-nya di mana? Tidak apa-apa kita tinggalkan begitu saja?" "Pokoknya tenang saja, semua sudah aman, yang penting kita harus pergi dulu. Kamu lupa, ya? Kita nggak boleh terlihat ada di lokasi kejadian, nggak ada yang boleh mencurigai kita terlibat dalam kasus apapun. Identitas Armour dirahasiakan kecuali Fais. Jadi untuk menghindari kecurigaan..." "Iya... iya, aku ingat. Cerewet," gerutu Ai sambil berbalik dan melangkah lebih dulu meninggalkan Ariel. Namun langkah Ai membeku saat mendengar apa yang disiarkan di billboard hologram raksasa yang ada di taman itu: "Breaking News, sebuah ledakan telah terjadi di Ring III Ivory Palace. Tepatnya di Markas Pusat Divisi-6. Saat ini masih belum diketahui..." Suara sang penyiar berita terdengar menggema dan semakin menjauh, Ai tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia menatap Ariel di sebelahnya, ternyata memang hal seperti ini tak dapat dihindarkan. Ketika ia mengubah apa yang sudah seharusnya terjadi, terkadang ada konsekuensi yang tak dapat diprediksi bahkan oleh SaO sekalipun. Suatu peristiwa yang telah digariskan untuk terjadi dan dipaksa berubah oleh Ariel, peristiwa itu sebenarnya tak pernah hilang dari garis waktu, melainkan hanya dibelokkan ke waktu dan tempat yang berbeda. Dan itulah yang saat ini sedang terjadi. Bom yang harusnya meledak di taman itu... kini telah meledak di kantor Tama Hargiansyah, ayah Hagi. --- "Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Niya sambil menatap Nda yang kini terbaring lemah tak sadarkan diri di atas tempat tidur Suyi. "Dia akan baik-baik saja." Suyi duduk di bibir tempat tidur dan meraba kening Nda. "Black Hole tidak memberikan luka fisik. Meskipun begitu, membuat penderitanya mengalami siksaan di alam bawah sadar juga cukup berbahaya. Tapi gadis ini sepertinya sangat kuat, kamu tidak perlu cemas." Ruangan kembali hening setelah penjelasan Suyi tadi. Kenma masih berdiri dengan posisi siaga bak tentara yang sedang menjaga pintu di belakangnya. Zidan hanya berdiri menyandar di dekat jendela kamar, matanya menatap kosong ke arah langit cerah yang membentang biru di atas tanah Eyja. "Langit Eyja benar-benar indah," Zidan menggumam tanpa mengalihkan pandangannya. Walaupun suaranya pelan, tapi karena ruangan itu sangat hening, gumaman Zidan terdengar jelas dan cukup menyita perhatian. "Di Avalon, saya nyaris tidak pernah melihat gumpalan awan putih yang berarak dan bergerak perlahan, berlatarkan langit sebiru ini," sambungnya lagi. Suyi tersenyum sambil ikut melihat keluar jendela. "Langit Eyja selalu seperti ini," ujarnya. "Suyi... Apa Anda tahu siapa orang-orang yang tadi?" Kali ini Zidan menatap Suyi dengan mata yang mulai mengisyaratkan keputus-asaan, menunggu jawaban sambil mencoba tetap tegar. "Saya... saya tidak tahu siapa yang harus dipercaya. Belakangan ini saya merasa apa yang kami lakukan semakin tidak jelas tujuannya. Sekarang, setelah pemimpin kami hilang dan tak diketahui nasibnya, saya merasa semakin kehilangan pijakan." Zidan sendiri tak tahu apa yang membuatnya bicara begitu. Entah kenapa, melihat mata teduh milik Suyi, ia merasa bisa mencurahkan kegelisahannya, dan mendapatkan kenyamanan di sana, di mata yang ramah itu. Suyi menarik napas panjang sambil lalu mengusap-usap kepala Nda yang masih tertidur pulas. "Anak-anak muda yang malang," gumamnya. "Jika saja ada yang bisa saya lakukan. Sayangnya, saya hanya orang tua yang tak bisa berbuat apa-apa." Mata teduh wanita tua itu mulai tampak dirundung kesedihan. "Saya akan menceritakan semuanya, semoga saja ini bisa membantu." Tanpa perlu mengatakan apapun, Suyi menoleh pada Kenma dan lelaki itu langsung tahu apa yang harus ia lakukan. Ia keluar dari kamar untuk mengangkat bangku kayu tanpa sandaran yang ada di teras depan rumah, diletakkannya bangku itu di sebelah Niya kemudian memberi anggukan pada Zidan. "Duduklah," kata Suyi sambil tersenyum ramah. "Kamu perlu sedikit rileks, kalau tidak nanti ubanmu semakin banyak," ujarnya sambil terkekeh pelan, membuat wajah Zidan sedikit merona. Ia pun akhirnya berjalan kaku menuju bangku itu. "Mereka adalah Exorcist," Suyi akan memulai penjelasannya. "Bagian dari Warriors, tim elit khusus yang menerima perintah langsung dari Sanctuary," sambungnya sambil mengalihkan tatapan pada Kenma yang masih bergeming berdiri di mulut pintu. "Kenma adalah satu dari mereka. Ia ditugaskan untuk menjaga... tidak... untuk mengawasi saya. Selama saya tidak berbahaya, ia akan menjamin keselamatan saya. Tapi ketika saya menunjukkan tanda-tanda menentang pemerintahan, ia ditugaskan untuk membunuh saya." Zidan dan Niya tak bisa menyembunyikan kekagetan mereka atas penjelasan itu, mereka menatap Kenma tak percaya. Dilihat dari manapun, lelaki itu adalah bodyguard Suyi. Bagaimana mungkin...? "Meskipun begitu, Kenma adalah orang yang baik," Suyi tersenyum menenangkan. Ia lalu menegakkan duduknya dan menatap lurus kepada Zidan dan Niya yang ada di hadapannya. “Saya adalah Sacred Oracle, atau yang biasa kalian sebut SaO," katanya kemudian. "Sayalah yang menemukan kalian. Sebenarnya saya merasa bersalah telah membuat anak-anak muda berbakat seperti kalian kehilangan masa muda dan malah terlibat dalam urusan-urusan yang berbahaya. Kalau saya tahu kalian dikumpulkan untuk menanggung pengalaman-pengalaman buruk seperti ini, dulu saya tidak akan membuka mulut tentang kalian." Mulut Zidan merenggang dan Niya menegakkan punggungnya seolah tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar. Tapi wanita yang ada di hadapan mereka itu masih tersenyum tenang sebelum kembali melanjutkan. "Saya mampu menetralkan semua kemampuan kalian, Faisal pernah mencoba menggunakan kemampuannya pada saya, namun ia gagal. Itulah sebabnya saat Nona muda ini ingin memanipulasi memori saya tadi, saya sama sekali tidak terpengaruh." Suyi menatap Nda di tengah kalimatnya sebelum akhirnya ia memandang Armour yang lainnya. Dua orang Armour yang duduk bersebelahan itu tak tahu mau berkomentar apa, mereka tak pernah menduga akan bertemu dengan SaO di tempat seperti ini. "Warriors sudah ada jauh sebelum Armour terbentuk, mereka terbagi menjadi beberapa Unit. Dan yang barusan kalian hadapi adalah Exorcist, seperti Armour, Exorcist juga beranggotakan orang-orang berkemampuan khusus. Tapi berbeda dengan kalian, kemampuan mereka adalah tipe petarung yang tugas utamanya untuk melenyapkan orang yang dianggap mengganggu kepentingan Sanctuary." "Suyi, tidak apa-apa menceritakan semua ini dihadapan Kenma?" tanya Niya dengan raut kepanikan yang tampak jelas di wajahnya. Bagaimana jika Kenma tiba-tiba bergerak dan membunuh Suyi? Tapi Suyi malah tertawa ringan menanggapi kekhawatiran Niya. "Saya sudah pasrah jika suatu saat akan mati di tangannya," katanya sambil memberi tatapan hangat pada Kenma. "Saya sudah berkali-kali menyampaikan ketidaksukaan pada rezim Zoire, bahkan menanyakan pendapat Kenma tentang bagaimana cara menjatuhkan Zoire dan menarik keluar Sanctuary. Tapi mungkin apa yang saya lakukan ini belum bisa dikategorikan membahayakan, makanya Kenma tidak pernah mengambil tindakan." Lelaki yang sedang dibicarakan itu tetap berdiri kaku di mulut pintu. Kedua bola matanya mengarah lurus ke udara kosong di hadapannya, dan wajah itu masih tanpa ekspresi. "Apa Kiriyan juga bagian dari mereka?" tanya Niya menyela. "Tidak. Kiriyan adalah orang yang menggerakkan para pemuda di Eyja untuk melawan, mereka menyebut diri mereka sebagai Pejuang Eyja. Sanctuary menyadari ancaman itu dan ingin segera menghabisi mereka meski harus membakar habis pulau Eyja. Tapi sepertinya Zoire tidak setuju. Itulah sebabnya saat ini Sanctuary dan Zoire berselisih. Dulu Sanctuary bergerak sangat rapi untuk memenangkan Zoire sebagai pemimpin Avalon, mereka mengira bisa menjadikan Zoire sebagai pemimpin boneka. Lebih dari separuh Ivory Palace adalah orang Sanctuary, dan Zoire sadar akan posisinya saat ini. Namun sepertinya ada hal-hal tertentu yang ingin dipertahankan oleh Zoire dan tidak bisa dikendalikan oleh Sanctuary." "Maksud Suyi, Zoire ingin melindungi Eyja?" Kali ini Zidan yang menyela dengan pertanyaan. "Sebenarnya hal ini bukanlah sebuah rahasia, namun 'mereka' tidak ingin orang-orang di Avalon Daratan membicarakan ini. Akibatnya sangat sedikit orang yang menyadari bahwa Zoire adalah Putri Shura...," jawaban Suyi membuat Zidan dan Niya saling bertukar tatapan kaget kali ini. Tentu saja mereka kenal dengan nama itu, satu-satunya keturunan kerajaan Avalon yang sempat tersisa. Saat terjadi kudeta untuk merebut kursi kepemimpinan Raja, kedua orang tua Shura terbunuh, putri kecil itu pun kemudian diasingkan ke Eyja. Masyarakat diberi tahu bahwa Putri Shura sudah mati, dan tidak ada lagi keturunan kerajaan Avalon yang akan meneruskan tahta. Lalu negara diambil alih dan berubah menjadi sebuah negara yang katanya berdemokrasi. "Selama belasan tahun, Putri Shura hidup di Eyja bersama pelayan-pelayan setianya, termasuk di antara mereka adalah keluarga saya. Tak lama setelah pengasingan itu, sistem 4 in 1 pun diterapkan dan satu persatu anak mulai dikirim ke Eyja. Sesekali Avalon Daratan juga mengirim pejabat yang dianggap membangkang, keluarga Kiriyan adalah salah satunya. Lalu, semakin hari, persahabatan antara Kiriyan, Shura, dan Luen semakin mengerat." Mata Suyi menewarang ke arah langit melalui jendela kamar itu, mengenang masa lalunya. Sementara sambil terus mendengarkan, Niya mengerling ke arah Nda yang tampak sudah membuka matanya, ia mendengarkan dengan seksama sambil memilih untuk tetap diam. "Tunggu dulu, Luen?" Niya tak mengerti kenapa tiba-tiba nama itu disebut. "Ah... maaf, saya melewatkan bagian penjelasan yang penting. Saya kira kalian semua sudah tahu, Luen adalah adik kandung saya." Para Armour itu saling melempar tatapan bingung. "Apa sebelumnya sudah ada yang memberitahu kita soal ini?" tanya Zidan memastikan. Namun jawaban yang ia dapat dari teman-teman Armour-nya hanya berupa kerdikan bahu yang menandakan bahwa mereka juga sama bingungnya. “Tidak ada yang tahu soal ini." Suyi dengan sukarela menjawab kebingungan mereka. "Keluarga kami sudah disumpah untuk selalu berada di barisan terdepan saat keluarga kerajaan terancam bahaya. Saya dan Luen bertanggung-jawab menjaga darah terakhir keluarga kerajaan Avalon, Putri Shura." "Lalu kenapa Anda berada di sini sementara Luen tetap berada di sisi Zo... maksud saya... Putri Shura?" tanya Zidan lagi. Suyi tak langsung menjawabnya, ia mengambil jeda sambil mengalihkan tatapan pada seprai tempat tidur di hadapannya. "Ya... gadis kecil yang sangat saya sayangi itu kini sudah berubah menjadi Zoire. Ia bukan lagi Putri Shura yang saya kenal." Suyi mengusap sesuatu di sudut matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN