“Gadis kecil yang sangat saya sayangi itu kini sudah berubah menjadi Zoire. Ia bukan lagi Putri Shura yang saya kenal." Suyi mengusap sesuatu di sudut matanya.
"Putri Shura yang saya kenal adalah gadis yang ceria dan berhati mulia, yang dicintai semua orang. Ketika usianya 26 tahun, ia menikah dengan seorang Kapten Divisi 4. Lalu ia dibawa kembali ke Avalon Daratan. Putri Shura membawa para pelayan setia bersamanya, tapi saya harus tinggal karena terbatasnya kuota orang yang bisa dibawa keluar," ujar Suyi lagi.
"Luen tega meninggalkan Anda, saudara kandungnya sendiri, di pulau ini?"
Suyi tertawa pelan mendengar pertanyaan Niya. "Bagi saya dan Luen, Putri Shura harus didahulukan di atas kepentingan apapun. Putri Shura memang cukup dekat dengan saya, tapi ia akan baik-baik saja meski tanpa kehadiran saya. Namun Luen berbeda, Luen mencintai Putri Shura lebih dari apapun. Mereka berdua hampir tak terpisahkan. Saya juga bertekad untuk mengabdi dengan cara yang lain. Saya memutuskan untuk menjaga Eyja menjadi rumah yang bisa mereka datangi kembali, jika suatu saat mereka ingin pulang."
Ruangan mendadak hening setelah penjelasan Suyi. Angin bertiup dari jendela, membuat kain tirainya berkelebat disertai suara desiran yang menenangkan.
"Namun semua jadi berubah ketika Putri Shura terpilih menjadi presiden Avalon," Suyi masih ingin melanjutkan ceritanya. "Saya ingat, keinginan terbesarnya adalah merebut kembali Avalon, membalaskan dendam keluarganya yang telah dibunuh demi kepentingan politik yang mengatasnamakan demokrasi. Ia rela melakukan apa saja demi bisa duduk di kursi pimpinan tertinggi Avalon, termasuk bekerja sama dengan Sanctuary. Setelah ia berhasil memimpin Avalon, ia merombak undang-undang negeri ini agar bisa kembali menjadi Avalon yang seharusnya, Avalon sebelum dikudeta. Meski semua berjalan baik, tapi ia tetap menghadapi banyak rintangan. Ia tak bisa membebaskan seluruh penduduk Eyja ataupun menghapus 4 in 1, karena Sanctuary menentang. Hingga kemudian, dengan berbagai upaya dan negosiasi, ia berhasil membebaskan keluarga Kiriyan untuk kembali ke Avalon Daratan."
"Lalu kenapa Kiriyan..."
"Ya... pada akhirnya Kiriyan memberontak." Suyi tahu apa yang akan ditanyakan oleh Niya bahkan sebelum ia menyelesaikan pertanyaannya. " Putri Shura ingin mengubah banyak hal seperti yang ia cita-citakan, tapi itu tentu tidak mudah. Bertahun-tahun ia berusaha, hasilnya tak pernah sesuai dengan yang ia inginkan. Ia mulai merasa lelah dan putus asa. Putri Shura hanya ingin menyelamatkan semua orang... tapi ia mulai merasa itu adalah keinginan yang bodoh. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti berusaha. Ia merasa tidak apa-apa jika tak mampu menolong, selama ia tidak tahu. Maka ia membuat Avalon Daratan sejahtera agar apa yang tampak di matanya hanya kebahagiaan saja, dan memilih untuk menutup mata terhadap penderitaan orang Eyja."
Mata Suyi tampak basah saat ia menatap ke arah luar jendela. "Beban yang dipikulnya terlalu berat," gumamnya lagi, "kalian mungkin tak akan mengerti, seberapa besar Putri Shura ingin melihat semua orang bahagia. Hanya saja, ia sudah terlanjur menempuh jalan yang salah, dan memutuskan untuk menyerah. Tapi Kiriyan menolak untuk mengikuti arus, ia menolak untuk diam. Maka yang terjadi selanjutnya adalah apa yang kalian lihat saat ini..."
---
Saat Fais membuka matanya, ia tak bisa melihat warna apapun selain hitam. Dikedip-kedipkannya matanya untuk menemukan cahaya, sampai kemudian ia sadar ada semacam kain yang diikatkan ke belakang kepala untuk menutupi matanya. Ia juga mencoba membuka mulut dan menarik napas, tapi jalur udara tertutup, kali ini ia yakin ada plester yang menutupi mulutnya. Dan tangannya juga terikat di belakang tubuhnya, kakinya terikat di masing-masing kaki depan kursi, sama sekali tak bisa digerakkan.
Fais mengatur napas, mengisi penuh udara di paru-parunya sebelum kemudian menghembuskannya perlahan. Saat ini, ia sedang duduk terikat di sebuah kursi dengan mata dan mulut yang ditutup rapat. Tapi Fais tahu, ia harus tetap tenang, sedikit pun ia tidak boleh panik.
"Kita tidak salah tangkap orang, kan?" tanya sebuah suara lembut milik seorang wanita.
"Tidak. Dia Kapten Armour. Faisal Fandika, masa kamu tidak tahu?" sahut suara lainnya.
"Mana aku tahu."
"Ya ampun, Rey. Dia beberapa kali muncul di TV loh."
"Memangnya dia artis?"
"Bukan. Tapi dia orang terkenal. Si jenius berwajah malaikat. Semua orang mengidolakannya."
Kali ini yang bicara adalah Han, orang yang tadi memukulnya. Fais masih ingat betul logat lelaki feminim itu.
"Benar."
Lalu suara lain yang terdengar cukup ringan. Fais menebak dari suaranya, usia lelaki ini tak jauh berbeda dengannya. "Dia yang selalu disebut-sebut, Perfect Prodigy. Tidak salah lagi."
"Dia tampan sekali loh." Han mendadak terdengar sangat bersemangat,
"Rin saja sampai jatuh cinta pada pandangan pertama."
"Zen, boleh buka penutup matanya tidak? Aku ingin lihat wajahnya."
"Terlalu berbahaya," jawab suara ringan lelaki yang dipanggil Zen itu, sepertinya dia pemimpin kelompok ini. Walaupun cara bicaranya terdengar santai, tapi ada yang membuatnya memberikan kesan seorang pemimpin. Dia penuh pertimbangan dan cukup pintar. "Apa kalian lupa? Dia bisa mengendalikan orang. Kenma contohnya, waktu itu dia dihipnotis untuk terus berdiri di gerbang Blue Gate. Kita tidak tahu bagaimana orang ini melakukannya, bisa saja melalui tatapan mata, ucapan, sentuhan atau apa."
"Kita suruh saja Han yang buka. Kalau Han dikendalikan olehnya, kita bisa membunuhnya dengan mudah." Suara wanita yang bernama Rey memberi saran, dia adalah si pirang yang anggun tadi.
"Apa katamu? Bakatku yang paling dibutuhkan di sini, tahu?!" Han membela diri.
"Siapa yang butuh bakatmu? Kamu cuma bisa mencuri kemampuan orang!"
"Aku tidak mencuri, aku meminjam!"
"Hei, jangan bicara terlalu banyak, dia bisa mendengar kalian," lerai Zen.
Fais menggerutu dalam hati, kalau saja Zen tidak menghentikan obrolan itu, Fais sudah bisa mengumpulkan informasi lebih banyak tentang kemampuan khusus mereka.
"Han, lakukan tugasmu," perintah Zen pada si lelaki centil.
"Siap, Bos!" seru Han girang. Fais lalu mendengar suara langkah yang mendekatinya. Ia tak bisa melihat apa-apa, dalam keadaan begitu, ketegangan karena tak tahu apa yang akan mereka lakukan membuatnya gugup dan berkeringat karena rasa was-was.
"Aku gigit bagian mana ya enaknya?" Suara Han terdengar sangat dekat di telinga Fais.
"Menjijikkan." Lalu suara berat seorang lelaki yang dikenali Fais sebagai pawang hewan itu terdengar kesal bersamaan dengan langkah lain yang terdengar mendekat.
Detik berikutnya, Fais merasakan perih di lengan kanannya, seseorang baru saja menggores lengannya dengan benda tajam.
"Berhenti main-main! Fokus!" bentak si pawang hewan lagi.
"Hei! Hei! Jangan bercanda! Apa-apaan ini?!" batin Fais panik saat ia merasakan seseorang sedang menghisap darah dari lengan kanannya yang terluka. Ia mencoba meronta, tapi setiap kali ia bergerak, ia hanya membuat kulitnya bergesekan dengan tali yang mengikatnya. Pergelangan tangannya juga mulai berdarah saking kerasnya ia berusaha melepaskan diri.
"Baiklah. Mari kita coba!" Han berseru girang. "Ben, lakukan tari perut!" Suara Han terdengar penuh semangat untuk mencoba kemampuan barunya.
"Jangan perintahkan yang aneh-aneh!" Lagi, si pengendali hewan yang ternyata bernama Ben itu dibuat jengkel oleh tingkah Han.
"Eh? Dia tidak menurut. Harusnya aku bisa menyuruhnya melakukan apa saja, kan?"
"Mungkin kamu harus memberi perintah sambil menyentuhnya," saran Rey.
"Kurasa kamu harus menyebut nama lengkapnya."
"Apa perintahnya harus dilakukan dari jarak dekat?"
"Coba bicara sambil tatap matanya."
Satu per satu mereka bergantian memberi saran, hingga suara Zen terdengar menutup ocehan mereka. Sepertinya Han akan menuruti saran Zen, yaitu bicara sambil menatap mata.
"OK! Ben, lihat sini! Akan kubuat kau melakukan tari perut sampai besok pagi."
"Enak saja! Kubunuh kau!"
"Kamu harus bekerja sama dong!"
"Jangan coba-coba mempermalukanku, ya! Coba saja kekuatan itu pada Rey atau Rin!"
"Awas kalau kamu berani mendekat!" Dua orang wanita terdengar langsung memagari diri.
"Merepotkan saja," keluh Han akhirnya, "ya sudah, biar kucoba padanya."
Tepat saat Han mengatakan itu, kain penutup mata Fais terbuka. Fais harus agak memicingkan mata untuk kembali membuat matanya beradaptasi dengan cahaya lampu. Apa yang ia lihat berikutnya adalah sepasang mata milik lelaki bernama Han itu. Tepat di hadapannya.
"Ya ampun... matanya berwarna cokelat, jernih sekali. Aku bisa melihat bayanganku sendiri." Han berseru memekakkan telinga. "Tatapannya tajam seperti elang. Zen! Boleh aku bawa pulang?"
"Kalau kamu masih main-main. Kubakar mukamu," ancam lelaki yang dipanggil Zen itu.
"Sorry... sorry... Hei cowok keren, coba sini lihat aku." Di akhir kalimatnya, Han bicara dengan nada genit pada Fais. Tapi dengan putus asa Fais hanya bisa berusaha menghindari tatapannya. Jika memang lelaki bernama Han ini bisa meminjam kemampuannya, maka ia tak boleh membiarkan dirinya berada dalam pengaruh mereka. Apapun yang terjadi.
Han kini memposisikan wajahnya tepat beberapa senti di hadapan wajah Fais. "Hei... lihat sini dong," pintanya lagi dengan nada membujuk. Tapi kali ini Fais harus menutup matanya rapat-rapat, ia bertekad tak akan membuka mata walau apapun yang akan mereka lakukan padanya.
"Cukup."
Sebuah senyum puas merekah di wajah Zen. Ia melangkah mendekati Fais dan menatapnya dengan ekspresi kemenangan. "Jadi harus dengan perintah lisan dan tatapan mata, ya," ia lalu tertawa di tengah kalimatnya, "kita sudah tahu cara kerja kekuatannya."
---
Ring II, Ivory Palace.
Para pelayat terus berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa kepada keluarga Kapten Divisi-6 yang baru saja gugur saat terjadi bom di kantornya pagi tadi. Ya, bom itu meledak tepat di ruangan Kapten Tama, ia terbunuh bersama puluhan Polisi lainnya yang saat itu berada di lokasi kejadian.
Sinar matahari sudah berubah menjadi warna jingga saat Ai baru saja tiba di rumah Hagi, dan menemukan lelaki itu sedang mengendap-endap menuju balkon di lantai dua. Tampaknya ia sedang tak ingin bicara dengan siapapun dan memutuskan untuk meninggalkan ruang utama.
Saat Ai menghampiri Hagi di balkon rumah megah itu, ia sedang berdiri menghadap tepi langit senja dan membelakangi Ai. Sebelah tangannya disembunyikan dalam saku celana setelan jas hitam yang – Ai tahu – hanya baru ia kenakan dua kali seumur hidupnya, sementara jemari tangannya yang lain bergerak perlahan mengikuti relief pada pagar balkon di hadapannya.
Matanya sendu menatap setiap lekukan pada relief beton itu, sebelum akhirnya ia melempar tatapan kembali ke arah matahari sore di atas pucuk-pucuk eukaliptus yang berbaris di depan sana. Kedua pundaknya terangkat naik saat ia mengisi penuh udara ke dalam paru-parunya dan menghela napas panjang perlahan, seolah ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya dan ia sedang berusaha membuang itu tanpa ingin orang lain menyadarinya.
"Ayahku selalu bilang..." Hagi membuka suara begitu saja, seolah ia sudah tahu Ai ada di belakangnya. "Sebagai lelaki, hidupku akan lebih berarti jika aku memiliki sesuatu yang sangat penting. Ia bilang, jika suatu hari aku menemukan sesuatu itu, maka hanya dengan melindunginya aku sudah membuat diriku berkali-kali lipat lebih kuat dibandingkan orang lain yang tak memiliki apapun untuk dilindungi."
Lelaki itu berbalik dan menatap lurus ke dalam mata Ai. "Aku sudah memutuskan bahwa kamu adalah orang yang sangat penting dan harus kulindungi," katanya lagi. "Tapi aku tak pernah menduga kita akan berakhir seperti ini."
Ai baru saja membuka mulutnya untuk bertanya tentang akhir seperti apa yang dimaksud oleh Hagi. Karena sesungguhnya Ai tak ingin apapun berakhir di antara mereka.
Saat Ai mengetahui rahasia Hagi di kantin waktu itu, Ai terlalu terbawa emosi. Ia sangat shock, mengira Hagi telah bersandiwara di hadapannya selama ini. Padahal setelah pikiran Ai sedikit tenang dan ia memikirkannya lagi, bisa saja Hagi tidak terlibat dengan Warriors yang memfitnah Kiriyan. Bukankah Hagi baru saja bergabung? Munculnya WoLf palsu itu kan sudah terjadi bertahun-tahun lalu, jadi bisa saja Hagi tak tahu-menahu.
Dan setiap kali Ai berargumen dengan dirinya sendiri, ia pun jadi semakin yakin bahwa dirinya begitu menyayangi Hagi, sehingga ia tak henti-hentinya mencari pembenaran untuk lelaki itu.
Tetapi lelaki yang ia bela di hadapan dirinya sendiri itu, yang membuat logika dan hati Ai saling bertentangan itu, kini memalingkan wajah darinya. Hagi kembali melempar pandangan ke ufuk senja dan melanjutkan kalimatnya tanpa menatap Ai.
"Dulu teman-temanku juga suka mengataiku payah karena aku selalu mengejarmu, padahal menurut mereka kamu adalah tipe gadis yang membosankan untuk dijadikan pacar. Mereka bilang kamu tidak manis karena ekspresimu selalu datar. Tapi aku tak pernah membiarkan mereka bicara seenaknya. Bagiku, kamu adalah yang paling bersinar di antara yang lainnya. Hingga aku merasa tak percaya diri untuk berdiri di dekatmu."
Ai tak tahu mengapa dadanya terasa sesak mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh Hagi. Sosok Hagi yang berdiri berlatarkan langit jingga itu terlihat redam, seolah ia bisa memudar dan menghilang dari hadapan Ai hanya dalam hitungan detik. Mengapa mendadak lelaki itu terasa begitu jauh? Padahal saat ini ia berada tepat di hadapan Ai.