"Sekarang, setelah kuingat-ingat kembali," sambung Hagi lagi, "kamu memang sangat jarang tertawa. Kamu selalu terlihat sedang bosan. Mungkin karena kamu sudah tahu apa yang dipikirkan orang lain, kamu pasti muak dengan basa-basi orang-orang di sekitarmu."
"Hagi..." Meski Hagi tak menyelanya, Ai tak melanjutkan kalimatnya karena tak tahu harus mengatakan apa.
"Apa rasanya begitu menyenangkan?" Hagi menoleh dan kembali menatap mata Ai lekat-lekat. "Menertawakan perasaanku... Padahal kamu sudah tahu, selama ini aku sangat menyukaimu. Tapi kamu diam, kamu pasti hanya menganggapku sebagai orang bodoh."
"Tolong dengarkan aku..." Ai tersedak karena rasa sesak di d.a.d.a itu telah sampai ke tenggorokannya, air matanya mengalir begitu saja dan ia masih tak tahu kenapa ia menangis. "Aku selalu menghargai perasaanmu. Aku tak pernah menganggapmu orang bodoh. Kamu tidak paham... selama ini aku selalu..."
"Ya... aku memang tidak akan pernah paham," sela Hagi, "betapa bodohnya aku, mengira kamu juga merasakan hal yang sama. Kupikir hanya soal waktu... tapi perlahan aku sadar, aku bukan Ariel yang bisa membuatmu tertawa, aku juga bukan Fais yang bisa membuatmu tersipu-sipu. Kalian adalah orang-orang istimewa dan orang sepertiku tak akan pernah pantas. Tampaknya kita memang ditakdirkan untuk saling berhadapan. Kamu tak akan pernah datang ke sisiku, dan aku juga sudah memutuskan untuk tidak berdiri di sisimu. Selamanya kamu akan melihat angka 9 dan aku akan melihat angka 6."
Ai seolah berhenti berfungsi, ia bahkan tak ingat untuk mengelap air mata yang sudah menganak sungai di pipinya. "Ini tidak adil," gumamnya kemudian, "mengapa jadi aku yang dihakimi? Bukankah kamu juga berbohong padaku?"
“Kamu benar," balas Hagi cepat, "semua ini memang salahku. Salahku yang tak berani berkata jujur, salahku yang berharap kamu memiliki rasa yang sama paling tidak separuh dari apa yang kusimpan untukmu, salahku yang menganggap bergabung dengan Sanctuary akan membuatku lebih kuat untuk melindungimu, salahku yang tak pernah menduga bahwa ternyata kamu adalah seorang Armour."
"Kamu harusnya sadar organisasi seperti apa Sanctuary itu. Apa yang membuatmu berpikir bahwa bergabung dengan mereka adalah pilihan yang benar?"
"Itu adalah angka 9 yang kamu lihat, Ai. Sementara aku melihat angka 6, dari sisi yang berlawanan denganmu." Hagi kembali menarik napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Sampai kapanpun kamu akan menganggap Armour adalah pihak yang benar."
"Karena memang itu kenyataannya..."
"Kapten Divisi-7, Faisal Fandika, dia yang sudah membunuh ayahku."
Mulut Ai terbuka lebar dengan sendirinya seolah ingin menyuarakan rasa tak percaya dan tak habis pikir mengapa Hagi bisa sampai pada kesimpulan itu. Ai siap untuk melontarkan kata-kata bantahan, namun ia tak tahu harus mulai dari mana. "Tidak mungkin. Hagi... saat ini kamu sedang berduka dan bingung..."
"Dia adalah otak pembunuhan ini. Dia dan anggota Armour lainnya adalah anjing peliharaan yang hanya setia pada Zoire. Aku tidak mau kamu juga berakhir seperti mereka."
"Tidak. Kamu sedang terguncang dan sangat tidak stabil, itu sebabnya kamu meracau..."
"Aku sangat stabil. Aku bahkan sudah bisa melihat lebih jelas dari sebelumnya," sela Hagi lagi. "Kamu mungkin tidak tahu. Rumor yang beredar di Ivory Palace belakangan ini adalah Kapten Divisi-6 yang mulai mengkhianati Zoire dan lebih memihak kepada Sanctuary. Zoire pasti tidak suka dengan kabar itu dan memerintahkan Armour untuk menghabisi ayahku."
"Jangan membuat tuduhan tak berdasar. Fais tidak ada hubungannya dengan semua ini."
"Kamu masih juga membelanya."
"Ini konyol... Fais sedang melakukan penelitian di Eyja."
"Jangan membodohiku dengan cerita penelitian Divisi-7 lagi!" hardik Hagi. Kubangan air mulai menggenang di kelopak matanya. "Aku sudah tahu semua. Kalian tidak pernah melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Kalian adalah senjata rahasia milik Zoire yang akan melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Zoire. Atau jangan-jangan... kamu sebenarnya sudah tahu dan memutuskan untuk tetap diam, atau mungkin kamu malah ikut membantu kelompokmu itu untuk menyingkirkan ayahku."
Ai ingin berteriak dan menyuruhnya diam, namun ia hanya mampu menggeleng sekuat tenaga dengan air mata yang kembali meluap tak terkendali. "Hagi please... aku mengenalmu sejak kecil, aku sudah menganggap ibu dan ayahmu seperti keluargaku sendiri. Bagaimana mungkin kamu menuduhku ikut terlibat dalam tragedi ini?"
“Kalau begitu jangan menghalangiku," tegas Hagi. Suaranya terdengar yakin, seolah ia baru saja menyingkirkan batu-batu kecil yang selama ini telah mengalihkan perhatiannya dari tujuan yang sebenarnya. "Kamu dan teman-teman Armour-mu pasti merasa superior karena bisa mengetahui banyak hal dengan kemampuan spesial kalian. Tapi sudah cukup," katanya sambil perlahan mulai melangkah mendekati Ai. Wajahnya memerah menahan emosi yang bercampur di dalam dirinya, rahangnya mengatup kaku dan matanya berkilat basah.
"Aku mencintaimu, Ai..." ujarnya kemudian. "Tapi sekarang sudah kuputuskan untuk berhenti." Setetes air lolos dari kubangan di matanya, namun ekspresinya tidak berubah sama sekali. Ia lalu melangkah melewati Ai sambil bergumam...
"Selamat tinggal."
---
Seorang wanita berkerudung menyibak tirai kain yang menggantikan fungsi pintu di rumah sederhana milik Suyi. Semua mata yang ada di ruangan pun tertancap pada wanita itu, alih-alih bersuara, wanita berkerudung itu mulai menggerak-gerakkan tangannya untuk mengatakan sesuatu kepada Suyi. Sepertinya ia bisu.
Suyi tersenyum dan menjawab, "Ah... tak terasa langit sudah gelap. Terima kasih, Zahra. Maaf udah merepotkan." Ia lalu mengalihkan perhatiannya pada Nda yang sudah duduk sambil memegang gelas air minumnya. "Syukurlah, sepertinya kamu juga sudah pulih, sebaiknya kita makan dulu. Zahra sudah menyiapkan makan malam di ruang depan. Mungkin makanan di sini tidak seperti yang biasa kalian temukan di Avalon Daratan, tapi setidaknya..."
"Maaf, Suyi...," Zidan menyela, "kami tidak bisa tinggal lebih lama di sini. Anda sudah cukup banyak membantu. Kami tidak ingin menyusahkan Anda lebih dari ini."
"Di Eyja, jika tuan rumah menawarkan makanan, tamu wajib mencicipi meskipun hanya sedikit," balas Suyi. "Saya akan sangat tersinggung jika kalian menolak jamuan sederhana yang sudah disiapkan Zahra."
Zidan melempar tatapannya kepada Niya, berharap mendapatkan sedikit masukan, tapi Niya hanya mengangkat bahunya mengisyaratkan bahwa keputusan ada di tangan Zidan.
Pada saat bersamaan, sesuatu yang sangat cepat melintas di samping Kenma dan menyebabkan tirai kain di belakang Kenma tersibak hingga menutupi wajahnya. Ekspresi datar di wajah Kenma masih tidak berubah saat ia menyingkirkan tirai kain itu dari kepalanya sambil menatap seseorang yang baru saja muncul entah dari mana. Kevin, ia baru saja kembali dan sekarang berdiri tepat di samping Zidan.
"Aku tidak bisa menemukannya. Apa mungkin dia sudah tidak ada di pulau ini?" suaranya tersengal seolah ia baru saja finish marathon. Niya buru-buru menyerahkan inhaler ke tangan Kevin tapi pemuda itu menggelengkan tangannya. "Terima kasih, Niya, aku tidak apa-apa," katanya kemudian.
"Kevin, kenapa kamu ceroboh menggunakan kemampuan di hadapan orang lain?" tegur Zidan.
"Maaf, soalnya aku kepikiran. Semakin lama kita bertindak, Fais..."
"Dia tidak apa-apa. Kamu tidak perlu mencemaskannya sehingga membuatmu sembrono menghabiskan tenaga untuk hal yang tidak penting," omel Zidan lagi.
"Tidak penting kamu bilang? Aku berusaha mencarinya di seluruh pulau ini, bagaimana mungkin kamu bilang itu tidak penting?" protes Kevin akhirnya. Ia tak habis pikir, rasanya aneh melihat Zidan setenang ini saat Fais dalam bahaya. Respon yang diberikannya terlalu dingin untuk ukuran seorang Zidan yang biasanya selalu over-protective terhadap Fais.
Suasana di tempat itu diselimuti keheningan yang mengganjal. Zidan seolah sedang berkelahi dengan pikirannya sendiri. Hingga akhirnya ia bersuara.
"Kita harus kembali ke Quarter." Ia tak menanggapi kekesalan Kevin dan hanya berpegang teguh pada instruksi itu. "Tak ada gunanya bergerak sekarang, kita harus mundur dan menyusun rencana. Nda, kalau kamu sudah bisa jalan, sebaiknya kita langsung meninggalkan tempat ini dan kembali ke Quarter."
"Kembali ke Quarter? Kita tidak tahu siapa orang-orang itu dan apa yang akan mereka lakukan kepada Fais. Tidak ada waktu untuk mundur dan menyusun rencana!" Kevin masih bersikeras.
"Kamu sudah kelelahan dan kita tidak bisa mengambil risiko. Kita akan meninggalkan Fais."
"Aku tidak kelelahan! Aku masih bisa mengelilingi pulau ini satu kali lagi! Kita hanya perlu memanggil bantuan dan mencari Fais. Dia pasti masih ada di sekitar sini!"
"Tidak ada perintah untuk misi penyelamatan."
"Aku tidak peduli ada perintah atau tidak! Aku sendiri bisa menghancurkan mereka, tak peduli berapa orang yang harus kuhadapi, aku akan pergi menjemputnya, dengan atau tanpa izin darimu!"
"Kevin 'Fifth' Taylor!"
"Bagaimana mungkin kau ingin meninggalkannya?!" Kevin berteriak bahkan lebih keras dari Zidan. "Ada apa denganmu?! Ini tentang Fais, bukan orang lain. Kenapa kamu seolah tidak peduli?"
Zidan bergeming di tempatnya berdiri. Kalau dalam situasi normal, dialah yang akan berteriak paling lantang untuk mencari Fais. Namun, tidak. Lelaki itu hanya diam seribu bahasa.
"Kau dan yang lain boleh kembali ke Quarter dan menyesali kekalahan hari ini, tapi aku hanya akan pulang setelah aku menemukan Fais." Kevin baru saja berbalik untuk meninggalkan ruangan itu, tapi Zidan dengan cepat menangkap tangannya.
"Kembali ke Quarter dan tunggu perintah selanjutnya." Suara Zidan mulai terdengar mengancam.
"Kevin, tenanglah... tidak biasanya kamu bersikap seperti ini." Niya akhirnya memutuskan untuk ikut andil. Ini pertama kalinya ia mendengar Kevin membantah dan membentak orang lain.
"Kau tidak bisa memaksaku." Kevin seolah tak mendengar Niya. Ia menyentak tangannya lepas dari Zidan. "Kaptenku hanya Fais, dan aku tidak menerima perintah darimu." Anak muda itu tak gentar membalas tatapan tajam Zidan sambil kemudian melanjutkan langkahnya.
"Kuperingatkan kamu, Fifth," tegas Zidan kemudian. "Jangan coba-coba membangkang. Kamu masih bisa bergerak bebas sampai saat ini karena pemerintah membiarkanmu. Mereka mencoba mengambil risiko meski tahu kamu adalah ancaman besar yang seharusnya disuntik mati atau dimasukkan ke dalam kamar gas. Kamu yakin mau bertindak diluar perintah?"
Kevin terdiam dengan tangan yang terkepal marah, ia diingatkan kembali bahwa ia adalah mahkluk berbahaya yang tidak seharusnya berkeliaran dengan bebas. Pemerintah juga menyadari hal itu, Kevin bisa meruntuhkan Ivory Palace hanya dalam waktu beberapa detik. Itu sebabnya, ada agen yang ditugaskan untuk "menjaga" keluarga Kevin, hal itu dilakukan agar Kevin tetap berada dalam kendali. Namun selama ini, pemerintah cukup memanjakan Kevin, hingga ia tak pernah merasa bahwa ia dan keluarganya sedang disandera.
"Jika sudah mengerti, sebaiknya kamu diam dan ikut kembali ke Quarter," tambah Zidan lagi. Ia lalu melangkah ke arah Suyi dan membungkuk sebagai bentuk penghormatan terhadap wanita itu.
"Tubuhmu itu semakin renta dan seluruh rambutmu akan memutih jika kamu terus menggunakan psychometry," ujar Suyi lembut sambil menatap gurat-gurat kelelahan di wajah anak muda yang ada di hadapannya saat ini. "Meski saya tahu, percuma saja melarangmu. Tapi setidaknya, sayangi dirimu sendiri, jangan memaksakan diri."
"Aku akan terus menggunakan kemampuan ini untuk melindungi orang yang penting bagiku. Aku tak peduli usiaku semakin singkat. Akan kupastikan aku mati lebih dulu dibandingkan orang itu."
Mata Suyi berubah sayu dan senyumnya menjadi muram mendengar jawaban Zidan. Zidan juga sebenarnya tahu bahwa Suyi masih menyimpan rasa bersalah karena sudah menemukan mereka bertujuh. "Anda tak perlu merasa sedih," ujarnya lagi, "terkumpulnya kami bertujuh dan terbentuknya Armour bukanlah hal yang buruk. Aku bersyukur karena tergabung dalam Armour, aku bisa membalas hutang budiku kepada Fais."
"Kamu anak yang kuat," Suyi menepuk-nepuk pelan pundak Zidan, "lakukan yang terbaik dan jangan sampai ada penyesalan."
"Aku mengerti, Suyi. Terima kasih." Zidan kembali membungkukkan badannya. Ia selalu mendengar bahwa Suyi, wanita yang memimpin Eyja, adalah sosok yang bijaksana dan berkharisma, tapi ia tak pernah menyangka bahwa ia akan merasakan sendiri kehangatan seorang Suyi. "Maaf kami tidak bisa mencicipi makan malam yang sudah disiapkan. Mungkin lain kali..."
"Ya... datanglah ke sini kapan saja kalian mau. Saya akan selalu menyambut kalian." Suyi mengangkat tangannya dan mengusap pipi Zidan. "Kembalilah ke Quarter dan istirahat yang cukup," gumamnya lagi.
Jika saja Suyi tidak mengusap pipinya, Zidan tak akan pernah sadar bahwa saat ini pipinya sudah basah karena air mata. Ia sangat ingin mencari Fais, lebih dari siapapun. Ia rela melakukan apa saja, bahkan jika ia harus membakar habis Eyja untuk menemukannya. Namun saat ini ada perintah mutlak yang tak bisa ia bantah. Kembali ke Quarter dengan selamat bersama Armour yang lainnya.
- End of Chapter V -