Chapter VI - The Warriors

1717 Kata
Beberapa saat setelah punggung Zidan baru saja hilang di balik tirai pintu, Suyi memutuskan untuk membuka mulut tentang kondisi Zidan yang sebenarnya. "Dia sedang berada di bawah pengaruh authority command," ujarnya, "Zidan tidak akan melakukan apapun selain membawa kalian kembali ke Quarter, karena itulah yang diperintahkan oleh Kapten kalian." "Fais menggunakan command pada Zidan?" Pertanyaan itu tidak hanya meluncur dari bibir Kevin, tapi juga dari Niya dan Nda. Mereka bertiga saling bertukar tatapan tak percaya. Pantas saja sejak tadi Zidan bertingkah di luar karakter. "Jika kalian sudah tahu, sebaiknya jangan menyalahkan Zidan lagi," imbuh Suyi sambil lalu berpaling pada Nda di atas tempat tidur. "Saya harap, berada di dalam ilusi Blackhole itu tidak akan membuatmu trauma. Tadi kamu menjerit keras sekali, apa tenggorokanmu terasa agak sakit?" tanyanya ramah. Nda berdehem sambil menyentuh lehernya, wajah pucat itu kini tampak merona malu. "I-Iya...," gumamnya pelan. "Tadi rasanya mengerikan sekali..." Suara Nda bergetar dan tanpa sadar kedua tangannya bergerak memeluk tubuhnya sendiri. Bulir-bulir keringat kembali muncul di wajahnya. "Se-seolah aku dibawa ke suatu tempat yang gelap dan dingin. Lalu... lalu rambutku terbakar, dan monster-monster mengerikan membawa pedang d-dan... me-menyerangku..." Hanya dengan mengingat kembali saja, Nda sudah gemetaran dan kehilangan warna di wajahnya. "Sudah tidak apa-apa." Niya cepat-cepat memeluknya. "Kamu tak perlu menceritakannya lagi, lupakan saja, itu cuma ilusi, cuma mimpi," katanya berusaha menenangkan. Suyi mengalihkan perhatiannya pada Kevin kali ini. "Anak muda, saya harap kamu tidak tersinggung dengan apa yang diucapkan oleh temanmu tadi," ujarnya kemudian, "dia cukup frustasi dengan keadaan ini. Tetaplah saling membantu satu sama lain. Kalian bertujuh membutuhkan itu." "Ke-kenapa tadi Anda tidak bilang?" Kevin tampak jadi salah tingkah. "Aku jadi terlanjur marah-marah pada Zidan." Ia mendekap mulutnya sendiri seolah ingin menarik kembali kata-k********r yang sudah ia katakan pada Zidan tadi. "Faisal, Kapten muda kalian itu, ingin kalian kembali ke Quarter dengan selamat. Sudah seharusnya kalian mengikuti perintah itu, dan saya tidak mau ikut campur," kata Suyi lagi. "Warriors yang membawa Faisal adalah Exorcist, semacam kasta tertinggi dalam kelompok Warriors. Mereka sangat berbahaya. Seandainya kalian meminta bantuan kepada Divisi-3 yang sudah disiapkan sebagai reinforcement dalam misi ini, untuk mencari Fais, mereka tidak akan bergerak. Mereka hanya akan menjalankan misi yang diberikan oleh Kapten Divisinya." "Suyi tahu sampai sedetail itu, tentang misi ini?" Niya tak bisa menyembunyikan kekagumannya. "Saya hanyalah wanita tua yang tidak berpendidikan. Saya tak mengerti politik ataupun strategi peperangan," Suyi tersenyum getir sebelum melanjutkan, "tapi saya yakin Faisal tidak akan senang melihat kalian muncul di markas Exorcist untuk menyelamatkannya. Dia memberikan command itu kepada Zidan, karena sudah mempertimbangkan bahwa Armour tidak akan menang melawan Exorcist. Jadi, menurut saya memang lebih baik saat ini kalian tidak bertindak." Hening. Mendadak ruangan kembali diselimuti keheningan yang menyesakkan. Memang benar, Fais adalah orang yang sangat benci terlihat lemah dan ditolong. Selain itu, dia juga tak akan senang melihat teman-temannya datang ke sarang lawan untuk mengantarkan nyawa. Kemampuan orang-orang yang tadi jelas di atas mereka. Tanpa mengenali kekuatan lawan dan perencanaan yang matang, mereka tak akan punya kesempatan untuk menang. "Kenapa lama sekali?!" Zidan kembali muncul di mulut pintu dengan wajah yang tampak kesal. "Aku menunggu kalian di jip sampai digigiti nyamuk," omelnya lagi, "barusan Luen mengirimkan pesan melalui Blue Gate, katanya pasukan reinforcement Divisi-3 sudah diperintahkan kembali ke pangkalan masing-masing. Untuk sementara kita semua boleh beristirahat di Blue Gate karena jemputan baru akan tiba sekitar satu jam lagi. Dan dia memerintahkan kita untuk tidak melakukan hal yang tidak perlu..." "Ah... kebetulan sekali," Suyi menepukkan tangannya untuk menghentikan omelan Zidan, "kalau begitu kalian bisa santai sejenak di sini sambil menikmati makanan yang sudah disiapkan oleh Zahra. Ayo." Suyi langsung bergerak cepat memberikan dorongan kecil di lengan Zidan agar ia berbalik dan melangkah menuju meja bambu di ruangan depan rumah sederhana itu. "Ayo Kevin, Niya... bantu Nda turun dari tempat tidur. Ayo sini, makanannya sudah hampir dingin." Wanita itu terlihat sangat bersemangat menyuruh Zidan duduk di salah satu kursi dan buru-buru melakukan hal yang sama kepada Kevin. Ia memanggil wanita bernama Zahra yang tadi menyiapkan makanan, lalu meminta Kenma untuk mengambil dua kursi ekstra dari dapur agar ia juga bisa ikut makan bersama. Mereka melewatkan waktu singkat makan malam itu dengan mendengarkan cerita Suyi tentang masa kecilnya bersama Shura, Luen dan Kiriyan. Masa-masa indah ketika Shura selalu menghabiskan waktu untuk mengikuti Kiriyan ke manapun ia pergi sampai kadang Kiriyan kecil suka kesal karena ia jadi tidak bisa bermain ke sungai, masa-masa ketika mereka tak mengetahui kemelut di luar Eyja... ketika pilihan tersulit yang harus mereka hadapi hanyalah tentang tidur siang atau bermain layangan di pematang sawah... *** Sebuah kursi diletakkan tepat di hadapan Fais, sepertinya seseorang akan mulai menginterogasinya. Meskipun masih ada plester yang membungkam mulut Fais, tapi kini matanya tak lagi tertutup. Ia bisa melihat sekelilingnya. Tak ada jendela di ruangan yang tampak seperti gudang itu, Fais tak tahu apakah ini siang atau malam. Beberapa kardus menumpuk di sudut ruangan, lalu ada potongan-potongan kayu yang seperti patahan meja atau kursi, besi bekas dan kaleng-kaleng cat, semuanya ditumpuk di salah satu sisi ruangan. Fais memindahkan pandangannya pada lelaki berkulit hitam dengan garis wajah keras bernama Ben, si pawang hewan, yang kini berdiri menyandar di pintu seperti sedang menunggu seseorang. "Okay, kamu boleh pergi." Sebuah suara terdengar bersamaan dengan munculnya seorang lelaki muda dengan rambut sebelah kanan yang dibiarkan lebih panjang dan hampir menutupi separuh wajahnya. Tidak salah lagi, dia pasti orang yang bernama Zen. Gaya berpakaiannya seperti turis, lelaki itu mengenakan kaos putih dan kemeja hawaii bermotif pohon kelapa, terkesan sangat santai seolah ia sedang berlibur di pulau. Namun anehnya, tangan kanannya ditutupi sarung tangan berwarna hitam. "Dia bilang apa?" tanya Ben sambil menatap Zen yang melangkah melewatinya. "Cuma bilang; 'kerja bagus'," sahut Zen sambil duduk agak menghempas di kursi yang tadi sudah diletakkan di depan Fais. "Oh iya, dia juga bilang kita tidak boleh bertindak gegabah. Katanya, kalau bisa digunakan itu lebih baik. Tapi kalau tidak, habisi saja." Zen mengatakan itu sambil tersenyum pada Fais. "Mau digunakan bagaimana? Diajak bicara saja susah." Kali ini Ben yang menatap Fais dengan jengkel. "Kurasa malah lebih baik dibunuh saja di lokasi tadi." "Ck...ck...ck, Ben. Kamu tidak mengerti," Zen mendecak sambil kemudian tertawa kecil. "Prodigy itu tidak lahir setahun sekali. Kalau bisa digunakan, dia ini sangat berharga. Lagipula...," ia menatap Fais lekat-lekat dengan senyum yang masih betah bertengger di wajahnya, "aku ini penggemar beratnya." Kali ini ia bicara ditujukan pada Fais, bukan lagi kepada Ben. “Terserah kamu saja," sahut Ben sambil lalu berjalan keluar dan menutup pintu di belakangnya. Beberapa saat berlalu setelah Ben meninggalkan ruangan. Tapi Zen masih belum membuka suara kembali. Dia duduk melipat tangan dan menyilangkan kakinya sambil menatap lelaki yang sedang duduk terikat di hadapannya itu dengan penuh minat. "Maaf ya, kita harus mengobrol seperti ini," ujarnya akhirnya. "Sebenarnya aku sudah lama ingin bertemu denganmu. Kamu pernah dengar istilah 'tak ada manusia yang sempurna'?" Ia bertanya meskipun tahu Fais tak bisa menjawabnya. "Aku selalu percaya dengan itu sampai aku melihatmu. Tapi jangan salah paham, aku bukannya iri padamu. Hanya saja...," Zen mengambil jeda sambil mulai membuka sarung tangannya, "aku punya suatu kelainan. Mereka bilang ini tergolong OCD[17]. Aku selalu tidak tahan kalau melihat sesuatu yang sempurna tanpa c.a.c.a.t. Papan tulis yang terlalu bersih, susunan meja dan kursi yang simetris, kertas-kertas yang disusun rapi, sepasang mata yang sangat cemerlang..." Zen menarik tubuhnya dari sandaran kursi agar bisa menatap Fais lebih dekat. "Melihat sesuatu yang terlalu teratur, kepalaku sakit, jantungku seolah akan meledak, sekujur tubuhku terasa panas dan gemetar tak terkendali. Kalau aku tidak segera m*erusak kesempurnaan itu, rasanya seluruh organ tubuhku akan berhenti berfungsi." Zen perlahan mengangkat tangan kanannya yang kini tanpa sarung tangan itu, bermaksud untuk menyentuh mata Fais. "Mungkin kalau sedikit ada luka, rasa frustasi setiap kali melihatmu akan hilang. Aku tak bermaksud buruk, tapi perfect prodigy kata mereka, aku selalu gelisah kalau ada yang begini di depan mataku. Terlalu bagus... bukankah itu tidak baik? Bagaimana kalau dibuat sedikit c.a.c.a.t ..." "Zen!" Sebuah teriakan histeris terdengar dari arah pintu yang menjeblak terbuka. Rin, gadis kecil yang dikenal Fais sebagai Cindy itu berdiri di sana sambil membawa nampan berisikan secangkir kopi dan sepotong kue di atas piring kecil. "Kamu sudah janji!" teriaknya lagi. "Sedikit luka saja seharusnya tidak masalah, kan?" Zen membuat tawaran sambil akhirnya menjauhkan tangannya dari wajah Fais. Ia lalu beranjak dan menghampiri Rin. "Cuma luka bakar, sedikiiiit... saja, itu tidak akan membunuhnya," bujuk Zen lagi. Fais tak begitu mendengarkan pembicaraan mereka karena perhatiannya tertancap pada kursi yang baru saja ditinggalkan Zen. Lengan kanan kursi kayu itu seperti telah disentuh oleh sesuatu yang sangat panas. Tak salah lagi, tadi Zen sempat menyentuh bagian itu saat akan beranjak dari kursinya, dan sekarang bagian kursi yang dipegangnya berubah menjadi arang hitam dengan bara api yang tampak masih sedikit menyala... padahal tadi ia hanya menyentuhnya sekilas. “Jadi, itu sebabnya dia selalu mengenakan sarung tangan. Apa semua yang disentuhnya akan terbakar dan meleleh?" pikir Fais dalam hati. Tapi diam-diam ia merasa lega, hampir saja matanya berakhir sama dengan kursi yang ada di hadapannya itu. "Kalau kamu sentuh matanya, mana bisa dibilang luka kecil!" Suara anak perempuan yang sedang membentak Zen itu kembali masuk ke ruang dengar Fais. Dia terlihat sangat kesal. "Okay... okay... sorry. Wah! Kamu membawakan sarapan untukku?" Zen mengalihkan topik dengan berseru girang sambil menunjuk nampan yang ada di tangan Rin. "Jangan bilang itu untuk dia," tambahnya lagi. Ia berlagak jengkel menatap Fais dari sudut matanya. "Tidak, ini untukmu," cetus Rin jutek. Ia tampak berbeda dengan saat pertama kali Fais melihatnya. Rambut kepang duanya sudah berubah menjadi ponytail, meski sikap malu-malunya setiap kali bertemu mata dengan Fais itu masih tidak berubah. "Hm... terima kasih," Zen mengambil cangkir dan piring kecil dari atas nampan. "Padahal kamu tak perlu repot-repot, Coco bisa membawanya kemari. Apa gunanya punya robot-butler?" Zen menyeruput kopinya sambil memberikan tatapan penuh makna dan tersenyum menggoda gadis kecil itu. Wajah Rin langsung merona merah. Ia mendekap nampan di dadanya, menyempatkan diri melirik ke arah Fais sebelum akhirnya berlalu dan menutup pintu di belakangnya. "Wanita yang sedang jatuh cinta memang merepotkan," Zen berujar ringan sambil lalu melangkah kembali ke kursinya semula. Ia duduk menyilangkan kaki dan meletakkan piring kue ke atas pahanya, sementara tangan kanan yang sudah disarungkan kembali itu kini memegang secangkir kopi hangat. . _______________ [17] Obsessive Compulsive Disorder, kelainan psikologis yang menyebabkan seseorang memiliki pikiran obsesif dan perilaku yang bersifat kompulsif
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN