Setelah Rin hilang di balik pintu, Zen melangkah kembali ke kursinya semula sambil berujar ringan, "Wanita yang sedang jatuh cinta memang merepotkan.”
Ia duduk menyilangkan kaki dan meletakkan piring kue ke atas pahanya, sementara tangan kanan yang sudah disarungkan kembali itu kini memegang secangkir kopi hangat.
"Rin biasanya pemalu, pertama kali aku melihatnya bersemangat adalah saat ia baru bertemu denganmu. Katanya, 'aku sudah melihat First Armour, dia seperti pangeran dari negeri dongeng!' dan dia terus membanggakan pulpen yang kamu berikan. Aku rasa sampai sekarang dia masih menyimpannya." Zen bercerita sambil lalu tertawa pelan.
"Oh iya, apa kamu lapar?" tanya Zen kemudian. Ia menusukkan garpu ke potongan kecil kue di atas piring itu. "Sudah semalaman loh kamu berada di sini. Sebenarnya aku ingin sekali ngobrol dengan santai sambil minum kopi denganmu. Lagipula, dari tadi aku terus yang bicara, lama-lama capek juga. Tapi mau bagaimana lagi, kalau aku membuka mulutmu, kamu pasti menyuruhku melepaskanmu."
"Aku juga capek mendengarmu bicara," rutuk Fais dalam hati. Ia refleks memutar bola matanya, seolah sudah sangat bosan dan malas berhadapan dengan lelaki ini.
Zen tertawa lepas melihat ekspresi Fais. "Padahal aku sudah menutup mulutmu tapi kamu masih bisa mengejekku seperti itu," katanya sambil kemudian beranjak dan meletakkan piring dan cangkir di atas kursi yang baru ia tinggalkan. "Begini saja. Aku tutup kembali matamu ya, sorry, mungkin akan jadi kurang nyaman. Tapi dengan begini, kita jadi bisa mengobrol, kan?"
Ia mulai menutup kembali mata Fais dengan kain hitam, lalu melepaskan plester yang merekat di mulut Fais.
"Siapa kalian?" Pertanyaan itu langsung meluncur dari mulut Fais setelah ia bisa bersuara.
Zen tertawa sambil kembali duduk di tempat semula. Ia menyilangkan kakinya dan mulai menikmati sarapannya kembali.
"Tuan Armour, saat ini yang sedang terikat di kursi adalah kamu, bukan aku," tuturnya santai. "Begini saja, anggap ini permainan. Aku tanya dan kamu menjawab, nanti gantian kamu boleh tanya dan aku juga akan menjawab. Tapi harus jujur ya, ini janji antar lelaki. Bagaimana? Setuju?"
Fais tak tahu apakah dia bisa mempercayai orang ini. Ia tak bisa melihat lawan bicaranya, bagaimana ia bisa menilai apakah orang itu bicara jujur atau tidak? Tapi memang Zen benar, posisi Fais saat ini tidak bisa melakukan tawar-menawar.
"Karena kamu diam berarti kamu setuju. Baiklah, pertanyaan pertama, misi apa yang diberikan Luen pada kalian di Eyja?" Tanpa kompromi Zen sudah memulai pertanyaannya.
Fais tak langsung menjawab, otaknya mulai bekerja untuk mempelajari situasi yang sedang ia hadapi saat ini. Zen tidak terlihat seperti orang bodoh, dia sangat cerdas dan sulit ditebak. Walaupun sebenarnya ia bisa bertanya apa saja pada Fais, tapi dia menawarkan diri untuk menjawab pertanyaan Fais juga. Apa ini caranya untuk memancing Fais agar menjawab dengan jujur?
"Ya ampun, susahnya jadi orang jenius," Zen berseru dengan nada malas, "kamu tidak perlu berpikir macam-macam. Sebenarnya ini sangat simple, kenapa harus dibuat susah? Tinggal jawab saja pertanyaanku dan kamu pun akan mendapatkan jawaban untuk pertanyaanmu. Gampang, kan?"
Seolah menghadapi jalan buntu, Fais tak pernah mengalami hal seperti ini, ia tak bisa menganalisa apapun. Dan sepertinya Zen tak memberikannya waktu untuk berpikir.
"Jawab," desak Zen lagi, "kalian disuruh apa di Eyja?" Kali ini suaranya terdengar lebih dingin.
Fais menarik napas dalam untuk menenangkan diri, dia tak punya pilihan selain mengikuti permainan ini. Anggap saja saat ini ia sedang bermain catur, dan ia sudah mati langkah. Bagaimanapun juga, ia akan tetap kalah. Tapi sebelum itu, paling tidak, ia bisa mengambil beberapa buah catur milik Zen.
"Mencari WoLf," jawab Fais akhirnya, "dan mencegah pemberontakan."
"Hm... seperti yang diduga. Luen masih ingin melindungi Suyi dan Eyja." Zen bergumam sendiri setelah mendapatkan jawaban itu.
"Siapa kalian?" Fais mengulangi lagi pertanyaan yang dilontarkannya di awal tadi.
"Ah... ya, aku lupa kalau kamu juga punya pertanyaan." Zen menyeruput kopi di cangkirnya lalu meletakkan sisa sarapan itu ke lantai di sebelahnya. "Kami adalah Exorcist. Unit Khusus di Warriors, aku pemimpinnya, aku biasa dipanggil Zen."
"Siapa yang memberi kalian perintah?" tanya Fais lagi.
"Sanctuary. Sementara ini, karena ada sedikit isu di Avalon, Exorcist ditugaskan untuk melihat situasi. Jika Zoire tidak berada di pihak kami lagi, kami terpaksa menggantinya dengan yang baru. Dan jika ternyata dalang di balik perlawanan Zoire ini adalah Luen, kami juga akan menghabisi orang itu..." Zen jeda sesaat sebelum akhirnya ia berteriak kesal. "Ah! Kenapa aku menjawab dua pertanyaanmu? Harusnya ini giliranku yang bertanya!"
"Sorry, kamu boleh tanya lagi," sahut Fais datar. Permainan ini tidak buruk juga, informasi yang diberikan Zen akan sangat berguna.
"OK, baiklah... Apa Luen yang telah mempengaruhi Zoire untuk melawan Sanctuary?"
"Ha? Mana aku tahu."
"Hei, kamu tidak boleh jawab begitu dong!"
"Yang benar saja, mana mungkin aku tahu apa yang dia kerjakan dengan Zoire."
"Hm... benar juga sih," Zen mendesis sambil menggaruk-garuk kepalanya, "bagaimana cara menanyakannya, ya?"
"Kamu bahkan tidak tahu cara menginterogasi orang, apa kamu yakin kamu pimpinan Exorcist?"
"Kami ini eksekutor, bukan investigator seperti kalian. Ini pertama kalinya bagiku, tahu?! Kamu diam saja dan jangan bicara kalau tidak aku suruh."
Fais mengedikkan bahunya sekilas, seolah mengatakan, terserah.
Zen menarik napas sebelum kembali bicara. "Begini saja. Karena aku tidak tahu cara menyusun pertanyaan agar aku mendapatkan informasi yang kuinginkan, kamu saja yang cerita."
"Cerita?"
"Iya, cerita tentang Luen dan Zoire, apa saja yang kamu ketahui."
"Pfft..." Fais nyaris kelepasan tertawa. "Tuan Exorcist, kamu menyuruhku cerita? Membagikan informasi dengan sukarela? Aku rasa kita belum seakrab itu."
Zen membisu setelah jawaban Fais yang bernada mengejek. Tak ada tanggapan lagi, tapi sepertinya ia cukup tersinggung. Fais tak tahu apa yang sedang dipikirkan orang itu, ia bahkan tak tahu apa Zen masih duduk di depannya. Suasana sangat hening, baru saja Fais ingin bertanya apakah Zen masih ada di situ, saat tiba-tiba ia merasakan sakit yang menyengat di lutut kirinya, seolah ada besi panas yang ditempelkan ke kulitnya.
"Kamu menganggapku orang bodoh, ya?" Suara ceria Zen berubah menjadi mengancam. "Aku sudah sangat berbaik hati, memperlakukanmu seperti seorang teman. Aku bahkan memberimu kesempatan untuk bertanya, tapi apa balasanmu?"
Sebagian kain yang menutup mata Fais tampak mulai basah karena banyaknya keringat yang bergulir dari keningnya. "A-aku benar-benar tidak tahu informasi apa yang kamu inginkan," ia berusaha bicara sambil menahan sakit, "pertanyaannya... harus lebih spesifik..." Suara Fais tercekat karena rasa sakit yang amat sangat. Ia bahkan bisa mencium aroma daging terbakar.
"Kau tahu apa yang kuinginkan," geram Zen.
"Aku benar-benar tidak tahu..."
Zen tak langsung mengangkat tangannya dari lutut Fais, ia masih mengamati wajah yang berkeringat itu sambil mencoba menerka-nerka, apakah Fais memang bicara jujur.
"Baiklah, kuputuskan untuk mempercayaimu," ujar Zen akhirnya. Bersamaan dengan itu ia mengangkat tangannya dan meninggalkan luka bakar yang cukup parah.
Fais terpaksa menggigit bibirnya sendiri untuk mencegah dirinya mengerang kesakitan, lutut kirinya masih terasa terbakar dan perih luar biasa. Sikap ceria Zen membuatnya lengah dan sempat mengira Zen adalah orang yang santai dan cenderung simple. Tapi tidak, lelaki itu adalah pimpinan Exorcist, Unit Khusus Warriors. Dia bukan orang sembarangan. Dia jelas bukan lawan yang mudah. Fais harus lebih meningkatkan kewaspadaannya.
"Nah, sampai di mana kita tadi?" Lelaki itu kembali menjadi Zen yang easy going. "Aku akan mencoba lagi. Kali ini pastikan kamu pikir baik-baik sebelum menjawab, OK?"
Fais menghempas napas sebelum menjawab, "OK." Ia khawatir jika tak memberi tanggapan, lutut kanannya akan menjadi korban tangan Zen berikutnya.
"Aku tidak percaya jika terjadi perpecahan antara Zoire dan Luen, mereka itu seperti dua sejoli." Zen sedikit bernarasi kali ini. "Menurutku, kedua orang itu bermaksud lepas dari Sanctuary. Nah... masalahnya, aku masih tidak tahu apakah mereka berdua bekerja sama dengan Eyja. Maksudku, Suyi dan Kiriyan ada di Eyja, jadi kemungkinannya cukup besar. Sudah pasti mereka..."
"Apa hubungannya Zoire dan Luen dengan Suyi dan Kiriyan di Eyja?"
Fais ingin segera mendapatkan informasi lebih banyak dari celoteh Zen, hingga tanpa sadar ia melanggar perintah Zen untuk tidak bicara jika tidak disuruh. "Maaf..." gumamnya kemudian.
Zen kembali mengambil jeda dan membuat Fais merasa was-was. Ia jadi agak trauma dengan keheningan Zen yang tiba-tiba, cemas memikirkan bagian mana lagi yang akan dibakar Zen.
Fais tersentak kaget ketiga merasakan sentuhan di lutut kanannya. Tapi kali ini sentuhan itu normal, padahal otot dan sendi di sekujur tubuh Fais sudah mengerat seolah tubuhnya refleks mempersiapkan diri untuk menerima serangan berikutnya.
Namun yang terdengar selanjutnya adalah suara tawa Zen yang menggema di ruangan kosong itu. "Kamu takut? Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu lagi, yang ini saja sudah membuatku bingung bagaimana cara menjelaskannya kepada Rin nanti. Tentu saja, kita bisa melanjutkan obrolan ini dengan santai, asalkan kamu mau bekerja sama."