Chapter VI.3

1345 Kata
“Kita bisa melanjutkan obrolan ini dengan santai, asalkan kamu mau bekerja sama," kata Zen ramah. Kali ini Fais bermaksud untuk menuruti saran Zen. Ia tak bisa membiarkan tubuhnya dibakar satu persatu oleh pemimpin Exorcist itu. Walau bagaimanapun, situasinya saat ini tidak menguntungkan baginya. Lagipula tidak ada salahnya meladeni pembicaraan ini, paling tidak, ia jadi tahu bahwa sesuatu sedang terjadi antara Sanctuary, Zoire, Luen dan Eyja. "Kenapa Luen ingin kalian mencegah pemberontakan di Eyja?" Pertanyaan Zen kali ini lebih terarah dan itu memudahkan Fais untuk menjawab. "Menurutnya, jika Eyja lepas dari Avalon, negara akan mengalami kerugian besar. Karena keberadaan Eyja sangat krusial, mereka harus tetap menjalani peran sebagai pelayan Avalon." "Apa dia memerintahkan kalian untuk melindungi Suyi atau Kiriyan?" "Tidak. Dia bahkan menyediakan reinforcement jika kami tidak berhasil mempengaruhi Suyi untuk menghentikan pemberontakan. Dia juga menyuruh kami untuk membawa Kiriyan ke Avalon untuk diadili." "Hmm..." Zen kembali mengambil waktu untuk berpikir. "Sepertinya Luen tak terlalu peduli jika pada akhirnya Eyja rata dengan tanah... Oh... Tunggu, aku mengerti sekarang." Kursi yang diduduki Zen menimbulkan suara gesekan ketika ia mendadak berdiri sambil menepuk telapak tangannya "Pintar, pintar sekali Luen. Dia bermaksud mempengaruhi Suyi dan membuatnya bersih dari tuduhan pemberontakan, dia percaya Armour bisa melakukannya tanpa harus menggunakan reinforcement. Dengan kata lain, dia mengambil risiko, tapi pada akhirnya ia bertaruh pada kemampuan Armour. Kemudian dia menyuruh Armour mengejar WoLf padahal yang ia inginkan sebenarnya adalah menyelidiki keberadaan kami di Eyja. Sudah kuduga, dia sudah lama mencurigai pergerakan kami di Eyja. Dia tahu Sanctuary diam-diam sudah mulai bergerak untuk menjatuhkan Zoire. Dia tak peduli pada Kiriyan, dia bahkan tak peduli jika dalam misi ini lelaki itu mati. Typical Luen, manusia berhati dingin." Zen tidak sedang bicara dengan Fais, ia hanya sibuk mundar-mandir sambil membentuk kesimpulan dari benang kusut yang berhasil ia uraikan. "Apa aku sudah boleh bertanya?" Fais akhirnya memberanikan diri untuk menyela. “Oh, tentu saja. Silakan," sahut Zen ramah. "Aku tidak mengerti kenapa Luen ingin melindungi Suyi dan kenapa dia harus peduli pada Kiriyan?" "Loh? Kamu tidak tahu? Suyi itu kakak kandungnya Luen, mereka berdua adalah pelayan setia keluarga kerajaan Avalon, yaitu Zoire, atau biasa disebut darah terakhir kerajaan Avalon, Putri Shura. Dan satu lagi, Suyi adalah yang selama ini kalian sebut sebagai SaO." Zen bicara sambil lalu. Padahal setiap kata yang ia ucapkan itu adalah informasi berharga yang baru didengar Fais selama karirnya sebagai Armour. "Kalian para Armour benar-benar tidak tahu apa-apa, ya?" sambung Zen lagi sambil menahan tawa. "Tapi memang itu bukan salah kalian, selama ini kalian hanya digunakan sebagai alat untuk menyingkirkan kerikil-kerikil kecil yang menghalangi jalan Zoire. Dan misi perburuan WoLf itu adalah yang paling konyol." Ia kembali melepas tawanya tanpa segan-segan. "Apa maksudmu?" Fais mulai merasa seperti dibodohi, kepingan puzzle yang ia kumpulkan di kepalanya perlahan tersusun rapi. Gambarnya mulai terlihat, tapi ia takut mengakuinya. Karena jika tebakannya benar, berarti selama ini ia sudah ditipu mentah-mentah. "Tuan jenius, kamu pikir kenapa selama ini Luen selalu menolak permintaanmu untuk memfokuskan misi kalian kepada WoLf?" Zen melontarkan pertanyaan itu bukan untuk mendapatkan jawaban dari Fais. Tanpa menunggu, ia pun menjawab sendiri pertanyaannya. "WoLf adalah Warriors. Karena aku sangat kasihan padamu, aku akan menerangkan semuanya. Lihat, betapa baiknya aku, kan?" Zen menepuk-nepuk pelan pundak Fais. "Warriors adalah sekelompok orang yang dilatih khusus oleh Sanctuary. Kami terbagi menjadi empat unit. Yang pertama adalah Red Blade, mereka terdiri dari lima orang pembunuh yang ahli menggunakan senjata tajam seperti pedang dan sejenisnya. Kemudian ada yang disebut Silver Bullet, anggotanya empat orang ahli menggunakan senjata api - aku tak suka dengan mereka. Lalu Death Angel, mereka banyak, mungkin sekitar dua puluh orang. Mereka adalah ahli bela diri, dan kemampuan bertarung mereka memang didesain untuk membunuh, Kenma adalah salah satu dari mereka. Yang terakhir adalah kami, Unit Khusus yang disebut Exorcist. Terdiri dari lima orang, aku, Rin, Rey, Ben, dan Han." "Unit mana yang ditugaskan membunuh keluarga Fandika sekitar 12 tahun yang lalu?" Jantung Fais berdegup kencang saat ia menanyakan ini. Setelah sekian lama, akhirnya ia menemukan titik terang mengenai siapa dalang dibalik p*embantaian keluarganya waktu itu. "Oh... 12 tahun lalu... aku tak begitu tahu. Aku belum tergabung di Warriors," jawab Zen santai. "Tapi kenapa kamu tidak tanya Luen saja? Dia pasti lebih tahu. Sebelum Armour dibentuk, Luen bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan misi-misi Warriors di Avalon." Deg! Seolah ada benda keras yang menghantam d.a.d.a Fais. "Tunggu dulu!" pikirannya mulai bekerja mencerna seluruh keterangan yang diberikan Zen. "Tidak, tidak. Ini pasti tidak benar." Ia membatin dengan detak jantung yang semakin cepat dan menyesakkan. Semua potongan puzzle sudah membentuk sebuah gambar akhir, dan ia tak punya pilihan selain menghadapi ketakutannya itu. "Benar sekali..." Zen membantunya menemukan kesimpulan yang sejak tadi berusaha dipungkiri oleh Fais. "Waktu itu, Luen adalah orang yang bertanggung jawab terhadap misi Warriors di Avalon. Dengan kata lain... dia yang memerintahkan WoLf untuk membunuh keluargamu," bisiknya di dekat telinga Fais. Pelan dan perlahan, seolah ia ingin kalimat itu meresap ke seluruh sendi tubuh Fais. Fais merasa seperti dilemparkan ke lahar panas di gunung berapi yang siap meledak. Keringatnya bergulir tak terkendali, seolah ada yang mencengkram jantungnya sangat erat hingga membuat darahnya berhenti mengalir. Ia menghentakkan lengannya berusaha melepaskan diri. Tapi itu sia-sia, dia terikat di kursi itu, dengan kedua mata yang tertutup, tak mampu melakukan apa-apa meski ia baru saja mendengar kenyataan yang mengubrak-abrik emosinya. "Bohong." Cara terakhir Fais untuk meredakan rasa sakit yang menyengat dari rongga dadanya; memungkiri semua ini. "Kamu memfitnah Luen untuk menghancurkan Armour." "Untuk apa aku melakukan itu?" sahut Zen. "Kamu tahu? Zoire itu hanya boneka bagi Sanctuary, jika ia tak menurut lagi, dia akan dinyatakan 'rusak' dan kami bisa menggantikan posisinya dengan siapa saja. Tapi Armour berbeda, pimpinan kami selalu merasa sayang jika harus membuang kalian. Makanya ia ingin kami merangkul Armour, walau bagaimanapun, kalian cukup berguna. Kalian bisa menjadi unit baru - meskipun kemampuan kalian tak begitu berguna untuk membunuh - paling tidak kemampuan investigasi kalian bisa sangat membantu tugas-tugas Warriors." "Persetan dengan Warriors-mu!" teriak Fais menggema ke setiap sudut ruangan. Tubuhnya gemetar menahan emosi. Wajahnya sudah tertunduk dalam dan luka di tangannya kembali berdarah memerahkan tali akibat usahanya melepaskan diri. "Siapa yang ingin bergabung dengan kalian?! Aku akan membunuh kalian semua!" Ia kembali meluapkan emosinya. Bibir Zen mengerucut, ia sama sekali tak gentar dengan luapan amarah Fais. Lelaki itu kemudian beranjak sambil menatap sosok di hadapannya. Di matanya, Fais saat ini lebih terlihat seperti makhluk menyedihkan yang siap meledakkan dirinya sendiri. "Teriak saja sesukamu. Aku punya banyak hal yang harus dilaporkan pada bos-ku. Sampai nanti," katanya sambil melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Fais bisa mendengar suara langkahnya yang menjauh, kemudian suara pintu yang terbuka dan ditutup kembali. Orang itu sudah pergi. Tinggal Fais yang harus bergumul dengan pikirannya sendiri. Rasa kesal, kecewa, marah, dendam, benci, membaur dengan penyesalan yang begitu menyiksa... Begitu menyakitkan... melebihi perih yang ia rasakan di lututnya. Ia menyesali kebodohannya selama ini. Ia sudah tahu, Luen bukanlah sosok yang bisa dijadikan sebagai tempat bersandar. Ia juga tahu, bahwa bergantung pada Luen hanya akan melukai dirinya sendiri. Ia selalu membatasi diri agar tak terlalu dekat dengan Luen, menganggap lelaki itu hanya sebagai atasannya, tidak lebih. Karena suatu saat ia akan kecewa jika mengharapkan kasih sayang darinya. Tapi meski sudah mempersiapkan diri, saat mendengar semua kenyataan pahit ini, entah kenapa Fais masih merasa seperti telah dikhianati. "Aku pasti sudah gila. Dikhianati? Itu hanya bisa terjadi jika melibatkan rasa percaya. Tapi aku dan Luen? Apa yang kuharapkan? Belas kasihan darinya? Sedikit perhatian saja sudah membuatku besar kepala. Dia tak pernah peduli padaku. Harusnya aku sudah tahu itu. Sejak awal aku hanya alat baginya. Ia hanya menggunakanku untuk mencapai tujuannya, dan aku terus menurutinya agar aku bisa membalas dendam pada WoLf? Aku sudah tertipu selama 12 tahun. Tak ada yang lebih bodoh dari orang yang membiarkan dirinya ditipu selama bertahun-tahun." Fais membatin tanpa menyadari rintihan tawa yang lolos dari bibirnya. Namun jika dengan menertawakan diri sendiri dapat meredakan rasa sakit yang merajalela di dalam dirinya, maka ia akan tertawa sekeras-kerasnya. Meski saat ini kain yang menutupi matanya tak lagi basah karena keringat, melainkan air yang terus merembes dari matanya, tanpa bisa ia kendalikan...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN