Semangkuk bubur dengan potongan wortel dan kentang, ditaburi irisan ayam dan bawang goreng di atasnya, disodorkan ke hadapan Fais kecil. Beberapa jam setelah peristiwa p*mbantaian keluarga Fandika terjadi di rumah mereka, Fais yang masih berusia 12 tahun dibawa ke kediaman Luen di Ring II.
"Makan," kata Luen datar. Ia duduk di seberang meja, berhadapan dengan Fais. "Sudah hampir jam sebelas malam, setelah ini kamu mandi dan tidur," sambungnya lagi.
"Aku tidak suka wortel." Suara Fais parau. Belum sampai satu jam sejak ia berhenti menangis, tapi saat mulai bicara, ia kembali tak bisa menahan air matanya.
"Apa ibumu selalu membiarkanmu memilih-milih makanan seperti ini?" tanya Luen dan Fais hanya membalasnya dengan gelengan lemah.
"Lalu setelah ibumu meninggal kamu pikir kamu bisa bebas mengatakan kamu tidak suka wortel?"
Fais kembali terisak dan menangis sesenggukan. Suara tangisannya bergema di ruangan sepi itu, ia kemudian meraih mangkuk di hadapannya dan mulai makan tanpa mempedulikan air mata yang menetes berkali-kali ke dalam mangkuk. Satu per satu sendok bubur berusaha ditelannya sambil masih terisak dan sesekali terbatuk, sampai kemudian ia mendekap mulutnya dan mengeluarkan suara seperti ingin muntah. Hingga akhirnya ia membungkuk ke bawah meja, memuntahkan kembali makanan yang baru saja ia paksa masuk ke mulutnya.
Tanpa ekspresi, Luen mengamati anak laki-laki di hadapannya. "Masih tercium bau amis darah?" tanyanya kemudian, "seolah mayat-mayat mereka masih bergelimpangan di sekitarmu. Kamu akan terus mengingatnya sampai kapanpun."
Lelaki itu lalu memanggil robot-butler yang sejak tadi standby di sudut ruangan, agar membersihkan kekacauan yang baru saja disebabkan Fais. Setelah selesai mengepel lantai di dekat Fais, robot itu memberikan segelas air untuknya lalu kembali ke tempat semula dan mengaktifkan mode standby.
"Ada berapa orang totalnya?" tanya Luen lagi. "Orang yang kamu bunuh, ada berapa orang?"
Tangan Fais yang sedang memegang gelas air minum itu mendadak gemetar, ia tak bisa mengendalikan tubuhnya yang menggigil akibat ingatan mengerikan kembali berkelebat di benaknya. "Li-lima orang...," jawabnya terbata.
"Apa itu sudah semuanya?"
"Aku... aku tidak tahu." Kedua tangan kecil itu mulai bergerak mencengkram kepalanya sendiri, seolah ia ingin menghilangkan ingatan-ingatan itu. "Aku tidak tahu mereka semua ada berapa orang. Tapi... yang waktu itu ada di dekatku, lima orang. A-aku bilang 'kalian saja yang mati!' dan mereka... mereka mati."
"Mereka mati?"
"Mereka saling menembak..." Suara Fais kecil bergetar hebat. "Bukan aku yang membunuh mereka."
"Iya. Kamu yang membunuh mereka."
“Aku tidak melakukan apa-apa. Bukan aku yang membunuh, aku tidak menembak mereka."
"Kamu yang menyebabkan mereka saling menembak."
"Aku tidak melakukan apa-apa!"
"Kamu yang membunuh mereka!" Hardikan Luen menggema di ruangan itu.
Wajah Fais berubah semakin pucat. Tapi Luen tak berhenti di situ, ia mendekatkan wajahnya ke hadapan Fais dan kembali menegaskan. "Faisal, kamu yang telah membunuh kelima orang itu. Tak ada gunanya kamu mengingkari itu sekarang," bisiknya pelan, namun berhasil tertanam kokoh di benak Fais.
Luen lalu kembali menegakkan tubuhnya dan bersandar di kursi. "Apa kamu menyesal? Padahal kalau kamu melakukannya lebih cepat, mungkin orang tua dan adikmu tak akan mati."
Fais menggeleng sambil masih menangis. "Tidak. Bukan begitu...," gumamnya.
"Maksudmu? Kamu tahu kamu bisa mencegah p*mbantaian itu dengan kemampuanmu, tapi tidak menggunakannya sampai saat terakhir? Sebenarnya kenapa kamu menangis? Karena kematian keluargamu atau p*embunuhan yang baru saja kamu lakukan?"
"Aku tidak ingin ada yang mati. Aku tidak ingin siapapun mati."
"Karena kamu yang seperti ini, keluargamu terbunuh," tegas Luen kemudian. Ia jeda sesaat membiarkan Fais mengangkat wajah dan menatapnya dengan mata yang basah. "Kamu tak ingin ada yang mati? Betapa bodohnya. Kamu memiliki kekuatan yang bisa menyuruh orang melakukan apa saja. Mereka saling menembak karena kamu yang memerintahnya. Dengan kekuatan sehebat itu, sebenarnya kematian keluargamu bisa dihindari."
Luen berdiri dan menatap Fais tanpa menurunkan dagunya. "Karena kamu lemah. Kamu tak ingin membunuh tapi juga tak ingin keluargamu mati. Jangan membuatku tertawa. Untuk melindungi sesuatu yang berharga, kamu pikir kamu bisa mempertahankan tanganmu tetap bersih? Kamulah yang telah membiarkan keluargamu mati. Sekarang untuk apa kamu menangis?"
Fais terdiam dan tenggelam dalam setiap perkataan yang dilontarkan Luen. Lelaki itu benar, pada akhirnya Fais tetap membunuh mereka, tapi itu pun setelah keluarganya mati di depan matanya. Sikap ragu-ragu itu yang membuatnya kehilangan semua yang ingin ia pertahankan. Fais tak bisa melindungi apapun. Dan sekarang, ia mulai bertanya-tanya apakah pantas ia menangisi apa yang sudah terjadi.
"Lalu bagaimana? Apa sekarang kamu juga ingin mati? Menyusul keluargamu?" tanya Luen lagi. Mengetahui bocah di hadapannya tak akan menjawab, Luen kembali melanjutkan kalimatnya.
"Kamu tahu, mereka yang datang ke rumahmu malam ini hanya sekelompok orang yang diberi perintah. Mereka hanya prajurit. Dengan kata lain, yang memberi mereka perintah adalah yang sebenarnya membunuh keluargamu. Dan dia belum mati. Apa kamu akan membiarkannya berkeliaran bebas di luar sana?"
Fais masih membisu, tapi bukan berarti ia tak mendengarkan Luen. Ia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Luen, memikirkannya, merenungkannya.
"Kalau kamu bertahan hidup, suatu saat kamu pasti akan menemukannya. Dan saat itu tiba, kamu bisa membalaskan dendam keluargamu," sambung Luen sambil masih berdiri melipat tangan dengan tatapan yang meremehkan. Suaranya terkesan dingin dan tak peduli.
"Kamu adalah anak yang disebut-sebut jenius itu, kan? Yang sudah hampir menyelesaikan secondary school bahkan saat usiamu masih semuda ini. Kekuatan yang kamu miliki juga akan sangat berguna bagi pemerintah. Bukankah sayang sekali jika kamu menyerah di sini? Avalon memerlukanmu. Aku akan melatihmu sampai kamu menjadi laki-laki tangguh yang sempurna. Semua biaya hidupmu akan ditanggung negara. Tapi sebagai gantinya, kamu harus bekerja untuk negara."
Masih tak ada tanggapan dari Fais, ia tetap menatap permukaan meja sambil memegangi segelas air minum di tangannya. "Aku... aku... tidak mau..."
"Keluargamu baru saja mati, Faisal," potong Luen. Seolah ia sudah tahu apa yang ingin dikatakan Fais, dan itu bukanlah jawaban yang ingin ia dengar.
"Mereka dibunuh dengan sangat keji. Di depan matamu. Adikmu yang masih kecil juga tak lolos dari p*embantaian itu. Padahal apa salah mereka? Tidakkah kamu ingin tahu kenapa mereka dibunuh? Dan jawabannya hanya bisa kamu dapatkan jika kamu menemukan pelaku yang sebenarnya. Dia ada dan masih hidup. Di suatu tempat yang nyaman, menerima kabar bahwa keluargamu sudah dihabisi. Dan dia menganggap kabar itu sebagai berita baik. Ia sedang tertawa, berpesta atas keberhasilannya membunuh keluargamu."
Luen melangkah memutari meja dan kini berdiri tepat di sebelah Fais. "Apa kamu akan membiarkannya?" Suara Luen kali ini terdengar lebih halus.
“Mungkin saja nanti ia akan mengulangi hal ini. Mungkin ia sedang merencanakan untuk membunuh keluarga yang lain. Lalu akan muncul kembali anak yang bernasib sama sepertimu." Lelaki itu menyentuh pelan pundak Fais dan membuat bocah itu agak tersentak. "Kamu punya kekuatan yang bisa menghentikan orang itu. Kamu bisa menghentikan kekejamannya. Jika kamu ragu sekarang, entah berapa orang lagi yang akan menjadi korban p*mbantaian seperti ini. Ingat, sikap ragu-ragumu itu akan membuatmu kehilangan banyak hal, Faisal."
……………
Fais membuka matanya dan menemukan pemandangan gelap yang sama sekali tak berbeda dengan saat kelopak matanya masih tertutup. Ia kembali berada di ruangan dingin itu, terikat di kursi yang sama. Ternyata ia baru saja tertidur dan memimpikan kejadian di masa lalu, saat pertama kali ia mengenal lelaki bernama Luendy Herman. Saat pertama kali ia memutuskan untuk menyerahkan hidupnya demi menemukan dalang dibalik p*mbantaian keluarganya.
Ia masih ingat kejadian mengerikan di malam itu, hanya dengan satu teriakan saja, tanpa menatap mata para pembunuh itu, mereka menuruti perintahnya dan mati. Emosinya saat itu meledak, dan satu perintah lisan saja bisa mempengarungi lima orang sekaligus yang sedang berada di dekatnya.
Tapi setelah malam itu, telinga kiri Fais langsung kehilangan fungsinya. Dan ia sadar bahwa ternyata harga yang harus dibayar cukup mahal. Makanya, meskipun mungkin ia masih bisa mengeluarkan kekuatan hebat itu lagi. Ia hanya akan melakukannya di saat-saat terpenting saja, saat penting yang membuatnya merasa pantas untuk mengorbankan salah satu fungsi tubuhnya.
"Kamu sudah bangun?" tanya seorang gadis kecil tepat di depan Fais. Meskipun ia tak dapat melihat si pemilik suara, Fais tahu dia adalah Rin yang pernah ia kenal sebagai Cindy.
"Cindy? Ah... bukan. Rin," gumam Fais pelan.
"Nama asliku Cindy. Tapi aku hanya menggunakan nama itu di Eyja."
"Adik-adikmu apa kabar?"
"Mereka baik-baik saja."
"Apa mereka hanya adik palsu? Untuk membantu penyamaranmu sebagai Cindy?"
"Tidak!" tukas gadis itu setengah berteriak. "Mereka memang adikku. Aku tidak menyamar. Aku Cindy dan aku punya keluarga di Eyja."
"Lalu? Berarti kamu sedang menyamar sebagai Rin di Warriors?"
Rin tak langsung menjawab setelah pertanyaan yang dilontarkan Fais itu. Ia hanya terdiam.
"Yang mana dirimu yang sebenarnya? Cindy, gadis kecil berkepang dua di Eyja. Atau Rin, gadis poltergeist yang bekerja untuk Warriors?" sambung Fais lagi.
“Aku bergabung dengan Warriors karena mereka bilang mereka akan membiarkan keluargaku keluar dari Eyja suatu saat nanti. Jika aku banyak membantu, mereka akan menjamin kehidupan keluargaku." Rin menjelaskan sambil berusaha membendung emosinya. "Aku tahu kamu pasti marah karena telah merasa ditipu. Tapi, aku hanya..."
"Tidak apa-apa," sela Fais kemudian, "aku tidak merasa tertipu olehmu. Kamu boleh menjadi Cindy atau Rin, yang mana saja terserah padamu. Itu bukan urusanku."
Rin tak mengatakan apa-apa lagi, tapi Fais bisa membayangkan wajah bulat itu sedang cemberut di hadapannya. Ia kesal dengan ucapan Fais, tapi karena itu benar, ia tak bisa membantah.