Meski Rin tak mengatakan apa-apa lagi, Fais bisa membayangkan wajah bulat itu sedang cemberut di hadapannya. Ia kesal dengan ucapan Fais, tapi karena itu benar, ia tak bisa membantah.
"Aku tidak akan menyalahkanmu," sambung Fais lagi. "Tapi kuharap kamu berpikir dulu sebelum menyerahkan hidupmu, masa kecilmu, demi menjadi seorang Warriors. Apakah kamu yakin Sanctuary benar-benar akan menepati janjinya nanti?"
"I-itu bukan urusanmu, kan?" Rin tergagap ketika berusaha bicara ketus pada Fais.
"Ah... iya, maaf. Aku lupa. Kamu memang bebas melakukan apapun yang kamu inginkan. Sama sekali tak ada hubungannya denganku," kata Fais akhirnya. Ia sendiri tak tahu kenapa ia jadi memprovokasi Rin seperti ini. "Kita lupakan saja soal itu. Rin, jam berapa ini?" tanya Fais kemudian.
"Jam 3 sore, kamu mau makan sesuatu?"
"Tidak. Terima kasih."
Rin diam sejenak sebelum kembali melanjutkan. "Kakimu masih sakit?" tanyanya sambil menyentuh pelan lutut kiri Fais yang sudah diperban. "Aku tadi sedikit melakukan pertolongan pertama untuk lukamu. Zen keterlaluan sekali, padahal aku sudah bilang dia tak boleh menyentuhmu dengan tangan itu."
"Nona kecil, dia bisa melakukan apapun yang dia mau. Bukankah saat ini aku adalah tawanan kalian? Jadi tidak ada gunanya beramah-tamah denganku."
"Bukan begitu," suara Rin terdengar panik dan merasa bersalah, "kalau semua berjalan lancar, Armour akan bergabung dengan Warriors. Bukankah itu bagus? Jadi sebenarnya kita bukan musuh."
"Aku tidak tahu apakah aku ingin bergabung dengan kalian," tukas Fais.
"Tapi kita berada di pihak yang sama, kan?"
"Tidak. Kalian berada di pihak Sanctuary. Aku berada di pihak Avalon."
"Avalon juga Sanctuary."
"Aku tak pernah mengakui hal itu. Avalon adalah Avalon. Sanctuary hanya sekumpulan orang berpemikiran aneh yang tidak punya negara. Mereka seperti parasit. Kemanapun mereka pergi, mereka akan menghancurkan tempat yang mereka datangi. Lalu mengambil alih tanah milik orang lain."
Rin lagi-lagi hanya bisa terdiam dengan wajah cemberut. "Kenapa kamu sangat keras kepala?!" sergahnya kemudian, suaranya terdengar kesal. "Padahal kalau kamu menurut saja, kamu tidak perlu mendapat perlakuan buruk seperti ini."
Fais mendengus menahan tawa, gadis ini masih sangat polos. Walau bagaimanapun Fais menjelaskan, Rin tak akan pernah mengerti.
"Maaf, saat ini aku sedang ingin sendiri. Aku akan sangat menghargai kebaikan hatimu kalau kamu mau membiarkanku sendiri sebentar saja," kata Fais lagi.
"Tapi aku tidak tega meninggalkanmu seperti ini," Rin setengah merengek, "mereka mengikatmu terlalu kuat, sampai tanganmu berdarah begitu. Luka bakar di lututmu juga cukup parah. Waktu aku datang tadi kamu demam, badanmu panas dan kamu terus mengigau."
"Terima kasih," sahut Fais sambil tersenyum. "Aku tahu niatmu baik, tapi aku minta tolong padamu, keberadaanmu disini hanya akan membuatku terlihat semakin menyedihkan."
Selama beberapa saat, Rin tidak mengatakan apa-apa. Fais juga tak ingin menebak-nebak apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Ia memutuskan untuk menunggu reaksi Rin selanjutnya. Tapi kemudian terdengar langkah kaki yang menjauh, lalu suara pintu yang ditutup.
Kemudian hening.
Fais menghela napas lega setelah kepergian Rin, ia memang sedang butuh waktu untuk menenangkan diri, dan tak ingin diganggu siapapun. Emosinya sedang tidak stabil, jika Rin ada di situ dan terus berusaha bersikap baik padanya, ia hanya akan menjadi pelampiasan amarah Fais. Ia sebenarnya tak ingin memojokkan gadis itu, karena jika dipikirkan baik-baik, sejak awal Rin memang tak pernah menipunya.
Ya, sejak awal memang tak ada yang menipunya. Luen juga tak pernah membohonginya. Hati Fais menjadi tidak karuan seperti ini disebabkan karena kesalahannya sendiri. Ia telah salah paham dengan sikap Luen selama ini, dia terlalu besar kepala, menganggap dirinya cukup berharga di mata Luen.
Fais mencoba kembali memejamkan matanya dan tidur, ia lelah sekali, tapi pikirannya kembali melayang ke peristiwa-peristiwa di masa lalu. Satu per satu, dengan sendirinya ia mengulang kembali kenangan-kenangan itu. Terutama saat di mana ia sedang bersama dengan Luen....
……………
Sejak Fais dibawa oleh Luen, 12 tahun yang lalu. Ia tinggal di sebuah kamar yang cukup besar, tapi hanya ada dua jendela kecil berbentuk persegi di salah satu sisi ruangan itu. Letaknya juga tinggi, dan Fais tak bisa melihat apapun selain dua petak langit berukuran 30 x 20 cm melalui ventilasi itu.
Gara-gara kenangan itu, sampai sekarang Fais tak pernah suka ruangan yang berjendela kecil. Baginya, daripada ada jendela kecil di ruangan, lebih baik tidak ada jendela sama sekali. Satu-satunya tempat yang ia sukai adalah kantornya di SSU. Ia meminta jendela ruangannya di lantai dua itu dibuat sangat lebar dan menghadap langsung ke halaman kampus. Hingga ia bisa menggeser kaca jendela dan duduk di tepiannya setiap kali ia memiliki waktu senggang.
Sejak awal, Luen memang ingin memanfaatkan kemampuan Fais untuk berbagai kepentingan Zoire, namun para petinggi negara terlalu takut dengan kekuatannya itu, dan meminta Luen untuk menahan Fais untuk sementara waktu. Mereka ingin melihat apakah Fais benar-benar bisa digunakan sebelum membiarkannya bebas berkeliaran.
Berbulan-bulan Fais melewati waktu sendirian di kamar itu. Dilarang keras melakukan interaksi langsung dengannya karena dia dianggap terlalu berbahaya. Mereka memberikan apapun yang ia minta, pakaian, makanan, buku-buku, permainan dan sebagainya. Semuanya bisa ia dapatkan... semuanya selain kebebasan.
"Argh...! Kalah lagi...!" Sebuah suara terdengar melalui speaker di sudut ruangan yang tertutup itu.
"Sekali lagi," pinta Fais. "Kali ini kamu akan kubiarkan... maksudku, kali ini kamu pasti bisa menang."
"Hei... hei, anak kecil, mau sampai kapan kamu menjatuhkan harga diriku, ha? Barusan kamu mau bilang kalau kamu akan sengaja mengalah di permainan berikutnya?" protes suara itu lagi.
Fais menghela napas kecewa sambil menutup permainan catur di layar komputer yang ada di hadapannya. "Kalau kamu tidak mau menemaniku main, paling tidak, biarkan aku online supaya bisa menemukan lawan yang lain."
"Maaf, meski aku ingin sekali membantumu, tapi memberimu akses internet sama saja dengan melanggar perintah. Karirku bisa selesai, dan aku akan berakhir di tiang gantungan," sahut suara dari speaker itu lagi. Ia adalah salah seorang Guardian – anggota Divisi I – yang ditugaskan untuk mengawasi Fais. Meski mereka bisa berbicara melalui speaker, tapi Fais tak bisa melihat lawan bicaranya. Di sisi lain, Guardian yang menjaganya itu bisa menggunakan CCTV yang diinstal di salah satu sudut ruangan untuk mengamatinya.
"Kamu lawan komputer saja, coba level paling tinggi." Guardian itu mencoba memberi saran saat ia melihat bocah yang belum genap 13 tahun itu tampak murung di hadapan layar komputernya.
"Aku sudah sampai level paling akhir dan sudah memenangkan semuanya," gumam Fais pelan.
"Ah... ya ampun... kalau begitu coba permainan lain saja."
"Aku sudah menyelesaikan semua game yang kalian berikan."
Suasana kembali hening setelah jawaban Fais itu. Sang Guardian tampak bingung memikirkan cara untuk menghibur anak laki-laki yang sudah beberapa bulan terkurung di kamar itu.
"Apa selamanya aku tidak akan bisa keluar dari sini?" tanya Fais tiba-tiba.
"Itu tidak benar," tukas Guardian itu cepat, "kudengar Perdana Menteri sedang mengusahakan agar kamu diizinkan untuk melanjutkan sekolah. Kalau kamu bersikap baik dan menuruti semua yang diperintahkan, mereka akan mengizinkanmu keluar."
Hening. Tak ada reaksi dari Fais. Guardian yang tampaknya masih berusia muda itu pun kembali mengambil inisiatif untuk mencerahkan suasana.
"Bagaimana kalau aku ajukan kepada atasan untuk membelikanmu buku baru? Atau game yang baru. Katakan saja genre apa yang kamu suka, strategi, racing, action adventure? Simulasi? Aku ingin sekali memberimu yang full dive, tapi sepertinya itu tak akan diizinkan. Bagaimana? Kamu mau?"
Bahu anak kecil itu tampak bergerak naik saat ia menarik napas panjang sebelum akhirnya membalas, "Aku ingin tanaman," katanya pelan.
“Tanaman? Kenapa tiba-tiba kamu ingin tanaman?"
"Aku ingin melihat sesuatu yang hidup."
Jawaban Fais seolah memberi hantaman keras di d.a.d.a sang Guardian, ia adalah seorang wanita yang memiliki adik dengan usia hampir sama seperti Fais saat itu. Setiap hari melihat Fais melawan depresi di dalam ruangan yang nyaris tanpa cahaya matahari, pelan-pelan membuat nuraninya memberontak. Ia semakin tidak tega dan itu yang menjadi alasannya untuk selalu menemani Fais bermain game atau sekedar mengobrol melalui speaker.
"Aku rasa kalau hanya tanaman, mereka pasti akan mengabulkannya," ujar Guardian itu lagi. "Kenapa kamu tidak minta peliharaan saja, seperti kucing atau anjing, burung atau ikan, bukankah hewan peliharaan bisa menjadi teman yang lebih baik?"
"Aku tidak mau ada makhluk lain yang harus terkurung di ruangan ini bersamaku," balas Fais lagi, "kalau hanya tanaman, asalkan diberi air dan pupuk, pasti akan tumbuh subur. Tapi kalau hewan peliharaan, mereka akan mengalami nasib yang sama denganku dan menderita."
"Oh... ya Tuhan..." Guardian itu buru-buru mendekap mulutnya saat ia hampir saja meratap di depan mikrofon. Air mata sudah tergenang di kelopak matanya dan ia berusaha keras untuk menahan diri.
"Jangan menangis..." Fais menoleh ke kamera CCTV seolah ingin bicara langsung dengan Guardian itu. "Kalau mereka tahu kamu menangis karena kasihan padaku, mereka akan menggantimu... Aku tidak mau kehilangan teman lagi."
Fais tak pernah tahu siapa nama Guardian itu dan bagaimana rupanya, bahkan suaranya pun hanya ia dengar melalui speaker. Namun beberapa hari setelah itu, seorang Guardian baru sudah menggantikannya. Saat Fais bertanya kemana wanita yang biasa mengawasinya, Guardian itu hanya menjawab bahwa wanita itu sudah dipindahtugaskan.
Semuanya terasa begitu berbeda, Guardian yang baru itu tak pernah mengobrol dengan Fais, hanya sesekali bicara melalui speaker saat memberi makanan dan menyuruh Fais meletakkan piring atau sisa makanan di dekat pet door flap di bagian bawah pintu. Mereka memberi Fais tanaman tomat cherry, Fais merawatnya setiap hari tapi pada akhirnya tanaman itu tetap mati. Lalu mereka menawarkan kaktus agar lebih mudah dirawat, tapi Fais sudah tak ingin apa-apa lagi.