Chapter VI.6

1720 Kata
Hampir 1 tahun Fais berada dalam kondisi itu sampai akhirnya ia diizinkan keluar dan melanjutkan sekolah, dengan Luen sebagai jaminannya. Tapi bagi Fais, tetap tak banyak yang berubah. Ia tak punya siapapun yang bisa disebut sebagai teman. Ia melalui masa sekolah yang lebih cepat dari anak-anak seusianya. Ia kuliah bersama orang-orang yang usianya lebih tua darinya. Selain di lingkungan sekolah dan kampus, Fais akan selalu didampingi dua orang pengawal ke manapun ia pergi. Orang-orang mengenalnya sebagai si anak jenius yang diasuh Luen, aset penting milik negara. Mereka bicara terlalu sopan padanya, bersikap terlalu ramah hingga senyum mereka tampak kaku. Mereka tak pernah mengundangnya ke acara apapun, tak pernah mengajaknya mengobrol tentang kejadian-kejadian lucu dan menarik yang ada di sekitarnya. Mereka hanya bicara padanya jika menyangkut persoalan akademik, atau mengenai hal-hal serius lainnya. "Ada pesta sweet seventeen anak Menteri Pendidikan, kamu mau datang?" tanya Luen di suatu siang. Saat ia menjemput Fais dari kampus. Luen tidak mengantar-jemputnya setiap hari – ada orang lain yang melakukannya – tapi setiap kali Luen muncul dan duduk di jok belakang mobil yang menjemput Fais, pasti ada pekerjaan yang harus dilakukan Fais hari itu. "Saya tidak kenal orangnya," sahut Fais datar. "Tapi dia mengundangmu. Katanya kalian sering berada di kelas yang sama di kampus." "Kalau menghadiri pesta itu ada hubungannya dengan pekerjaan kali ini, saya akan datang." Luen menarik napas panjang di sebelahnya, ia lalu berhenti menatap Fais dan duduk menyandar untuk melemaskan punggung. "Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang akan kuberikan padamu. Itu murni undangan pesta ulang tahun," katanya kemudian. "Kamu jangan salah paham, Faisal. Aku memang membatasi gerakanmu, tapi aku tak pernah melarangmu berteman." "Saya tidak berteman, saya bersosialisasi. Karena itu akan lebih memudahkan segala urusan." Tak ada tanggapan dari Luen setelah perkataan Fais itu, matanya menerawang melewati kaca jendela mobil. "Mungkin memang lebih baik begitu," gumamnya, "jadi jika suatu saat kamu menemukan kenyataan bahwa orang yang membunuh keluargamu ternyata ada di sekitarmu dan kamu mengenalnya cukup baik selama ini, kamu tak akan pernah ragu untuk menghabisinya." Luen menoleh dan menatap wajah anak muda di sampingnya. "Ingat baik-baik, siapapun dia, kamu tak boleh ragu. Dia adalah tujuanmu. Sampai kapanpun, jika kamu belum berhasil menemukannya, dan membalaskan dendam orang tuamu. Kamu tidak boleh mati." "Tenang saja," sahut Fais tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalan lurus di depan sana, "saya tidak akan mati sebelum dia." …………… "Kata Rin, kamu sakit?" Sebuah suara ringan yang tidak asing, masuk ke ruang dengar Fais dan membuyarkan lamunannya. Ia menghela napas malas karena yang ada di hadapannya adalah orang yang paling tidak ingin ia temui saat ini. Zen, sang pemimpin Exorcist. "Kamu sih, ditawari makan tidak mau," suara Zen terdengar mendekat bersamaan dengan suara kursi yang diseret ke hadapan Fais. "Dari kemarin kamu tidak makan dan minum. Kurasa juga, luka yang kutinggalkan bukan cuma di lututmu. Kamu tahu? Aku bicara soal Luen dan Warriors." Fais masih tak ingin menanggapi orang itu. Cara bicaranya memang terkesan santai, tapi ia tak pernah tahu apa yang akan dilakukan Zen selanjutnya. Keadaan juga diperburuk dengan ditutupnya kedua mata Fais. Ia jadi harus meraba-raba situasi di sekitarnya. "Tuan Armour, kamu ini terlalu serius," ujar Zen lagi. "Tak ada lagi yang bisa kamu lakukan, jadi tak ada gunanya bersikap keras kepala. Untuk apa kamu memikirkan yang sudah berlalu, jangan menyia-nyiakan hidupmu, saatnya untuk menatap masa depan. Lagipula, balas dendam itu tidak baik." Fais mendengus tertawa sambil menggeleng tak habis pikir. "Bijak sekali," gumamnya kemudian. "Sayangnya ucapan itu keluar dari seorang anti-perfeksionis yang bahkan mungkin tidak berkedip saat mencabut nyawa orang." "Hei... aku tidak membunuh, biasanya Han yang melakukan itu, aku tidak suka menghabisi nyawa orang. Membunuh itu artinya aku menyelesaikannya terlalu sempurna, dan aku tidak suka itu." Zen mengangkat bahunya cuek seolah ia sedang bicara soal kegiatan sehari-hari. Fais tak ingin meladeninya bicara lagi. Bicara dengan Zen perlahan akan membuatnya terbawa suasana, karena Zen sangat pandai mengolah kata dengan emosi yang luar biasa ringan dan stabil. Jika karakter Zen sangat santai, ia tak boleh melawannya dengan emosi yang meledak-ledak, karena itu akan membuatnya menjadi pihak yang kalah. Lelaki itu mungkin sedang melancarkan aksi untuk menggabungkan Armour dengan Warriors. Dan jika memang itu yang mereka mau, Fais mulai berpikir untuk mengikuti permainan mereka. "Aku bawakan makanan untukmu," ujar Zen lagi. "Ini sudah sore dan hampir gelap. Kamu harus makan sesuatu. Tapi, sorry, aku tak bisa melepaskan tanganmu. Aku juga tidak bisa membuka penutup matamu. Jadi, kurasa sebaiknya aku memanggil seseorang yang bisa menyuapimu. Kamu tidak keberatan, kan?" "Aku ingin bergabung dengan kalian," ujar Fais tiba-tiba. "Apa?” "Aku memutuskan untuk bergabung," tegasnya lagi, "tapi sebagai gantinya, Luen harus mati dan hanya aku yang boleh membunuhnya." Senyum merekah di wajah Zen. "Luar biasa! Ini berita bagus! Ben, kau dengar itu? Kita berhasil merekrut Armour! Bos pasti akan sangat senang." Ia berteriak kegirangan. "Ya ampun, apa yang harus kulakukan? Ah iya, aku harus lapor dulu." Suara ceria itu terdengar menjauh dengan langkah cepat setengah berlari menuju pintu. "Kau tidak berpikir untuk mempercayainya begitu saja, kan?" Ben memperingatkan Zen untuk tidak terlalu senang. "Memangnya dia mau bekerja sama tanpa berusaha mempengaruhi kita dengan kemampuan anehnya itu?" "Aku dan Bos sudah memperkirakan hal ini. Kita akan menyegel matanya dan hanya akan membukanya saat dibutuhkan, dengan begitu dia tidak akan bisa menyerang kita, tenang saja." Zen terdengar menjawab dari kejauhan. "Jaga baik-baik, ya. Jangan lengah. Dia lebih pintar darimu." "Dan juga darimu!" timpal Ben jengkel. Tapi Zen hanya tertawa menanggapinya. Suara langkah kaki terdengar mendekat, kemudian seseorang duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Zen. Lelaki itu menghempas napas sambil lalu mengetuk-ngetuk lengan kursi. Ia sedang mengamati Fais. "Kalau kamu ingin bunuh diri, aku akan berbaik hati membantumu." Suara Ben terdengar tepat di depan Fais. "Tidak, terima kasih." "Dengar, aku tidak tahu apa yang kamu rencanakan. Tapi yang pasti itu tidak akan berhasil." "Aku tidak merencanakan apa-apa. Aku hanya ingin menghabisi Luen." "Hanya itu?" "Aku hidup hanya untuk itu." "Menyedihkan. Orang hebat sepertimu, hidup hanya untuk balas dendam. Sebelumnya kamu membabi-buta membenci WoLf, sekarang kamu mengganti targetmu. Setelah itu apa?" "Tidak ada. Setelah itu aku tak peduli lagi." "Kasihan sekali orang-orang di sekitarmu, para anggota Armour itu, apa mereka tahu kalau kamu sama sekali tak peduli dengan nasib mereka?" Ben setengah mencibir. "Kami tidak akan pernah mempercayaimu, jangan pikir kami akan menjanjikanmu yang manis-manis. Untuk beberapa tahun ke depan kamu harus membiasakan diri hidup dalam kegelapan, karena mereka akan menutup matamu dengan alat khusus yang hanya bisa dibuka atas seizin Bos. Kami akan menggunakanmu sampai titik darah penghabisan, dan tak ada sedikitpun ruang kebebasan untukmu. Apa kamu masih yakin ingin bergabung dengan kami?" Fais tak langsung menjawab, ia tak mengerti kenapa Ben mengatakan ini semua. Harusnya dia diam saja dan memanfaatkan Fais sampai akhir. Tapi dengan menakut-nakuti Fais seperti ini, apa dia ingin Fais memikirkan kembali keputusan yang sudah ia buat? "Kalau kamu berubah pikiran, ini masih belum terlambat," kata Ben lagi. "Kalau aku berubah pikiran, tetap saja tak ada yang bisa kulakukan." "Ada. Kamu bisa mati di sini. Aku sudah bilang aku akan membantumu, kan. Kupastikan kamu akan mati dengan cara yang cepat dan tidak sakit." "Aku hargai bantuanmu. Tapi aku sudah berjanji untuk tidak akan mati sebelum dia." "Cih! Keras kepala," gerutu Ben kemudian. "Aku beri tahu, bergabung dengan Warriors atau tidak, tetap saja kau tidak bisa bertindak sesuka hatimu. Tidak... memang sejak awal harusnya kau tidak dibolehkan memiliki keinginan pribadi. Kau tidak punya hak. Kau ini monster. Semua yang kau miliki saat ini pasti didapatkan dengan menggunakan kemampuan itu. Memaksa semua orang untuk menurutimu, kau dan kekuatan mengerikanmu itu, seharusnya tidak pernah ada sejak awal." Fais membalas omelan Ben dengan sikap bisu, tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulutnya, tapi hal itu malah membuat Ben kesal karena merasa diabaikan. Baru saja Ben membuka mulut untuk melanjutkan ocehannya saat sayup-sayup terdengar suara tawa dari Fais, perlahan semakin jelas hingga akhirnya Fais menengadahkan wajahnya untuk melepaskan tawa sekeras-kerasnya. Mereka takut padanya. Mereka kira kekuatan Fais tidak punya batasan. Entah mengapa Fais merasa itu lucu sekali. Apa mereka kira nilai-nilai sempurna yang didapatkan Fais di sekolah dan kampus adalah hasil dari authority command? Jika memang Fais menggunakan kekuatan itu di setiap kesempatan, saat ini Fais sudah lumpuh dan c.a.c.a.t dari ubun-ubun sampai ujung kaki. "Apa yang lucu?!" Ben mulai gusar. Ia mencengkram kerah baju Fais dan mengambil ancang-ancang untuk memukul wajah lelaki itu. "Hei! Diam! Berhenti tertawa!" "Menggelikan." Fais akhirnya menjawab setelah tawanya reda. "Akui saja, kita semua ini monster. Bedanya hanya kekuatanmu itu lemah, mana bisa disamakan denganku." BUK! Sebuah pukulan mendarat keras di pipi Fais. "Kau tidak tahu apa yang sudah kami lalui!" hardik Ben. "Kau yang selalu dianak-emaskan, kau yang selalu mendapatkan semua yang kau inginkan, tahu apa tentang kehidupan orang-orang seperti kami?!" Lagi-lagi Fais membalas Ben dengan tawa ironi, tapi langsung dibayar tunai dengan pukulan lainnya oleh Ben. Fais meludahkan darah dari mulutnya sebelum kembali melanjutkan cemoohnya, "Jadi sekarang kamu ingin dikasihani? Konyol sekali. Kamu dan teman-teman Exorcist-mu itu, kalian semua tidak akan pernah menyamai levelku, ayolah... kalian harus sadar diri. Lihat dirimu itu. Kau kira kau siapa? Tak ada yang peduli denganmu, kau cuma alat yang akan digunakan sampai hancur." "Diam!" "Kau yang diam!" Teriakan Fais dua kali lipat lebih keras dari Ben, dan Ben benar-benar terdiam dibuatnya. Keringat dingin bergulir ke dagu Fais dan menetes di lantai. Sejak tadi ia berusaha memusatkan pikirannya untuk kembali melakukan command tanpa kontak mata, dan ia tak tahu apakah perintah "diam" barusan berhasil atau Ben terdiam hanya karena merasa kaget. Kepala Fais mulai terasa sakit seperti akan terbelah dua, tapi ia harus tetap memusatkan seluruh konsentrasi untuk sekali lagi mengeluarkan kemampuan seperti saat malam p*mbantaian 12 tahun lalu. Ia bertekad mengerahkan seluruh tenaga dan siap kehilangan satu atau dua fungsi tubuh sekaligus, asalkan ia bisa segera lepas dan keluar dari tempat itu. Fais tak bisa berpura-pura bergabung dengan Warriors, tidak boleh. Itu tidak akan berhasil dan hanya akan membuatnya semakin terjerumus dalam permainan mereka. Membiarkan dirinya terperangkap dan digunakan oleh Warriors sampai titik darah penghabisan? Yang benar saja, ia tidak mau hidup seperti itu lagi. Sejak awal ia memang tak pernah berniat untuk bergabung. Ia hanya ingin memanfaatkan kesempatan yang timbul saat mereka melepas penutup mata atau tali yang mengikatnya. Tapi bergantung pada kemungkinan kecil seperti itu sangat berisiko. Kebetulan sekali Ben mengajaknya bicara dan dia memiliki cukup banyak celah yang bisa dimanfaatkan. "Sekarang lepaskan aku," perintahnya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN