Chapter VI.7

1504 Kata
"Sekarang lepaskan aku," perintah Fais lagi. Tapi tak ada tanda-tanda Ben akan melepaskan tali yang mengikatnya. Fais mengisi penuh udara di paru-parunya, lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengalirkan luapan emosi dan energi di tubuhnya untuk command yang akan ia keluarkan sekali lagi. "Cepat lepaskan ikatannya!" Fais harus setengah berteriak agar bisa lebih fokus mengerahkan seluruh kemampuannya, meski dalam hati ia tetap berharap tak ada Exorcist lain di sekitar tempat itu. Namun akhirnya ia merasakan seseorang sedang membuka tali yang mengikat tangan dan kakinya, lalu membuka penutup matanya. Fais kembali melihat cahaya, tapi ia tak boleh lengah. Authority command hanya akan berlaku sampai perintah dilaksanakan, atau jika perintah itu jangka panjang, ia hanya akan berpengaruh sampai 13-14 hari. Dan kali ini, perintah yang diberikan hanya untuk melepaskan ikatan, maka setelah Ben selesai melaksanakan perintah itu, ia akan lepas dari pengaruh Fais. Selama sepersekian detik, Ben masih tampak shock melihat Fais yang sudah terbebas dari tali yang mengikatnya. Tapi sayangnya, Fais masih belum bisa merasakan kedua lengannya yang sudah cukup lama terikat, ia terlambat bereaksi. Ben langsung meninju wajah Fais dan menerjangnya ke lantai. "Berani membodohiku, ha!" geram Ben. Ia berada di atas Fais dan tak memberinya kesempatan untuk bangkit. Dihempaskannya kepala Fais beberapa kali ke lantai. Tangan Fais yang sesaat tadi mati rasa kini mulai dialiri darah, otot lengannya juga mulai bergerak sesuai perintah. Dengan cepat ia menyambar batang tenggorokan Ben. "Dengar, kau akan membawaku keluar dari sini dengan selamat," kata Fais sambil menatap mata Ben lekat-lekat. Ia lalu menyentakkan tangannya yang mencengkram kuat leher Ben untuk kembali mempertegas perintahnya. "Kau mengerti?! Bawa aku keluar dari sini dengan selamat!" Mata Ben melebar seperti kerasukan sesuatu, ia lalu bangkit dan membantu Fais berdiri. Terpincang, Fais mengikuti si lelaki berambut gondrong menuju satu-satunya pintu keluar di ruangan itu. Kepalanya sakit dan tangan kirinya sama sekali tidak pulih seperti tangan kanannya. Tangan itu sudah lumpuh total, tak bisa lagi digerakkan. Kemungkinan karena Authority Command yang ia kerahkan tadi. Mereka menyusuri lorong yang hanya diterangi cahaya obor, sampai akhirnya tiba di sebuah koridor terbuka, balkon yang sangat panjang beberapa meter di atas permukaan tanah. Pemandangan di sisi kanannya adalah pesisir pantai dengan langit jingga dan matahari senja yang nyaris tenggelam di ufuk barat, tak ada rumah di sana, hanya ada pepohonan yang lebat. Mereka sedang berada di lantai dua sebuah bangunan yang lebih mirip kastil tua. Ben masih berjalan cepat di depannya, Fais bahkan harus berusaha keras agar tidak tertinggal. Mereka mulai kembali memasuki lorong dan menuruni tangga yang memutar. Saat Fais masih mengira-ngira sampai dimana tubuhnya mampu bertahan, sebuah suara perempuan menghentikan langkahnya. "Ben, mau kemana? Nanti siang kita..." Perempuan berambut panjang yang mereka panggil Rey itu menghentikan kalimatnya saat tatapannya terpaku pada Fais yang mematung di belakang Ben. Keadaan diperparah ketika Han muncul dari belakang perempuan itu. "Mau dibawa kemana dia?" tanya Han yang masih tak menyadari situasi saat ini. Tapi ketika Ben menuruni satu anak tangga berdiri di hadapan Fais dan mengambil kuda-kuda untuk bertarung dengan dua Exorcist di hadapannya, mereka langsung tahu ada yang tidak beres. "Dia mau kabur!" teriak Rey. Dengan cepat ia mengambil pijakan di dinding agar bisa melompat melewati Ben dan menyerang Fais. Tapi Ben menangkap kakinya hingga ia terbanting ke tangga. "Kau hadapi Ben, aku akan menangkapnya!" kata Han sambil melompati Rey dan Ben untuk berhadapan dengan Fais. "Menggunakan Ben? Itu pilihan bodoh. Harusnya kamu gunakan aku." Ia masih sempat mengatakan itu sambil melayangkan pukulan dan tendangan yang berhasil ditangkis Fais. "Sial! Kalau Zen dan Rin datang, habislah semua!" batin Fais panik. Ia tak boleh membuang waktu di sini, lagipula bertarung dengan satu tangan dan satu kaki yang terluka juga sangat merepotkan. Han melayangkan satu tendangan memutar sekuat tenaga untuk menjatuhkan Fais, tapi beruntung Fais masih bisa mengelak. Ia membungkuk dan berlari menerjang Han menggunakan seluruh tubuhnya hingga lelaki gemulai itu terdorong dan menabrak dinding di belakangnya. Sebelum Han sempat bertindak, Fais langsung mencengkram kerah baju Han dan berteriak di depan wajahnya, "MATI!" Han tersentak dengan ekspresi wajah yang berubah kaku. Ia lalu berjalan melewati Fais, menaiki satu per satu anak tangga. Napas Fais masih terengah-engah saat matanya mengikuti gerakan Han, ia menelan ludah dan membayangkan lelaki itu akan melompat dari balkon untuk menuruti perintahnya. Baru beberapa saat Han hilang di balik tembok, sebuah teriakan histeris terdengar dari ujung tangga. "Han! Hentikan! Kau ini kenapa?!" Ternyata Rin menemukan perilaku aneh Han di atas sana. Gerakan Rey terhenti mendengar suara yang berasal dari ujung tangga, "Rin! Di bawah sini!" teriak Rey. Tapi karena perhatiannya teralihkan, pukulan Ben masuk dan menghantam kuat perut wanita itu. Ia terduduk kesakitan dan Fais menggunakan kesempatan itu untuk berlari melewatinya. “Ayo, cepat!" teriaknya pada Ben yang langsung bergerak mengikuti. Mereka tiba diujung tangga, dan langkah Fais terhenti karena tak tahu arah mana yang harus dilalui menuju jalan keluarnya. Tapi kemudian Ben berlari melewatinya menyusuri salah satu lorong dengan beberapa pintu di kiri kanannya. Lorong itu hampir mirip Quarter Amour, hanya saja, yang ini lebih panjang dan gelap. Sampai akhirnya ia mulai melihat cahaya di ujung sana, lalu saat keluar dari lorong mereka tiba di ruangan yang sangat luas seperti sebuah lobby. Ada banyak jendela besar bergaya klasik, lalu sebuah pintu besar dengan ukiran kuno di sekelilingnya. Tinggi menjulang di seberang ruangan. "Itu pintu keluar?" tanyanya pada Ben yang hanya membalas dengan anggukan. Melupakan seluruh rasa nyeri di tubuhnya, Fais belari menuju pintu besar itu bersama dengan Ben. Sudah ada di depan mata, ia hanya perlu melewatinya dan bebas. "Aku kira ada ribut-ribut apa." Suara Zen lebih dulu terdengar sebelum ia muncul dari balik pintu yang jauh lebih kecil di salah satu sudut ruangan. "Ternyata teman ngobrolku mau kabur," katanya lagi. Fais terluka parah, ia sadar tak akan menang jika harus bertarung melawan Zen. Maka ia memutuskan untuk tak mempedulikan lelaki itu dan kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar. Saat melewati Ben, ia menyempatkan diri untuk memberi perintah baru. "Setelah aku berhasil keluar dari sini, bunuh Zen dan dirimu sendiri," gumamnya sambil lalu. "Padahal sudah kubilang kamu harus hati-hati karena dia lebih pintar darimu, Ben. Ah... ya ampun, sekarang kamu sudah berada di bawah pengaruhnya. Merepotkan saja." Zen masih bicara santai sambil melangkah ringan menuju Fais dan Ben di tengah ruangan besar itu. Fais membuat gerakan tiba-tiba dan berlari menuju pintu, Ben pun langsung bergerak bersamanya, menjadi tameng untuk menghadapi serangan Zen. Tapi Zen tidak bodoh, ia tak akan meladeni Ben. Ia mengikuti Fais dan bermaksud untuk menjatuhkannya. Beruntung Ben berhasil menarik baju Zen sambil lalu melayangkan tendangan ke pinggangnya. Zen tidak terjatuh, tapi Fais berhasil lolos darinya. Fais menggunakan tenaga dorong dari seluruh tubuhnya untuk membuka pintu besar itu. Susah payah ia berhasil keluar, namun hanya beberapa langkah dari pintu, tiba-tiba terdengar suara siulan nyaring yang pernah ia dengar di sekolah Eyja kemarin. Burung-burung mendadak berterbangan keluar dari balik pepohonan. Kemudian suara teriakan monyet terdengar dari segala arah, hingga beberapa saat berselang, muncul sekelompok monyet yang berlarian menuju ke arah Fais. Untuk beberapa saat ia sempat reflex mematung, mengira hewan-hewan itu akan menyerangnya. Tapi kemudian gerombolan monyet itu melewatinya, hewan-hewan mamalia itu tampak sangat liar menuju Ben dan Zen yang masih berkelahi di dalam sana. Tanpa membuang waktu lagi, Fais berlari meninggalkan tempat itu, menyibak dedaunan dan ranting yang menghalangi jalannya. "Kurang ajar kau, Ben! Hentikan! Han! Aaargh...! Rin...! Di mana kalian semua?!" Terdengar teriakan frustasi Zen memaki temannya dan sesekali meminta tolong pada Exorcist lain di sela suara-suara monyet yang memecah kesunyian hutan. Meski begitu, Fais belum bisa merasa lega. Mungkin memang setelah ini Exorcist akan disibukkan dengan dua anggotanya yang berusaha bunuh diri, tapi kemampuan telekinesis Rin pasti bisa mengendalikan situasi, maka setelah itu mereka juga pasti akan memburu Fais. Saat ini Fais hanya bisa terus berlari tanpa menoleh ke belakang, ia tak peduli dengan luka gores akibat sabetan tanaman liar di sekitarnya, tak peduli lutut kirinya yang mulai berdenyut-denyut nyeri. Ia hanya perlu pergi sejauh mungkin dari kastil itu.... Entah sudah berapa lama ia berlari, Fais mulai bisa melihat laut di ujung sana melalui celah pepohonan dan tumbuhan liar. Ia mempercepat langkah sampai akhirnya tiba di ruang terbuka. Berlantaikan pasir putih dan beratapkan langit senja, memantulkan warna indah yang sama pada lautan yang berkilauan di depannya. Bahunya naik-turun berusaha mengatur napas yang semakin berat, ia menyeret langkah menuju tepian ombak kemudian menatap ke arah yang baru saja ia tinggalkan. Ternyata pulau itu bukan Eyja, satu-satunya bangunan yang tampak hanyalah kastil tua di atas bukit yang tertutupi pepohonan. Dan tampaknya pulau itu jauh lebih kecil dari Eyja. Lelaki yang sudah nyaris kehabisan tenaga itu kini menatap berkeliling, tak ada apapun yang dapat digunakannya untuk berlayar. Jika ia nekat berenang, itu sama saja dengan bunuh diri. Sejenak terlintas di benaknya untuk menyerah saja, setiap sendi tubuhnya sudah menjerit kesakitan, hingga rasanya ia ingin sekali menjatuhkan tubuhnya dan membiarkan ombak menggulungnya ke dasar laut. "Apa memang sudah sampai di sini saja?" pikirnya lagi. Sampai kemudian ia melihat sesuatu di pesisir pantai, di atas pasir yang jaraknya tak jauh dari pepohonan, tampak kelapa-kelapa tua yang sepertinya sudah lama jatuh dari pohonnya.... . - End of Chapter VI -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN