Suara pendingin ruangan dan jari telunjuk Zidan yang mengetuk-ngetuk meja adalah satu-satunya yang terdengar di Quarter. Saat keempat Armour kembali dari Eyja dalam kondisi frustasi dan kelelahan, jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi dan emosi Zidan sedang sangat buruk.
Ia sudah lepas dari pengaruh Fais. Karena prinsipnya, pengaruh command itu akan hilang saat perintah sudah berhasil dijalankan. Itu sebabnya, saat Zidan dan yang lainnya sudah kembali ke Quarter dengan selamat, Zidan sudah tak lagi berada di bawah pengaruh command. Namun, yang kemudian tersisa di diri Zidan saat ini hanyalah amarah yang bercampur dengan penyesalan.
"Apa yang kalian lakukan?" Akhirnya Zidan mengeluarkan pertanyaan itu pada Ariel dan Ai. "Di saat kami kesusahan di Eyja sampai harus kehilangan Fais, kalian malah membiarkan bom meledak di Ivory Palace dan membunuh Kapten Divisi-6."
“Aku hanya 'melihat' bom yang akan meledak di Hangee Park, dan kami sudah berhasil mencegahnya. Siapa yang mengira ada bom lain yang akan meledak di Ring III."
"Siapa yang mengira Third dan Seventh di Armour begitu tidak berguna hingga kalian tak menghasilkan apa-apa selama kami semua diserang oleh Warriors." Nda mencecar Ariel dan Ai dengan kata-kata ketus, tapi Zidan merentangkan telapak tangannya untuk menyuruh gadis itu diam. Ia jelas tak ingin siapapun menyela saat ini.
"Kenapa sebelumnya kamu tidak menceritakan soal ledakan di Hangee Park itu kepada Fais? Bukankah seharusnya kamu menceritakan semua yang kamu lihat di mimpimu?" tanya Zidan lagi.
"Aku nggak mau membuat pikirannya jadi bercabang. Kamu lihat sendiri keadaannya sebelum berangkat ke Eyja, dia sangat kacau. Kalau aku bilang soal bom itu, dia akan semakin kehilangan fokus dan itu berbahaya untuk misi kalian di Eyja. Jadi kupikir, biar aku selesaikan sendiri saja."
"Tapi kenyataannya tetap saja..." Zidan tak melanjutkan kalimatnya karena ia sendiri tahu bahwa sangat tidak adil menyalahkan Ariel mengenai masalah ini.
Nda menghempas napas sambil melipat tangan dan menyandar di kursinya, Niya masih menopang kening tanpa banyak bicara, Kevin terlihat sangat kelelahan dan sedang menghirup inhaler untuk mencegah asmanya kambuh.
"Aku bertemu beberapa orang ketika berada di rumah duka keluarga Hargiansyah dan berhasil mengumpulkan sedikit informasi selama berada di sana," ujar Ai tiba-tiba. Ia membuat seluruh perhatian di meja itu kini tertuju padanya.
Ai memang tidak sedang membual. Meski kedatangannya ke rumah itu murni untuk memberi penghormatan terakhir kepada Tama Hargiansyah dan mengucapkan kalimat dukacita kepada keluarga yang ditinggalkan, tapi ada terlalu banyak informasi yang berseliweran dan tak bisa diabaikan.
"Jadi saat aku tidak sengaja menatap mereka... atau... tidak sengaja mengobrol dengan salah satu dari mereka... bukan berarti aku sengaja ingin memata-matai... tapi... waktu itu aku hanya..."
“Ai, kami mengerti," Ariel buru-buru menyelanya, "jadi kamu nggak perlu menjelaskan itu di sini. Kami cuma mau mendengar informasi darimu. Percayalah, nggak ada yang akan menghakimimu di sini."
Ai menarik napas dalam-dalam sambil meluruskan kembali tekadnya, ini bukan soal Ai yang mencari kesempatan disaat Hagi sedang berduka, tapi semua informasi yang berhubungan dengan Sanctuary sangat penting dan tidak bisa ia simpan sendiri.
"Hagi baru bergabung sekitar satu setengah tahun lalu," Ai memulai penjelasannya, "ia direkrut oleh Sanctuary, atas rekomendasi ayahnya, sebagai calon Warriors generasi berikutnya. Ia tidak tahu banyak karena sampai saat ini statusnya masih Trainee."
"Apa itu bukan karena kamu ingin melindungi pacarmu? Makanya kamu buat seolah ia belum banyak terlibat." Nda dan kata-kata ketusnya lagi.
"Dengar, aku tidak tahu kenapa kamu tidak menyukaiku," akhirnya Ai memutuskan untuk langsung melabrak Nda, "tapi aku hanya mencoba menjalankan peranku di sini. Kamu mau percaya atau tidak, terserah. Aku tidak punya tanggung jawab untuk membuatmu puas."
"Ini bukan masalah aku menyukaimu atau tidak. Aku kan hanya melontarkan pertanyaan yang logis, bisa saja kan, kamu..."
"Nda, diam." Tegas Zidan tanpa perlu menghardik. "Lanjutkan, Ai."
Ai menghempas napas jengkel sebelum kembali melanjutkan. "Aku bertemu beberapa orang Warriors di sana. Warriors itu adalah kelompok..."
"Kami tahu siapa itu Warriors," sela Zidan cepat. "Yang paling penting... apa ada dari mereka yang tanpa sengaja membocorkan informasi tentang Fais?"
Ai menggeleng pelan. "Sayangnya, Warriors yang ada di sana sepertinya tidak terlibat dengan p*nculikan Fais," terangnya lagi. "Yang aku tahu, mereka adalah orang-orang yang terlibat dengan WoLf palsu, kelompok yang awalnya dibentuk oleh pemerintah untuk membuat WoLf Kiriyan terlihat seperti kumpulan teroris yang berbahaya. WoLf palsu itu terdiri dari beberapa Warriors yang dipinjamkan oleh Sanctuary kepada pemerintah. Tapi belakangan ini, WoLf palsu – yang pada dasarnya adalah Warriors – mulai digunakan untuk membuat teror agar masyarakat meragukan kepemimpinan Zoire, karena Sanctuary ingin mengambil alih. Saat ini Hagi berperan sebagai anggota tim IT dan bergerak dengan kode nama NN, salah satu tugasnya adalah menimbulkan kekacauan dan keresahan di tengah masyarakat."
Ai mengambil jeda sejenak, menunggu reaksi dari sekeliling meja. Tapi karena tak ada yang ingin menyela, ia melanjutkan, "Posisi Armour sedang terancam. Sebagian besar pejabat negara yang datang saat itu adalah pendukung Sanctuary, mereka ingin menyingkirkan Zoire dan semua pihak yang dianggap setia pada Zoire. Saat ini yang berada dalam bahaya adalah Divisi I-Guardian dan Divisi 7-Armour. Kedua divisi itu dianggap sebagai yang paling loyal kepada Zoire dan tak akan mau berkompromi. Guardian, sebagai penjaga Ivory Palace adalah yang paling dekat dengat Zoire, dan Armour dianggap sebagai ancaman yang tidak boleh dibiarkan."
"Sejauh apa mereka tahu tentang Armour?" tanya Zidan kemudian.
"Aku tidak begitu tahu dengan yang lain, tapi kalau dari Hagi, sepertinya ia hanya tahu bahwa Armour berisi 7 orang dengan bakat-bakat yang berbeda, meski dia tak tahu siapa memiliki bakat apa," balas Ai. "Sepertinya Sanctuary menganggap Eyja juga sebagai ancaman. Mereka mencurigai ada gerakan perlawanan yang mulai muncul dari sana. Tapi setiap kali mereka ingin menyerang Eyja, mereka selalu terhalang dengan izin dari Luen dan Zoire."
"Tentu saja. Di Eyja kan ada SaO dan Luen tidak mungkin menghabisi kakaknya sendiri. Ditambah lagi, sepertinya ayahmu adalah cinta pertama Zoire."
"Apa?!" Sontak Ai dan Ariel kaget dengan kalimat sambil lalu yang diucapkan dengan ringannya oleh Nda itu.
"Kita akan ke sana nanti," potong Zidan cepat, "selesaikan dulu laporanmu."
"Yang pasti, saat ini Ivory Palace sedang chaos," lanjut Ai. "Jika Armour sudah tidak dibutuhkan, maka kita akan dianggap terlalu berbahaya untuk dibiarkan. Demi mengurangi risiko, mereka pasti ingin menyingkirkan kita. Fais dan Kevin adalah dua Armour yang dianggap paling mengancam. Kita harus lebih berhati-hati karena kita tak tahu rencana mereka selanjutnya."
"Apa tak ada informasi apapun yang bisa mengarahkan kita untuk menemukan Fais?" Zidan masih belum menyerah untuk mendapat secercah harapan menemukan Fais.
"Maaf..." Ai prihatin melihat kubangan air yang mulai menggenang di kelopak mata Zidan. "Kudengar, semua misi yang berhubungan dengan Armour dipimpin langsung oleh Tim Khusus mereka. Tapi aku tidak tahu..."
"Exorcist," gumam Kevin yang sejak tadi tidak mengatakan apa-apa. "Mereka specialis pembunuh."
"Aku pernah mendengar nama itu dari Hagi. Katanya, kemampuan mereka jauh di atas kita," sahut Ai lagi.
"Hebat. Kamu bisa tahu sebanyak ini hanya dalam waktu singkat," celetuk Nda.
Entah kenapa pujian setengah hati dari gadis itu terdengar seperti sindiran di telinga Ai.
"Terima kasih," jawab Ai sambil lalu.
"Apa mereka akan membunuhnya?" Seolah sudah kehilangan keganasannya, Zidan tertunduk dengan mata yang terpejam berusaha menguatkan diri – tapi itu malah membuatnya terlihat rapuh. "Apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkannya?" Suaranya terdengar parau. Ia tak menyangka konflik di Ivory Palace akan menyeret mereka menjadi target utama.
"Saat ini, kita harus menjaga Kevin yang menjadi target mereka..."
GUBRAK...!
Suara keras itu menghentikan kalimat Ai dan membuat perhatian para Armour di sekeliling meja itu tertuju pada sosok remaja yang kini sudah terbaring lemah di atas lantai. Kevin baru saja pingsan dan terjatuh dari kursinya. Sejak tadi ia memang sudah berusaha bertahan, hingga akhirnya ia tak mampu lagi.
"Kita harus menghubungi Dokter Yama..." Niya untuk pertama kalinya bersuara sejak tiba di Quarter. Matanya sembab karena tak henti-hentinya menangis. Bersama dengan Zidan dan Ariel, mereka meninggalkan ruang rapat untuk membawa Kevin ke kamarnya. Kemudian Nda menyusul tanpa mengatakan apapun kepada Ai.
***
"Kamu tidak datang ke pemakaman ayah Hagi? Aku tidak melihatmu di sana." Tiara menghampiri Ai sesaat setelah dosen mereka meninggalkan ruangan kelas di siang hari itu.
"Aku datang, tapi tidak lama," jawab Ai sambil lalu membereskan mejanya.
"Padahal kukira kamu akan menemaninya seharian."
"Sebagian orang tidak suka ditemani di saat-saat seperti itu, mereka lebih memilih sendirian."
"Tapi kurasa Hagi akan merasa sedikit lebih baik kalau kamu ada di sampingnya."
Tiara duduk di depan Ai dan menopang dagunya di atas meja. "Hhh... akhir-akhir ini sepertinya banyak sekali musibah di negeri ini," keluhnya lemas, "ditambah lagi dengan hilangnya VR1. Kenapa dia suka sekali melakukan penelitian di Eyja? Sudah jelas pulau itu berbahaya, banyak orang barbar di sana."
"Tahu darimana kamu? Memangnya sudah pernah kesana?" Ai menyela sambil tetap berusaha menyembunyikan kejengkelan pada nada bicaranya. Ai sendiri sudah pernah datang ke Eyja dan ia tahu bagaimana kondisi pulau itu yang sebenarnya.
"Belum sih. Tapi aku sudah membaca semua buku tentang Eyja, dan aku menonton beberapa film dokumenternya. Tentu saja aku tahu tanpa harus pergi kesana. Tempat itu berbahaya. Sekarang VR1 menghilang di sana, bagaimana kalau mereka tak menemukannya? Bagaimana kalau dia tidak kembali?"
"Jangan berlebihan, kamu tidak tahu apa yang terjadi di Eyja."
"Terus? Memangnya kamu tahu?"
Ai mengangkat bahunya cuek, ia tak mau terlalu meladeni pembicaraan Tiara. "Yang pasti, orang-orang yang tinggal di Eyja itu manusia seperti kita juga, mereka yang menanam semua yang kamu makan. Bagaimana mungkin kamu menganggap mereka serendah itu?"
"Terserah, aku hanya tidak mau berurusan dengan mereka. Ngomong-ngomong, kenapa kamu tidak kelihatan cemas sama sekali? VR1 kan masih ada hubungan saudara denganmu dan dia sudah hilang dua hari loh."
"Aku cemas, tapi aku yakin dia baik-baik saja dan akan segera kembali."
Sudut bibir Tiara terangkat menahan jengkel, gadis itu kesal sekali melihat kepercayaan diri Ai yang merasa begitu dekat dengan VR1 kesayangannya. "Sombong sekali, memangnya kamu bisa telepati sama VR1?" celetuknya dengan wajah cemberut.
Ai menghempas napas dan menolak menanggapi Tiara lagi. Pikirannya melayang ke tempat itu, pulau dimana Ariel dilahirkan. Selama ini, jika ia tak menyaksikannya sendiri, mungkin dia juga akan berpikir seperti Tiara. Karena memang seperti itulah Eyja digambarkan di berbagai media. Mereka orang-orang tak berpendidikan, kaum rendah, primitif, dan berbahaya. Orang Eyja hanya tahu melakukan pekerjaan kasar, yang tinggal di pulau itu hanyalah orang-orang yang dihukum dan para Third Child. Beranak pinak. Hingga jumlah mereka semakin bertambah. Walaupun dalam dekade terakhir tak ada lagi Third Child yang muncul dan dikirim ke Eyja, jumlah penduduk pulau itu tetap saja terus bertambah.
Tapi Eyja adalah tanah yang indah. Diam-diam Ai merasa kasihan pada orang-orang di Pulau Utama yang tak pernah merasakan betapa indahnya Eyja. Tempat itu seperti surga dunia. Langitnya jernih, udaranya bersih, tak ada suara klakson dan musik yang berisik. Sebagai gantinya, mereka akan mendengar orkestra indah dari serangga dan burung-burung yang terbang bebas.
"Seandainya orang tahu, apa yang sudah dilakukan pemerintah terhadap mereka yang hidup di pulau itu," batin Ai tepat saat ia menangkap sosok lelaki bernama Ariel yang baru saja melintas di depan pintu kelas. Tanpa memperlambat langkahnya, Ariel hanya mengedikkan dagu sebagai kode.
Ai baru ingat, hari ini Luen meminta Armour untuk berkumpul di ruang rapat Quarter tepat jam 3 sore, dan saat ini sekitar 15 menit lagi tersisa sebelum waktu yang ditentukan. Kebetulan sekali Ai juga sudah bosan mengobrol dengan Tiara.
"Sorry Tiara, aku duluan ya," kata Ai sambil beranjak.
"Kuliahmu sudah selesai hari ini?" tanya Tiara yang juga tampak siap-siap untuk beranjak.
"Tidak, aku... aku sedang ada sedikit urusan." Ai agak tergagap mencoba memberi alasan. Ia secara tak sengaja menghindari tatapan Tiara dan pura-pura sibuk merapikan tasnya. "Sampai ketemu besok," katanya sambil menyandang tas dan berlalu tanpa menoleh lagi.