Saat pintu lift Quarter menggeser terbuka, Ai langsung menemukan empat Armour lainnya sudah standby duduk di kursi masing-masing di ruang rapat itu - ruangan pertama yang didapati setiap kali memasuki Quarter karena letaknya yang memang di bagian depan.
"Kevin masih belum pulih?" tanya Ai basa-basi. Tentu saja ia tahu jika anak itu tidak muncul hari ini, dia pasti masih terbaring di rumah sakit.
"Iya, dia sedang istirahat di kamarnya," jawab Zidan tanpa mengalihkan pandangan dari layar virtual alltech-nya. Ia tampak sedang serius membaca sebuah artikel.
"Di kamarnya? Kenapa tidak dibawa ke klinik Dokter Yama?" Nda terdengar agak kesal.
"Keadaannya sudah membaik."
"Tapi seharusnya dia dirawat di..."
"Nda, aku capek kalau harus mengulang-ulang penjelasan yang sama." Zidan akhirnya mengalihkan perhatian dari alltech-nya untuk melempar tatapan super jengkel pada Nda. "Bukankah kemarin Ai sudah menjelaskan, kita harus menjaga Kevin baik-baik karena kita tidak tahu siapa yang bisa dipercaya di dalam Ivory Palace. Fais dan Kevin adalah anggota Armour yang paling diincar, setelah Fais hilang, menurutmu siapa yang akan hilang selanjutnya?!"
"Ng... ya maaf... aku kan tidak tahu..."
"Kamu bukannya tidak tahu, tapi kamu melupakan semua pembicaraan kita kemarin!"
"Apa boleh buat. Itu dampak dari kemampuan manipulasi memoriku..."
"Kalau kamu tidak menggunakannya, kamu tidak perlu kehilangan memori, kan? Kamu pasti menggunakan kemampuanmu sembarangan, itu sebabnya efek sampingnya jadi semakin besar." Zidan mendadak jadi semakin emosi dan ia terus mengomel. "Kamu terlalu banyak main-main. Sudah saatnya kamu berpikir dan bertindak lebih dewasa."
"Kamu cerewet sekali. Baru juga sebentar menggantikan Fais. Padahal biasanya Fais tidak pernah marah walaupun aku menanyakan hal yang sama terus-menerus, dia pasti akan menjelaskan padaku lagi dan lagi, karena dia tahu kalau aku lupa bukan karena sengaja, tapi memang karena..."
"Fais sudah tidak ada!"
Ini adalah teriakan terkeras yang pernah dikeluarkan Zidan di Quarter itu, semuanya mendadak kaku di kursi mereka masing-masing. Zidan tampak sedang berusaha keras menenangkan diri dan mengatur napasnya kembali.
"Dia hilang dan sampai sekarang tak ada yang tahu bagaimana keadaannya. Mungkin saja ia sedang disekap, disiksa, dibakar atau dikubur hidup-hidup. Tak ada yang tahu!" Mata Zidan berkilat basah, tapi wajahnya masih terlihat sangat marah. "Sudah tak ada lagi yang akan memanjakanmu di sini! Kau mengerti?! Berhentilah bersikap manja!"
Air mata juga sudah berkubang di mata Nda, dan ia lebih dulu meteskannya. "Kau benar-benar menjengkelkan!" teriaknya tepat saat setetes air mata bergulir di pipinya. "Jangan bersikap seolah kau yang paling sedih! Semua orang juga merasa kehilangan Fais!"
Zidan bergeming menghadapi Nda yang berbalik memarahinya sambil berlinang air mata. Namun ia sadar kalau Nda memang benar. Zidan terlalu sibuk menyesali apa yang sudah terjadi, padahal saat ini posisinya adalah sebagai pengganti Fais.
Niya mengusap lengan Nda dan berusaha membujuknya untuk duduk kembali. Gadis kecil itu tak menolak, ia langsung masuk ke dalam dekapan Niya dan menangis terisak-isak. Padahal Nda biasanya selalu cuek dan jarang sekali menunjukkan emosinya seperti ini.
Ai menghela napas dan tak ingin ikut campur dalam drama itu. Ia tahu, meski di permukaan Zidan terlihat kuat dan tegar, tapi sebenarnya saat ini dia lah yang paling gelisah. Emosinya sangat tidak stabil, hingga dipancing sedikit saja ia bisa meledak marah. Sedangkan Nda, Ai tak pernah punya kesempatan untuk lebih mengenal anak itu. Tapi mungkin sebenarnya Nda adalah gadis yang baik, mungkin saja selama ini dia sudah mengalami hidup yang cukup sulit akibat kemampuan dan efek sampingnya itu. Ai berjanji dalam hati, untuk selanjutnya ia akan lebih berusaha memahami Nda.
Tepat saat suasana berangsur tenang, pintu lift yang merupakan satu-satunya pintu masuk Quarter bergeser terbuka dan Luen keluar dari sana diikuti seorang lelaki asing.
Penampilannya sangat menarik, rambutnya halus dengan bagian sebelah kanan yang lebih panjang dan nyaris menutupi sebelah wajahnya, pakaiannya rapi bak seorang pengusaha muda, meski terkesan agak aneh karena sebelah tangannya ditutupi sarung tangan hitam yang sepertinya terbuat dari bahan kulit.
"Oh... hai para Armour," sapa lelaki itu dengan senyum yang sangat ramah, "perkenalkan, aku Zen, panggil saja begitu." Suaranya terdengar riang, seolah tanpa beban dan sangat bersahabat.
Tak ada yang menjawab sapaan lelaki itu. Para Armour hanya memandangnya dengan tatapan curiga, tapi senyum cerah di wajah lelaki bernama Zen itu masih belum luntur. Luen juga tak memberi tanggapan apa-apa, ia hanya diam dan mengambil posisi duduknya yang biasa – diujung meja yang berhadap-hadapan dengan kursi Fais.
“Sepertinya tempat ini muram sekali," gumam Zen sambil menggaruk-garuk pelipisnya. Tapi kemudian dia mengangkat bahunya sekilas mengisyaratkan bahwa ia tak peduli. Saat itulah ia melihat ada satu kursi yang kosong di ujung meja oval itu.
"Silakan duduk Mr. Zen... Ah... terima kasih. Kalau begitu aku akan duduk di sini," Zen menciptakan dialognya sendiri sambil melangkah menuju kursi Fais.
Ai baru saja akan bersuara untuk mencegah, tapi Ariel menendang kakinya dari bawah meja. Saat Ai melempar tatapan kesal padanya, Ariel hanya menggerakkan bola matanya ke arah Zen dan kemudian menggeleng tegas kepada Ai.
Sebenarnya Ai bukan orang yang loyal seperti Zidan, Ai juga tak begitu dekat dengan Fais. Hanya saja, ia benci sekali jika ada orang lain yang duduk di kursi itu. Entah sejak kapan Ai sudah menganggap Fais sebagai orang yang sangat penting, dan ia tak ingin siapapun menggantikan posisinya. Bagi Ai, tak ada yang bisa memimpin Armour sebaik Fais, dan rasanya Armour terlihat sangat kecil tanpa sosok itu.
"Baiklah..."
Zen duduk menghempas di kursi itu, memutarnya ke kiri dan ke kanan seolah ingin membuat dirinya senyaman mungkin. "Mr. Luen, mungkin Anda bisa memulai lebih dulu," katanya kepada Luen yang duduk berseberangan dengannya dengan jarak kurang lebih 3 meter.
Luen tampak menarik napas panjang sebelum akhirnya bersuara. "Dia adalah pimpinan Exorcist, mulai sekarang kalian akan bertanggung jawab langsung kepada dia. Armour akan berada di bawah naungan Exorcist, sebuah organisasi independen yang dibentuk..."
"Jangan mencoba membohongi kami," sela Ai tiba-tiba. "Kami tahu siapa Exorcist, mereka adalah Warriors. Apa sekarang pemerintah sudah mau terang-terangan mengakui bahwa Avalon berada di bawah pengaruh Sanctuary?"
Ruangan mendadak hening setelah kalimat nekat Ai tersebut. Gadis itu sudah muak, terus-menerus menjadi korban kebohongan pemerintah. Ia sudah muak meladeni permainan kotor mereka.
"Nona muda...," suara Zen masih terdengar ramah dan bersahabat, "kamu tidak ingin ucapanmu barusan terdengar oleh Divisi lain, 'kan? Kamu bisa ditangkap dengan tuduhan yang sangat serius."
"Apa ada yang salah dengan yang baru saja kukatakan?" Ai menantang tanpa gentar.
Zen kembali membalas dengan senyuman sebelum menjawab. "Tidak ada yang salah. Kami memang bagian dari Warriors, tapi tentu saja hal itu tidak perlu diketahui banyak orang. Teman-teman Armour, apa kalian tidak sadar dengan posisi kalian saat ini? Nasib kalian berada di tangan kami. Kalian akan selamat jika mau menerima tawaran kami untuk menjadi bagian dari Exorcist. Tapi jika – entah bagaimana – saya merasa tidak nyaman bekerja sama dengan kalian, maka kalian juga akan segera mengalami nasib yang sama dengan Kapten kesayangan kalian itu."
Zidan berdiri tiba-tiba tapi Luen dengan cepat mencegah apapun yang ingin dilakukannya. "Hentikan!" hardik Luen membuat gerakan Zidan menjadi kaku seketika. "Duduk!" perintahnya lagi.
Meski tampak sangat tidak rela, Zidan tetap menurutinya. Ia tak tahu apa maksud Luen berbuat seperti ini. Tapi sebaiknya Luen memberi penjelasan yang masuk akal. Karena kalau tidak, Zidan akan mengamuk di Quarter itu meski pada akhirnya ia harus ditembak mati.
"Aku akan bicara terus-terang di sini," ujar Zen kemudian. "Lagipula, berbohong pada orang-orang seperti kalian juga percuma. Kalian ingin tahu apa yang terjadi pada lelaki itu?"
Ekspresi wajah Zen berubah memelas dan ia menggeleng pelan seolah telah dibuat sangat kecewa. "Aku sudah sangat baik menawarkannya makan dan minum, menjadi teman ngobrol untuknya, membocorkan rahasia negara dan menuntunnya menuju apa yang dia cari selama ini. Kami bahkan tidak memukulnya – memang ada goresan pisau dan luka bakar – tapi kami benar-benar memperlakukannya dengan baik."
Zen memutar pandangannya ke sekeliling meja, kemudian ia tersenyum puas melihat wajah-wajah yang tampak sangat ingin mendengar kelanjutan ceritanya. "Dia kabur setelah membuat kekacauan di markas kami. Sejak itu aku harus mengikat dan mengurung dua anggota-ku, karena mereka tak henti-hentinya mencoba bunuh diri. Merepotkan sekali."
"Jadi Fais berhasil kabur?" Zidan seolah mendapatkan roh-nya kembali.
"Iya sih... Tapi kakinya terluka dan kondisinya sangat tidak baik. Aku rasa dia sudah mati di laut," pungkas Zen cuek.
Niya mengeluarkan suara seperti sedang tercekik dan ia buru-buru mendekap mulutnya sendiri. "Mr. Luen, apa yang dikatakannya benar?" tanyanya kemudian pada lelaki di ujung meja yang lain.
Tetapi lelaki yang diberikan pertanyaan itu bergeming. Matanya menatap lurus kepada Zen, namun ia tak mengatakan apa-apa.
"Mr. Luen tak mungkin bisa mengkonfirmasi itu benar atau tidak. Kami yang lebih tahu," sela Zen.
Pundak Luen perlahan bergerak naik saat ia mengisi penuh udara di paru-parunya sebelum akhirnya menghempas napas, seolah ingin memberikan ruang di dadanya yang penuh sesak.
"Kurasa aku tak perlu menjelaskan ini lagi," ujar Luen kemudian. "Kalian adalah para investigator yang handal, kalian pasti sudah tahu alasan di balik ini semua. Avalon bekerja sama dengan Sanctuary. Departemen Pertahanan akan melebur kekuatan menjadi satu dengan Warriors."
"Omong kosong!" sambar Ai. "Ini negara kita, kenapa kita harus bergabung dengan Sanctuary?"
"Ya ampun... ternyata bukan hanya Kapten-nya saja yang keras kepala." Zen menopang keningnya seolah sedang menghadapi bocah-bocah labil. "Kamu tanya kenapa? Tentu saja karena kalian sudah kalah. Perang ini dimenangkan oleh kami. Jadi apa yang ada di atas tanah ini sekarang sudah menjadi milik kami, termasuk kalian. Kalau mau, sebenarnya bisa saja kami menghabisi kalian semua dan menggantinya dengan orang-orang yang loyal kepada kami. Tapi tidak, kami berbaik hati menampung kalian di sini, kami sangat menghargai pribumi, jadi sebaiknya kita hidup berdampingan dengan damai."
"Hidup berdampingan di atas tanah orang lain?! Kalian tidak punya hak di sini!" protes Ai lagi.
"Oh... tentu saja kami punya. Kalian pikir kenapa kami harus bersusah payah selama bertahun-tahun membantu Zoire di Ivory Palace kalau bukan untuk mencapai tujuan akhir ini?" Zen bersandar nyaman di kursi itu, menyilangkan kakinya sambil melipat tangan di depan d.a.d.a, lalu tersenyum angkuh di tengah para Armour yang marah.
"Aku tidak sudi bekerja sama denganmu!" Ariel menggebrak meja dengan lantang.
"Cukup!" Suara Luen pun tak kalah lantang. Alih-alih membentak marah karena Ariel yang sudah bertindak tidak sopan, ia lebih terlihat seperti membentak karena tak ingin Ariel mendapat masalah.
"Mr. Luen, kalau begini, aku tidak yakin Exorcist bisa bekerja sama dengan Armour," Zen mengeluh. "Aku jadi merasa tidak nyaman jika harus berdampingan dengan anjing gila yang siap menggigitku kapan saja. Padahal aku sudah berniat baik pada mereka, tapi lihat bagaimana mereka memperlakukanku."
"Berhenti memprovokasi," tegas Luen dingin. Matanya tajam menatap ke arah Zen. "Aku minta waktu untuk bicara dengan mereka," katanya kemudian.