Chapter VII.3

1769 Kata
"Berhenti memprovokasi," tegas Luen dingin. Matanya tajam menatap ke arah Zen. "Aku minta waktu untuk bicara dengan mereka," katanya kemudian. Zen tampak masih sangat tenang membalas tatapan Luen, hingga akhirnya ia beranjak sambil merapikan sarung tangannya. "OK, aku serahkan ini padamu. Aku tidak ingin ada masalah. Aku ke sini untuk bicara baik-baik, tapi sejak tadi aku dihardik dan diperlakukan kasar. Heran, kenapa orang-orang di Armour sangat tidak ramah? Tapi untungnya, Sanctuary adalah organisasi yang cinta damai, kami sudah biasa tidak dihargai oleh orang-orang seperti kalian." Lelaki itu mulai melangkah meninggalkan kursinya, menuju ke pintu lift untuk meninggalkan tempat itu. "Mr. Luen, aku tidak ingin ada penolakan. Kalau tidak - dengan sangat terpaksa - besok aku harus mengirim orang untuk mengubur Quarter ini, bersama dengan penghuninya." Tepat sebelum pintu lift tertutup, Zen masih sempat mengucapkan 'sampai jumpa lagi' dengan nada suaranya yang ringan dan ceria seperti angin musim panas. Selama beberapa saat, suara pendingin ruangan menjadi satu-satunya yang terdengar setelah Zen meninggalkan keenam orang lainnya dalam suasana suram yang pekat. Perlahan Luen mengangkat wajahnya dan menatap satu persatu Armour di hadapannya. "Zen benar, kita sudah kalah," ujarnya memecah keheningan sesaat tadi, "Zoire sudah mulai kehilangan pengaruhnya, dan aku takut posisi kalian sudah tak lagi istimewa. Kita semua tersandera. Tak ada pilihan lain, jika kalian masih ingin hidup, bergabunglah dengan Warriors dan hiduplah berdampingan dengan Sanctuary." Ai tak bisa menyembunyikan ekspresi jijik di wajahnya saat mendengar akhir kalimat Luen. Hidup berdampingan dengan parasit? Kelompok yang seenaknya mencaplok tanah orang lain dan dengan sombongnya membuat kebijakan hidup berdampingan seolah mereka sangat dermawan. "Saat ini, mungkin lebih dari separuh Ivory Palace sudah berpihak pada Sanctuary. Mereka akan menggunakan segala cara untuk menyingkirkan yang dianggap mengganggu. Saranku, sebaiknya kalian tidak bergerak terlalu aktif sampai Fais ditemukan," tambah Luen lagi. "Dia masih hidup?" Zidan dengan kegundahannya. Tak peduli kenyataan apapun yang sedang disodorkan ke hadapannya, hanya satu pertanyaan itu yang masih berputar-putar di kepala Zidan dan membuatnya tak bisa memikirkan hal lain. “Soal itu, kita tanya saja kepada Ariel." Ai menyela sambil menatap pemuda yang tampak seperti tidak sedang berada di situ, ia kaget ketika namanya disebut. "Pikiranmu berisik sekali, kamu begitu gelisah memikirkan nasib Eyja, kepalaku rasanya sampai mau pecah. Aku yakin Mr. Luen akan menjawab pertanyaanmu, tapi sebelumnya jelaskan dulu tentang keadaan Fais. Kamu melihatnya di mimpimu, kan?" Setelah Ai menodongnya seperti itu, setiap pasang mata yang berada di sekeliling meja pun kini menatap Ariel dengan harap harap cemas. Ketika Ariel memberi anggukan, mereka semakin meninggalkan sandaran kursinya untuk mendengar apa yang akan dikatakan Ariel. "Aku melihatnya berada di Eyja. Tapi kondisinya sangat memprihatinkan," terang Ariel. "Memprihatinkan? Memprihatinkan bagaimana?" desak Zidan lagi. “Sebelah tangannya lumpuh, kakinya terluka parah, dan dia..." Ariel bicara sambil menatap permukaan meja karena ia tak berani menatap wajah-wajah di hadapannya yang menunggu kabar baik tentang Fais. "Aku nggak tahu bagaimana cara menjelaskannya, tapi dia nggak terlihat hidup." "Apa maksudmu dia tidak terlihat hidup? Kamu melihatnya mati? Tidak bergerak? Atau bagaimana? Bicara yang jelas! Jangan berbelit-belit!" Zidan mulai kehilangan kesabarannya. "Aku melihatnya sedang duduk sendirian. Dia hidup... tapi tatapan matanya kosong, kelihatan sangat putus asa. Seperti mati, seperti sudah kehilangan semua tujuan hidupnya dan sudah nggak mau melakukan apa-apa lagi." Pundak Zidan jatuh mendengar penjelasan itu, perlahan ia menyandarkan punggungnya kembali ke kursi. "Zen bilang, ia membantu Fais menemukan apa yang dia cari selama ini," gumam Zidan, "apa dia sudah menemukan orang yang membunuh keluarganya dan merasa tidak mungkin bisa membalaskan dendamnya? Dia tidak akan menyerah begitu saja, jika bukan karena hal itu." "Besok aku akan ke Eyja dan mencari keberadaannya," putus Luen tiba-tiba. "Tapi aku tidak menjamin bisa membawanya kembali ke sini. Situasi saat ini sudah sangat berbeda." Niya mengeratkan genggamannya pada tangan Nda. Sejak tadi dia memang tidak mengatakan apa-apa, tapi sebenarnya dia cemas memikirkan keadaan Fais sejak mereka meninggalkannya di pulau itu. Jika hanya luka fisik, mungkin Niya bisa sedikit membantu. Tetapi jika yang terluka adalah jiwanya... "Mr. Luen," Ariel sepertinya akan memulai topik baru, "jika semuanya jadi seperti ini, bagaimana dengan janji Pemerintah kepada saya?" "Maaf, sepertinya itu tidak bisa dilakukan," jawab Luen cepat dan tanpa jeda. "Tapi Anda bilang, saya boleh meminta apapun yang saya mau jika semua ini sudah selesai. Saya hanya ingin Eyja tidak lagi menjadi pulau yang terisolir." "Memang. Tapi siapa bilang semua ini sudah selesai?" timpal Luen lagi. "Zoire sudah berencana untuk menghapus namamu dan keluargamu dari daftar penghuni Eyja. Kalian akan diizinkan pindah ke Pulau Utama, dan kehidupan kalian akan dijamin pemerintah. Tapi untuk kebebasan Eyja..." "Saya tidak mau pindah ke Avalon daratan, saya hanya mau Eyja..." "Jangan meminta hal yang tidak mungkin! Kau tahu saat ini kita sedang terdesak, jangankan menyelamatkan Eyja, bahkan seluruh Avalon sedang direbut dari tangan kita." "Saya tahu...," suara Ariel terdengar semakin memelas, "saya tahu... tapi... memikirkan kalau semua yang sudah saya lakukan selama ini menjadi sia-sia, rasanya... saya..." Ariel tak bisa mencegah air mata yang mulai merembes dari sudut matanya. "Sejak awal yang membuat saya terus bergerak adalah janji Anda untuk membebaskan Eyja. Saya tidak keberatan walaupun harus seumur hidup tinggal di pulau itu, asalkan Blue Gate dibuka untuk semua orang." "Itu bukan wewenangku. Lagipula kamu kira sudah berapa lama Zoire mengusahakan kebebasan Eyja? Dia juga tak bisa berbuat sesuka hatinya. Untuk membersihkan namamu dan keluargamu saja kami harus melewati banyak masalah." "Tapi..." "Ariel..." Luen menyela kalimat Ariel dengan nada yang lebih lembut kali ini. Alih-alih memanggil Ariel dengan sebutan "Third", kali ini Luen melepaskan code Armour yang selama ini selalu ia gunakan. "Ada hal yang memang tak akan bisa kamu miliki, tak peduli sehebat apa kamu menginginkannya." Setetes air bergulir dari pipi Ariel dan jatuh ke permukaan meja, pupus sudah semua harapannya. Bertahun-tahun ia bertahan di Armour hanya untuk mendapatkan akhir yang seperti ini. "Aku minta maaf. Tapi untuk sementara, sebaiknya kalian menurut saja," tegas Luen kemudian. "Jangan buat masalah." "Tapi mereka pasti tidak bodoh," sahut Zidan lagi. "Meski Armour setuju bergabung, mereka pasti tahu kalau kami tidak tulus. Mereka akan memanfaatkan kami habis-habisan. Harusnya Anda yang paling tahu, kemampuan kami tidak bisa digunakan sembarangan. Tubuh kami sudah mencapai batas, dan Sanctuary tak akan mau tahu soal itu." "Aku menyesal semuanya jadi seperti ini. Tapi untuk sementara, hanya ini yang bisa kalian lakukan agar tetap selamat." "Tidak bisa. Aku tidak akan mengambil keputusan sebelum Fais ditemukan. Maaf, kami menerima perintah langsung dari Fais, bukan dari Anda." Luen menghempas napas berat setelah kalimat lantang yang diucapkan Zidan itu. Zen benar, anak-anak muda di Armour ini memang rata-rata berkepala batu. "Jika memang kalian begitu bergantung pada Fais, maka paling tidak, aku akan membantu menemukannya, agar kalian bisa menentukan langkah selanjutnya." Lelaki itu kemudian beranjak dan kembali mengedarkan pandangannya untuk menatap wajah-wajah muda itu satu per satu. "Aku tak punya kekuatan apapun lagi untuk melindungi kalian. Posisiku di Ivory Palace sudah tertekan, Zoire juga sepertinya sudah mulai kehilangan arah, aku rasa dia sudah menyerah. Semuanya kini berada di bawah kendali Sanctuary. Jika kalian tak ingin bergabung dengan Warriors, kalian harus berjuang sendirian sekarang. Aku hanya bisa mengingatkan untuk tidak bertindak gegabah. Warriors milik Sanctuary bukan lawan yang mudah," terangnya lagi sebelum berbalik dan melangkah menuju lift untuk meninggalkan Quarter. "Jaga diri kalian baik-baik." Semuanya terjadi sangat cepat, para Armour bahkan belum sempat mengatakan apa-apa, Luen sudah menghilang di balik pintu lift. Ai juga sama bingungnya dengan yang lain. Rasanya mereka mengakhiri ini terlalu cepat. Seperti sebuah film yang menampilkan tulisan 'the end' di pertengahan cerita. Membuat semua orang menjadi bertanya-tanya, apa benar seperti ini akhirnya? Nasib Fais menjadi tidak jelas, keinginan Ariel menjadi harapan semu, Ai bahkan belum sempat berbuat apa-apa untuk mencapai tujuannya yang ingin membawa Kiriyan kembali. Tapi Armour sudah ditinggalkan begitu saja. Tidak. Ai bertekad untuk tak lagi menjadi gadis yang lemah, tidak ada waktu lagi untuk merasa ragu. Ai yakin pasti ada sesuatu yang bisa dilakukannya. Pasti ada. Ia sudah tahu peta kekuatannya, siapa kawan dan lawannya. Ia tak bisa lagi pura-pura menutup mata terhadap kekacauan yang sedang terjadi di negeri ini, dan ia tidak mau lagi hanya bergerak mengikuti arus. Tapi tunggu... mungkin mengikuti arus juga sepertinya tidak buruk. "Kurasa sebaiknya kita ikut arus saja," cetus Ai tiba-tiba. "Tidak ada salahnya mengikuti arus, mungkin kita harus menghadapi risiko tenggelam, tapi bersama-sama kita bisa melewati ini semua." "Maksudmu?" Zidan tertarik dan meminta penjelasan lebih. "Kita ikuti kemauan mereka sambil diam-diam menyiapkan rencana untuk menyerang balik." "Aku tidak tahu, Ai. Kurasa mereka tidak mungkin sebodoh itu." "Jika ketahuan, kita serang dengan kekuatan penuh. Kita punya Kevin." "Dan Nda," timpal Niya, "Fais selalu bilang kalau sebenarnya kemampuan Nda sama hebatnya dengan dia, bahkan mungkin Nda lebih berbahaya. Dia bisa membuatmu membenci orang tuamu sendiri, dia juga bisa membuatmu mencintai orang yang seharusnya kamu anggap musuh. Dan manipulasinya itu bisa bertahan selamanya, tanpa batas waktu." Seluruh perhatian pun kemudian terpusat pada Nda yang awalnya masih tampak bingung. Tapi ketika ia sadar bahwa yang sedang dibicarakan adalah kehebatan kemampuannya, rasa percaya diri Nda langsung membuncah dan ia nyengir lebar sambil membentuk huruf V dengan jarinya. "Katakan saja memori siapa yang harus kuubah, aku siap melaksanakannya," serunya tanpa ragu. "Sambil mengikuti keinginan mereka, kita akan mencari dukungan." Ai mulai menjelaskan rencananya. "Tadi, aku sedikit mendapatkan informasi dari Zen dan Luen. Jadi, dari keenam Divisi yang ada, yang paling mungkin untuk membantu kita adalah Divisi 1-Guardian. Sir Gio, Kapten Divisi 3-AU adalah teman baik Luen, kurasa dia juga ada di pihak kita. Divisi 5-AD dan Divisi 6-Polisi ada di pihak Sanctuary. Divisi 2-UKI dan Divisi 4-AL tampaknya masih netral dan tidak terlalu condong ke pihak manapun, kita mulai dari mereka." "Tunggu, jika Divisi 6 ada di pihak Sanctuary, lalu siapa yang meledakkan kantor mereka dan membunuh Kapten Tama?" Ariel tampaknya masih sangat penasaran dengan kasus itu. "Dari yang aku dengar di hari pemakaman itu, sepertinyna Kapten Tama dicurigai sebagai agen ganda," terang Ai lagi, "ia membocorkan informasi Sanctuary kepada pihak Luen dan juga membocorkan informasi Luen kepada Sanctuary. Aku tak tahu kenapa dia melakukan itu, tapi kurasa ia ingin cari aman. Dia hanya akan setia kepada pihak yang kemungkinan menangnya lebih besar. Dan aku juga tak tahu apakah dia dibunuh oleh pihak Sanctuary atau oleh Luen dan Zoire." "Apa Hagi tahu tentang sepak terjang ayahnya itu?" tanya Ariel agak prihatin. "Kurasa tidak, dan aku tak ingin memberitahunya. Kami sudah berseberangan, jika aku membuka mulut tentang ayahnya, dia pasti akan menganggap itu sebagai omong kosong, dan dia akan semakin membenciku. Biar saja, nanti juga dia akan paham dengan sendirinya." "Ai, maaf menyela obrolan tentang mantan pacarmu..." Niya tiba-tiba mengangkat tangannya untuk mengintrupsi dan wajah Ai langsung memerah ketika Niya menyebut hubungannya dengan Hagi seperti itu. "Tapi, kami ingin mendengar kelanjutan dari rencanamu," Niya bicara sambil mengulum senyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN