Chapter VII.4

1769 Kata
"Kami ingin mendengar kelanjutan dari rencanamu," kata Niya sambil berusaha menahan senyum, menyadari wajah Ai yang sudah tampak memerah dan tersipu malu. "Ah... iya, sorry," Ai agak gelapan karena mendadak harus menjadi orang yang menerangkan tentang misi mereka selanjutnya. "Jadi, menurutku, dengan kemampuan yang kita miliki, menguasai pimpinan mereka adalah satu-satunya cara. Kita harus bisa menemui pimpinan UKI dan AL, lalu membuat mereka bersedia membantu kita untuk menemukan orang yang menggerakkan Sanctuary di negeri ini, otak pergerakannya, dalangnya, kita harus menemukan pimpinan mereka dan menyingkirkannya dari negeri ini untuk selama-lamanya." "Ai, kamu lupa kalau pejabat negara kita bukan hanya 7 Divisi Pertahanan. Kita juga masih memiliki beberapa orang Menteri dan Dewan Rakyat yang pengaruhnya cukup besar di Ivory Palace. Bagaimana dengan mereka?" kata Zidan lagi. "Aku belum memikirkannya sampai kesana," Ai tertunduk layu. "Ini hanya garis besar dari rencana yang terpikirkan sesaat tadi. Kupikir, kita tak mungkin menang jika terang-terangan melawan dan dengan keras kepala menyatakan tidak bersedia bergabung. Itu sama saja dengan bunuh diri. Jadi, sebaiknya kita ikuti saja keinginan mereka. Sambil jalan, kita susun rencana yang lebih detail. Intinya, kita hanya perlu mencari dukungan sebanyak-banyaknya dan bergerak secara gerilya." "Seandainya Fais ada di sini..." gumam suara jernih milik remaja lelaki yang tiba-tiba sudah muncul di samping Ariel. Pemuda Eyja itu sampai nyaris melompat kaget dari kursinya. "KEVIN!" Seluruh Armour yang ada di meja itu memekik jengkel. "Ya ampun... jantungku mau copot. Aku kira tadi hantu." "Jangan muncul tiba-tiba... hhh... percuma saja, dia tak peduli meski berkali-kali diperingatkan." "Kau sengaja melakukan ini untuk ngerjain kami, kan?!" "Mentang-mentang punya kecepatan super." Kevin tertawa sambil menepuk-nepuk pelan punggung Ariel di sebelahnya. "Sorry... sorry, soalnya ekspresi kaget kalian itu benar-benar lucu." "Awas kalau berani melakukannya lagi, kamu akan kuubah jadi monyet," ancam Nda. Itu bukan ancaman kosong atau hanya untuk lucu-lucuan. Nda bisa melakukannya, meski tak bisa mengubah fisik Kevin, tapi dia bisa mengubah memori Kevin sehingga anak muda itu akan mengingat dirinya terlahir sebagai monyet, lalu dia akan bertingkah seperti monyet sampai Nda mengubahnya kembali normal. "Ya maaf... jadi...? Kalian sedang merencanakan apa? Tugasku apa?" Kevin mencurahkan perhatiannya untuk mendengarkan kelanjutan obrolan mereka tadi. Ai memutar bola matanya sambil menghempas punggungnya ke sandaran kursi. "Apa kita harus mengulang dari awal lagi?" tanyanya malas. "Ariel, kamu saja yang terangkan dari awal," Nda dengan ringannya memerintah Ariel. "Enak saja. Ini kan tanggung jawab kita bersama," tukas Ariel. "Kita ulang dari mana?" "Dari saat Zen datang kemari?" "Sejauh itu?" “Ah... ini bakal panjang." "Aku lapar... Honey... bawakan sesuatu dari dapur dong..." "Hei... kenapa kalian malah mengabaikanku? Bukankah ini rapat penting, ayo jelaskan padaku." "Ai... kau saja yang jelaskan." "Malas." "Teganya..." Kevin memasang wajah memelas berharap dikasihani. Niya tertawa pelan sebelum akhirnya menenangkan Kevin. "Kami akan mulai menjelaskan pelan-pelan. Kamu sudah ketinggalan banyak," tuturnya lembut, "kondisimu bagaimana? Sudah baikan?" "Aku hanya kelelahan. Cukup dengan istirahat, tidur, makan yang banyak, dan tidur, aku sudah pulih kok," balas Kevin penuh semangat. "Dia menyebut 'tidur' dua kali," Nda tergelak. Tapi Kevin mengabaikannya. "Jadi bagaimana? Kita akan mulai dengan mencari Fais?" tanyanya kemudian. "Ah... ya ampun..." keluh Ariel lagi, "Zidan, kamu jelaskan dulu deh tentang apa yang dibilang Luen tadi." "Bukankah seharusnya kita mulai dengan menjelaskan dari mimpimu tentang Fais," sanggah Zidan. "Mau sampai kapan kalian begini? Cuma menjelaskan saja apa susahnya sih?" teriak Kevin kesal. Nda tertawa sambil mencubit pipi Kevin gemas. Niya tidak melarangnya dan malah ikut tertawa melihat ekspresi jengkel Kevin. Ariel tak mau bersusah payah menyembunyikan ledakan tawanya. Sedangkan Zidan, ia tertawa meski tanpa suara sambil mengamati dua remaja di hadapannya yang kini saling mencubit pipi. Jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah rasanya ia terlihat tertawa seperti itu, seolah beban berat baru saja diangkat dari pundaknya. Mendengar Fais masih hidup, itu sudah cukup baginya. Saat ini, ia hanya ingin sedikit menikmati kebersamaan Armour di Quarter yang biasanya selalu kaku dan membosankan itu. Ai merasa, sejak bergabung dengan Armour, hari-harinya menjadi sangat panjang dan melelahkan. Begitu banyak hal yang terjadi sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di Quarter ini, dan Ai yakin setelah ini juga akan semakin banyak hal yang terjadi. Orang-orang di hadapannya ini bukanlah orang biasa. Mereka adalah orang-orang yang hebat, bukan hanya kemampuannya, tapi juga kekuatan tekadnya. Ai mulai merasa ia tak akan bisa jika hanya sendirian. Apapun yang ia rencanakan, tak akan pernah berhasil tanpa bantuan mereka. Dan tentu saja, kehadiran Fais akan membuat kekuatan mereka berkali-kali lipat lebih hebat dari ini. Untuk itu, hal pertama yang harus ia lakukan saat ini adalah memastikan apakah Fais masih ingin berjuang dan berdiri bersamanya untuk bangkit dan melawan. --- Hampir tengah malam, dan sudah sejak satu jam yang lalu Zidan berbaring di tempat tidurnya, mencoba untuk tidur. Tapi percuma saja, setiap kali ia memejamkan mata, hal-hal buruk terus berkelebat di benaknya. Sementara ia tenang di sini, bagaimana dengan Fais di sana? Apa yang sedang dialaminya? Setiap detik, setiap menit yang berlalu terasa begitu menyiksa bagi Zidan, karena bisa saja saat ini Fais sedang dalam kondisi kritis. Tapi tak ada yang bisa dilakukannya, ia hanya bisa berharap apa yang dilihat Ariel di dalam mimpinya itu benar dan Fais masih bisa ditemukan dalam keadaan bernyawa. Dikepung suasana hening, pikiran Zidan dengan sendirinya mengingat-ingat kembali pertemuan pertamanya dengan Fais. Langit-langit kamarnya perlahan hilang dari pandangan saat ia memejamkan mata dan hanyut dalam kenangannya waktu itu, sore hari, ketika Zidan yang masih berusia 14 tahun sedang duduk di ayunan sambil melamun sendirian di sebuah taman umum. Tangannya yang sedang memegang sebatang ranting kecil bergerak-gerak menuliskan beberapa huruf di atas tanah. Aku ingin teman. Tiga kata itu tanpa sadar tertulis begitu saja ketika ia sedang hanyut dalam pikirannya sendiri. Zidan, ketika usianya masih semuda itu, ia telah tinggal seorang diri di rumahnya. Ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita yang telah memiliki anak. Peraturan 4 in 1, hanya membolehkan dua anak dalam satu keluarga. Maka ayah Zidan memutuskan untuk merawat adiknya dan meninggalkan Zidan di rumah peninggalan ibunya. Zidan telah didaftarkan sebagai lelaki yang mandiri, artinya, ia boleh tetap melajang atau menikah untuk membuat keluarga 4 in 1-nya sendiri. Itu dilakukan ayah Zidan agar ia tak perlu dikirim ke TCH. Meski kebutuhan hidup Zidan masih ditanggung sepenuhnya oleh ayahnya dan ia masih dikunjungi sesekali, tapi tetap saja di rumah yang cukup besar itu, ia hanya tinggal bersama robot-maid. Zidan tak pernah membenci ayah ataupun adiknya, ia sadar bahwa mereka tak punya pilihan. Jika Zidan tak berkorban, maka adiknya lah yang harus dibuang, dan ia jelas tak mau itu terjadi. Lebih baik dia saja yang dikeluarkan dari keluarga. Lagipula di usianya saat itu, ia sudah bisa menjadi remaja yang cukup mandiri. "Aku akan menjadi temanmu." Sebuah sapaan ceria membuat Zidan cukup kaget hingga refleks mengangkat wajahnya untuk menemukan si pemilik suara. Dan yang ia temukan berikutnya adalah sebuah senyum yang begitu menyilaukan. Fais, sedang tersenyum cerah berlatarkan cahaya mentari sore. Zidan sempat mengira ia sedang diganggu makhluk ghaib, karena memang sudah lama, sejak terakhir kali ia disapa seseorang. "Siapa kamu?" Agak cemas, Zidan ingin memastikan ia sedang bicara dengan manusia. "Aku yang selalu membalas pesanmu." Fais duduk di ayunan yang ada di sebelahnya, membuat Zidan bisa melihat wajahnya lebih jelas kali ini. Ia lalu mengambil ranting dari tangan Zidan dan mulai menuliskan sesuatu di bawah kalimat Zidan. Aku mau jadi temanmu. "Setiap pagi, dalam perjalanan ke sekolah, aku selalu menemukan tulisanmu di sini," jelasnya kemudian. "Kupikir pasti ada orang yang sedang sangat kesepian dan butuh teman, makanya aku balas tulisanmu. Apa kamu tak pernah menemukan balasanku?" Zidan menggeleng pelan, memang setiap kali ia kembali ke tempat itu adalah di sore hari. Tentu sudah banyak orang yang berlalu lalang di taman ini, mana mungkin Zidan bisa menemukan tulisan balasan Fais di atas tanah. "Ah... sayang sekali," keluh Fais kemudian, pundaknya menurun penuh sesal. Namun detik berikutnya ia sudah kembali dengan suara cerianya lagi. "Ya sudah, kebetulan sekali kita bertemu hari ini. Sudah lama aku ingin bertemu dengan orang yang menulis ini," katanya sambil mengulurkan tangan. "Namaku Fais, aku baru pindah di sekitar sini. Siapa namamu? Kamu tinggal di dekat sini juga?" Sesuatu berdesir hangat sampai ke ujung jari Zidan. Padahal selama ini orang-orang takut disentuh olehnya, tapi anak baru ini tak tahu apa-apa tentang Zidan dan tanpa curiga mengulurkan tangannya. Zidan sampai tak tahu harus bagaimana menanggapinya. Karena Fais merasa respon Zidan terlalu lama, ia langsung menarik tangan Zidan dan menjabatnya erat dengan kedua tangannya. "Siapa namamu?" Fais kembali mengulangi pertanyaannya. "Zidan Raikan," jawab Zidan seadanya. "Raian?" "Raikan." "Bagaimana kalau kupanggil Raian saja?" tanyanya sambil berayun pelan ke depan dan ke belakang. Mata jernih itu berbinar menatap Zidan, dan dengan polosnya menunggu jawaban. "Jangan seenaknya ubah nama orang dong," gerutu Zidan dalam hati. "Tidak boleh," jawab Zidan akhirnya. Bukannya ia tak tahu, anak ini pasti si Faisal Fandika itu. Putra sulung seorang menteri yang baru pindah dari Ivory Palace. Zidan tak habis pikir kenapa mereka keluar dari Ivory Palace. Padahal semua orang Avalon ingin tinggal di tempat itu. Fais tertawa mendengar jawaban ketus Zidan. "Okay," katanya kemudian sambil lalu melompat dari ayunan dan mengulurkan tangan ke depan wajah Zidan. "Main ke rumahku, yuk?" ajaknya spontan. Zidan mendongak dan hanya membalasnya dengan tatapan bingung. "Ayo, kenapa malah bengong?" Fais lalu mengambil tangan Zidan dan menariknya meninggalkan ayunan. "Mamaku sedang membuat puding cokelat, enak sekali, kamu harus mencobanya." "Tidak usah. Aku tak mau merepotkan." “Tidak apa-apa. Kamu sendirian, 'kan? Aku akan jadi kakakmu. Aku akan melindungimu." Sebaris kalimat Fais yang begitu berarti bagi Zidan, membuat matanya mendadak seperti tersengat sesuatu. Tapi Fais tak terlalu memperhatikan, ia berjalan lebih dulu sambil terus memegangi tangan Zidan yang melangkah lebih lambat di belakangnya. "Masakan mamaku sangat enak, kamu pasti suka. Pokoknya kalau sudah coba, besok kamu pasti mau lagi. Sampai-sampai nanti kamu akan datang ke rumahku setiap hari." Fais terus mengoceh dengan riangnya. "Aku bisa menjadi kakak sekaligus temanmu. Kamu cuma sendirian, kan? Jadi mulai sekarang aku yang akan melindungimu," ujar anak lelaki bercahaya yang ditemui Zidan di sore hari itu. Beriringan dengan setiap kalimat yang ia ucapkan, langkah mereka semakin mendekati rumah Fais, dan ia sama sekali tak melepaskan tangan Zidan. Waktu itu, Zidan cukup kerepotan mengusap air matanya hanya dengan sebelah tangan saja, namun ia tak ingin menarik tangannya dari genggaman Fais. Zidan pun memutuskan untuk tetap berjalan di belakangnya. Ia tak ingin Fais melihatnya menangis, ia tak mau dianggap cengeng, merasa terharu hanya karena kalimat sederhana seperti; aku mau menjadi temanmu. Tapi yang tidak diketahui Zidan saat itu adalah bahwa Fais mendengar suara isakan Zidan yang sedang melangkah mengikutinya. Ia tahu, itu sebabnya ia tak melepaskan tangan Zidan. Itu sebabnya ia terus bicara tanpa menoleh ke belakang, agar Zidan bisa menangis sepuasnya tanpa perlu merasa malu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN