Chapter VII.5

1815 Kata
Perlahan, Zidan dan Fais berubah menjadi semakin akrab. Hampir setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama, mereka bahkan sudah seperti saudara kembar meski Zidan lebih tua 2 tahun. Zidan tak pernah tertawa sebanyak ini ketika ia sedang bersama orang lain. Tapi kemudian tragedi itu terjadi. Hanya beberapa bulan setelahnya, keluarga Fais terbunuh, dan Fais dibawa pergi oleh Luen. Zidan ada di situ malam itu, ia baru saja akan pulang setelah puas bermain game dengan Fais sejak pulang sekolah. "Hei, cepat sekali pulangnya? Ayo main sekali lagi," pinta Fais setengah membujuk. "Tidak bisa, aku harus belajar untuk ujian besok. Kamu sih enak, main game seharian masih bisa juara kelas." Zidan setengah mengomel sambil membereskan tas ranselnya. "Tapi kalau di rumah 'kan kamu sendirian." Ucapan Fais waktu itu kembali menyadarkan Zidan bahwa memang tak peduli sedekat apa dia dan keluarga Fais, di ujung hari tetap saja Zidan akan pulang ke rumahnya yang kosong. Seorang diri. Zidan pun akhirnya kembali meletakkan tas sekolahnya, dan Fais yang menyadari ekspresi muram Zidan segera menimpali. "Menginap saja di sini. Mamaku juga pasti senang, dia selalu khawatir dengan pola makanmu yang tidak sehat. Makanan instan itu harusnya cuma dimakan sekali-kali, bukan setiap hari. Nanti kita belajar bersama, aku bilang mama ya, biar dia memasakkan makanan kesukaanmu." D.a.d.a Zidan seolah dipenuhi kue pie hangat yang baru dikeluarkan dari oven, terasa penuh dan sesak, tapi bukan sesak yang menyakitkan. Ia lega sekali karena ada orang-orang yang masih sangat peduli padanya. Sebenarnya hal seperti ini bukan sekali atau dua kali terjadi, tapi Zidan masih saja terharu dengan kebaikan Fais dan keluarganya. Ia selalu disambut hangat di rumah Fais, bahkan ia sudah seperti anak ketiga di rumah itu. "Aku... aku tidak enak selalu merepotkan kalian," katanya tergagap. "Kamu bicara begitu lagi. Kan sudah kubilang, aku akan menjadi kakakmu dan melindungimu." "Aku ini lebih tua darimu, tahu!" Zidan berlagak kesal dan disambut dengan tawa Fais. "Sudahlah, menginap saja. Aku pinjamkan baju tidurku," kata Fais kemudian. "Baiklah, aku akan menginap. Pinjam kamar mandimu, ya," putus Zidan akhirnya. Ia tak menunggu jawaban dan langsung masuk ke kamar kecil yang ada di ruangan itu. Saat itulah, hanya beberapa detik berselang, orang-orang bersenjata lengkap menerobos masuk ke kamar Fais. Zidan mendengar suara-suara ribut, ia sedikit membuka pintu kamar mandi dan mengintip salah seorang lelaki berpenutup wajah sedang berusaha menyeret Fais keluar. Fais meronta, menendang kesana-kemari dan berteriak agar mereka melepaskannya. Salah seorang dari mereka hampir menyadari keberadaan Zidan kalau saja Fais tidak segera melempar sandal rumah yang berhasil ia gapai ke wajah orang itu. Lelaki itu marah dan langsung melayangkan tamparan keras ke wajah Fais kemudian dengan kasar menyeretnya keluar. Sebelum hilang dari pandangan, sekilas Fais meletakkan telunjuknya di depan bibir sebagai isyarat agar Zidan tetap diam dan bersembunyi. Zidan juga sangat ketakutan waktu itu. Ia hanya berdiam diri di sudut kamar mandi dan tak berani melakukan apa-apa. Alltech-nya ada di atas meja belajar Fais, ia melepasnya saat ingin masuk ke kamar mandi tadi. Tapi dia terlalu takut bahkan untuk membuat suara sekecil apapun. Maka Zidan tetap bertahan di tempat persembunyiannya, menganggap bahwa bantuan akan datang dan ia hanya perlu menunggu. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. "Keluarga Fais adalah pejabat penting negara, tidak mungkin mereka tak mendapatkan pengamanan yang semestinya. Pasti akan ada yang datang dan menyelamatkan mereka, lalu Fais akan muncul dan mengatakan bahwa semua sudah aman." Sambil berpikir seperti itu, Zidan pun tertidur. Zidan terbangun di tengah malam, saat seorang polisi menemukannya di kamar mandi itu. Mereka menanyainya, tapi Zidan benar-benar tak tahu apa yang terjadi. Ia dibawa keluar dan masih harus menghadapi berbagai pertanyaan. Tapi kali ini pertanyaan yang mereka ajukan lebih mengenai identitasnya, agar ia bisa dijemput keluarganya. Tak lama kemudian, ayah Zidan datang dengan wajah cemas, ia melompati garis polisi yang telah dipasang di sekeliling rumah Fais, berlari kecil menghampiri Zidan dan kemudian langsung memeluk anak sulungnya itu. Malam itu, ayah Zidan menginap di rumah bersama Zidan. Meski begitu, Zidan tak bisa tidur semalaman. Setiap kali matanya terpejam, ia akan kembali melihat kejadian yang sama. Ketika ia dibawa keluar dari kamar dan melangkah di ruang utama rumah Fais, polisi yang membawanya berusaha menutupi pandangannya. Tapi ia tetap bisa melihat sekilas keadaan di lantai dasar rumah itu. Tempat itu seperti baru saja mengalami bencana lokal. Darah memerahkan lantai dan memercik ke beberapa sisi dinding. Kantong-kantong mayat diangkut ke mobil ambulans. Para penyidik melakukan scan di berbagai sudut rumah. Dan Zidan sama sekali tak bisa menemukan Fais. Sejak saat itu, Zidan tak pernah mendengar kabar apapun lagi tentang Fais. Yang ia tahu, Fais dibawa pergi oleh Perdana Menteri Luen. Empat tahun berlalu sejak kejadian itu, Zidan kembali bertemu dengan Fais di SSU. Fais menjadi sophomore di kampus itu. Sementara Zidan waktu itu masih mahasiswa tahun pertama. Zidan banyak mendengar cerita tentangnya. Mereka bilang, Fais adalah kesayangan Luen, ia dijuluki perfect prodigy, dia bisa melakukan apa saja dengan sempurna. Zidan tak pernah menganggap cerita tentangnya berlebihan, karena ia mengenal Fais lebih dulu. Tapi mereka tak pernah saling bertegur sapa di kampus, Zidan sebisa mungkin menghindarinya. Diam-diam ia merasa bersalah karena tak melakukan apa-apa untuk menolongnya malam itu. Mungkin Fais tak akan mengenalinya lagi, mungkin dia bahkan tak mau mengingat Zidan lagi. itulah yang ada di pikiran Zidan sampai pada suatu hari di kantin kampus. Ketika Zidan sedang menikmati makan siang, Fais duduk di kursi yang ada di seberang mejanya. "Hai." Suara riang itu kembali terdengar di telinga Zidan, masih membekas dengan jelas di benaknya. Fais membawa paket makan siang dan memberi senyum cerah yang sama. Ia duduk di hadapan Zidan sambil mulai melahap makanannya. Ia tampak tak begitu menanggapi Zidan. Sapaan tadi hanya basa-basi, ia bahkan tak bersusah payah menunggu reaksi dari Zidan. Mereka tetap dalam keadaan begitu selama beberapa saat sampai dua mahasiswi yang duduk di meja sebelah datang menghampiri. "Faisal, setelah ini masih ada kuliah?" tanya salah seorang dari mereka. "Kalau tidak keberatan, kami ingin bicara denganmu," sambungnya lagi. "Boleh. Aku kosong sampai jam satu nanti. Mau bicara soal apa?" jawab Fais ramah. "Soal ujian praktek yang...," kalimat cewek berambut bob itu terhenti ketika matanya bertemu dengan tatapan Zidan, "...na-nanti saja kita bicarakan selengkapnya." Ia pun tergagap setelahnya. "Okay, aku habiskan ini dulu ya," sahut Fais dibalas dengan anggukan terburu-buru dua mahasiswi itu. Mereka lalu kembali ke mejanya semula, di mana teman-temannya yang lain sedang menuggu. Zidan bisa mendengar sekelompok cewek itu saling berbisik; "Dia melotot padaku. Mengerikan. Apa dia melihat kemari? Dia masih melihatku?" Zidan menghela napas dan meletakkan sendok makannya. Ia tak perlu marah dengan sikap mereka, itu hal yang biasa. Cerita tentang kemampuan Zidan yang tidak normal sudah menyebar ke seluruh kampus, entah siapa yang memulainya, mereka tak mau tahu kalau kemampuan itu namanya psychometri, mereka hanya suka menyebar berita yang dibesar-besarkan. Katanya Zidan bisa melihat masa lalu seseorang, ada juga yang bilang dia bisa membaca pikiran, bahkan dia disebut-sebut bisa membunuh hanya melalui tatapan mata. Tak berbeda seperti masa sekolahnya, segera saja Zidan menjadi orang aneh yang harus dijauhi di kampus. Hal ini menambah alasan kenapa Zidan harus membuang jauh-jauh keinginannya untuk kembali menyapa Fais yang belum tentu masih mau mengenalnya. Meskipun begitu, ia tak pernah menyangka Fais yang selalu menjadi bahan pembicaraan itu malah menyapanya lebih dulu dan memilih duduk satu meja dengannya di kantin. "Kamu sudah selesai? Kenapa tidak dihabiskan?" tanya Fais ketika melihat Zidan mengelap mulut dan meneguk minumannya. "Aku sudah kenyang," jawab Zidan sambil beranjak dan melangkah pergi. "Bye," katanya singkat. "Bye. Oh, hei! Dining Card-mu ketinggalan," panggil Fais cepat di akhir kalimatnya. Zidan berbalik dan menemukan Fais sudah meninggalkan meja sambil membawa Dining Card miliknya. "Terima kasih," kata Zidan sambil mengambil benda itu dari tangan Fais. Saat tangannya dan tangan Fais bersentuhan, gambaran samar mengenai berbagai hal yang telah dilalui Fais langsung berkelebat di benak Zidan. Ada beberapa orang berpakaian rapi, mengobrol dan tertawa. Wajah-wajah mereka sangat tidak asing, mereka adalah para pejabat Avalon. Lalu dokumen-dokumen aneh, ekspresi dingin Luen, pistol hitam yang diselipkan ke balik jas, para tentara yang sedang melakukan latihan beladiri. Kemudian dua petak jendela kecil di sebuah ruangan kamar yang tertutup. "Kamu tidak apa-apa?" Suara Fais kembali masuk ke ruang dengar Zidan yang sudah berkeringat dan jadi gelagapan sendiri. Ia merasa bersalah karena sudah mengintip kegiatan Fais. Ditambah lagi, setiap kali ia menggunakan bakat anehnya ini, ia merasa tubuhnya mendadak menjadi sangat lelah. “Tidak apa-apa. Terima kasih," jawab Zidan sambil memasukkan dining card-nya ke saku celana dan berlalu pergi tanpa banyak basa-basi. Sebenarnya ia ingin sekali bertanya kepada Fais soal apa yang baru saja ia lihat. Apa yang sebenarnya dilakukan Fais selama empat tahun ini. Usianya baru 16 tahun, tapi senjata api dan latihan beladiri ala tentara itu? Tapi tidak. Meski rasa penasaran menggeliat di dalam diri Zidan. Ia tahu ia tak seharusnya menanyakan soal itu pada Fais. Dulu ia sering gagal menahan diri agar tak berkomentar tentang apa yang ia lihat dengan bakatnya, itulah yang mengakibatkan julukan anak aneh melekat di dirinya. Zidan mengira itu akan menjadi kesempatannya yang terakhir kali untuk mengobrol dengan Fais. Tapi ternyata mereka masih beberapa kali bertemu setelahnya. Jika Fais kebetulan berada di kantin pada waktu yang sama dengan Zidan. Fais akan selalu memilih duduk di meja yang sama dengannya. Tapi biasanya mereka tak bicara apa-apa. Hanya menghabiskan waktu masing-masing tanpa peduli sekitarnya. Zidan beberapa kali berpikir untuk mengajaknya mengobrol, tapi ia takut ia akan menyesalinya. Siapa yang empat tahun lalu bersembunyi dan membiarkan temannya dalam kesulitan? Apa haknya untuk mengharapkan persahabatannya kembali dengan Fais? Lelaki itu sepertinya juga tak ingin mengingat semua kejadian di masa lalu. Mungkin ia sengaja melupakan masa lalunya, termasuk juga Zidan. Beberapa kali hal seperti itu terus berulang, menikmati makan siang dengan tenang tanpa saling bertukar kata, satu-satunya kata yang mereka ucapkan hanya salam di awalnya saja. Sampai akhirnya Zidan memutuskan untuk bertanya dan melepas rasa penasarannya. "Kenapa kamu tidak duduk di meja yang lain? Masih banyak yang kosong," tanyanya di suatu siang. "Oh, sorry, kamu keberatan aku duduk di sini? Kalau begitu, aku akan pindah." "Bukan begitu. Orang-orang terus menatap ke arah sini, mungkin mereka ingin bicara denganmu. Tapi karena kamu berada di dekatku, mereka jadi takut untuk mendekat." "Itu bagus, kan," seru Fais girang, "justru itu aku memilih duduk di sini, di dekat orang aneh. Supaya tak ada yang menggangguku, aku jadi bisa makan dan minum dengan tenang di kantin ini." “Jadi maksudmu aku ini orang aneh? Semacam racun yang membuat serangga-seranggga menjauh, begitu?" gerutu Zidan kesal. Fais tertawa menanggapi kalimat jengkel Zidan, ternyata dia tak pernah berubah. "Sudah akui saja, kamu kan memang aneh. Masa kamu tidak sadar?" "Jangan seenaknya mengatai orang. Kamu juga aneh, tahu." "Aku tahu," lagi-lagi Fais tertawa ringan, "makanya aku suka duduk satu meja denganmu." Alltech di tangan Fais berbunyi dan menyita perhatian Zidan. Ia memperhatikan Fais menempelkan chip kecil yang berfungsi sebagai handsfree wireless di telinga kanannya, lalu menerima video call itu dengan suara malas. "Ya...?" sapanya pada wajah Luen yang muncul di VS.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN