“Jago banget!" “Orang Avalon Daratan memang beda!” Mereka saling bertukar komentar dengan antusias, sambil sesekali mencoba menendang seolah ingin meniru Fais. "Woi! Benerin net-nya tuh!" Anak lelaki yang di awal tadi menjemput bola tampaknya malah dibuat semakin kesal. "Ngapain kalian malah kagum kayak gitu?!" Fais menoleh dan menatap ke arahnya. Ia langsung gentar dan mulai tergagap, "A-apa?! Mau nantang?!" Meski masih berusaha kelihatan bernyali. Matahari di atas sana mulai naik semakin tinggi, walaupun hari sudah beranjak siang, tapi angin masih berembus membawa kesejukan. Sudah lama Fais tidak menggunakan senjata pamungkas yang selalu berhasil mencairkan hati orang yang melihatnya, senyum bercahaya bak pangeran negeri dongeng. "Mau aku ajarkan?" tawarnya sambil mengumbar senyum

