A Story to Tell
“Constantine, kalau aku tidak kembali lagi, berjanjilah menjaganya untukku.” Wanita itu mengelus lembut kepala bayi mungil di gendongan pelayan itu dan setetes air mata pun jatuh membasahi pipinya.
“Apa maksudmu, Melia? Apa yang akan kaulakukan? Jangan bertindak bodoh,” bisik Constantine yang sedang menggendong bayi perempuan yang sedang tertidur itu.
“Cukup berjanjilah padaku, Constantine. Tolong jangan bertanya lagi. Kumohon. Berjanjilah, kau akan melakukannya untukku,” pinta Melia sambil mengatupkan kedua tangannya memohon.
Constantine memandang Melia dengan tatapan iba dan menyelidik.
“Aku berjanji, Melia. Aku akan mempertaruhkan seluruh hidupku untuk menjaganya.”
Melia menangis haru, “Terima kasih, Constantine. Sampai mati pun hutang budi ini akan selalu kubawa.”
Constantine tersenyum menatap Melia dan ikut meneteskan air mata harunya.
“Ah, aku harus pergi, sebelum Hugo masuk dan tidak menemukanku di kamarnya. Jaga dirimu, Constantine.” Melia tersenyum lalu segera melesat pergi menyelesaikan tugasnya.
**
Wanita itu mengedipkan matanya dalam kegelapan. Ia masih berdiri mematung dan melirik ke sekelilingnya, berusaha mencari bayangan seseorang yang mungkin telah masuk ke kamar itu. Ia berjinjit dengan kaki telanjangnya dan berjalan perlahan di kamar besar itu.
Ia menarik napas dalam-dalam di setiap langkahnya. Apakah aku terlambat? Serunya dalam hati. Ia terus melangkah dan menengok ke segala arah, menapak perlahan dan memajukan tubuhnya. Namun tidak ada apapun. Tidak ada siapapun. Ia menarik napas lega.
Ia langsung bergerak cepat menuju meja kecil di samping ranjang besar itu. Ia membuka laci paling atas dan memeriksa sesuatu di sana. Ia menahan napasnya saat melihat barang yang dicari, sebuah pistol hitam, yang masih berada di tempatnya.
Ia sudah mengetahuinya, barang haram itu sudah diincar sejak bulan lalu. Hugo selalu menyimpan pistol di laci di samping ranjangnya. Pria itu selalu siaga menghadapi situasi apapun, tapi malam ini ia harap pria itu tidak akan menyadari kalau benda itu menghilang.
Seketika jantungnya berdebar kencang. Ia menelan salivanya dengan susah payah lalu menutup kembali laci itu. Ia memeluk dirinya sendiri untuk menenangkan tubuhnya yang bergetar. Entah karena udara dingin atau karena membayangkan rencana menakutkan itu.
Perlahan ia menggerakkan tangannya dan meraba sesuatu di dalam kantong kimononya. Memastikan benda itu tetap pada tempatnya. Ia menoleh ke samping kanannya dan menatap nanar pada ranjang besar itu, tempat di mana setiap malam ia harus memuaskan hasrat pria itu, dan tubuhnya langsung merinding dalam kegelapan kamar itu.
Ia mendekati ranjang itu, memejamkan mata sejenak dan menenangkan debaran jantungnya yang tidak karuan, lalu ia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, benda mengkilap dengan ujung yang sangat runcing. Ia menatap sekilas pisau kecil yang dibawanya dengan penuh kebencian dan amarah.
Ceklek
Suara pintu terbuka dan wanita itu segera menyelipkan pisau itu di bawah bantal. Ia menahan napasnya saat mendengar suara saklar lampu disentuh dan seketika semua lampu menyala. Memperlihatkan betapa megah kamar itu dan aura menusuk yang membuat bulu kuduk wanita itu meremang.
“Apa yang kau lakukan, Melia sayang?” Pria itu, Hugo, dengan suara beratnya mendekati Melia yang masih sedikit menunduk di atas ranjangnya.
Deg.
Jantung Melia berdegup kencang dan ia merasa salivanya tercekat di tenggorokan. Dengan susah payah ia menelannya. Apa mungkin…. Apa mungkin pria itu melihat apa yang ia lakukan? Melia menegakkan tubuhnya secara perlahan dan berdiri mematung memunggungi pria itu.
Hugo menyipitkan mata melihat wanita itu menunduk di dekat ranjang. Lalu seketika rasa penasaran berganti dengan kekaguman menatap lekukan indah wanita itu dari belakang. Seringaian muncul di wajah pria itu. Ia sangat menikmati kemolekan tubuh wanitanya yang dibalut dengan kimono satinnya, sangat seksi.
Kimono hitam itu menjuntai ke bawah menutupi kakinya jenjangnya hingga ke mata kaki. Hugo sangat memuja Melia, wanita yang telah ia rampas paksa dan ia menikmati kemenangannya, terutama saat berhasil membuat wanita itu memuaskan hasratnya setiap malam.
Ah, sesuatu di bawah tubuhnya kini sudah menegang dan gairahnya telah bangkit walaupun hanya melihat punggung Melia.
Hugo, pria dingin dan berhati kejam itu selalu memancarkan aura misterius dan menakutkan. Pria berkuasa yang selalu mendapatkan yang ia inginkan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.
Tidak ada yang berani membantahnya, tentu saja, atau hadiah timah panas akan menanti. Ia membunuh dengan sangat kejam.
Melia tetap diam pada posisinya saat mendengar suara langkah kaki Hugo mendekatinya. Ia mematung merasakan betapa tubuhnya ketakutan mendengar langkah itu mendekat. Tiba-tiba suara langkah itu berhenti, dan Melia bisa merasakan pria itu telah berada tepat di belakangnya. Wanita itu menahan napasnya menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sepasang tangan kokoh itu memeluk pinggang Melia dari belakang. Menarik wanita itu begitu erat hingga ia dapat merasakan bukti gairah pria itu.
“Melia, aku tidak bisa berhenti menginginkanmu. Bahkan hanya dengan melihatmu, bisa membangkitkan gairahku dengan begitu cepat. Oh, aku benar-benar memujamu," seru pria itu sambil membenamkan kepalanya di tengkuk Melia. Pria itu mencium dengan buas dan menghisap hingga meninggalkan jejak kissmark. Pria itu mencium dan melakukannya lagi di sepanjang leher dan bahunya.
Melia menegang, ia terus melirik ke arah bantal besar tempat ia menyembunyikan pisaunya. Ia menelan salivanya tanpa melepaskan tatapannya dari bantal itu. Seolah menghitung jarak yang ia butuhkan untuk sampai ke bantal itu dan mengambil pisaunya. Namun itu tidak mungkin dilakukan sekarang, saat Hugo masih menciumi lehernya dengan begitu bernafsu.
Melia ingin mengakhirinya dengan cepat. Ia akan membawa pria itu ke ranjang, tempat di mana ia bisa meraih pisaunya dan menancapkannya pada pria bengis itu.
Dengan satu tarikan napas, Melia menarik tali kimono itu, membukanya, dan membiarkan kimono hitam itu meluncur dengan indah ke bawah lantai. Dan Melia dapat merasakan dinginnya ac yang menembus langsung ke kulitnya.
Ia menggigil namun ini rencananya. Ia ingin memperlihatkan tubuh polosnya agar pria itu segera membawanya ke ranjang. Walaupun sepertinya rencananya akan gagal karena pria itu tidak kunjung membawanya ke ranjang.
“Mengapa kau begitu terburu-buru, Melia? Apa kau sudah tidak tahan? Malam masih sangat panjang, sayang.” Suara dan hembusan napas Hugo di telinganya membuat tubuh wanita itu bergetar dan merinding. Bahkan hanya mendengar suaranya saja bisa membuat orang meringkuk ketakutan.
Hugo menyeringai dan menghentikan ciuman di leher Melia. Hugo mundur dua langkah dan memandang tubuh polos Melia dengan lapar. Tubuh polos tanpa sehelai benang pun yang sekarang terpampang di hadapannya.
Mata Hugo menggelap karena gairah. Ia maju dan memeluk wanitanya dari belakang. Tangan kanannya bergerak menekan rahang Melia dan memiringkan kepala wanita itu ke belakang untuk menyambut ciumannya. Hugo mencium bibir Melia dengan rakus. Ia melumatnya dan memaksanya terbuka untuk menjelajah ke dalam mulutnya.
Sementara tangan kiri pria itu dengan bebas menjelajah d**a Melia. Ia menyentuh dan meremasnya dengan kasar, membuat wanita itu mengerang, namun erangannya tertahan oleh ciuman ganas di bibirnya.
Dengan kasar, Hugo membalikkan tubuh Melia sehingga menghadap ke arahnya tanpa melepaskan ciumannya. Dengan bibir yang masih bertaut, Hugo memutar tubuh Melia menjauhi ranjang, mendorongnya mendekati dinding. Awalnya dorongan itu dilakukan dengan perlahan seiring dengan bibir mereka yang masih asik melumat. Namun ketika mendekati dinding, Hugo memegang kuat-kuat pinggang Melia dan menghempaskan tubuh polos Melia ke dinding.
Buk..
Tubuh polos Melia menghantam dinding kamar itu dan ia pun meringis kesakitan. Ia memegang lengan kanannya dengan rasa sakit yang menusuk. Ahhhh, sakit pada tubuhnya akibat percintaan kemarin saja belum hilang, dan sekarang ia sudah harus menghadapi siksaan ini lagi.
Ia memandang Hugo yang sedang menyeringai dan bergerak ke arahnya. Melia ingin berteriak sekeras-kerasnya namun ia tau itu tidak ada gunanya. Semua orang, seluruh bangunan dan tanah perkebunan yang sangat amat luas ini semua berada di dalam kekuasaan Hugo. Tidak akan ada yang mendengarnya, atau kalaupun ada yang mendengar, tidak akan ada yang berani menyelamatkannya. Atau ia harus berhadapan langsung dengan sang penguasa.