Sesampainya di Jakarta, gue langsung menuju rumah sakit tempat Kiara dirawat. Sesuai yang diinformasikan oleh pihak apartemen. Saat membuka pintu kamar rawat inap, gue melihat ada seorang laki-laki yang akhir-akhir ini nggak asing di mata gue. Dia sedang duduk di kursi samping ranjang Kiara, menyandar di sandaran kursi dengan mata terpejam dan tangan bersendekap. Perlahan gue menepuk pundak laki-laki itu. "Anda siapa?" tanya gue menatap tajam ke arah matanya. "Saya Geraldy. Dulu teman kantornya Kiara." "Anda kenapa bisa ada di sini?" Geraldy belum sempat menjawab pertanyaan yang gue ajukan, Kiara melakukan pergerakan. Gue mendekati ranjang dan menunggu sampai Kiara benar-benar sadar. "Sayang, gimana perasaan kamu? Apanya yang sakit?" Kiara menggeleng dan menatap gue dengan mengernyi

