Kiara: >>>>> Masih dengan wajah kesalnya Dastan membukakan pintu mobil untukku. "Mau digendong apa jalan sendiri?" tanyanya dingin. "Jalan sendiri," jawabku. Dastan membungkuk, memintaku untuk naik ke punggung lebarnya. Aku bergeming, mempertimbangkan apa menerima punggung itu atau tidak. "Ayo, Kia. Tunggu apa lagi?" "Tapi aku berat..." "Ck, kamu naik turun di atasku satu jam juga aku kuat kok." "m***m!" Aku menjewer telinga Dastan karena ucapan menjurus mesumnya, tapi dia tidak mengaduh kesakitan, bahkan wajah masamnya masih tercetak jelas. "Aku malu," ujarku menyurukkan wajah di tengkuk Dastan. Aku yakin beberapa orang yang sedang ada di lobi apartemen ini sedang memerhatikan aku dan Dastan saat ini. Dastan tidak perduli dengan gerutuanku. Dia terus saja melengg

