Saat mereka berdua sedang fokus melihat data di layar monitor tiba-tiba, lampu di ruang server berkedip merah. Suara alarm yang jauh lebih intens dari sebelumnya meraung di seluruh mansion.
"Seseorang sedang mencoba meretas masuk ke jaringan kita dari luar," Elena dengan cepat mengetik perintah penahanan. "Mereka menggunakan protokol yang sangat canggih. Dante, mereka sudah tahu kita di sini!"
"Franco! Jono! Siapkan senjata!" teriak Dante ke arah pintu. Dia kemudian menoleh ke Elena, mencengkeram bahunya. "Kau bisa menghentikan mereka?"
"Aku bisa mengunci pintunya, tapi mereka punya 'kapak' digital yang sangat besar. Aku butuh waktu," Elena menatap Dante dengan pandangan yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya—sebuah permohonan. "Jangan biarkan mereka masuk ke ruangan ini, Dante. Jika mereka mendapatkan akses fisik ke server ini saat aku sedang bekerja, semua selesai."
Dante menarik pistolnya, memeriksa magasinnya dengan suara klik yang mematikan. Dia menatap Elena dengan tatapan pelindung yang gelap.
"Ingat aturan nomor satu di duniaku, Elena?" Dante melangkah menuju pintu, menghalangi pandangan siapa pun yang ingin masuk.
"Apa?"
"Tidak ada yang boleh menyentuh milikku tanpa izin dariku. Terutama jika milikku itu adalah CEO cerewet yang baru saja menyuruh anak buahku menari Zumba."
Untuk sesaat Elena terpaku mendengar kata - kata Dante. Klaim milikku membuat sesuatu di dasar hatinya berreaksi. Tapi Elena segera tersadar, ini bukan waktu ya untuk memikirkan itu. Dia kembali ke dunia nyata dan kembali fokus menatap Layar monitor di hadapannya. Mencoba menghentikan serangan dari musuh yang hampir bisa membobol pertahanan yang sudah di buat Elena
Dante keluar dan menutup pintu baja ruang server, meninggalkan Elena dalam keheningan yang mencekam, hanya ditemani suara ketikan jemarinya yang berpacu dengan maut. Di luar, suara tembakan mulai terdengar bersahutan. Dante segera memriksa keadaan, mengatur strategi dan segera memerintahkan para algojo terbaiknya.
Suara dentuman granat di gerbang depan mansion membuat monitor di depan Elena bergetar hebat. Di layar CCTV, dia bisa melihat pasukan taktis bersenjata lengkap—bukan lagi mafia jalanan, melainkan tentara bayaran elit—mulai merangsek masuk ke halaman.
Dante berada di garis depan, berlindung di balik pilar marmer, membalas tembakan dengan presisi yang mengerikan. Namun, jumlah musuh terlalu banyak.
"Elena! Berapa lama lagi?!" suara Dante terdengar melalui sistem intercom ruang server, diikuti suara rentetan tembakan.
"Dua menit untuk enkripsi, tapi mereka akan sampai padamu dalam tiga puluh detik!" Elena berteriak sambil jemarinya menari di atas keyboard. Matanya berkilat melihat skema keamanan rumah yang menyala merah di layar sebelah kiri. "Dante, merunduk ke arah pukul tiga sekarang!"
"Apa—"
"LAKUKAN SAJA!"
Dante berguling ke arah kanan tepat saat Elena menekan tombol Enter. Tiba-tiba, sistem penyiram rumput otomatis di halaman depan meledak, bukan mengeluarkan air, melainkan gas pemadam api yang sangat pekat. Kabut putih seketika menelan halaman, membuat pasukan musuh kehilangan arah.
"Sistem keamanan 'kuno'-mu baru saja aku modifikasi, Dante!" Elena bicara lewat earphone. "Sekarang, aktifkan kacamata termalmu. Jono, Franco, kalian juga! Mereka buta, tapi kalian tidak!"
Di tengah kabut, Dante tersenyum tipis. Dia bisa melihat siluet musuh yang kebingungan melalui sensor panasnya. Dengan tenang, dia mulai menghabisi mereka satu per satu. "Kerja bagus, CEO."
Suara tembakan sailing beradu, berkat kecamatan thermal dari Elena mereka bisa mengalahkan musuh yang masuk melalui gerbang depan. Namun, kemenangan kecil itu tidak berlangsung lama. Sebuah peringatan darurat muncul di layar Elena.
"Sial! Dante, ada unit kedua! Mereka tidak lewat depan. Mereka turun dari helikopter langsung ke atap!" Elena melihat tiga titik merah bergerak cepat di peta digital menuju ventilasi udara ruang server. Elena sedikit panik melihat titik merah itu semakin mendekat ke arah nya.
Pintu baja ruang server mulai bergetar. Seseorang mencoba meledakkannya dari luar. Elena tidak punya waktu untuk melarikan diri. Dia melihat ke sekeliling ruangan yang penuh dengan perangkat keras dan kabel. Pikirannya berputar cepat. Dia mengambil sebuah kabel tembaga besar yang terkelupas dan menyambungkannya ke gagang pintu baja.
"Dante, jika kau bisa mendengarku... aku akan melakukan sesuatu yang sangat bodoh," bisik Elena.
"Elena, jangan berbuat macam-macam! Tetap di bawah meja!" teriak Dante dari bawah.
Tepat saat pintu baja itu terbuka sedikit dan sebuah moncong senjata muncul, Elena mengalirkan arus listrik tegangan tinggi dari generator cadangan server langsung ke pintu tersebut.
BZZZZTTTT!
Suara jeritan melengking terdengar dari balik pintu diikuti bau hangus. Dua tentara bayaran di balik pintu terpental dengan tubuh yang mengejang hebat.
Elena terduduk lemas di lantai, napasnya memburu. Dia baru saja menyetrum orang sampai pingsan menggunakan pengetahuan fisika dasar.
Tak lama kemudian, pintu itu ditendang terbuka lebar. Dante muncul dengan wajah yang tertutup noda mesiu dan darah, namun matanya penuh kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. Dia melihat dua musuh yang terkapar di lantai dengan asap tipis keluar dari pakaian mereka, lalu menatap Elena yang masih memegang kabel tembaga.
Aku hampir terbunuh, pikir Elena. Logikanya yang biasanya tenang kini berteriak-teriak bahwa tempat ini tidak aman. Namun, saat ia melihat Dante berdiri di depannya, menutupi pandangannya dari mayat-mayat di lantai, ada sebuah variabel baru yang tidak bisa ia jelaskan. Ia merasa aman bukan karena tembok beton ini, tapi karena keberadaan pria berdarah dingin di depannya.
Dante menurunkan senjatanya, berjalan mendekat, dan menarik Elena ke dalam pelukannya. Dekapan itu begitu kuat hingga Elena bisa merasakan detak jantung Dante yang liar.
"Kau gila," bisik Dante di rambutnya. "Kau benar-benar wanita paling gila yang pernah kutemui."
"Aku lebih suka disebut 'solutif', Dante," sahut Elena, meskipun tubuhnya masih gemetar. Dia perlahan membalas pelukan Dante, mencengkeram jas pria itu. "Dan omong-omong, datanya sudah aman. Aku sudah memindahkannya ke cloud privat yang hanya bisa dibuka dengan sidik jariku... dan sidik jarimu."
Dante melepaskan pelukannya sedikit, menatap mata Elena dengan intensitas yang berbeda. "Kau membagi kuncinya denganku?"
"Itu disebut kemitraan strategis, Valenti. Jika aku mati, kau punya kuncinya. Jika kau mati... yah, setidaknya aku punya uang untuk membeli gorden baru untuk rumah ini."
Dante terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar hangat di tengah sisa-sisa pertempuran. Dia mengecup dahi Elena singkat. "Ayo pergi. Tempat ini sudah tidak aman. Kita akan ke Sisilia."
Elena mengangkat alisnya. "Sisilia? Apa ada Wi-Fi di sana?"
"Untukmu? Aku akan membelikan satu satelit jika perlu," jawab Dante sambil menarik Elena keluar dari ruang server yang hancur.
Pertempuran kali ini bisa mereka atasi bersama. Tapi mereka tau, masih ada bahaya besar yang mengintai mereka setelah ini.