Jet pribadi Gulfstream G650 milik klan Valenti membelah langit malam di atas Samudra Hindia dengan keanggunan seorang predator. Di dalam kabin yang kedap suara, cahaya temaram dari lampu interior berwarna amber memberikan kesan mewah yang mencekam. Bau kulit jok yang mahal, aroma kopi Blue Mountain, dan sisa-sisa bau mesiu yang seolah masih menempel di kulit mereka menciptakan atmosfer yang kontradiktif.
Elena Vane duduk di sofa kulit yang lebar, kakinya yang dibalut kaos kaki kucing bermotif tabby terselip di bawah tubuhnya. Laptopnya—senjata paling mematikan di pesawat itu—terbuka di pangkuannya, memancarkan cahaya biru yang menerangi wajahnya yang lelah. Jemarinya masih bergerak, meski lebih lambat dari biasanya. Matanya yang merah menatap barisan kode yang terus bergulir, mencari jejak serangan The Board yang mungkin masih bersembunyi di balik firewall-nya.
Di seberangnya, Dante Valenti tampak seperti patung yang hidup. Ia sedang membersihkan pistol Beretta-nya dengan gerakan ritmis dan penuh konsentrasi. Kain flanel hitam itu bergerak maju-mundur di atas laras perak, menciptakan suara gesekan logam yang konsisten.
"Kau harus tidur, Elena," suara Dante memecah keheningan. "Kita masih punya sepuluh jam lagi sebelum mendarat di pangkalan pribadi kami di dekat Palermo."
"Tidur adalah aktivitas dengan tingkat pengembalian investasi yang rendah saat ini, Dante," sahut Elena tanpa menoleh. "Aku sedang membersihkan 'hantu' dari server cadanganku. Tapi, saat aku melakukan pembersihan, aku menemukan sesuatu yang menarik di direktori tersembunyi sistem komunikasi pesawat ini."
Dante berhenti menggosok senjatanya. Matanya yang tajam menatap Elena dengan intensitas yang sedikit berbeda. "Jangan menggali lubang yang kau sendiri tidak ingin masuk ke dalamnya, Nona CEO."
Elena akhirnya mendongak, menyandarkan punggungnya ke sofa. "Aku seorang auditor, Dante. Sudah tugasku untuk menggali. Dan aku menemukan sebuah folder terenkripsi berjudul 'Lazarus'. Enkripsinya menggunakan algoritma kuno klan Valenti, tapi ada tanda tangan digital ayahku di sana. Kenapa ayahku menyimpan data di sistem komunikasi mafiamu sepuluh tahun yang lalu?"
Dante meletakkan senjatanya di meja kristal di depan mereka. Ia menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar seperti beban berton-ton sedang dipindahkan. "Lazarus bukan sekadar folder. Itu adalah alasan kenapa ayahmu dan ayahku membuat perjanjian darah. Itu adalah catatan tentang kegagalan pertama The Board... dan harga yang harus dibayar keluargaku."
Elena terdiam, jemarinya berhenti di atas touchpad. Keingintahuan intelektualnya kini bercampur dengan firasat buruk. "Apa isinya?"
"Ayahmu bukan sekadar CEO teknologi biasa, Elena. Dia adalah arsitek sistem pengawasan mereka sebelum dia membelot. Lazarus adalah daftar nama—orang-orang yang 'dihapus' secara digital dan fisik oleh The Board untuk memuluskan jalan menuju kontrol ekonomi global. Termasuk kakak laki-lakiku, Marcello."
Elena merasakan dadanya menyempit. Selama ini, ia menganggap ayahnya sebagai pria baik yang hanya terjebak dalam masalah bisnis yang besar. Namun, membayangkan ayahnya sebagai arsitek dari sistem yang membunuh keluarga Dante... itu adalah variabel baru yang merusak seluruh persamaan moralnya.
Apakah Dante melindungiku karena sumpah darah, atau karena dia ingin membalas dendam melalui aku? pikir Elena. Ia menatap Dante, mencari tanda-tanda kebencian. Namun, yang ia temukan hanyalah kesedihan yang terkubur dalam-dalam di balik mata cokelat gelap itu.
Logika Elena mulai berputar liar. Jika ia mengaktifkan Project Omega, ia tidak hanya menghapus hutang dunia, tapi ia juga akan mengekspos setiap nama dalam Lazarus. Ia akan merobek topeng The Board dan menunjukkan pada dunia mayat-mayat yang mereka sembunyikan. Ini bukan lagi soal efisiensi korporat; ini adalah tentang penebusan dosa.
"Kau membencinya, bukan?" tanya Elena pelan, suaranya hampir tertelan oleh deru mesin pesawat. "Kau membenci ayahku karena dia menciptakan sistem itu."
Dante bangkit dari duduknya, berjalan mendekat dan duduk di samping Elena. Sofa itu sedikit amblas di bawah beban tubuhnya. Ia mengambil laptop Elena, menutup layarnya dengan lembut, lalu memegang tangan Elena yang dingin.
"Aku membenci sistemnya, Elena. Bukan orangnya," ucap Dante dengan suara yang begitu rendah hingga terasa seperti getaran di tulang Elena. "Ayahmu menghabiskan sisa hidupnya mencoba menghancurkan apa yang dia bangun. Dia memberiku tujuan saat aku kehilangan segalanya. Dia bilang, suatu hari nanti, putrinya akan menjadi orang yang menekan tombol reset. Dan tugasku adalah memastikan tangan yang menekan tombol itu tetap aman."
Elena menatap tangan Dante yang menggenggam tangannya. Tangan itu kasar, penuh dengan kapalan karena senjata, namun sentuhannya terasa sangat hangat. Di luar jendela, bintang-bintang tampak seperti bintik-bintik cahaya yang tidak bergerak. Di ketinggian 40.000 kaki ini, dunia di bawah sana terasa sangat tidak nyata.
"Dante, aku tidak tahu apakah aku bisa menjadi apa yang dia inginkan," bisik Elena. "Aku hanyalah seorang akuntan yang sangat mahir dengan komputer. Aku bukan pahlawan revolusi."
"Kau tidak perlu menjadi pahlawan," Dante mengulurkan tangan lainnya, mengusap pipi Elena dengan ibu jarinya. "Kau hanya perlu menjadi Elena Vane. Biarkan aku yang menjadi monster yang kau butuhkan untuk menyelesaikan ini."
Elena merasakan tarikan gravitasi yang aneh di antara mereka. Jarak di antara wajah mereka perlahan menyempit. Bau kayu cendana dari Dante terasa sangat memabukkan di ruang kabin yang terbatas ini. Untuk pertama kalinya, algoritma di kepala Elena berhenti bekerja. Tidak ada angka, tidak ada kode, hanya perasaan mentah yang menuntut perhatian.
Tiba-tiba, pesawat berguncang hebat akibat turbulensi. Lampu kabin berkedip-kedip.
"Hantu di dalam mesin," gumam Elena, mencoba memecah ketegangan saat ia menarik tangannya kembali untuk memeriksa laptopnya. "Dante, turbulensi ini... ini tidak normal. Pola getarannya terlalu ritmis."
Elena membuka kembali laptopnya dengan cepat. Matanya membelalak melihat layar monitornya. "Sial! Mereka tidak menyerang kita dengan peluru kali ini. Mereka meretas sistem Autopilot pesawat ini melalui koneksi satelit yang baru saja kubuka!"
"Bisakah kau mengatasinya?" Dante berdiri, langsung kembali ke mode siaga.
"Mereka menggunakan virus brute-force untuk mengunci kendali hidrolik! Pesawat ini sedang diarahkan untuk menukik tajam!" Elena mengetik dengan kecepatan gila, keringat mulai membasahi dahinya. "Aku butuh akses fisik ke unit kontrol penerbangan di bawah dek kabin. Dante, kau harus membantuku membuka panel lantainya!"
Dante tidak membuang waktu. Ia merobek karpet mewah di tengah kabin, menggunakan pisau komando untuk mencongkel panel baja yang tersembunyi. Di bawah sana, terlihat jalinan kabel serat optik dan modul elektronik yang berkedip merah.
"Aku masuk!" Elena merangkak ke lantai, menyambungkan kabel bypass dari laptopnya langsung ke otak pesawat. "Jangan biarkan siapa pun mengganggu koneksinya!"
Pesawat mulai miring tajam ke kiri. Barang-barang di kabin terlempar. Dante memegang bahu Elena, menempelkan tubuhnya ke lantai untuk menahan agar wanita itu tidak terlempar sementara ia terus bertarung melawan kode jahat di layarnya.
"Ayo, kau b******n digital... pergi dari pesawatku!" teriak Elena. Ia mengeksekusi rangkaian perintah counter-hack yang ia rancang sendiri—sebuah program yang ia beri nama 'The Auditor'. Program itu bekerja seperti antibodi, memakan setiap baris kode musuh yang mencoba masuk.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, guncangan itu berhenti. Pesawat perlahan kembali ke posisi stabil. Lampu kabin kembali normal.
Elena bersandar di kaki sofa, napasnya terengah-engah. Rambutnya berantakan, dan salah satu kaos kaki kucingnya terlepas. Ia menatap Dante yang masih memegangi bahunya.
"Status?" tanya Dante, suaranya tetap tenang meski napasnya juga memburu.
"Pesawat aman. Aku sudah memutus koneksi satelit eksternal dan mengunci sistem pada mode manual," Elena menyeka keringat di hidungnya. "Tapi Dante... mereka tahu kita di sini. Dan mereka tahu tentang Lazarus."
Dante membantu Elena berdiri, lalu mengambil kaos kaki kucing yang terlepas dan memberikannya kembali pada Elena dengan senyum tipis. "Kalau begitu, kita harus mendarat lebih cepat. Selamat datang di perang yang sebenarnya, Elena."