Mobil melesat keluar dari area gedung, masuk ke jalan raya Jakarta yang lengang . Hujan masih turun deras, menciptakan lapisan air yang membuat jalanan menjadi licin. Dante bermanuver di antara truk-truk logistik dengan kecepatan yang membuat Elena mual.
"Kenapa mereka mengejarmu sekuat ini?" tanya Dante, suaranya kembali tenang meski ia baru saja melewati maut. "Apa sebenarnya Project Omega itu?"
Elena menghela napas, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. "Ayahku percaya bahwa sistem keuangan dunia adalah sebuah penipuan besar. Dia menghabiskan sepuluh tahun membangun Omega sebagai 'algoritma koreksi'. Itu bisa melacak setiap sen uang gelap, setiap transaksi korporasi yang curang, dan menghapusnya dalam semalam. Itu bukan sekadar kode, Dante. Itu adalah senjata penghancur massal bagi orang-orang berdasi."
"Dan kau memegang kuncinya?"
"Aku adalah kuncinya. Ayah menyembunyikan kodenya di dalam struktur DNA digital yang hanya bisa dibuka dengan biometrikku dan sebuah kata sandi yang ia titipkan padamu. Tapi kau... kau bukan bagian dari rencananya yang kubayangkan."
Dante memutar kemudi dengan tajam, menghindari barikade polisi yang tampaknya sudah disuap oleh musuh. "Ayahmu tahu bahwa di dunia ini, kecerdasanmu membutuhkan taring untuk bertahan hidup. Aku adalah taring itu, Elena."
Elena menatap profil samping wajah Dante. Cahaya lampu jalan yang melintas cepat menciptakan bayangan dramatis pada rahangnya yang kokoh. "Kau adalah mafia, Dante. Logikaku mengatakan kau akan menggunakanku untuk kepentinganmu sendiri."
Dante menghentikan mobil secara mendadak di sebuah gang gelap di kawasan Jakarta Barat. Dia memutar tubuhnya, menatap Elena dengan tatapan yang membuat bulu kuduk wanita itu berdiri. Bukan karena takut, tapi karena intensitasnya.
"Dengarkan aku baik-baik, Nona CEO. Sumpah darah dalam keluargaku lebih suci daripada kontrak hukum mana pun yang pernah kau tandatangani. Ayahmu menyelamatkan hidup ayahku saat ia masih menjadi tentara bayaran yang tidak punya apa-apa. Sekarang, tugasku adalah memastikan kau tetap bernapas, meskipun itu artinya aku harus membakar seluruh kota ini."
Elena terdiam. Selama ini, dunianya hanya berisi transaksi yang didasari keuntungan. Konsep kesetiaan tanpa syarat seperti yang dibicarakan Dante terasa asing, tidak logis, namun entah bagaimana... menenangkan.
"Kita tidak bisa ke kantor atau apartemenmu," ucap Dante sambil kembali menjalankan mobil. "Mereka sudah menandai semua aset atas namamu."
"Aku punya apartemen rahasia di atas toko elektronik di Glodok. Tidak ada di pembukuan perusahaan," Elena menyarankan.
"Terlalu mudah ditebak bagi orang seperti mereka. Kita akan ke tempat di mana mereka tidak akan berani masuk tanpa membawa pasukan tentara," Dante menatap jalanan di depan. "Kita ke pusat operasi klan Valenti di Jakarta."
"Di mana itu?"
Dante tidak menjawab, hanya menyeriangai kecil.
Perjalanan menuju markas klan Valenti dilalui dalam keheningan yang mencekam. Elena menatap keluar jendela, melihat gedung kantornya yang kini dikepung mobil polisi dari kejauhan. Hidupnya baru saja berubah dari rapat pemegang saham menjadi pelarian mafia dalam waktu kurang dari tiga puluh menit.
Saat mobil melewati gerbang besi raksasa yang tersembunyi di balik hutan pinus di pinggiran kota, Elena terpana. Sebuah mansion bergaya gotik berdiri megah, diterangi lampu-lampu temaram yang memberikan kesan angker sekaligus agung. Dua penjaga di sisi kanan kiri gerbang menambah kesan bukan sembarang orang bisa masuk kedalam mansion ini.
"Turun," perintah Dante singkat saat mobil berhenti.
Elena melangkah keluar, tumit sepatunya mengetuk lantai marmer teras. "Ini tempatnya? Aku merasa seperti masuk ke lokasi syuting Dracula."
"Ini adalah tempat paling aman di negeri ini. Dan mulai sekarang, ini adalah penjaramu—maksudku, rumahmu,"
Dante berjalan mendahului, jubah jasnya berkibar tertiup angin.
Saat masuk ke dalam, Elena langsung mengerutkan kening. Ruangan itu dipenuhi furnitur kayu jati berat, lukisan minyak kuno, dan gorden beludru merah tebal yang menutupi hampir seluruh jendela.
"Dante, kita perlu bicara soal dekorasi," Elena memulai, suaranya kembali ke nada CEO yang otoriter. "Pencahayaannya buruk untuk kesehatan mata, dan gorden ini... apa kau mencoba menyembunyikan vampir?"
Dante berbalik, menatap Elena dengan tatapan datar. "Gorden itu anti-peluru, Elena. Dan pencahayaan temaram ini untuk menghindari deteksi sensor panas dari satelit luar ruang. Ini markas mafia, bukan butik di Paris."
"Tetap saja, ini sangat tidak estetik," Elena berjalan menuju sebuah meja kayu besar dan mencoba menyalakan lampu, namun ia tidak menemukan sakelar yang ia kenal. "Mana kontrol suaranya? 'Alexa, nyalakan lampu'? 'Siri, buka gorden'?"
Dante hanya menatapnya seolah Elena baru saja berbicara bahasa alien. "Di sini, jika kau butuh sesuatu, kau memanggil manusia. Bukan robot."
Elena mendengus. "Pantas saja bisnismu masih menggunakan koin emas. Kau hidup di abad pertengahan, Dante. Bagaimana kau bisa mengelola logistik global tanpa sistem automasi?"
"Aku punya cara sendiri," Dante mendekat, mengurung Elena di antara lengannya dan meja kayu tersebut. "Dan cara itu melibatkan kepatuhan, bukan algoritma. Aturan di sini sederhana: Kau tidak boleh keluar dari gerbang depan, kau tidak boleh menyentuh telepon tanpa izin, dan kau dilarang keras mencoba meretas apa pun di dalam rumah ini."
Elena menantang tatapan Dante. "Dan jika aku melakukannya?"
"Maka aku akan mengunci pintu kamarmu dari luar. Dan percayalah, kau tidak akan suka menu makanan di ruang isolasiku."
Perut Elena tiba-tiba berbunyi keras, merusak suasana konfrontasi yang dramatis itu. Dante mengangkat alisnya. "Sepertinya 'The Ice Queen' butuh bahan bakar."
"Aku tidak makan karbohidrat setelah jam delapan malam," Elena membela diri, wajahnya sedikit memerah.
"Di sini, kau makan apa yang koki siapkan atau kau tidak makan sama sekali," Dante memberi isyarat pada seorang pelayan tua yang muncul entah dari mana. "Siapkan makan malam untuk tamu kita. Dan pastikan itu mengandung banyak protein. Dia butuh tenaga untuk mengeluh sepanjang malam."
Saat Dante hendak melangkah pergi, Elena berteriak, "Tunggu! Aku butuh laptopku! Dan koneksi internet minimal 1 Gbps!"
Dante berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit dengan seringai mematikan. "Laptopmu tertinggal di gedung yang baru saja diledakkan, Elena. Dan internet? Di sini hanya ada koneksi kabel yang sangat terbatas untuk urusan bisnisku. Kau di sini untuk bersembunyi, bukan untuk membalas email klien."
Dante keluar, meninggalkan Elena sendirian di tengah kemegahan kuno yang membosankan. Elena menatap koin emas di tangannya, lalu menatap gorden beludru merah di depannya.
"Kita lihat saja, Valenti," gumam Elena dengan mata berkilat. "Sebelum minggu ini berakhir, aku akan membuat rumah ini memiliki Wi-Fi tercepat di dunia... dan mungkin, aku akan memecat pelayanmu yang kaku itu."
Tak berselang lama, pelayan itu kembali dan memberi tahu Elena bahwa makanan nya sudah siap. Elena di bawa menuju ke ruang makan dengan meja kayu jati yang besar, yang bisa menampung hingga 12 orang.
"Wah, bahkan meja makanpun terasa seperti di abad pertengahan." Elena berguman seraya duduk di ujung meja. Di hadapan nya terdapat beberapa menu makanan dan nasi, sekali lagi nasi. Elena mengerutkan kening dan berguman "Sepertinya malam ini aku akan melanggar pantanganku."
Tanpa di sadari Elena, ternyata Dante memperhatikan nya dari ujung ruangan tanpa ekspresi hanya saja otaknya penuh dengan rencana apa yang akan ia lakukan untuk menepati perjanjian sumpah darah itu.