Kegelapan di lantai 50 itu terasa menyesakkan. Suara alarm darurat mulai melolong, namun bukan suara sirine polisi yang didengar Elena, melainkan suara rentetan tembakan dari lantai bawah.
"Merunduk!" Dante sentak menarik bahu Elena tepat saat peluru pertama memecahkan kaca jendela besar di belakang mereka.
Serpihan kaca menghujani karpet mahal ruang rapat seperti berlian yang hancur. Tanpa menunggu protes Elena, Dante menariknya menuju pintu keluar darurat.
"Dante, lepaskan! Aku punya panic room di kantor ini!" teriak Elena, berusaha menyeimbangkan diri dengan sepatu hak tingginya. "Semuanya bersiaga!" Perintah Elena dengan suara lantang kepada para peserta rapat.
"Pintu panic room-mu sudah diretas dari luar sebelum mereka sampai ke sini, Elena. Kau membangun benteng teknologi, tapi mereka datang dengan kapak," balas Dante tanpa menoleh. Dia mengeluarkan sebuah pistol semi-otomatis dari balik jasnya—gerakan yang begitu halus dan terlatih hingga Elena tersadar bahwa pria ini memang mesin pembunuh.
Dante menekan tombol di perangkat kecil di telinganya. "Protokol Hitam. Sekarang."
Mereka sampai di lorong tangga darurat. Dua anak buah Dante sudah menunggu di sana dengan senjata laras panjang. Tanpa sepatah kata, mereka membentuk formasi pelindung di sekitar Elena.
"Kita tidak bisa lewat lift," kata salah satu pria berbadan besar. "Mereka sudah memutus kabelnya."
"Lewat atap?" tanya Elena, mencoba berpikir logis di tengah adrenalin yang memuncak. "Aku punya helikopter pribadi di helipad." Seraya hendak berjalan ke arah atap.
Dante menghentikan langkah Elena, dan menatap Elena dengan tatapan meremehkan. "Helikoptermu adalah sasaran empuk bagi rocket launcher. Kita turun, bukan naik."
"Kau gila? Itu lima puluh lantai!"
"Kita hanya perlu turun sepuluh lantai. Ke area konstruksi yang kau benci itu,"
"Darimana kau tau aku benci area konstruksi?" Tanya Elena dengan wajah bingung.
Dante diam tak menjawab hanya dengan segera menariknya masuk ke dalam lift barang yang terlihat kusam dan tersembunyi. Dante menempelkan sebuah alat ke panel sensor lift tersebut, dan dalam sekejap, lift itu bergerak turun dengan kecepatan yang membuat perut Elena mual.
Di dalam ruang sempit lift barang, ketegangan antara keduanya memuncak. Dante berdiri terlalu dekat, punggungnya menghalangi Elena dari pintu lift, melindunginya secara instingtif.
"Kenapa mereka mengejarku?" Elena mengatur napasnya, mencoba kembali ke mode CEO-nya. "Ayahku sudah meninggal dua tahun lalu. Rahasia apa yang bisa membuat mereka berani menyerang gedung di pusat kota?"
Dante menoleh sedikit, bayangan lampu lift yang berkedip mempertegas garis rahangnya yang keras. "Ayahmu tidak hanya menyelamatkan nyawa ayahku, Elena. Dia mencuri sesuatu dari mereka. Sesuatu yang sekarang mereka pikir ada di dalam kepalamu."
"Aku tidak tahu apa-apa soal pencurian!" Dahi Elena berkerut mencoba mencari alasan yang logis tentang semua hal yang terjadi.
"Itulah sebabnya kau masih hidup," Dante mendekat, suaranya kini hanya bisikan di telinga Elena. "Karena mereka butuh kau bicara. Tapi bagiku, kau adalah beban janji yang harus kuselesaikan. Jadi, saranku... diamlah dan lari."
Lift berdenting. Pintu terbuka di lantai 40 yang masih dalam tahap renovasi—penuh dengan tumpukan semen dan perancah besi.
"Jono, bersihkan jalan," perintah Dante pada pengawalnya.
"Nama saya Mar—"
"Lakukan saja!" potong Dante dingin.
Saat mereka berlari menembus debu konstruksi, Elena melihat sebuah celah. Ada sebuah panel kendali crane gedung yang masih menyala. Naluri Alpha-nya muncul. Jika dia tidak bisa melawan dengan senjata, dia akan melawan dengan sistem.
Tanpa izin Dante, Elena melepaskan genggaman tangan pria itu dan berlari menuju panel kontrol.
"Elena! Apa yang kau lakukan?!" Dante berteriak.
"Memberikan mereka sambutan hangat!" Elena dengan cepat mengetik serangkaian kode pada layar sentuh panel tersebut.
Dalam hitungan detik, crane raksasa di luar gedung berayun dengan kecepatan penuh, menghantam dinding lantai di bawah mereka—tepat di mana para pengejar baru saja muncul dari tangga darurat. Suara dentuman beton yang hancur dan teriakan tertahan terdengar dari bawah.
Elena berbalik, menatap Dante dengan senyum kemenangan yang menantang. "Aku bilang aku bisa mengatur keamananku sendiri, Valenti."
Dante tertegun sejenak. Dia tidak menyangka tawanan "manisnya" akan menggunakan alat berat untuk menghancurkan musuh dalam sekali gerak. Dia melangkah maju, mencengkeram pinggang Elena dan mengangkatnya seolah wanita itu tidak berbobot.
"Langkah yang cerdas, CEO. Tapi kau baru saja menghancurkan jalan keluar kita," Dante membawa Elena menuju jendela yang terbuka, di mana sebuah tali rappelling sudah terpasang.
"Tunggu, kau mau kita... terjun?" mata Elena membelalak.
"Bukan kita," seringai Dante muncul kembali. "Hanya kau dan aku. Anggap saja ini sesi olahraga pagi yang sedikit lebih ekstrem."
Sebelum Elena sempat memaki, Dante sudah melompat keluar dari gedung lantai 40, mendekap Elena erat-erat dalam pelukannya saat mereka terjun bebas menembus kegelapan malam Jakarta. Entah kenapa Elena merasakan sesuatu yang tidak biasa. Jiwa Alpha nya mencoba menepis, tapi dalam relung jiwanya yang terdalam dia merasa aman. Seperti pelukan dari papanya yang kini tidak lagi bisa ia rasakan.
Angin malam yang menusuk berhenti seketika saat Dante mendarat dengan tumpuan kaki yang sempurna di sebuah balkon beton, sepuluh lantai di bawah posisi mereka tadi. Elena melepaskan cengkeramannya dari leher Dante, jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja.
"Kau... benar-benar... gila," Elena terengah-engah, berusaha merapikan rambutnya yang sudah tidak berbentuk.
"Itu disebut efisiensi, Nona Vane. Kau yang mengajariku tadi, bukan?" Dante melepaskan tali pengaitnya dan memberi isyarat pada sebuah mobil van hitam yang sudah menunggu di gang bawah, siap untuk menerima perintah. Elena hanya mendengus mendengar jawaban Dante.
Bunyi derit ban di atas aspal terdengar seperti jeritan maut. Empat mobil SUV hitam legam mengepung gedung Vane Tech, lampu sorotnya membelah kegelapan malam layaknya pedang cahaya. Elena Vane bisa merasakan adrenalin membanjiri sistem sarafnya, sebuah reaksi biologis yang biasanya ia tekan dengan meditasi atau kopi hitam pekat. Namun kali ini, tidak ada data yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Masuk ke mobil, sekarang!" perintah Dante Valenti. Suaranya rendah, tidak berteriak, namun memiliki otoritas yang tidak membantah.
"Tunggu! Tas kerjaku!" Elena dengan cepat mendekap tas kerja yang berisik laptop nya.
Dante menggeram, sebuah suara frustrasi yang tertelan oleh bunyi tembakan pertama. TANG! Peluru menghantam dinding, hanya beberapa inci dari bahu Elena. Bau mesiu menyengat.
Tanpa peringatan, Dante menyambar pinggang Elena dengan satu tangan, mengangkatnya seolah wanita itu tidak lebih berat dari segulung karpet, dan membawanya berlari menuju sebuah sedan sport lapis baja yang sudah di siapkan.
"Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri, ini tidak efisien secara mobilitas!" protes Elena, meskipun ia mencengkeram bahu jas Dante dengan erat.
"Efisiensi tidak berguna jika kau mati dalam sepuluh detik ke depan, Nona Vane," balas Dante sambil melemparkan Elena ke kursi penumpang dan membanting pintu.
Dante melompat ke kursi pengemudi saat kaca depan mobil mulai dihujani peluru. Suara hantaman logam pada kaca antipeluru terdengar seperti hujan es yang mematikan.