Elena Vane tidak pernah percaya pada takdir. Baginya, takdir hanyalah istilah yang digunakan orang-orang malas untuk menjelaskan kegagalan probabilitas. Hidupnya adalah barisan kode Python, deretan angka di laporan keuangan, dan dinginnya pendingin ruangan di kantor pusat Vane Corp yang terletak di lantai 50 sebuah pencakar langit di Jakarta.
Malam itu, hujan mengguyur ibu kota dengan kemarahan yang jarang terlihat. Di luar jendela kaca yang tebal, petir menyambar, menerangi kemacetan Jakarta yang tampak seperti barisan semut merah yang terjebak di dalam lumpur. Elena masih di sana, jemarinya yang lentik menari di atas keyboard mekanik yang mengeluarkan suara clack-clack-clack yang ritmis.
"Lima menit lagi," gumamnya pada diri sendiri. Dia sedang melacak sebuah anomali di akun rahasia ayahnya—sebuah akun yang seharusnya tidak ada. Namun, pencariannya terhenti ketika layar monitornya tiba-tiba berkedip. Bukan karena gangguan listrik, melainkan sebuah enkripsi tingkat militer yang memaksa masuk. Sebuah simbol muncul di tengah layar: sebuah koin emas dengan lambang pedang klan Valenti, dan di sisi lain, lambang bunga lili milik keluarga Vane.
The Valenti Blood Oath.
Elena mengerutkan kening. Istilah itu terdengar seperti judul novel romansa sejarah yang buruk, bukan sesuatu yang seharusnya muncul di server perusahaan teknologi bernilai miliaran dolar. Namun, dia ingat pernah melihat koin emas itu di dalam brankas ayahnya, hanya sekali saat ayahnya masih hidup dulu. Dan sebuah pesan teks muncul di bawah simbol itu:
"Instruksi terakhir Ayahmu. Datanglah ke dermaga tua Pelabuhan Sunda Kelapa. Sendiri. Atau asetmu akan dilikuidasi oleh dunia yang tidak kau kenal."
Elena mengernyit membaca pesan itu, otaknya berfikir cepat, tentang siapa yang mengirim pesan itu kepadanya, namun ia segera menenangkan diri dan mengabaikan pesan itu, nemilih untuk segera menyelesaikan apa yang ia kerjakan.
"Sebaiknya aku segera pulang, esok adalah hari besar yang sudah aku tunggu - tunggu." Elena menutup laptop nya dan berkemas untuk bersiap pulang. Bergabung dengan barisan mobil yang sedang terjebak macet di jalanan Jakarta.
Keesokan harinya.
"Dua miliar dolar, Tuan-tuan. Itu adalah nilai yang kita pertaruhkan jika peluncuran satelit ini tertunda bahkan satu jam saja."
Elena Vane berdiri di ujung meja konferensi kaca yang berkilau di lantai 50 Vane Tech Tower. Suaranya tenang namun tajam, seperti pisau bedah. Di depannya, jajaran direktur pria yang usianya dua kali lipat darinya hanya bisa menunduk. Elena adalah "The Ice Queen"—begitu mereka menjulukinya di belakang punggung.
"Kami mengerti nona." Seluruh peserta konferensi menjawab dengan patuh. Mereka semua tau peluncuran satelit kali ini sudah sejak lama di persiapkan dan merupakan proyek terbesar sepanjang sejarah. Jika mereka meleset sedikit saja, maka karir atau bahkan nyawa mereka menjadi taruhan nya.
Tepat saat Elena hendak menutup rapat, pintu ganda ruang dewan itu terbuka pelan. Bukan dengan ledakan, tapi dengan keheningan yang jauh lebih mengintimidasi.
Seorang pria melangkah masuk. Jasnya berwarna arang, potongannya melekat sempurna di badan nya, dan aura yang dibawanya seolah menyedot seluruh cahaya dari ruangan itu. Di belakangnya, dua pria berbadan tegap berjaga di pintu, membuat tim keamanan internal Elena tampak seperti anak sekolah yang sedang bermain polisi-polisian.
"Rapatnya sudah selesai, Nona Vane," suara pria itu berat dan penuh otoritas.
Elena menyipitkan mata. Dia mengenali wajah itu dari berita kriminal internasional kelas atas yang jarang terekspos. "Dante Valenti. Apa yang kau lakukan disini? Kau sedang berada di properti pribadi. Keluar dengan tenang sebelum aku memanggil kepolisian federal."
Dante tidak berhenti. Dia berjalan perlahan mengitari meja, mengabaikan tatapan ngeri para direktur, lalu berhenti tepat di samping Elena. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya dan meletakkannya di atas meja perak itu.
Clang.
Sebuah koin emas kuno. Di satu sisinya terukir lambang pedang klan Valenti, dan di sisi lain, lambang bunga lili milik keluarga Vane.
Napas Elena tertahan. Dia pernah melihat koin itu sekali, di dalam brankas rahasia ayahnya sebelum pria itu meninggal, dan semalam di layar laptop nya.
"Aku sudah mengirimu pesan semalam, namun kau mengabaikannya." Dante berucap dengan dingin.
"Jadi kau yang mengirimiku pesan semalam? Apa maksudnya ini?" Elena menjawab dengan kesal.
"Pernahkah kau mendengar tentang Sumpah darah dari ayahmu?"
"Sumpah Darah," bisik Elena, suaranya nyaris tak terdengar.
"Ayahmu menyelamatkan nyawa ayahku tiga puluh tahun yang lalu," Dante mencondongkan tubuh, aroma maskulin yang dingin menusuk indra penciuman Elena. "Dan hari ini, musuh yang sama yang mencoba membunuh ayahmu telah menemukanmu. Sumpah itu aktif, Elena. Kau adalah tanggung jawabku sekarang."
"Aku tidak butuh perlindungan dari seorang kriminal," tantang Elena, meskipun tangannya sedikit gemetar.
Dante melirik jam tangannya. "Dalam tiga menit, sistem listrik gedung ini akan mati. Dalam lima menit, tim penyerbu akan masuk lewat basement. Kau bisa tetap di sini dan mati dengan harga dirimu sebagai CEO, atau kau ikut denganku dan hidup sebagai tawananku."
Elena menatap mata Dante. Dia mencari kebohongan, sebuah kesalahan dalam algoritma bicaranya. Namun, dia hanya menemukan keseriusan yang mematikan.
Tepat saat Dante selesai bicara, lampu di seluruh ruangan berkedip dan mati. Keheningan mencekam menyergap, hanya disinari cahaya rembulan dari jendela besar.
"Waktunya habis," Dante meraih pergelangan tangan Elena.
"Lepaskan! Aku bisa mengatur keamananku sendiri!" Elena mencoba menarik tangannya, namun genggaman Dante seperti borgol baja.
"Keamananmu adalah lelucon bagi orang-orang yang mengejarmu, Elena. Mulai detik ini, perusahaan ini bukan lagi kantormu, dan dunia ini bukan lagi tempat bermainmu." Dante menariknya mendekat hingga d**a mereka bersentuhan. "Selamat datang di duniaku. Di sana, kau tidak memerintah siapa pun."
Elena menatap mata Dante yang berkilat di kegelapan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Elena Vane merasa kehilangan kendali. Namun, saat dia mendengar suara ledakan kecil dari arah lift, dia tahu bahwa pria berbahaya di depannya ini adalah satu-satunya tiketnya untuk bertahan hidup.
"Jangan berpikir ini berarti aku tunduk padamu, Valenti," desis Elena.
"Oh, aku mengandalkan itu," seringai Dante terlihat di kegelapan. "Akan membosankan jika kau menyerah begitu saja."
"Satu syarat," ucap Elena sambil menutup tabletnya dengan suara klik yang tajam.
"Apa?" tanya Dante sambil mengokang senjatanya.
"Jangan pernah sentuh laptopku tanpa izin."
Dante menyeringai, sebuah senyum yang berbahaya namun memikat. "Kesepakatan tercapai, Nona CEO."
Elena mendengus mendengar nya, dalam hati ia terus meyakinkan diri jika ini adalah satu - satunya cara agar dia bisa hidup untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Dan apa yang sudah ayahnya lakukan di 30 tahun yang lalu.