Bab. 5 - Gadis Murahan

1055 Kata
"Tolong!" jerit Meisya ketika pria yang menghadangnya memaksa meminta barang berharga yang dia bawa. Seorang pria dewasa yang kebetulan melintas segera mendekat dan berhasil mengusir preman kacangan yang hanya berani menggertak wanita lemah seperti Meisya, hanya dengan ancaman saja. "Kamu tidak apa-apa 'kan, Dik?" tanya pria tersebut. "Tidak apa-apa, Om. Terima kasih sudah menolong saya." Pria itu lalu menanyakan ke mana tujuan Meisya dan menawarkan tumpangan pada gadis tersebut. Merasa masih sangat lemah, Meisya menerima dengan senang hati tawaran pria baik itu. Di sinilah saat ini Meisya berada, di depan sebuah counter smartphone. Meisya bermaksud menjual ponsel, satu-satunya benda berharga yang saat ini dia miliki. Ya, Meisya diusir tanpa membawa apa pun dari rumah. Sebenarnya, dia masih memiliki uang di dalam dompet, tetapi tasnya tertinggal di mobil Sherly ketika semalam sang saudara tiri melemparkan dia ke klub malam. Sementara uang selembar berwarna merah yang dia kantongi, sudah Meisya gunakan untuk membayar ongkos taksi. "Dikasih harga berapa, Bang? Ini barangnya masih bagus, loh. Orisinil." Meisya menjelaskan meski penjaga counter juga pasti tahu barang yang saat ini dia pegang, yaitu smartphone termahal di kelasnya. Setelah tawar menawar, Meisya kemudian menerima pembayaran dari pemilik counter langsung. Meisya meminta uang cash saja ketika pembeli ponselnya itu menawarkan untuk ditransfer. "Saya tidak ada nomor rekening, Om." Meisya menolak uangnya ditransfer karena ATM miliknya, juga buku tabungan, semua tertinggal. "Baiklah, Dik. Tapi, Adik hati-hati, ya, bawa uangnya." Penuh kepedulian, pemilik counter tersebut mengingatkan. Meisya mengangguk. "Iya, Om. Makasih sudah diingatkan." Setelah mendapatkan uang dari penjualan ponsel, Meisya segera menaiki angkot yang akan membawanya ke stasiun. Tekadnya sudah bulat kini untuk pergi ke suatu tempat. Tempat di mana dia tidak akan bertemu dengan orang-orang yang telah menyakitinya. Meisya berharap, di tempatnya yang baru nanti dia akan mendapatkan kebahagiaan. Meisya menyempatkan membeli beberapa pakaian untuk ganti. Dia buang seragam sekolahnya begitu saja, di sebuah tong sampah besar, di depan stasiun. Akan tetapi, jas milik pria itu masih dia bawa untuk menghangatkan tubuh karena Meisya masih merasa kedinginan. Untuk menghemat uang, Meisya membeli tiket kelas ekonomi. Kota yang dia tuju adalah kota yang belum pernah dia kunjungi. Dia pun tak tahu, kenapa memilih kota tersebut. Sekilas saja pikiran itu melintas dan Meisya langsung memantapkan hatinya. Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di dalam kereta api, Meisya tiba di stasiun. Keramahan langsung terasa menyambutnya ketika dia baru saja turun. Bergegas Meisya menyeret kakinya keluar dari sana untuk memulai kehidupan baru. "Permisi. Maaf, Bu, mau numpang tanya. Kost-kostan dekat sini ada tidak, ya, Bu?" tanya Meisya pada penjual jajanan yang mangkal di depan stasiun. "Kalau kost-kostan, ibu kurang tahu, Dik. Kalau rumah petak ada, tapi rumahnya sempit. Tuh, di gang situ." Ibu itu menunjuk arah gang yang berada tak jauh dari stasiun. Meisya tak berpikir panjang karena hari telah senja. Yang dia pikirkan saat ini adalah segera menemukan tempat yang aman untuk berteduh. Masalah kenyamanan tidak lagi terlalu penting untuknya karena kondisi Meisya sendiri saat ini pun tak lagi nyaman. Meisya hanya ingin bisa bertahan dan suatu saat nanti, akan membalas semua perbuatan orang-orang yang telah membuat dia menderita seperti sekarang. Ketika membuka pintu kamar dengan kunci yang diberikan oleh pemilik kontrakan rumah petak tersebut, Meisya hanya bisa menghela napas panjang. Tempat itu tidak layak disebut rumah. Hanya sepetak kamar berukuran tiga kali tiga meter dan terdapat kamar mandi sempit di dalam. Bahkan, kamar asisten rumah tangga di kediaman orang tuanya, masih lebih bagus dari rumah petak itu. 'Tak mengapa, setidaknya aku bisa beristirahat di sini.' batin Meisya sendu. Dia langkahkan kaki melewati pintu, kemudian memindai seisi ruangan yang tampak sudah bersih. Meisya menyimpan tas ransel yang berisi sedikit pakaian di atas lemari kayu kecil, lalu dia baringkan tubuh lelahnya di atas karpet. Ya, ruangan tersebut hanya beralaskan karpet, tanpa ada kasur. Tanpa sadar, Meisya terlelap cukup lama. Ketika dia membuka mata, hari sudah gelap. Meisya terbangun karena perutnya terasa lapar. Bergegas dia beranjak, menyalakan lampu lalu membersihkan tubuh. Setelah membeli makan malam, Meisya keluar dari kamar dan berkenalan dengan penghuni lain di rumah petak tersebut. Sebagai pendatang baru, Meisya tentu harus beramah tamah karena tidak ingin dikatakan sombong. Lagipula, itu memang kepribadian Meisya yang terkenal ramah dan supel. "Iya, kah, Mbak? Terima kasih banyak atas informasinya," kata Meisya dengan netra berbinar ketika salah satu tetangga di rumah petakan itu memberikan informasi, adanya lowongan pekerjaan di sebuah toko kue. "Sama-sama, Dik. Moga kamu diterima kerja di sana," jawab wanita yang sepertinya hendak pergi tersebut. "Maaf, ya, Dik. Mbak enggak bisa temani kamu ngobrol lama. Mbak udah dijemput, tuh," pamit wanita yang mengenakan gaun seksi itu, seraya menunjuk ke arah seorang pria paruh baya berkepala botak yang baru saja turun dari mobil jenis sedan berwarna hitam. "Oh, iya, Mbak. Tidak apa-apa, kok. Saya senang udah bertemu dan berkenalan dengan Mbak Laksmi. Sekali lagi, terima kasih informasinya." Wanita berusia sekitar tiga puluh tahunan itu tersenyum, lalu melambaikan tangan pada Meisya. Meisya masih menatap Laksmi hingga wanita itu masuk ke mobil sang pria. Karena malam semakin larut, Meisya pun memutuskan untuk kembali ke kamar. "Jangan dekat-dekat dengan wanita tadi, Dik, jika kamu tidak mau ketularan!" Tetangga yang berada tepat di samping rumah petak Meisya mengingatkan, sebelum gadis belia itu membuka pintu. "Maksud Mbak Yanti, apa, ya?" tanya Meisya yang tak mengerti. Dahi gadis itu berkerut dalam. "Dia itu wanita malam yang suka tidur dengan sembarang pria. Kalau kamu dekat-dekat dengan dia, nanti kamu bisa jadi seperti Laksmi!" jawab wanita beranak satunya itu yang terdengar sinis. Sepertinya, Yanti tidak menyukai keberadaan Laksmi di sana. "Pria tua yang barusan itu, pelanggan barunya," lanjut Yanti dan Meisya hanya diam mendengarkan, tanpa ingin mempermasalahkan profesi Laksmi. Sebab, di mata Meisya Laksmi adalah wanita yang baik dan ramah. "Atau jangan-jangan, kamu juga sudah seperti Laksmi?" tuduh Yanti kemudian tanpa perasaan, sembari memindai tubuh Meisya dari atas ke bawah hingga membuat gadis itu menjadi salah tingkah. Meisya tanpa sadar mendekap tubuhnya sendiri. Bayangan ketika di pagi buta tadi dia terbangun dalam keadaan tanpa busana, melintas begitu saja, dan itu berhasil membuat tubuh Meisya gemetaran. "Apa jangan-jangan, Mbak Yanti bisa melihat kalau aku ini sudah tidak gadis lagi karena pernah tidur dengan seorang pria?" batin Meisya sendu, teringat malam kelam itu. Ya. Pikiran polos Meisya menerka-nerka dan itu membuat dia semakin ketakutan sendiri. Dia takut jika orang-orang tahu apa yang telah terjadi dengan dirinya semalam, lalu mereka akan menjauhi Meisya karena menganggap dia sebagai gadis murahan. bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN