Pintu ruang rapat terbuka. Madam Maya melangkah masuk lebih dulu, anggun, tegas, dengan aura yang membuat siapapun refleks menegakkan punggung. Bahkan investor asing yang tadinya sibuk mengecek email pun spontan meletakkan tablet mereka. Di belakangnya, Tuan Halim menyusul, berjalan setengah langkah di sebelah kanan. Gerak tubuhnya tetap percaya diri sebagai CEO, tapi jelas, ia bukan pusat gravitasi di ruangan ini. Madam Maya lah porosnya. “Silakan duduk,” ucap Madam Maya ringan. Namun nadanya cukup kuat untuk menekan seluruh percakapan yang belum selesai. Ia mengambil tempat di kursi utama, tepat di tengah meja kaca panjang itu. Kursi kepemimpinan. Tuan Halim duduk di kanan beliau, posisi strategis, menunjukkan ia pemimpin operasional, tapi tetap struktural di bawah Luxeora. Para in

