pengkhianatan

1161 Kata

Pagi biasanya jadi penyemangat Loli. Sinar matahari musim semi di Paris selalu berhasil membuat harinya terasa lebih ringan. Tapi kali ini, hangatnya pun tak sanggup mengangkat suasana hatinya. Begitu turun dari mobil, langkahnya terasa berat, seolah-olah tubuhnya menolak diajak kembali bekerja. Baru saja melewati pintu kaca lobi, suara yang tidak ia rindukan sudah terdengar. “Besok-besok kalau mau datang lesu, tolong bukan hari penting,” ujar Giana datar, menyambutnya tanpa senyum. “Nanti saat rapat, kamu yang presentasi hasil kerja kamu.” Loli hanya mengangguk pelan. Tidak ada tenaga untuk membantah. Ia melangkah masuk ke lift. Namun tentu saja, semesta belum selesai mengujinya. Giana ikut masuk dan berdiri di sampingnya dengan aroma parfum tajam seperti peringatannya. “Jangan sampa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN