“Kamu marah sama aku?” cicit Loli sambil memeluk gulingnya erat-erat, seperti bayi koala mempertahankan batang kayunya. Ivan yang baru saja melangkah masuk ke kamar setelah selesai membersihkan diri, hanya menatap sekilas tanpa menghentikan langkahnya. Pria tampan itu berjalan santai, tapi aura kakunya terasa jelas. Loli bisa merasakannya sampai ke ujung guling. ‘Please deh... jangan balik lagi ke mode default. Gue udah capek ngadepin Ivan versi freezer. Gue maunya yang edisi manusia, bukan edisi es batu.’ batin Loli, setengah panik setengah berdoa. Begitu mencapai sisi ranjang, Ivan duduk perlahan tanpa suara sedikit pun, seolah bahkan kasur ikut paham dirinya harus menjaga suasana. Loli tetap diam, tapi matanya melirik dari balik guling, berusaha membaca ekspresi suaminya. “Aku sama

