Tepat jam sembilan pagi, Loli dan Ivan melangkah masuk ke ruang makan, masih dengan wajah segar tapi jelas terlihat belum sepenuhnya ready for social interaction. “Morning, sayang…” suara lembut itu menyambut lebih dulu. “Eh… Mama?” Loli refleks tersentak kecil. “Morning, Ma!” Ia langsung berlari kecil dan cipika-cipiki dengan Maya, yang pagi itu terlihat cantik santai dalam balutan blus putih dan senyum lembutnya. “Mama kapan sampai?” tanya Loli, masih setengah kaget. Mamanya itu belakangan ini udah kayak playlist random di Spotify. Kadang muncul pas lagi butuh, kadang hilang pas lagi kangen. Susah ditebak. Selalu bikin penasaran. “Baru beberapa jam yang lalu, sayang. Gimana? Masih sakit kepalanya?” tanya Maya penuh perhatian, tatapannya hangat seperti biasa. Loli menggeleng sambi

