Aroma matcha yang hangat perlahan memenuhi udara saat Giana melangkah keluar dari kafetaria di lantai bawah Aureola. Cangkir keramik berlogo perusahaan itu ia genggam dengan hati-hati, bukan karena takut tumpah, tapi karena misi yang dibawanya pagi ini terlalu penting untuk gagal. Langkahnya mantap, sepatu hak tinggi berketuk ritmis di sepanjang koridor berlapis dinding kaca. Giana melenggang seperti runway nya sendiri, tenang, terukur, dan penuh agenda. Dari kejauhan, beberapa staf berpura-pura sibuk. Tangan mereka sibuk di keyboard, tapi mata jelas mengikuti setiap gerakannya. Bukan semata karena penampilannya yang sleek dan profesional. Mereka tahu, Giana sedang bersiap. Bukan untuk presentasi. Tapi untuk menyusun strategi menjilat atasan baru, dengan presisi yang nyaris ilmiah. Se

