Pada keesokan harinya, saat bel istirahat berbunyi, Danish berjalan menuju ruang olahraga, karena sama dengan waktu Kenny menghindarinya di waktu dulu, saat ini pasti Kenny juga lebih memilih berada di ruang olahraga dibandingkan harus pergi ke kantin. Handle pintu bergerak, Danish mulai menekan tombol lampu yang tak jauh dari pintu setelah dirinya berhasil melangkah masuk ke dalam. Ruang olahraga yang semula gelap pun kini menjadi terang meski suasana di dalam begitu sunyi, hingga Danish berhasil mendengar suara langkah kakinya sendiri. “Ken?” ujar Danish sambil terus melangkah dengan perlahan saat lampu telah menyala. Kesunyian masih menyelimuti, tidak ada satupun suara yang menyauti ucapan Danish. “Kayaknya Kenny gak ada di sini.” gumamnya setelah mengedarkan pandangan ke selur

