Setibanya di depan gerbang, aku langsung berjalan masuk ke dalam area sekolah. Aku kembali melihat Keenan yang baru saja terhenti untuk memarkirkan sepedanya. Sambil menahan senyuman, aku mencoba untuk terus berjalan seakan tak perduli jika kini ia tengah berjalan di belakangku. Tak lama kemudian, seseorang menarik ranselku yang membuat langkahku terhenti. Aku tentu tahu siapa yang melakukannya, siapa lagi jika bukan Keenan. Setelah berusaha untuk kembali menahan senyuman, aku menoleh ke arah Keenan. “Kenapa? Kangen ya gue jail...in?” ucapanku melambat ketika akhirnya aku tahu jika yang menarik ranselku saat ini ternyata bukanlah Keenan, melainkan Adit. “L-loh, Adit? Gue kirain siapa.” Aku mulai menoleh ke sekeliling, mencari keberadaan Keenan yang semula berada di belakangku. Ter

