*Keesokan harinya* Aku berlari menghampiri Adit di Parkiran ketika melihatnya baru saja turun dari sepeda. “Hai, Dit!” Adit menurunkan standar sepeda agar sepedanya bisa berdiri lalu menoleh ke arahku. “Oh, hai Cel. Gue kira siapa.” Kini kami mulai berjalan secara beriringan untuk menuju ruang kelas. “Gimana sama Play Station barunya? Lo gak lupain waktu belajar kan?” Adit terkekeh, “Nggak kok Cel, jangan khawatir. Nyokap juga cuma izinin gue main Play Station di setiap akhir pekan aja, kalau hari sekolah kayak gini gue harus belajar.” “Waaah, keren deh parenting nyokap lo.” “Oh iya, gimana lo sama bokap kemarin?” Aku menghela napas panjang, “Gak gimana-gimana. Lagi dan lagi gue coba untuk ngejauh dan minta Pak Burhan untuk cepet-cepet antar pulang ke rumah.” Dengan wa

