Di atas kasur berukuran 160 x 200 centi meter, Celine tengah berbaring sambil menutup wajahnya dengan sebuah bantal, di dalam sana dirinya sedang membayangkan bagaimana cara Calvin memandangnya lalu mengajaknya untuk datang ke acara turnamen yang akan diselenggarakan bulan depan. Kini ia menyingkirkan bantal itu dari wajahnya lalu mulai kembali menampakan wajah sumringahnya. “Gak heran kenapa Calvin bisa disukai sama banyaknya anak perempuan di sekolah. Ah, gue masih belum bisa lupain tatapan dia saat itu!” Celine kembali menutup kedua matanya sambil meliuk-liuk kegirangan. Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu yang membuat dirinya sontak membuka kedua matanya. “Cel, Kakak boleh masuk?” teriak Alice dari luar. “Masuk aja Kak, gak Celine kunci.” Setelah mendapatkan izin da

