Eka tiba di kampus Samsul lebih siang dari pengantin baru membuka mata. Acara sudah mulai, dan ia tidak memiliki undangan untuk masuk ke aula. Mau tak mau ia meratapi nasib dengan duduk di undakan. Tak lupa Pop Ice rasa buble gum sebagai sahabat. Melirik sebal ponsel, ia merutuk ulah kejam Ryan karena tak juga mengangkat panggilannya.
"Mas, tolong jangan di sini. Saya mau pajang foto."
Eka mengangkat kepala pada gadis bertas ransel dan sebuah kamera yang talinya menjuntai. Persis menjadi kalungnya.
"Pajang foto?"
Gadis berambut ekor kuda itu mengangguk.
"Iya, Mas. Tempat yang fleksibel tuh di sini. Mas minggir deh. Duduk deket mobil aja sana. Sopir kok mainnya di sini."
Eka hendak melempar es dalam plastik yang ia genggam, namun lebih dulu gadis itu mendekat dan menendang kaki Eka.
"Heh, emang tampang gue ada stempel sopirnya? Gue tamu, woy. Woh ... sontoloyo."
Eka tak terima. Ia berdiri, hendak menendang balik kaki kecil yang tertutup celana. Sayang ... bentangan kain spanduk menghalangi pandangannya.
"Mas, pergi sendiri, apa dianter ke parkiran?"
Eka mengibaskan tangan menghalau debu yang dibawa spanduk bergambar calon bupati tahun kemarin.
"Lo—"
"Maaf ya, Mas. Saya mau mengais rejeki. Saya sudah izin panitia juga kalau mau pakek tempat ini. Jadi, sebaiknya Mas geser p****t ke undakan sebelah sana, atau bawa pantatnya ke parkiran. Duduk cakep di rumput, yang saya yakin banyak sekali kacang atomnya."
Eka menahan kesal. Begitu beberapa panitia—yang memakai jas almamater dan beberapa karyawan kampus—menatap ke arah mereka. Daripada tambah ribut, ia memilih pergi. Menaruh pantatnya di undakan sisi lain.
"Bocah edan!"
****
"Owalah ... kon nang kene ta? Layakno kok betah. Kon nontoki arek wedok ae."
Ryan datang dengan wajah tak berdosa. Padahal ia berlumur dosa, karena sering kali mencuri jambu sejak kecil.
Eka mendengkus kesal. Tempat duduknya tak lagi di undakan. Ia pindah ke ruangan kelas, yang dilansir sebagai tempat mengambil jatah konsumsi. Terlihat jelas pada kertas yang ditempel di jendelanya. Sudah pasti rombongan tamu akan datang ke ruangan tersebut. Termasuk Ryan, yang tak tahu diri. Ryan mengambil tiga kotak makan siang. Satu ia bagi pada Eka yang cemberut. Yang satunya ia simpan untuk Samsul. Laki-laki itu entah masih berfoto atau sekadar pamitan pada para mantan-mantannya. Mengabaikan itu, Ryan bergabung duduk di dekat Eka.
Melihat nasi kotak bertahtakan stempel rumah makan dan diikuti tulisan embos Selamat Menikmati, rasa yang terpendam mulai bergejolak. Segera mereka buka dan melahap penuh nafsu.
"Cewek yang baju merah, cakep ya. Dikenalin ke Mama langsung di-ACC nih. Tampangnya pengen ditindih aja tuh!"
"Kayak pernah nindih cewek."
"Pernah lah. Lo kira gue sealim itu?"
"Emang nindih cewek mana? Jangan bilang kon nindih Novi."
"Mana enak dia ditindih. Panda di kamar Novi kan pernah gue tindih. Empuk gila! Gue ketagihan. Beli di mana sih tu boneka. Besar juga. Gue mau beli ntar."
"Wong gendeng!
Lalu lalang panitia, yang tak lain mahasiswi cantik nan memesona menjadi lalapan segar mata kedua perjaka tong-tong itu.
"Aku tadi lihat fotomu di sana," tunjuk Ryan.
"Cakep dong gue."
"Merem."
"Tetep aja. Gue ganteng itu udah bawaan orok. Udah fakta tak terelakkan."
"Jiamput bahasamu!"
Keduanya diam dari pertikaian begitu Samsul datang. Basa-basi sebentar, ambil kotak makan dan pamit pulang. Kedua sohib yang pernah mandi bersama segera menyusul begitu kotak makan tinggal plastik mika, sendok plastik dan kardus. Tak asa tulang, karena menunya serba daging. Semoga bukan daging celeng saja.
"Ka, beli foto dua dapet diskon nggak kira-kira? Dulu aku pas wisuda, nggak sempet difoto."
"Iya lah. Lo kan telat datengnya. Emang foto kita ada? Masa mau cari semua lapak?"
Eka memperhatikan beberapa tukang foto dadakan yang menggelar dagangan di sekitar aula. Selain tukang foto yang membawa layar—berupa gambar rak buku—ada juga yang menjual foto-foto yang terambil candid. Foto ukuran 4R berjejeran, wajah-wajah peserta wisuda dan tamu undangan diobral.
"Kita ngapain pilih yang ini?" Eka merasa tak setuju. Ryan malah sudah jongkok mengambil foto dirinya yang tampak kece. Diambil sedikit menyamping. Sepertinya diambil saat Ryan berjalan hendak masuk aula.
Eka melihat sebal pada penjual foto, yang bermulut manis merayu Ryan. Tentu saja bualan semata. "Ini loh, fotoku ganteng. Aku udah ngincer dulu pas keluar tadi."
"Iya, Mas. Bener banget. Mas kelihatan cakep banget. Wajahnya bersinar, bahkan mirip aktor drama Korea yang sering tak lihat, Mas. Cuma lima belas ribu aja kok."
"Heh, Monyong! Lo kira gue sama mata semua orang tu rabun apa? Dilihat dari mananya dia kayak aktor sipit itu? Mata belo, hidung pesek, muka juga kucel. Efek kamera aja. Lagian, mahal amat. Itu lima ribu juga masih dapet untung." Eka mematahkan fakta berbau marketing penjual foto.
Si gadis tak terima. Apa salah ia merayu calon pembeli untuk merebut hati? Merasa sopir yang pantatnya suka parkir sembarangan telah meremehkannya, ia menyingsingkan lengan kaus panjang. "Mas sopir! Anda boleh minggat bentar nggak? Kehadiran Mas ..."
"Ceo."
Si gadis melotot begitu laki-laki yang berkacak pinggang di depannya menyahut. Apa tadi namanya? CEO? Kurang piknik, kebanyakan micin, korban drakor Oppa, Ahjussi, apa ... diserang virus halu akut?
"Nama gue CEO. Bukan sopir, woy. Lagian gue dateng sama dia."
"Mas, sehat kan? CEO? Mas kira ini dunia Watty? Kalau begitu," si gadis menjulurkan tangannya, "kenalkan, saya Raisa." Kini malah Eka yang menganga.
"Mbak, waras? Muka begini ngaku Raisa. Untung gue nggak cita-cita jari Hamis Daud. Ogah kalau Raisa nya kayak lo.
"Sama."
"Mbak kurang kelon pasti, makanya demen halu?"
"Sok tahu."
"Butuh piknik?"
"Hidupku udah mirip traveler."
"Kebanyakan micin pasti."
"Nggak suka asin. Lebih suka yang pedes."
"Woh, tikus got."
"Manuk emprit!”
Eka tak terima dengan ejekan kali ini. Enak saja pusaka yang udah disunat biar sah jadi cowok sejati malah diremehkan. "Woy ... manuk gue kok dibawa-bawa sih. Ah elah ... pergi aja, Yan."
Ryan bingung harus pasrah diseret Eka, atau mempertahankan foto ganteng maksimalnya untuk dipajang di kamar.
"Mbak, ntar aku kembali lagi ya. Tolong simpenin."
Ryan menyerah pasrah. Daripada Eka mengeluarkan ajian Kamehame, kekuatan bulan, atau jurus kebo kayang di depan ratusan orang.
***
Raisa mengipasi wajahnya gerah. Baru kali itu ia bertemu titisan kaum Adam yang model begitu. Tampang sih, lumayan oke. Mulutnya ... sowak. Ya Gusti ... apa salahnya sampai bertemu makhluk semacam itu.
Begitu sampai di kos, ia mengikat jadi satu kumpulan foto yang tidak laku. Mengais rezeki seperti itu, adanya musiman. Kalau sedang ada wisuda atau perpisahan, barulah ia beraksi. Hidup memang tak semulus pipi Sandra Dewi. Seperti yang ia alami. Mengambil foto secara cepat, dengan langkah kaki yang bergerombol masuk aula menjadi kesulitan tersendiri. Mencetak di studio langganannya, menunggu dan menggelar dagangan di emperan lokasi wisuda ... sudah menjadi pekerjaan sampingannya. Asal tidak benturan dengan jadwal kuliahnya saja.
Dari tumpukan foto itu, ia menemukan wajah si mulut sowak. Entah kapan ia mengambilnya. Yang jelas mengambil wajah sebisa yang ia dapatkan. Tak disangka, wajah cemberut cenderung kesal itu tertangkap kameranya.
"Gusti ... semoga kameraku nggak step habis foto wajah alien ini." Raisa mengusap sayang kameranya.
"Kayaknya kamu butuh dirukyah deh," gumam gadis bernama lengkap Ranti Sasmita pada kamera kesayangannya penuh tekad.
*Owalah kamu di sini to. Makanya kok kerasan. Kamu lihatin cewek saja.
*Gila
____________