1.
Kening Hendra mengernyit begitu membuka pintu ruang karaoke. Lampu temaram, aroma rokok dan alkohol, serta dentuman musik yang keras langsung menyerbu inderanya.
“Woi! Yang ulang tahun datang nih!” Robin berseru saat melihat Hendra masuk.
“Wah, datang beneran! Hujan pasti turun bentar lagi,” sahut Bobi, disertai gelak tawa.
Hendra hanya menggeleng, menutup pintu, lalu duduk di sofa yang paling jauh.
“Ngapain jauh-jauh? Sini!” Robin menyeret Hendra ke tengah.
“Nggak, Rob. Gua di sini aja,” tolak Hendra.
“Elu yang lagi ultah, yang nambah umur, yang punya party. Masa duduk di pojokan?” sahut Bobi.
“Tapi gua nggak minum.”
“Iya, tau. Yang penting elu di tengah.” Dengan begitu, Robin berhasil menyeret Hendra untuk duduk di tengah sofa, tepat di depan layar televisi yang menampilkan video klip lagu Paijo.
“Kita udah setuju elu nggak mau ke klub. Kita juga oke waktu elu nolak mabuk. Kita hargai itu. Tapi… elu nggak boleh nolak kalau kita panggil LC,” ucap Bobi sambil menyeringai nakal.
Hendra berdecak keras. Matanya berputar malas.
“Mereka cuma nemenin. Kita bayar mereka cuma buat nemenin. Kecuali elu mau bungkus, itu lain ceritanya,” sambung Robin.
Bobi tertawa. Dia tahu Hendra tidak mungkin melakukan hal seperti itu.
Temannya yang satu itu menjalani hidup paling lurus. Saking lurusnya, kesehariannya hanya berkutat antara bekerja dan pulang. Hingga kini, di usia tiga puluh lima tahun, Hendra menjadi satu-satunya di antara mereka yang masih lajang.
“Terserah.” Hendra mengibaskan tangan. “Yang mana punya gua?”
“Tuh, yang gelasnya gede. Udah gua pesenin lemon anget. No alcohol. Sesuai permintaan elu. Tenang aja, Dra. Malam ini pokoknya kita senang-senang, tapi tetap sesuai aturan elu. Panggil mereka sekarang, Bob!”
“Oke!” Bobi mengambil telepon paralel, mengatakan sesuatu kepada operator, dan tidak lama kemudian, pintu ruangan mereka diketuk.
“Silakan masuk, Nona-Nona!” Bobi membuka pintu dan merentangkan kedua tangan sambil membungkuk. Senyum lebar tak lupa menghiasi wajahnya.
Tiga orang wanita memasuki ruangan.
Pakaian mereka terbuka, tetapi tetap terlihat rapi dan tidak murahan. Senyum merekah di wajah masing-masing. Rambut mereka tertata rapi dengan riasan yang tidak mencolok. Hal penting lainnya, tidak ada aroma parfum menyengat yang menguar dari tubuh mereka.
Hendra memerhatikan ketiganya sekilas.
Tidak buruk. Setidaknya, mata dan hidungnya tidak akan tersiksa selama berada di sini.
Tangannya bergerak mengangkat gelas, lalu meneguk minumannya lagi. Keningnya berkerut. Minuman itu sudah tidak panas.
“Ladies, ayo duduk. Terserah mau di mana aja.” Robin menarik salah satu wanita, lalu membiarkan dua lainnya memilih tempat.
Hendra sama sekali tidak tertarik.
Ini memang hari ulang tahunnya, tetapi dia tidak memiliki kebiasaan menggelar pesta. Setiap tahun, dia hanya akan pulang lebih cepat, makan bersama keluarga, lalu selesai. Tidak ada kue ulang tahun. Tidak ada perayaan apa pun.
Malam ini, atas desakan Robin dan Bobi, Hendra akhirnya setuju untuk menyewa sebuah ruang karaoke selama tiga jam.
Mungkin karena merasa tidak enak kepada kedua temannya.
Atau mungkin karena alasan lain. Hendra sendiri tidak yakin.
Dia hanya berpikir bahwa mungkin tidak ada salahnya sesekali bersenang-senang, mengingat hari ini usianya menginjak tiga puluh tiga tahun. Setelah ini, perayaan ulang tahun mungkin tidak akan lagi masuk ke dalam agendanya.
Lagu berganti. Kini, wanita yang duduk di samping Bobi mendapat giliran menyanyi. Suaranya cukup enak didengar. Namun, Hendra tetap tidak menunjukkan ketertarikan. Dia hanya merasa sedang memenuhi kewajiban untuk datang ke tempat ini.
“Saya harus panggil siapa, nih? Mas atau Bang?”
Suara seorang wanita mengusik pendengaran Hendra.
Dia menoleh. Seorang wanita tersenyum manis kepadanya. Sikapnya sopan, tetapi menggoda. Senyumnya ramah, tetapi seolah mengundang.
Hendra hanya membalas dengan senyum tipis, enggan menjawab.
“Kalau begitu, aku panggil Bang aja, ya.” Wanita itu masih berusaha menarik perhatian Hendra.
“Terserah.” Hendra mengambil beberapa batang kentang goreng.
Tatapannya tertuju pada kedua temannya. Dia mengamati mereka yang sedang bernyanyi bersama wanita-wanita pendamping masing-masing.
Tertawa.
Bersulang.
Dan saling menyuapi.
Hendra tersenyum tipis. Setidaknya, kehadirannya bisa menyenangkan kedua temannya.
Suasana begitu ramai. Gelak tawa terdengar bersahutan.
Sesekali, kepala Hendra bergerak mengikuti irama musik. Namun, dia lebih banyak diam dan hanya menikmati makanan serta minumannya.
Tiba-tiba, tatapannya tertuju pada sosok wanita yang duduk di samping Robin.
Keningnya berkerut.
Wajah itu… tampak familier.
Namun, Hendra tidak yakin di mana mereka pernah bertemu.
Semakin dia berusaha mengingat, semakin kacau memorinya.
“Abang, mau dikupasin kacang lagi?”
Suara itu membuat Hendra menoleh. Melihat wanita di sebelahnya mengangkat piring berisi kacang, Hendra menggeleng.
“Sudah cukup.”
“Abang mau apa lagi sekarang?”
“Tidak ada.”
“Woi, Dra! Elu yang punya party. Nyanyi, dong!”
Musik berhenti. Suara Robin terdengar lebih keras.
“Nggak.” Hendra menggeleng, tetapi tatapannya tidak lepas dari wanita yang duduk di samping temannya itu.
Wanita itu tiba-tiba menunduk saat tatapan mereka bertemu. Setelah itu, dia berpura-pura sibuk melayani Robin.
Sebagai pria normal yang sedang dilayani oleh wanita cantik, tentu Robin tidak menolak.
Dia tersenyum lebar, lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang wanita sambil menyanyikan lagu pop balada.
Melihat wanita itu tampak panik dan terus berpura-pura sibuk dengan Robin, Hendra semakin yakin dengan dugaannya.
“Kamu mengenal dia?” tanyanya kepada wanita di sebelahnya.
Wanita itu mendongak. “Oh, namanya Afrodit.”
“Baru?” Hendra kembali bertanya, tetapi tatapannya masih tertuju pada wanita yang sedang dibicarakan.
“Nggak, Bang. Dia udah setahun di sini. Kenapa? Abang mau sama dia? Lebih baik jangan, Bang.”
“Kenapa?” Hendra sontak menoleh.
“Orangnya agak kaku. Nggak mau dibungkus. Dia cuma mau nemenin, nuangin minuman, sama nyanyi. Kebetulan suaranya memang oke. Abang nggak sadar kalau dari tadi dia yang paling banyak nyanyi?”
Hendra menggeleng pelan. Dia memang tidak terlalu memerhatikan sejak tadi.
“Jadi, saran aku, mending Abang lupain aja. Afrodit nggak bisa ke mana-mana. Nggak akan bisa.”
“Kenapa kamu begitu yakin? Bisa aja dia ikut setelah jam kerjanya selesai.”
Wanita itu menggeleng. “Afrodit itu kesayangannya Mas Bos. Dia dilindungi langsung dari atas.”
Hendra mengangguk tipis.
Saat tatapannya kembali beralih kepada Afrodit, kursi wanita itu sudah kosong. Kini, Robin duduk seorang diri.
“Rob, ke mana dia?” tanya Hendra tidak sabar.
“Siapa?”
“Yang tadi duduk di samping elu.”
“Oh, katanya ke toilet.”
Hendra sontak berdiri.
“Eh, eh! Mau ke mana?” Robin dan Bobi bertanya bersamaan.
“Sebentar.” Hendra bergegas keluar. Dia ingin memastikan semuanya sendiri.
Hendra berdiri dengan tenang di depan pintu toilet. Punggungnya bersandar pada dinding. Satu tangan berada di dalam saku, sedangkan tangan yang lain memegang sebatang rokok yang menyala.
Cukup lama dia berdiri di sana hingga mulai bertanya-tanya apakah wanita itu benar-benar ada di dalam.
Pertanyaan itu terjawab tidak lama kemudian.
Wanita yang ditunggunya akhirnya keluar.
“Eh?”
Wajah wanita itu tampak sangat terkejut. Bukan hanya itu, dia juga terlihat panik dan berusaha segera pergi.
“Kamu mengenalku, bukan?”
Pertanyaan Hendra membuat tubuh Afrodit menegang.
Seluruh sarafnya seolah mati rasa.
Dia kehilangan kemampuan untuk bernapas dan berbicara.
“Aku… aku…”