Part 10. Sidang Keluarga

1315 Kata
Kedua orang tua Fahri tiba di rumah. Abi yang sudah menunggu selama satu setengah jam, tidak bisa berbasa basi. Beliau bahkan menolak bersalaman dengan besannya itu. Membuat kedua orang tua Fahri bertanya tanya, ada apa dengan rumah tangga anak laki lakinya ini. Khodijah menyambut kedatangan mertuanya, ia menyalami ayah dan ibu Fahri lalu memeluk mereka berdua. Kedua orang tua Fahri melihat netra Khodijah sembab. Ada cairan bening yang masih tersisa di sudut netra indah itu. Tapi, mereka berdua tidak berani bertanya lebih lanjut kepada Khodijah, dikarenakan Abi tidak bersikap ramah seperti biasanya. Umi Khodijah menghampiri ibunya Fahri, beliau memeluk erat besannya itu sembari menangis. Umi tak kuasa membendungnya lagi, tangisnya pecah saat berpelukan dengan besannya. "Jeng, ada apa toh ini sebenarnya? Kok sepertinya ada masalah besar?" Tanya ibunya Fahri. Beliau mengelus punggung umi yang sedang memeluknya erat. Umi melepaskan pelukannya, ia menyeka cairan bening di wajahnya dan mempersilahkan Ibunda Fahri untuk duduk. Kedua keluarga bertemu, duduk bersama di sofa ruang keluarga, dengan perasaan berbeda-beda. Raut wajah Abi terlihat emosi dan geram, sedangkan Fahri duduk menunduk. Kedua pipinya merah dan terdapat tapak lima jari hasil mahakarya Abi. "Maaf, saya bertanya lebih dulu. Sebenarnya apa yang terjadinya, kenapa saya dan istri saya harus malam ini juga datang ke sini?" Tanya Ayah Fahri yang bernama Abdullah. Abi menghela napasnya sesaat, sebelum menjawab pertanyaan besannya itu. Beliau juga melayangkan pandangan kepada Fahri yang sejak tadi tak berani menatapnya. Ingin sekali rasanya Abi melempar wajah Fahri menggunakan vas bunga yang ada di meja, saking kesalnya. "Begini Pak Abdullah. Anak Bapak yang bernama Fahri ini telah menghianati putri saya. Dia telah menikah lagi dengan janda yang usianya 40 tahun. Tapi, bukan itu saja masalahnya. Dia juga menggadaikan sertifikat rumah ini tanpa sepengetahuan putri saya, dan sekarang orang bank datang untuk menyegel rumah ini!" Abi berbicara dengan intonasi tinggi, apa yang beliau sampaikan bagai bom yang meledak. Ayah dan Ibunya Fahri kaget, keduanya menanggapi perkataan Abi dengan beristighfar. "Astaghfirullah hal azim, apa itu benar Fahri? Apa benar, kamu menikah lagi?" Tanya sang ibunda yang duduk bersisian dengan Fahri. Fahri diam seribu bahasa, ia hanya menunduk dan tak lama terdengar isak tangis. Ia takut dengan segala ke kemungkinan yang akan terjadi, terutama ia takut dengan penyakit hipertensi yang diidap ayahnya kambuh. "Jawab Fahri!" Bentak Abi. "Ampun Ibu. Fahri memang menikah lagi, tapi demi Allah Fahri tidak bermaksud menyakiti Khodijah." Fahri bersimpuh di kaki ibunya. Wanita paruh baya itu menepis tangan Fahri, beliau tidak mau disentuh oleh anak laki-lakinya itu. "Kurang ajar kamu Fahri. Plak ..." Ayahnya memukul kepala Fahri, beliau malu dengan kelakuan anaknya. "Ampun Ayah. Fahri minta maaf." Fahri bergeser, bersimpuh di kaki ayahnya. Ia meminta maaf ke sana kemari namun selalu ditepis. "Fahri. Ayah dan ibumu tidak mengajarkan kau menjadi laki laki pecundang seperti ini. Ayah benar-benar kecewa padamu. Kurang apa istrimu Fahri? masa kamu mau dikalahkan oleh syahwat mu sendiri!" "Bukan begitu Ayah. Bukan semata-mata karena syahwat," sahut Fahri. "Lantas apa, kalau bukan karena syahwat!" "Apa salah kalau Fahri mencintai dua wanita? Fahri tidak pernah berzina, Fahri menikahi keduanya. Pernikahan ini sah di mata Allah." Plak ...suara tamparan yang baru saja mendarat di pipi Fahri. Ibunya yang sejak tadi menahan diri, akhirnya tak kuasa untuk tidak membungkam mulut anaknya yang sudah sangat keterlaluan itu. "Ibu malu Fahri. Malu. Ibu seperti tidak mengenal kamu!" Bentaknya. "Tolong mengertilah, Bu." "Kita memang orang susah Fahri, tapi bukan berarti kita miskin ilmu, miskin adab. Untuk apa kamu disekolahkan tinggi-tinggi, kalau otakmu keblinger seperti ini." "Maaf, tidak bermaksud menambah beban Besan, saya selaku orang tua Hana sangat kecewa dengan kelakuan Fahri. Saya memutuskan untuk membawa pulang putri saya dan menyelesaikan rumah tangga mereka malam ini juga." Fahri berbalik badan, menatap Abi. Ia merangkak menuju kaki mertuanya, bersimpuh di sana memohon supaya Abi tidak membawa Khodijah pergi. "Abi, Fahri mencintai Khodijah. Abi tidak bisa begitu saja membawa istriku pergi. Fahri mohon, berilah Fahri kesempatan," ujarnya lirih. Fahri tetap bersimpuh di kaki mertuanya meskipun berulang kali Abi menepis kedua tangannya yang meraih betis beliau. "Apa jaminnya bahwa kamu tidak akan menyakiti Hana? Apa kamu bisa menceraikan istri keduamu, malam ini juga? Kalau iya, Abi beri kamu kesempatan!" Khodijah hanya bisa pasrah. Ia tidak mau menampik keputusan Abinya, ia Ikhlas bila rumah tangga yang dibangun selama tiga tahun, harus kandas malam ini. Cairan bening meluncur deras dari manik bulat berwarna cokelat itu. Dalam hati ia berdoa, memohon yang terbaik dari Rabb yang maha kuasa. "Gimana Fahri. Bisa kau ceraikan wanita itu di depan kami semua? Kalau kau berniat meneruskan rumah tangga kalian, lakukan. Tapi, kalau kau tidak sanggup, Abi tidak akan memaksa. Semua keputusan ada di tanganmu, Fahri." "Abi, apa tidak bisa kami menjalani rumah tangga ini tanpa ada salah satu yang tersakiti," sahut Fahri. "Apa kau pikir perbuatanmu tidak menyakiti hati istrimu!" "Akan Fahri perbaiki semaunya, Abi." "Kalau begitu pembicaraan ini Abi anggap selesai. Hana, kemasi barang-barang kamu. Kita kembali ke rumah Abi malam ini juga," ujar Abi. "Iya, Abi." Khodijah bangkit, ia berdiri menatap Fahri yang masih bersimpuh di lantai. Netra keduanya saling menatap selama sekian detik, lalu Khodijah berlalu meninggalkan ruangan itu. Fahri bangkit dan mengejar istrinya. Ia meraih kaki Khodijah, memohon untuk tetap tinggal bersamanya. "Aku mohon, Sayang. Tetaplah bersamaku. Aku cinta kamu," ujar Fahri sembari bersimpuh di kaki istrinya. Khodijah menangis pilu, ia juga masih sangat mencintai Fahri. Namun apa yang dilakukannya sudah sangat melukai hatinya, terlebih melukai hati kedua orangtuanya. Ia dilema. Di satu sisi, Khodijah ingin mempertahankan rumah tangga ini, namun di sisi lain sebagai anak ,ia tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya. "Beri aku satu alasan kenapa aku harus terus bersamamu, Mas. Karena jujur saja, aku lelah berharap." Khodijah berkata tanpa melihat wajah Fahri. "Karena ...karena kita saling mencintai," jawab Fahri. "Dulu, mungkin cinta saja cukup bagiku. Tapi, sekarang tidak lagi Mas. Sebaik-baiknya aku melayanimu, Mas tetap saja mencari kepuasan pada wanita lain. Dalam pernikahan, cinta saja tidak cukup. Hubungan harus berlandaskan kejujuran, kesetiaan dan rasa nyaman. Sekarang, itu semua tidak ada." Abi menghampiri keduanya, ia menarik lengan Fahri yang masih memegang erat betis istrinya. "Bebaskan istrimu Fahri!" "Tidak mau. Aku mencintainya, Abi!" "Fahri. Sudah lepaskan istrimu!" Bentak ayahnya. "Tidak Ayah. Tidak akan pernah!" "Kalau begitu kau ceraikan wanita itu!" Fahri masih tetap memeluk erat betis istrinya. Walau sekuat tenaga Abi mencoba melepasnya, namun tangan Fahri tetap melingkar di sana. "Baik. Fahri akan menceraikan Jennifer. Tapi, setelah aku menceraikannya, izinkan kami tetap menjadi suami istri," pinta Fahri kepada ayahnya. "Apa kamu yakin, Fahri?" Tanya Abi. "Iya, Fahri akan menceraikan Jennifer." "Lakukan sekarang. Telepon dia, dan ceraikan di depan kami." "Iya, Abi." Fahri mematuhi perintah mertuanya, ia mengambil ponsel di kamarnya lalu menelepon Jennifer. Mengatakan bahwa ia menjatuhkan talak padanya. Fahri mematikan panggilan teleponnya, tanpa mendengar jawaban dari Jennifer terlebih dulu. Untuk lebih menyakinkan, Abi membuat surat pernyataan bahwa Fahri tidak akan pernah melakukan poligami lagi. Apabila ia terbukti melakukan poligami, maka detik itu juga ia harus menceraikan Khodijah Al-Hanafiyyah. Fahri setuju, ia mendatangi surat pernyataan itu. Para orang tua memaafkan kesalahan Fahri. Soal hutang bank, ayah Fahri menyanggupi membayar separuhnya itu pun harus menjual salah satu aset milik kedua orang tuanya. Begitu pun Abi, beliau akan membayar 250 juta rupiah. Soal kendaraan mewah, yaitu sedan Accord, harus dikembalikan kepada Jennifer besok pagi oleh perantara. Abi dan ayahnya Fahri tidak mau ada komunikasi dalam bentuk apa pun itu, meski hanya sekedar memulangkan mobil. Kedua keluarga itu menginap di kediaman anak mereka. Usai sidang Keluarga yang mencekam itu, keadaan kembali kondusif. Ayah Fahri dan Abi mengobrol bersama, begitu pula dengan para ibu. Fahri dan Khodijah memilih berdiam diri di kamar mereka. Keduanya saling terdiam, Fahri duduk di sisi ranjang sembari bermain gawai canggih miliknya, sedangkan Khodijah mengekeloni Yusuf, putra semata wayangnya. Terbesit keraguan di hati Khodijah. Ia tidak sepenuhnya memercayai janji manis Fahri, setelah beberapa kali suaminya itu membohonginya. Namun, lagi-lagi ia lebih memilih mengandalkan perasaan ketimbang logikanya. Berharap semoga kali ini Fahri berubah seperti dulu, mencintainya dengan setulus hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN